close
umbrella-1807513_1920

Jalan sempit menuju Pagoda Shwezigon berdebu bukan main. Masih berpermukaan tanah dan batu, Saya dan Diyan mengayuh sepeda sewaan dari hotel melewati jalanini. Saingan kami adalahpara pejalan kaki, pengendara motor, hingga truk barang. Banyak dari mereka yang mengenakan sarung panjang, baik lelaki maupun perempuan, dan dengan lincahnya mengayuh sepeda lebih cepat daripada saya yang bercelana panjang.

 

Pagoda yang kami tuju ramai dikunjungi wisatawan, pedagang, dan para penganut agama Budha. Ternyata saat itu sedang berlangsung Festival Shwezigon, yang selalu jatuh di bulan Oktober atau November. Kegiatan para pengunjung berpusat pada bangunan pagoda berwarna emas setinggi 48 meter, yang dikelilingi koridor di empat penjuru. Di salah satu sisi pagoda, para biksu berbaris rapi, mengantre untuk pembagian makanan dan uang. Sementara di semua sisi tersebar para wisatawan yang sibuk memotret pagoda dan para biksu. Di salah satu koridor, berderet meja yang menjajakan dagangan berupa suvenir, kudapan, pakaian, dan sarung.

“Aha! Ini dia sarungnya!” saya berseru ketika melihat tumpukan sarung, yang ternyata disebut ‘longyi’,beraneka warna. Sesungguhnya, sejak melihat banyak warga Myanmar yang memakai sarung sejak saya turun dari pesawat di Yangon International Airport, ingin sekali saya mencoba memakainya, karena mereka terlihat anggun dan unik. Langsung saya memilih-milih dan akhirnya membeli dua potong sarung, dan Diyan satu potong. Dengan bantuan si gadis penjual, longyi baru berwarna hijau dengan garis-garis emas terlilit di pinggang saya dan langsung saya pakai untuk berkeliling pagoda.

Memakai longyi, yang rasanya mirip memakai rok span panjang, ternyata agak repot. Mungkin karena saya tidak terbiasa memakai rok panjang. Untuk duduk di pinggiran koridor yang rendah, saya harus berhati-hati agar kainnya tidak robek.Ketika sudah berhasil duduk dengan nyaman, saya memerhatikan orang lalu-lalang. Mata saya kemudian menangkap beberapa orang biksu yang sedang duduk dan merokok di bawah pohon rindang, agak jauh dari keramaian. ‘Oh, ternyata biksu juga ada yang merokok, seperti orang biasa,’ batin saya.

Menjelang sore, kami melanjutkan jalan-jalan ke pasar, dekat dari Shwezigon. Masih memakai longyi, saya berusaha naik sepeda. Gagal. Daripada terserimpet longyi sendiri, saya copot kain itu dan simpan di tas.

Lorong-lorong pasar terasa familier. Kios-kios kayu menjajakan sayur-mayur, buah-buahan, bumbu masak, peralatan dapur dari plastik, hingga pakaian dengan berbagai motif dan warna mencolok. Bedanya, berkali-kali kami disapa dalam bahasa Myanmar, mungkin karena tipe wajah melayu kamiyang mirip mereka. Satu hal lagi yang terasa asing, yaitu ketika saya melihat dua orang biksu dengan jubah kuning khasnya. Tentu tak ada larangan biksu ke pasar. Namun, salah satu dari mereka mencolek lengan seorang pembeli di pasar, kemudian menengadahkan telapak tangan seperti meminta sesuatu. Saya hampir tak percaya, tapi itulah yang saya lihat. Saya tak mengerti, apakah memang hidup biksu di sana sangat sulit sehingga harus meminta-minta.

Hari berikutnya saya mengajak Diyan untuk memakai longyi seharian penuh. Tentunya kami tak akan bersepeda, melainkan menyewa delman. Delman di sana agak berbeda dengan di Indonesia. Tempat duduk bagian belakang tidak ada bangku, hanya ada matras. Pilihan saya, yang masih beradaptasi dengan longyi, hanya duduk dengan kaki diluruskan, atau duduk menghadap belakang dengan kaki bergantung ke luar. Posisi paling nyaman adalah duduk di samping Pak Kusir, apalagi dengan pemandangan yang lebih terlihat jelas dan luas di depan. Maka, atas nama keadilan, saya dan Diyan duduk bergantian di depan pada hari itu.

