close
Cerbung

CERBUNG: Artaban, Orang Majus yang Lain (4)

pexels-photo-262786

Dalam Jalan Sedih yang Tersembunyi

TAHUN-tahun Artaban berlalu cepat di bawah keheningan kabut, di sini dan di sana. Sungai kehidupannya bersinar melewati bayang-bayang yang menyembunyikan jalannya.

Ia berada di kerumuman manusia kota-kota Mesir yang padat, demi mencari jejak-jejak keluarga kecil dari Betlehem itu. Ia menemui pohon-pohon sikamor di kota Heliopolis, di bawah dinding-dinding benteng Romawi di kota Babilonia Baru di sisi Sungai Nil. Jejak-jejak itu begitu redup, menghilang berkali-kali, seperti bekas jejak-jejak kaki di pasir yang berkilau sejenak, lalu menguap pergi.

Artaban pergi ke kaki piramid-piramid, memandang ujung puncaknya yang menghadap sinar safron dari curahan cahaya matahari, monumen-monumen abadi jejak kejayaan dan harapan manusia yang mudah runtuh. Dia menatap wajah Sphinx yang lebar,  mencoba membaca makna tersirat dari mata yang tenang dan mulut yang tersenyum.

Apakah semua usaha ini sia-sia seperti yang dikatakan oleh Tigranes? Sebuah teka-teki yang tidak ada jawabannya, sebuah pencarian yang tidak akan berhasil? Apakah ini perjalanan yang menyedihkan, yang didukung oleh senyum yang sulit dimengerti, atau sebuah janji yang akan dikalahkan, pemburuan mendapatkan hadiah yang berakhir dengan kekecewaan? Apakah ini perjalanan seorang bodoh yang akan menjadi bijaksana, seorang buta yang akan melihat, seorang pengembara yang akan tiba pada sebuah persinggahan, pada akhirnya?

Di rumah-rumah ibadah di Alexandria, Artaban berbincang-bincang dengan pendeta-pendeta kaum Ibrani. Kaum terhormat, yang membungkuk pada gulungan perkamen tulisan para nabi Israel. Dengan suara keras mereka membaca ayat-ayat suram tentang penderitaan Sang Mesias yang dijanjikan—yang hina dan tertolak, manusia yang menderita dan penuh dukacita.

“Ingatlah, anakku,” kata seorang pendeta sambil memandang mata Artaban lekat-lekat, “Raja yang engkau cari itu tidak akan ditemukan di istana atau di antara orang kaya dan berkuasa. Tidak ada kemuliaan anak Abraham yang akan melawan kekuasaan Yusuf di istana-istana Mesir. Atau singgasana keagungan Solomo di Yerusalem. Namun. Terang yang dinantikan itu adalah terang yang baru, kemuliaan yang muncul dari penderitaan panjang, dan akhirnya menang. Kerajaan yang akan didirikan oleh-Nya adalah kekal, keagungan yang sempurna, kasih yang tak terkalahkan.

“Aku tidak tahu bagaimana ini akan terjadi atau bagaimana raja-raja di bumi akan dibawa mengenal Mesias, dan memberi penghormatan kepada-Nya. Tetapi ini yang kutahu, bahwa mereka yang mencari Dia akan melakukannya dengan sungguh-sungguh, mencari yang miskin dan rendah, mencari yang paling menderita dan tertekan,” ujar pendeta itu.

Setelah itu Artaban terus mengembara dari satu tempat ke tempat lain. Ia mencari di antara manusia yang terserak, keluarga kecil dari Betlehem yang mungkin sudah menemukan tempat pengungsian. Dia melewati seluruh wilayah, bertemu dengan orang-orang menangis karena tidak ada makanan. Dia tinggal di kota yang sedang ditimpa wabah penyakit dan bertemu orang-orang rang merana akibat penderitaan yang nyaris tak tertolong. Dia mengunjungi penjara-penjara bawah tanah yang suram, menatap wajah-wajah para budak yang membanting tulang di pasar-pasar, merenungi mata-mata letih karena terlalu bekerja keras.

Di antara dunia yang rumit dan letih, dia menemukan banyak orang untuk ditolong. Dia memberi makan yang lapar, memberi pakaian yang telanjang, merawat yang sakit, menghibur yang tertawan. Begitulah tahun-tahunnya berlalu cepat, lebih cepat melebihi gerakan kumparan penenun yang menyusun benang, membentuk pola-pola yang jelas.

Ia seperti telah melupakan apa yang dia cari. Sendirian dia menunggu matahari terbit, menanti di pintu gerbang penjara Romawi. Lalu tangannya menyentuh sesuatu di dadanya, tempat mutiara itu, satu-satu harta yang tersisa. Dia menatap permata indah itu. Kilaunya lembut, cahaya biru dan merah muda bergantian muncul, seolah menyerap pantulan batu safir dan merah delima, yang telah ia berikan dulu.

