close
Ilustrasi Lazarus Tak Ada Di Sini. Wisnu Sasongko

PANGGILAN itu sangat mendadak, dan menurut si pembawa berita tak bisa ditunda. Sambil melindungi Alkitab dari tetes hujan, kusibak pintu tenda peleton. Kujumpai wajah pucat kebiruan yang menjadi pangkal seonggok tubuh kurus-layu di atas dipan lipat itu. Ia menoleh, membetulkan letak selimut. Bau tak sedap  menguar, terutama setelah aku duduk tepat di sisinya.

Mungkinkah ada sisa kotoran di balik selimut itu? Ah, sudah puluhan kali aku berdekatan dengan penderita kolera. Penyakit ganas itu hanya menular melalui makanan yang tercemar lalat atau air minum yang tidak dimasak matang. Lagipula siapakah aku ini? Bila Tuhan menghendaki aku tertular, takkan ada yang bisa menahan.

Kupegang tangan orang itu. Kisut bergelambir, bagai kulit seorang nenek berusia delapan puluh tahun. Padahal menurut catatan di atas tempat tidurnya, usia Sang Letnan baru 45 tahun.

“Selamat malam, Letnan Lazarus Willem Stijfhart,” sapaku.

Kedua kelopak mata yang terkubur jauh di belakang dahi itu perlahan terangkat.

“Pater Verbraak?” ia melempar suara serak.

“Pater sedang di bangsal rumah sakit. Aku Van Knecht. Koleganya,” sahutku.

Godverdomme,” ia memaki perlahan. “Engkau di sini. Apakah itu berarti sebentar lagi aku akan mati? Apakah dokter keparat di sana itu yang memintamu datang?”

Dengan perasaan tak enak, kulirik Dokter Jaap Zijdehand yang sedang duduk dengan kepala terangguk-angguk dekat pintu masuk. Syukurlah kantuknya lebih kuat daripada gerutu Sang Letnan.

“Semua yang hidup akan mati, Anakku. Hanya saja tak ada yang tahu kapan dan apa penyebab kematian masing-masing. Oleh karena itu, alangkah beruntung bila kita diberi sedikit waktu untuk bersiap,” sahutku sambil  menyalakan lilin. Tetapi ketika aku hendak membuat tanda salib, ia menahan gerak tanganku.

“Jangan panggil ‘Anak’. Aku bukan anakmu. Dan tak usah repot. Aku pasti masuk neraka.” Bibir Letnan Stijfhart yang kering dan pecah-pecah itu bergetar. “Usiaku 18 tahun saat mendarat di pantai Ulee Lheue. Dari keraton Sultan, mereka menembaki kami dengan bedil Inggris. Terpaksa kami sapu dengan meriam dan senapan mesin. Aku ada di belakang salah satu senapan mesin itu. Anda tahu daging giling? Begitulah bentuk mayat mereka. Peluru-peluru itu kadang melesat terlalu jauh. Setelah benteng direbut, kami temukan juga mayat wanita dan anak-anak di perkampungan belakang istana. Seorang perempuan muda belum melepas nyawanya. Ususnya terburai. Kakinya menyepak-nyepak, mulutnya terus meracau ‘Allah…Allah’. Kuarahkan pistol ke dahinya. Tuhan pasti membenciku. Bukankah Alkitab melarang membunuh?”

“Perang selalu kejam dan membingungkan. Menguras akal sehat.” Aku menghela napas. “Pihak yang berhadapan masing-masing merasa paling benar. Aku yakin sebelum maju perang orang-orang itu juga berdoa, mohon kejayaan. Bisakah akal sehat menerima? Berdoa untuk membunuh. Dan sama seperti kita, para uleebalang itu pastilah merupakan ayah dan suami yang baik bagi suatu keluarga. Sebagian mungkin belum pernah mengangkat senjata, apalagi melenyapkan nyawa orang. Tetapi Tuhan  sangat cerdik dan waspada. Ia tahu persis siapa yang boleh datang menghadap kepadaNya, dan siapa yang harus menjumpai Lucifer. Tak perlu kita pikirkan.”

