close
singapore-2463786_1920

Udara dingin menyergap saya di Terminal Cicaheum. Saya buru-buru melekatkan jaket pada badan. Jalanan pun masih berembun. Namun, terminal ini sudah ramai dengan aktivitas para supir dan para pedagang. Saya bersama teman saya menyusuri jalanan dan mencari masjid. Terdengar selawat nabi menguar melalui corong-corong masjid. Tapi kami tak kunjung menemukan asal suara.

 

“Bu, masjid terdekat di sebelah mana ya?” tanya Arif pada penjual kue pukis.

Kami berjalan sesuai dengan petunjuk penjual kue pukis. Berselang berapa menit, kami sudah sampai di masjid. Gelap dan ditutup rapat. Kami duduk di teras masjid. Sekedar berselonjor untuk melepas rasa pegal setelah perjalanan panjang dari Yogyakarta.

Tak lama kemudian, datang seorang bapak separuh baya. Membuka kunci pintu masjid. Wajah kami cerah. Kami masuk, menyimpan tas, lalu membersihkan muka, berwudu dan salat. Kami telah memutuskan untuk menunggu langit terang di masjid ini. Setelah itu, baru melanjutkan perjalanan untuk menghadiri sebuah pelatihan tentang peace education (2013).

Teh, sudah doanya?” tanya bapak-bapak separuh baya itu.

 

Konsentrasi saya buyar. Saya sudahi doa saya. Bapak itu menyuruh saya segera keluar. Saya bergegas melipat mukena. Saya hanya menyimpaikan kerudung ala kadarnya. Masjid dikunci kembali. Lampu dimatikan semua. Hanya ada terang bulan dan cahaya lampu dari rumah-rumah sekeliling masjid. Dua teman saya sudah duduk di teras. Kami diam tak saling bicara. Lalu bergegas keluar gang mencari angkot yang akan membawa kami ke tempat tujuan. Saya tahu ada yang sedang bergejolak di dalam pikiran kami masing-masing. Saya terus berjalan sembari meyakinkan diri ada banyak masjid inklusif di kota ini.

***

Langit biru di Singapura. Jalanan pun lengang. Saya dan rombongan berjalan dengan gairah penuh. Ini hari pertama kami tiba di Singapura. Kami ada di sini dalam rangka memperingati World Interfaith Harmony Week yang selalu diperingati pada tanggal 1-7 Februari setiap tahun di seluruh belahan dunia.

 

Tujuan pertama kami adalah Masjid Abdul Ghafoor. Beberapa teman belum menunaikan kewajibannya. Sembari menunggu, saya dan teman-teman berkeliling di masjid bercat hijau berpadu dengan warna emas dan putih. Masjid ini terletak di Dunlop Street di area Rochor, dekat penginapan kami. Tepat di depan masjid di samping pintu gerbang, ada sebuah ruangan untuk pengunjung. Di dalamnya terdapat informasi-informasi tentang Islam dalam bentuk pamflet dan buku. Salah satu buku berjudul Apa yang Harus Diketahui oleh Kristiani tentang Islam menjadi buku menarik bagi teman Kristiani saya. Di sini juga terdapat Alquran dalam berbagai bahasa. Pakaian-pakaian Muslim dan Muslimah dipajang dan dapat dipinjam untuk berfoto. Melengkapi itu semua, di pojok ruangan ada kulkas berisi minuman botol. Di atasnya tertulis ‘Gratis untuk Pengunjung Non-Muslim.’ Teman-teman Kristiani senang bukan main.

Lha terus buat kita yang Muslim gimana?” Teman saya nyeletuk. Barangkali dia sedang kehausan.

“Minta aja sama teman Kristiani. Suruh mereka ambil dua botol per orang,” teman saya yang lain menimpali. Ide ‘brilian’ muncul. Hahaha. Lalu, saya pun mengikuti ide brilian itu, mengingat perjalanan kami masih panjang dan pasti akan membutuhkan asupan air yang banyak. Alasan lainnya, tentu saja untuk menghemat pengeluaran. Keluar dari masjid cantik tersebut, tas teman-teman Kristiani bertambah berat. Di dalamnya terdapat buku-buku dan Alquran.

Tak lengkap rasanya ke Singapura tanpa berbelanja ke ChinaTown. Di sepanjang jalan,  aksesoris perayaan Tahun Baru Cina menghiasi kota ini. Tahun ini dinobatkan sebagai tahun Ayam. Nuansa merah dan kuning memanjakan mata kami, menambah keceriaan berbelanja di sini. Perjalanan saat itu, melangkahkan kaki kami ke Masjid Jami (Chulia).

Wishing All Chinese Friends a Happy Lunar New Year

Tulisan di atas menyambut kedatangan kami di Masjid Jami (Chulia). Bagi saya, ini momen apik. Harus diabadikan. Buru-buru saya dan teman saya mengambil foto di sini. Ada kehangatan yang diam-diam menyelinap masuk ke dalam batin saya. Lagi, saya menemukan masjid yang ramah pada etnis lain. Masuk ke dalamnya, tentu saja di dinding-dinding penuh dengan penjelasan-penjelasan tentang Islam. Apa itu Islam. Siapa itu Nabi Muhammad?

 

Perjalanan kami selanjutnya mengunjungi Harmony Center. Bertempat di Masjid An-Nahdah. Terletak di Bishan Street 14. Masjid ini menyimpan keunikan tersendiri. Jika di dua masjid sebelumnya ada penjelasan-penjelasan tentang Islam, maka di sini ada penjelasan-penjelasan agama lain yang eksis di Singapura. Tercatat ada 10 agama: Bahai, Sikh, Tao, Yahudi, Jain, Zoroaster Buddha, Hindu, Kristen, dan Islam.

“Hal ini mengundang kontroversi sebenarnya. Orang-orang berkomentar, kok di masjid ada penjelasan tentang agama lain?” ucap lelaki lulusan Al-Azhar Mesir ini. Ia menjadi pemandu kami mengelilingi Harmony Center.

“Kendati demikian, telah banyak orang, lembaga, bahkan negara-negara datang ke sini untuk belajar tentang keberagaman,” lanjutnya.

Di sini, saya ditunjukkan bagaimana seharusnya masjid menjalankan perannya, yakni menjaga keberagaman dan menjadi penyatu umat. Tempat ini memang dimotori oleh Majelis Ulama Islam Singapura. Tujuannya untuk mempromosikan pemahaman Islam yang sejati di tengah-tengah kehidupan multi-etnik dan agama di Singapura.

 

Menutup perjalanan saya, selepas berkunjung ke komunitas agama Jain, saya dan beberapa teman singgah di salah satu masjid – saya lupa nama masjidnya – selepas menunaikan salat, dan bercengkrama ala kadarnya. Kami diberi beberapa gelas air minum. Di raut wajah kami memang tersurat lelah dan haus setelah melakukan aktivitas dialog dan berkunjung ke beberapa komunitas agama di sana. Segelas air minum mampu mencerahkan kembali wajah kami, juga batin kami di negara tetangga. Negara ini memberikan perjalanan yang manis. Kunjungan demi kunjungan ke beberapa masjid membuat saya terenyuh apa artinya persaudaraan sesama manusia.

 

Oleh: Layla Badra Sundari  
Kediri, 30 Juli 2017

 

*Naskah ini terpilih sebagai lima naskah terfavorit dalam kompetisi Lomba Menulis Perjalanan ke ASEAN yang diadakan Redaksi Litera dalam ajang ASEAN Literary Festival 2017

 

 

 

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response