close
leaf-618680_1920

Seperti biasanya kelopak mawar selalu bermula dari ranting duri. Aku pun berjalan mencari. Sesekali tergelincir pada gerimis embun yang anyir. “Aku di sini,” seru-Mu. Memanggil-manggil. Terasa dekat di kuping. Tapi, aku tak paham bahasa-Mu. Rumit kucerna. Aksara-aksara bisu berkeliaran di udara, namun tak bisa kubaca.

 

Aku pun berjalan. Setengah mendaki. Pada penampang ranting yang gigil. Kelopak mawar masih terasa jauh.  Menawarkan gairah merah. Dan, pada duri kudengar suara-Mu lagi, “Aku menunggumu di sini.” Ohoi, aku takut peziarahan duri. Daging yang koyak bolehkah kupahami sebagai cermin. Berkali-kali kujumpai duri. Berkali-kali tanpa selesai.

 

Adakah pertanda aku menyerah. Pada gelincir lalu merebah. Permadani api. Bara. Ganjaran. Aksara-aksara. Tak bisa kucapai duri. Tak bisa sampai. Pada kuping tak lelah Kau berbisik, “Di sini Aku. Dengarkanlah Aku.”

 

Lalu air mata. Aku mengapung di dalamnya. Masa silam yang gulita ingin kugenggam. Pada-Mu biarkan terbenam. Sebelum mencapai mawar, izinkan dagingku berdarah pada duri. Duri-Mu.

 

Malang, 15 Oktober 2013

 

Tengsoe Tjahjono
*Penyair asal Jawa Timur. Baru kembali ke Tanah Air setelah beberapa lama menjadi dosen Bahasa dan Sastra Indonesia di University of Foreign Studies, Korea.

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response