close
hands-600497_1920

Awalnya, Ia mencipta langit dan bumi. Aku masih kosong, tidak terbentuk, dan samudra diselimuti Gelap. Tetapi, Ia tidak membiarkanku merasa gelap di dalam kegelapan. Ia memberiku hadiah: Terang.

Karena pertengkaran antara Terang dan Gelap, Ia memisahkannya, memberi nama Terang itu Siang dan Gelap itu Malam. Kepada siang Ia berikan benda penerang, kepada langit malam Ia ciptakan bintang-bintang. Sejak itulah aku diciptakan.

Lalu Ia memisahkan air dengan air, mencipta cakrawala, daratan, sehingga terlihat yang kering dan yang basah. Ia memerintahkan tanah menumbuhkan tunas-tunas, tumbuhan berbiji,  dan segala jenis buah dan sayur supaya aku tampak hijau dan segar.

Laut merasa kesepian. Karena itu, Ia memberi segala makhluk air yang hidup, ke dalamnya. Keadilan-Nya sangat besar. Ia menciptakan burung beterbangan di udara, menembus cakrawala. Tak lupa Ia ciptakan hewan liar dan segala ternak, memenuhi darat.

Tetapi, ada yang kurang. Belum ada ciptaan-Nya yang mengurus aku. Melihat hal itu, Ia mencipta manusia. Manusia yang serupa dan segambar dengan-Nya, yang diberikan akal budi dan kepandaian. Ia memerintahkan manusia untuk beranak-cucu dan menguasai aku, bumi.

Sejak itulah aku terpelihara. Tetapi, manusia mulai berubah. Mereka tidak bertanggung jawab atas perintah yang Ia berikan. Manusia bersikap seenaknya terhadap kesejahteraanku. Melihatku disakiti terus-menerus, Ia menurunkan hujan selama 40 hari lamanya sehingga air memenuhiku. Hanya delapan orang selamat saat itu. Setelah kejadian mengerikan itu, manusia tidak lagi melakukan perbuatan kejam. Ia pun berjanji tidak akan menghukum dengan air bah.

Seiring berjalannya waktu, sikap serakah kembali memenuhi diri manusia. Mereka membuat alat-alat canggih yang menguntungkan mereka, menjadikan kegiatan mereka lebih mudah, waktu lebih singkat. Namun, alat-alat itu pun secara perlahan merusakku. Air mataku kembali turun.

Memang aku dicipta untuk dipergunakan dengan baik, dan manusia tidak boleh bersikap seenaknya. Setelah aku dimanfaatkan, mereka harus mengembalikan agar keadaanku mendekati seperti semula. Apakah mereka tidak tahu aku sangat berjasa bagi kehidupan? Coba bayangkan! Bila aku tidak ada, mereka tinggal di mana? Dari mana mereka mengambil sumber alam?

Sekarang aku merasa sedih bercampur marah, kecewa, pahit, melihat tubuhku hancur berantakan. Aku kepanasan, kadang kedinginan. Mungkin aku akan mati dalam waktu singkat. Sementara manusia terus menambang, meninggalkan lubang-lubang raksasa di tubuhku. Mereka melakukan pengeboman luar biasa di dasar-dasar laut. Mereka membuat udara makin berpolusi. Air segar jadi keruh. Tanah makin kering. Manusialah yang menyebabkan segala bencana banjir, angin topan, gempa, dan yang lain.

Aku menyaksikan mereka dari atas dan bawah. Manusia belum sepenuhnya sadar. Masih ada saja yang melakukan hal-hal buruk. Apakah mereka belum puas dengan bencana-bencana yang melanda mereka? Tidakkah mereka sengsara akibat semua itu?

Kendaraan-kendaraan bertambah jumlah dan menyebabkan polusi. Pertambangan membuat lubang-lubang di tanah kian menganga. Pohon-pohon hutan ditebang sampai gundul dan binatang-binatang terusir dari habitatnya, bahkan punah. Padahal pepohonan adalah paru-paru kehidupan, mengapa mereka tega menghabisinya? Apakah mereka ingin mengakhiri kehidupan?

Mereka tentu boleh mengambil apa  saja dari tubuhku. Mereka boleh menebang pohon tetapi memilih pohon yang sudah layak tebang, membiarkan yang lain terus tumbuh, dan menanam yang baru. Seperti mereka boleh menambang sampai batas-batas keamanan bagi kesejahteraanku.

Banyak cara yang dapat dilakukan oleh mereka untuk memeliharaku. Pilihan ada ditangan mereka. Aku tidak dapat melakukan apa-apa.

Syukurlah akhirnya mereka menyadari kesalahan mereka. Mereka membangun organisasi-organisasi untuk menyelamatkanku, bumi. Mereka membuat poster, iklan, dan lainnya, untuk mempraktikkan hal-hal yang melindungiku. Mereka bekerja sama melakukannya di sekolah, di rumah, di lingkungan sekitar.

Aku senang mereka mulai melakukan hal-hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, menanam tumbuh-tumbuhan di pekarangan rumah, mematikan AC di rumah apabila tidak digunakan, bersepeda atau berjalan kaki ke tempat yang dekat. Walau terdengar sederhana, tetapi hal tersebut membuat perubahan cukup besar bagiku.

Lalu mereka mengerjakan hal-hal lebih besar seperti mereboisasi hutan, kerja bakti membersihkan sungai dari sampah-sampah, mendaur ulang sampah plastik, membuat pupuk sampah makanan, membuat kendaraan  ramah lingkungan yang sedikit membuat polusi udara, mengembalikan tanah-tanah pertambangan berfungsi kembali.

Mereka berfokus pada konservasi hutan, air tawar, samudera, pantai. Mereka menangani masalah spesies yang terancam punah, polusi global, perubahan iklim. Mereka melakukan aksi langsung tanpa kekerasan untuk menghentikan uji nuklir angkasa dan bawah tanah, menghentikan penangkapan ikan paus besar-besaran. Pemerintah-pemerintah dunia mengeluarkan peraturan keras demi menjaga lingkungan. Siapa melanggar akan dihukum.

Kehidupanku lebih baik. Manusia sudah lebih bertanggung jawab meski sedikit terlambat. Walau beberapa bagianku mengalami rusak tetap, aku merasa dilindungi, disayang.

 

*Calista, siswa SMPK Penabur 1 Jakarta angkatan 2014-2015

 

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response