Tur delman dimulai dengan menyaksikan matahari terbit dari atas pagoda Bulethi. Menaiki tangga pagoda yang curam sungguh menantang kemahiran kami mengatur langkah dalam lilitan longyi. Namun ketika sampai di atas, jerih payah kami terbayar kontan dengan pemandangan romantis pagi itu. Seiring naiknya matahari dari ufuk timur, terlihat hamparan tanah luas dengan pagoda dan kuil yang tersebar. Inilah alasan Bagan dijuluki sebagai ‘the city of temples’. Berbagai sumber menyatakan bahwa dulu terdapat lebih dari 10.000 bangunan peribadatan, terdiri dari pagoda, biara, dan kuil, dan mencapai kejayaannya pada zaman Kerajaan Pagan. Waktu itu, Bagan bahkan menjadi tempat para biksu dan pelajar dari negeri-negeri tetangga untuk menuntut ilmu.

Kejayaan masa itu menjadi sulit dibayangkan, melihat kenyataan kini hanya tersisa sekitar 2.000 pagoda, dan kehidupan masyarakat yang tidak terlalu makmur. Salah satu penyebabnya adalah gempa bumi besar pada tahun 1975. Namun, 2.000 pagoda tetaplah banyak. Jika di Jakarta hampir setiap 100 meter saya melihat mini market, di Bagan tak sampai tiap 50 meter rasanya saya melihat pagoda atau kuil, baik di tepi jalan raya ataupun membelusuk di antara semak belukar.

 

Pagi itu balon udara beterbangan di atas lahan seluas sekitar 100 kilometer persegi, membawa para wisatawan yang beruntung menyaksikan sebaran pagoda dan kuil dari atas, dilatari langit yang bersemu merah dan jingga. Di antara ribuan pagoda dan kuil yang tersisa, terdapat beberapa yang paling menarik bagi wisatawan karena paling besar, mewah, dan sarat sejarah, selain Shwezigon yang tadi saya ceritakan. Kuil Ananda merupakan kuil tercantik yang saya kunjungi. Ia dianggap sebagai pencapaian tertinggi seni arsitektur kerajaan Pagan karena berbagai teknik yang digunakan dalam membangunnya. Teknik-teknik itu meliputi ukiran batu dan kayu, pencetakan besi, serta lapisan batu bata.

Sedangkan kuil Dhammayangyi, bentuknya menyerupai piramida dan dibangun atas perintah Raja Narathu yang kejam dan perfeksionis. Sedikit saja celah tersisa di sela-sela batu bata, pekerja bangunan bisa dihukum mati. Kuil ini menjadi favorit saya bukan karena kekejaman rajanya, tapi karena bentuknya yang berbeda dari yang lain, paling sederhana tapi tetap terkesan megah.

Banyak lagi kuil dan pagoda yang kami kunjungi selama lima hari di Bagan. Di sela-sela kunjungan itu tentunya kami mencoba makanan di restoran dan warung yang berbeda-beda, dari makanan lokal hingga internasional. Hal yang paling berkesan bagi saya justru bukan makanannya, tapi suatu kejadian di sebuah restoran. Selesai makan, saya hendak mencuci tangan di wastafel. Tak disangka-sangka, seorang pegawai restoran menuangkan air dari teko untuk saya cuci tangan. Wah, belum pernah saya alami ini sebelumnya. Rasanya bak putri raja, air cuci tangan dituangkan.

 

Lima hari di Bagan tidaklah cukup. Masih banyak kuil dan pagoda yang belum sempat kami kunjungi, dan aspek kehidupan masyarakatnya yang belum sempat kami perhatikan. Namun begitu, kami sudah cukup terpukau akan peninggalan-peninggalan kejayaan Bagan yang kami saksikan langsung. Jika ada punya mesin waktu, sudah pasti Bagan di masa itu menjadi destinasi perjalanan kami selanjutnya.

 

oleh: Saphira Zoelfikar

*Naskah ini terpilih sebagai lima naskah terfavorit dalam kompetisi Lomba Menulis Perjalanan ke ASEAN yang diadakan Redaksi Litera dalam ajang ASEAN Literary Festival 2017

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response