Sebuah tujuan rahasia, menariknya pada kenangan-kenangan kebahagiaan dan penderitaan di masa lalu. Semua itu telah menolong sekaligus merintanginya, sebuah keajaiban yang jalin menjalin. Benda berharga itu begitu dekat  dengan detak jantungnya, dengan hatinya.

Mutiara yang Tak Ternilai

TIGA puluh tiga tahun kini telah berlalu, dan Artaban masih mencari. Rambutnya yang dulu hitam seperti batu karang di Zagros, kini putih seperti salju yang menutupi bukit itu. Kedua matanya yang dulu tajam dan bersinar seperti api, kini lamur seperti bara api yang berubah abu.

Dia kelihatan tua dan letih, tubuhnya renta, tetapi dia masih mencari Raja itu. Kali ini untuk terakhir kalinya ia ke Yerusalem. Dulu ia pernah mengunjungi kota suci itu, menyusuri sudut-sudut kotanya, melewati jalan-jalan kecil dan pondok-pondok yang padat, penjara-penjara yang gelap, demi mencair keluarga kecil dari Nazaret, yang pergi dari Betlehem. Dulu sekali.

Sekarang Yerusalem sedang menyambut Paskah. Kota itu dipadati orang-orang Israel yang berdatangan dari seluruh dunia untuk merayakan perayaan agung. Namun, kali ini terasa berbeda. Selama beberapa hari ini ia telah mendengar desas-desus yang ia tidak mengerti.

Dan hari ini, desas-desus itu seperti nyata. Langit tampak murung. Sukacita perayaan seperti hilang terbawa angin yang menggoyangkan hutan pada malam badai, tersapu dalam sekali jalan. Hanya ada suara kaki-kaki manusia yang menyeret sandal mereka melewati batu-batu dan debu jalanan, menuju gerbang Damaskus. Dan Artaban bergabung dengan gerombolan dari negerinya, Partia.

“Kita akan ke mana?” tanya Artaban dalam bahasa mereka.

Orang-orang itu menatap Artaban, dan salah seorang menjawab, “Kita akan pergi ke tempat yang disebut Golgota, di luar benteng kota. Di sana akan ada eksekusi. Kau belum mendengar cerita itu? Dua perampok yang sangat jahat akan disalibkan, dan juga seorang yang disebut Yesus, orang dari Nazaret. Yesus ini telah melakukan banyak hal ajaib di antara umat, dan mereka mencintainya. Tetapi para imam dan tua-tua rumah ibadah telah menetapkan dia mati karena ia menyebut dirinya Anak Allah. Dan Pilatus menjatuhkan hukuman kepadanya, untuk disalib dan memberinya gelar ‘Raja Orang Yahudi.”

Mendengar penjelasan itu hati Artaban tersentuh! Tubuhnya gemetar. Ia merasa dekat dengan semua cerita itu, cerita tentang Yesus. Dia telah melakukan perjalanan seumur hidupnya, melewati darat dan laut, demi mencari Raja itu, dan sekarang dia mendengar pesan yang kedengarannya sangat putus asa. Bahwa Dia ditolak dan dibuang. Bahkan Dia nyaris binasa, sekarat.

Hati Artaban terasa berat. Apakah dia orang yang sama dengan bayi yang lahir di Betlehem tiga puluh tiga tahun lalu, yang kelahirannya ditandai bintang terang di langit, dan kedatangannya diceritakan dalam perkamen para nabi?

Jantung Artaban berdetak kencang saat ia bergumam sendirian, “Sungguh jalan-jalan Tuhan tak terpikirkan manusia. Aku menemukan Raja itu, yang sekarang sedang berada di tangan musuh-musuh-Nya. Aku akan menemuinya, memberikan mutiara ini, sebelum dia meninggal.”

Dia terus berada dalam rombongan, sementara hatinya diliputi kesedihan yang pedih, menuju gerbang Damaskus. Sekonyong-konyong ia melihat tentara-tentara Makedonia memasuki benteng, dalam sebuah gerakan cepat dan riuh, seperti huru-hara. Mereka menyeret seorang perempuan muda berpakaian compang-camping dan rambut yang kusut masai menutupi wajahnya. Namun ia melihat gadis itu mengangkat kepalanya, dan pada satu detik melihat ke arahnya, melihat topi putih Artaban dan lingkaran kuning di dadanya. Lalu gadis itu meronta-ronta dengan keras, membebaskan dirinya dari cengkeraman tangan-tangan penyiksanya, berlari ke arah Artaban.

“Tolong aku,” raung gadis itu, “selamatkan aku, demi Allah yang Maha Suci! Aku juga putri agama sejati, para Magi. Ayahku seorang pedagang, dia sudah mati, dan aku akan dijual menjadi budak. Tolong aku, aku tidak mau jadi budak. Aku tidak mau mati.”