“Lucifer!” Letnan Stijfhart terpingkal. “Sejak dulu aku ingin tahu, mengapa penguasa kegelapan diberi nama semanis itu? Oh, ingin sekali melihat bedebah itu. Tapi jangan-jangan aku tak cukup berdosa untuk pergi ke neraka.”

“Lucifer, atau ‘Bintang Pagi’. Konon itu nama sebelum ia jatuh ke dalam dosa. Kitab suci orang Yahudi menyebutnya Heylel. Menghilangkan nyawa orang tentu sebuah dosa besar. Tetapi pintu ampunan selalu terbuka. Seperti tertulis dalam Alkitab…” tak kurampungkan kalimatku melihat Sang Letnan menggeleng-gelengkan kepala.

“Tolong jawab saja, adakah Hamba Tuhan yang pernah membunuh banyak orang?” sambung Letnan Stijfhart. Suaranya semakin sulit kutangkap. Aku sering melihat orang sekarat. Meski gejala itu mulai tergambar pada kedua pupil mata Sang Letnan, tampaknya Malaikat Maut masih berada cukup jauh darinya.

“Bagaimana dengan Gideon? Joshua?” Beberapa kali kutarik kerah cassock-ku agar leher terasa lebih sejuk. Meski di luar hujan, udara di dalam tenda ini seperti berhenti mengalir. Pasien yang dirawat di sini kebanyakan para perwira menengah. Di seberangku, seorang perawat wanita mengulurkan minuman sembari mengusap bahu seorang pria yang tubuhnya penuh bebat dan terus mengerang. Membuatku terkenang Ibunda, nun jauh di Zeeland, kampung halaman tercinta.

“Atau Daud?” kulanjutkan berbicara. “Setelah memenggal kepala Goliath, Daud masih membunuh ribuan musuh Israel. Bahkan mengirim Uria, pahlawannya yang perkasa, agar bertempur ke tempat berbahaya sehingga gugur, dengan demikian ia bisa mengawini Batsyeba, istri Uria yang cantik jelita. Bagaimana pula dengan Simson? Bersenjatakan rahang keledai ia menceraikan nyawa seribu orang Filistin. Jangan lupa Judith, wanita mulia yang sanggup menjagal Holofernus.”

“Itu agak menenangkanku, Pater.” Kumis Letnan Stifjhart sedikit terangkat saat bibirnya membentuk sebuah senyuman.

Sunyi sesaat. Di kejauhan terdengar dengking peluit kereta api yang semakin menjauh dari Stasiun Kotaraja. Esok pagi pasti rumah sakit yang sudah sangat padat penghuni ini akan kembali disibukkan dengan kedatangan para prajurit yang terluka atau tewas.  Entah akan diletakkan di mana mereka. Lima tenda peleton di halaman luar rumah sakit inipun sudah teramat padat. Kurasa petinggi militer Belanda terlalu meremehkan kemampuan tempur orang Aceh. Aku membayangkan kepanikan mereka saat melihat Jenderal Kohler tewas tertembak beberapa tahun yang lalu. Tetapi pembunuh terbesar di medan perang yang basah ini sesungguhnya bukan peluru atau kelewang, melainkan wabah kolera. Pihak Aceh pun banyak yang dimangsa penyakit mengerikan ini. Termasuk Sultan Mahmud Syah. Tetapi alih-alih menyerah, mereka segera mengangkat penggantinya, dan meneruskan pertempuran dengan cara gerilya.

“Apakah engkau juga rajin mengunjungi para pribumi seperti Pater Verbraak?” suara serak  Letnan Stijfhart kembali terdengar.

“Aku seorang imam almuseneer, Letnan. Sama seperti Pater Verbraaak. Tugas utamaku menjadi pelipur dan penguat tentara Hindia Belanda. Tetapi aku juga seorang pengabdi kemanusiaan. Apabila pekerjaanku selesai sebelum terlalu petang, kuusahakan menemani beliau pergi ke perbatasan. Berbincang dengan orang-orang itu, terutama wanita dan anak-anak yang sangat terlantar akibat perang berlarut ini. Mereka tidak keberatan dengan kehadiran kami.  Aku sangat bangga menemani Pater Verbraak meski penghayatan keimananku sangat jauh dibandingkan beliau.”

