close
dance-1657494_1920

Ada sebuah pertanyaan yang dulu tidak pernah terjawab, sebuah pertanyaan mengenai namaku.
Namaku April, lahir bulan Desember.

 

***

“April masih demam? Nanti malam kita ke dokter ya.”

Ibu berjalan tergesa, melongok April yang terbaring lemah. Si kecil April yang kurus, yang sakit-sakitan sejak kecil. Rumah sudah sepi karena ayah sedang dikirim ke luar kota. Ibu sebentar lagi harus berangkat ke kantor, seperti biasa meninggalkan April berdua dengan Mbok Juminten.

Mata April berkaca-kaca. Sudah beberapa hari ini ia lemas dan demam. Bukan barang baru baginya, tapi ada yang berbeda kali ini. Ia melihat sosok bersetelan krem itu menjauh, ponsel menempel di telinga. Ia merasa sesak dan sedih.

Jangan pergi, Ibu…

***

Malam tiba. April menatap jam.

Jam praktik dokter Diandra adalah jam 7 sampai 9 malam.

Sekarang sudah jam 7.30.

Tadi rapat mendadak. Ibu akan segera pulang, kok. Kamu sudah didaftarkan kok. Tunggu ya, April.

Jam 8.30

Ibu masih di jalan. Kita ke dokter besok saja ya, April. Yang penting kamu minum obat yang biasa malam ini. Minum air putih yang banyak. Demam kamu pasti cepat turun.

Jam 9.30

April memejamkan matanya, bermimpi mengenai pesawat yang terbang tinggi sekali, seperti cerita ayahnya. Bermimpi mengenai boneka salju yang dijanjikan ayah untuk dibawa pulang.

Bermimpi pulang.

***

Lima belas tahun kemudian.

April tidak pernah tahu kenapa ia begitu takut menatap mata ibunya. Terkadang mata ibu memancarkan kengerian yang tidak terjelaskan oleh April. Padahal ibu selalu memanjakan April-atau, setelah dipikir kembali, sebenarnya ibu yang manja pada April. Ibu selalu menempel pada April. Setahu April, sejak ia lahir ibu selalu di rumah, bersama April. Ibu mengantar April ke sekolah, ke tempat les, kemanapun. Ibu selalu memastikan April baik-baik saja.

Teman-teman April sering berkomentar betapa beruntungnya April, karena punya ibu yang begitu perhatian. Tetapi entah kenapa April tidak merasa seberuntung itu.

***

Di rumah, banyak barang yang muncul begitu saja tanpa April ketahui asal usulnya.

April ingat, ketika SD ibu pernah memaksanya mengikuti kursus balet. Padahal April lebih suka olahraga. April menolak, tetapi satu set baju balet lengkap dengan rok tutu dan sepatu warna senada sudah ada di atas tempat tidurnya esok pagi. Baju itu bukan baju baru. Entah darimana ibu mendapatkannya.

Ballet Shoes, Pink, Ballet, Dance, Girl, Ballerina

“Ayo, April. Kita pergi menari ballet.”

April diajak ke sebuah ruangan yang dindingnya kaca semua, penuh anak-anak yang berjuang untuk menjinjitkan kakinya. Di sanalah April berkenalan dengan Mbak Rossi, si guru balet. Si guru balet yang berbincang lama dengan ibu. Si guru balet yang sering April pergoki menatap dirinya dengan…aneh.

***

“Bu, kenapa aku dinamai April? Aku kan lahir bulan Desember?”

Ibu hanya menjawab itu dengan senyum. Lalu tatapan itu. Ibu sering menatap April sambil tersenyum. Ibu sering merangkul April dan mencium kedua pipinya. Ibu sering masuk ke kamar April malam-malam, hanya untuk memeluknya. Terkadang sambil menangis.

April tidak pernah mengerti.

Mata ibu…tidak dapat April pahami. Mata yang menatap April, justru membuat April merasa asing.

***

Ibu memang sulit dipahami. Terkadang ia menatap April lekat-lekat dari atas ke bawah, lalu kembali membawa baju-baju.

“Kamu harus pakai ini. Kamu pasti cantik sekali. Cobalah.”

Lalu, aku ingat ibu menangis ketika melihatku memakai baju itu, entah kenapa. Ia peluk aku keras-keras sampai aku tidak bisa bernapas.

“April, anakku…ibu sayang padamu…maafkan ibu, maafkan ibu….”

Aku melihat ayah dari balik punggung ibu.

Matanya bulat dan hitam.