Melihat gadis itu, tubuh Artaban bergetar. Dia tak tahu apa yang harus dilakukan. Dia seperti tiba di hutan palem di Babilonia dan pondok di Betlehem, sekaligus. Batinnya bergejolak konflik antara harapan iman dan denyut kasih. Dua batu permatanya sudah dia berikan atas nama kemanusiaan. Lalu ini.

Apakah ini kesempatan besar atau pencobaan terakhir? Apakah ini sesuatu yang tak dapat ditawar, dan datangnya dari Allah?

Sesuatu di dalam hatinya terpecah, terbagi-bagi. Menolong perempuan muda ini adalah sebuah perbuatan kasih. Bukanlah kasih yang akan menerangi jiwa? Dia harus memutuskan dengan segera demi membebaskan si gadis. Secepat itu tangannya menyelinap ke dadanya, mengambil mutiara itu, lalu menaruhnya di telapak tangan si gadis malang.

“Ini untukmu, anakku! Inilah hartaku yang terakhir. Pergilah.”

Sementara dia berbicara, langit gelap dan bumi bergetar karena gempa. Terdengar derak keras akibat dinding-dinding bangunan yang retak. Batu-batu berpindah tempat, terlempar ke jalan, pecah berkeping. Debu beterbangkan ke udara, menutupi pemandangan. Tentara-tentara menjadi panik, bergerak ke sana-kemari seperti mabuk. Artaban dan gadis malang itu menjatuhkan diri ke tanah, merangkak pelan di bawah dinding kuil Praetorium.

Apa yang harus kutakutkan? Untuk apa lagi aku hidup, pikir Artaban. Dia sudah memberikan persembahan terakhir untuk Raja itu, kepada si gadis. Pencarian itu sudah berlalu, dan ia telah gagal. Meskipun begitu, ia merasa hatinya damai. Ia tidak sedang menyerah atau putus asa. Ia malah merasakan sesuatu yang dalam dan bermakna. Dia telah melakukan yang terbaik, dari hari ke hari, sampai hari ini. Hatinya tetap  lurus dalam menanggapi sinar yang menampakkan diri kepadanya. Dia sudah mencari. Jika dia tidak menemukan apa yang ia cari, sampai hari ini, tidak berarti dia tidak berhasil bertemu kekekalan itu. Karena, seandainya ia mendapat kesempatan mengulang hidup, dia tidak akan melewati jalan lain, seperti yang dijalaninya sekarang.

Lalu bumi bergerak sekali lagi, dengan keras. Saat itu, satu ubin yang berat, tergeser di atap bangunan akibat guncangan, melayang dari atas, jatuh, mengenai tubuh tua Artaban. Wajahnya memucat seketika. Napasnya seperti tergentu. Kepalanya terkulai di bahu di gadis dan darah mengalir entah dari mana. Waktu itu senja telah jatuh.

Melihat itu, tubuh sang gadis ikut bergetar, berusaha memindahkan tubuh tua Artaban, ke sampingnya, dan pada saat itu telinganya seperti mendengar suara pelan, seperti musik indah dari kejauhan, yang jernih dan jelas. Gadis itu menoleh cepat ke arah jendela bangunan kalau-kalau seseorang sedang berkata-kata dari sana, tetapi dia tidak melihat siapa pun.

Lalu ia melihat bibir laki-laki tua bergerak pelan, seolah-olah menjawab seseorang, berbicara dalam bahasa Partia yang ia pahami,

“Bukan begitu, Tuhanku.  Kapan aku melihat-Mu lapar dan aku memberi-Mu makan? Kapan aku melihat-Mu haus dan aku memberi-Mu minum? Kapan aku melihatmu sebagai orang asing dan aku melayani-Mu? Atau telanjang, dan aku memberiMu pakaian? Kapan aku melihat-Mu sakit, dan merawat-Mu? Selama tiga puluh tiga tahun aku mencari-Mu, aku belum pernah melihat wajah-Mu, belum pernah melayani-Mu, ya Rajaku.”

Artaban mengatakan itu dengan mata setengah tertutup, dengan suara lemah. Dan gadis itu kembali mendengar suara manis lembut dari kejauhan itu, berkata:

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

Sebuah sinar lembut mengenai wajah pucat Artaban seperti salju yang turun dari puncak gunung, lalu mulutnya menghembuskan napasnya yang terakhir, dalam damai.

Perjalanannya selesai. Persembahannya telah diterima. Orang majus peziarah itu, kini telah menemukan Rajanya.

 

Selesai

 

*Cerita Bersambung ini diterjemahkan oleh Ita Siregar dari judul asli The Other Wise Man (1896) karya Henry van Dyke

 

Editor Litera

The author Editor Litera

2 Comments

Leave a Response