“Engkau boleh tidak percaya. Saat berusia 12 tahun, aku pernah bercita-cita menjadi seorang pastor.” Letnan Stijfhart menahan tawa. “Ah, anak kecil mana yang tidak tertarik kisah-kisah mukjizat di Alkitab. Aku ingin menjadi seorang Santo, yang bisa begitu dekat bahkan bercakap dengan Tuhan lantaran kesalehan hati mereka. Yang bisa membuat, katakanlah, kepatuhan semesta lewat kata-kata bijak dan sedikit mujizat. Lalu mati, masuk surga. Tetapi suatu hari seorang tetangga baikku dipukuli hingga nyaris mati oleh suaminya, seorang pemabuk. Pastor kami berusaha melerai, tapi tak digubris.  Sampai akhirnya datang seorang tentara. Pemabuk itu dihajar hingga patah tangannya. Saat itu mendadak aku yakin bahwa untuk masa sekarang ini keadilan hanya bisa ditegakkan lewat kekuatan. Kutinggalkan impian menjadi pastor. Kudaftarkan diri menjadi siswa militer di Breda. Mungkin itu akan menambah daftar dosaku di hadapan Tuhan.“

“Tampaknya Anda senang menggoda Tuhan.” Aku ikut tersenyum. Tapi segera berubah cemas melihat mata Sang Letnan tiba-tiba tak berkedip. Kusentuh tangannya.

“Menggoda?” Matanya kembali bernyawa. “Anda harus dengar bagaimana Ia mengganggu hidupku,” dengusnya. “Aku lupa bagaimana awalnya keluargaku bisa punya utang sangat besar kepada lebih dari seorang rentenir. Yang jelas, setiap hari ada saja barang yang harus dijual atau digadaikan. Lalu pada suatu siang, Ibu meninggal kena pes. Setahun kemudian, setelah lama menatap surat-surat utangnya yang bertumpuk, Ayah kutemukan tergantung di kusen pintu. Pamanku bersama istri dan anak lelakinya mengambil alih rumah karena lebih dekat dengan tempat kerja Paman. Para jahanam itu jauh lebih kaya  dibandingkan Ayah. Utang keluargaku mereka bereskan. Tetapi setelah itu setiap hari mereka membuatku sibuk dengan aneka pekerjaan berujung hukuman yang tak sepadan dengan kesalahan yang kuperbuat. Setiap acara makan, aku adalah orang terakhir yang mengambil lauk. Jangan tanya apa yang tersisa. Aku  minggat dari rumah sebelum akhirnya bergabung di ketentaraan. Nah, kau tentu akan menghadirkan kisah ketabahan Ayub untuk menghiburku, bukan?”

“Tidak,” sahutku. “Anda sudah menemukan sendiri jalan menuju perbaikan hidup, bukan?”

Letnan Stijfhart tak menjawab. Wajahnya berubah tegang seperti sedang menahan nyeri.  Kemudian ia mulai muntah-muntah hebat. Bau busuk yang akrab itu kembali merebak. Dokter Jaap mendekat bersama perawat, dan butuh sedikit perjuangan memasukkan beberapa sendok cairan ke dalam mulut Sang Letnan.

“Laudanum.” Dokter menoleh kepadaku. “Hanya itu yang bisa kami berikan.”

Ketika perawat hendak membersihkan tubuh bagian bawah Sang Letnan, pria itu menggeleng keras. Aku mencuri pandang ke arah mata Letnan Stijfhart. Kuputuskan segera mengisi ember hisop dengan air. Lalu  mulai membuka buku doa: “Semoga air suci ini mengingatkan saudara akan Sakramen Baptis yang telah saudara terima dan mengingatkan pula akan Yesus Kristus yang telah menebus kita melalui sengsara, wafat, dan kebangkitanNya.”

Kuperciki sedikit wajah dan tubuh Sang Letnan.  Kali ini ia diam.