***

Terkadang ibu datang membawa buku, boneka, dan tas.

“April, ini barangmu.”

“Bukan, Bu…”

“Nggak April, ini punya kamu! Simpan baik-baik!”

April tidak tahu darimana barang-barang ini datang. Tetapi ibu April begitu lembut dan penyayang, April terlalu sungkan untuk menolak apapun. Ibu April begitu halus, April tidak ingin melukainya. Jadi April hanya berterima kasih.

Sama seperti baju baletnya, barang-barang itu tidak ada yang baru.

***

1 April, hari pertunjukkan baletku yang pertama, satu hari sebelum aku memasuki kelas SMP 2, adalah hari dimana ibuku masuk rumah sakit jiwa.

Ballet, Sneaker, Dress, Ballet Dancer, Dance

Aku hanya mendengar berita itu dari ayah. Ayah memang tidak pernah tampak menyukai ibu. Sama seperti Mbak Rossi. Terkadang, mereka tampak seakan ingin berbicara, tetapi tidak jadi. Mereka tampak seperti orang-orang yang menyimpan rahasia, oleh karena itu April terbiasa membenci mereka. April ingin melindungi ibunya yang lemah dari mereka. Tapi ternyata ibu kalah.
Ibuku masuk rumah sakit jiwa dan ayahku membuka pintu gudang…

***

Ada satu ruangan dalam rumahku yang tidak pernah kumasuki. Gudang.

“April…ayah ingin kau terbebas dari penderitaanmu selama ini.”

April menggaruk rambut, menatap ayahnya dengan tidak mengerti. Ia masih memakai kostum baletnya.

“Ibumu melarang ayah untuk memberitahu ini. Tetapi kamu sudah besar…ayah ingin membebaskanmu.”

“Dengan cara mengurung ibu?”

“Ibumu sakit, April. Apa kamu tidak pernah menyadarinya?”

Memori April berputar. Banyak orang yang sering membicarakan ibu di belakang. Banyak orang yang menatap ibunya seperti orang asing yang aneh. April pernah bermimpi membunuhi semua orang itu. Karena di dunia ini, hanya ada April yang bisa melindungi ibu dari orang-orang kejam. Ibu terlalu halus, terlalu lembut.

April mengepalkan tangannya.

“Ayah ngomong apa sih? Ayah, cepat keluarkan ibu. Ibu nggak gila.”

April bergolak oleh kemarahan. Ibu membutuhkan April. April tidak dapat membayangkan ibunya sendirian di tempat asing seperti itu.

Ayah menunduk, menatap April. April melihat bola mata hitam kental seperti obat batuk. April menatap mata ayah.

“April, dengarkan cerita ayah…”

Pintu gudang terbuka. April memasuki sebuah kamar yang tidak pernah ia ketahui keberadaannya. Kamar milik seorang anak perempuan bernama April yang meninggal saat kecil karena demam berdarah. Fotonya masih terpajang di meja belajarnya. Gadis itu memakai baju balet, persis yang ia kenakan saat pertama kali menginjak studio Mbak Rossi.

April mendengar suara ayah terisak.

“April…maaf. Seharunya ayah melakukan ini dari dulu. Tapi ibumu begitu rapuh…April, maaf.”

April terdiam. Ia mengenali beberapa mainan masa kecilnya. Ia mengenali beberapa pakaian kesukaannya. Tepatnya, semua pakaian favoritnya di masa kecil. Yang hilang entah kemana, sama seperti kemunculannya yang juga entah dari mana.

“Sebenarnya…semua ini apa?”

“Ini adalah kamar almarhum kakakmu. Ya, kamu punya seorang kakak…yang meninggal sebelum kamu lahir.”

April memutar balik jalan hidupnya dalam kepala dan mendadak ia sadar bahwa ia…bukan April yang dimaksud ibunya. April yang sebenarnya memang lahir di bulan April. April yang sebenarnya mati terlalu muda, menyisakan penyesalan dan pelampiasan yang mengisi jalan hidup seorang anak yang dilahirkan untuk melipur lara.

“Maka dari itu, April…mulai hari ini, kamu bebas untuk menjadi dirimu sendiri…”

April menatap mata ayah. Bulat, hitam, kental, pahit. Seperti obat batuk. April mengamuk dan membanting semua barang tua yang ada di kamar itu dan menjerit memekik meraung.

“Ayah…aku tidak tahu apa arti kata-katamu…!!!”

*oleh Olivia Elena Hakim

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response