“Mari kita dengarkan Injil Matius Bab 8 ayat 5-8 dan 10.13.  Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia…” Aku berhenti sebentar, kuputuskan mengubah bacaan di luar ketetapan liturgi.

“Apakah engkau mau dengar kisah Lazarus? Itu nama baptismu, bukan?” Letnan tak menjawab. Aku mulai membaca: “Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu.”

“Ya, itu aku.” Senyum Letnan mengembang. “Tadinya aku khawatir engkau akan membaca kisah Lazarus yang dibangkitkan oleh Yesus.”

“Mengapa tak suka kisah yang itu?” tanyaku.

“Sebab Lazarus yang itu tak ada di sini.” sahut Letnan. “Sebab Lazarus yang ini tak pantas menerima kebangkitan. ”

“Semua akan dibangkitkan kelak,” kugenggam telapak tangannya, lalu kulanjutkan membaca: “…anjing-anjing datang menjilat boroknya.  Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.  Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.”

“Apakah Ia akan menerimaku? Apakah…” Kutunggu Letnan Stijfhart menuntaskan kalimatnya yang menggantung, tetapi tampaknya ia takkan bisa melakukan itu.

Kututup Kitab Suci, lantas menoleh ganti berganti ke arah mata Letnan yang tertutup, dan ke arah Dokter Jaap yang berdiri di sisi ranjang. Dokter memeriksa pergelangan tangan, lalu mencelikkan kedua mata Sang Letnan.

“Tolong catat, Suster.” Dokter melirik jam di sakunya. “Waktu kematian pukul 23.12.”

Kuperlukan sejumlah waktu menyelesaikan doa Penyerahan Arwah seraya memandang wajah Letnan Stijfhart sebelum Dokter menutup tubuh kurus itu dengan selimut.

*Iksaka Banu, cerpenis, tinggal di Jakarta. Kumpulan cerpennya, Semua untuk Hindia (KPG, 2014), mendapat penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2014. Buku yang sama mengantar penulis diundang ke Frankfurt Book Fair 2015 pada Oktober 2015.

 

Keterangan
Almuseneer: Pastor Tentara
Cassock: Baju Imam Katolik
Hisop: Alat pemercik air

 

_________________________________________

Proses Kreatif

Ketika diminta membuat cerpen yang mengacu pada salah satu bacaan Alkitab, kepala saya mendadak pening. Terus terang saya cukup jarang membaca Alkitab, kecuali hari Minggu di gereja. Itu kesulitan pertama. Kedua, sebagai seorang freelancer desain grafis, sebulan terakhir saya sedang dikejar sejumlah deadline pekerjaan yang anehnya tak kunjung rampung. Ketiga, sungguh sial, saat itu saya sedang tidak punya stok cerita sepotong pun di kepala.

Syukurlah, secara kebetulan Bacaan Pengantar Injil adalah kisah yang sangat terkenal sejak saya kecil, yaitu si miskin Lazarus yang kelewat mencerita di dunia. Seluruh badan penuh luka, makanannya pun remah-remah yang jatuh dari meja Si Kaya, bahkan boroknya pun dijilati anjing. Penderitaan itu berakhir setelah ia meninggal, masuk surga, dan duduk di pangkuan Abraham, sementara Si Kaya tercebur ke neraka karena ketamakannya, ganti mengemis belas kasih kepadanya.

Berbekal kisah ini, ditambah sepotong catatan pilu tentang Perang Aceh dan keganasan wabah kolera, serta jejak misionaris Pater Verbraak (1882-1907) di sana, saya coba gabungkan menjadi sebuah cerpen.

 

*Cerpen ini tayang di Majalah Litera Edisi Desember 2016

Editor Litera

The author Editor Litera

1 Comment

  1. Hmm it seems like your site ate my first comment (it was extremely long) so I guess I’ll just sum it up what I submitted and say, I’m thoroughly enjoying your blog. I too am an aspiring blog blogger but I’m still new to everything. Do you have any tips for first-time blog writers? I’d certainly appreciate it.

    http://www.zvodretiluret.com/

Leave a Response