close
letters-2213632_1920

Jika suatu saat kau kebetulan melewati jalan itu, kau akan melihat sebuah rumah yang bagai tumbuh dari semak-semak mawar. Rumah itu memiliki pekarangan penuh mawar, dengan pagar kayu bercat putih salju. Saat angin menggoyangkan semak-semak tumbuhan berduri itu, rumah itu pun bagai ikut bergoyang. Tak jarang, aroma bunga-bunga itu mengembara sampai ke ruas jalan.

Beberapa kali, para pejalan kaki, khususnya para perempuan, suka menghentikan langkah kakinya begitu sampai di ruas jalan itu. Mungkin mereka membaui aroma itu. Lantas, tanpa izin mereka berjingkat memetik setangkai mawar yang menjulur keluar pagar. Pemilik rumah itu memerhatikan mereka dari balik kaca jendela dan hanya tersenyum. “Petiklah sesukamu, Nona. Mawar memang diciptakan untuk para perempuan.”

Ketika para perempuan itu memetik sekuntum mawarnya sembunyi-sembunyi, ia selalu menganggap perempuan-perempuan itu pasti sangat menyukai mawar, seperti istrinya. Sebab itu ia tak pernah menegur mereka. Ia paham perasaan istrinya. Ia paham tabiat perempuan yang menyukai mawar. Lagipula, masih ada puluhan atau mungkin ratusan kuntum mawar di halamannya. Sungguh keterlaluan jika ia tak membiarkan para pejalan kaki itu mengagumi keindahannya dengan memetiknya barang setangkai.

Pada hari-hari tertentu, terutama di akhir pekan seperti hari ini, pemilik rumah itu akan berjibaku di antara bunga-bunga penuh duri itu. Ia adalah seorang lelaki tua dengan rambut penuh uban hingga seluruh kepalanya tampak kelabu. Saat matahari lunas menumpahkan teriknya, barangkali kau akan kesulitan membedakan mana lelaki tua itu dan mana pohon mawar yang kering layu. Di bawah matahari, keduanya berwarna nyaris sama: kelabu. Dan kalau kau mau tahu, lelaki tua itu adalah aku. Ia adalah aku.

Barangkali terlihat aneh, seorang lelaki tua dengan keranjang bunga di tangannya, memetik tangkai-tangkai mawar dengan cermat. Berjingkat menyisihkan duri dan menepikan serangga-serangga kecil yang hinggap dan merayap di antara bunga-bunga berseri itu. Ya, barangkali itu akan terlihat aneh. Tapi barangkali juga tidak terlihat aneh kalau lirikanmu bergeser sedikit lebih detail, ke arah beranda.

Apa kau melihatnya? Ya, wanita itu. Wanita yang duduk di beranda, di sebelah meja kaca dengan vas mawar di atasnya. Wanita yang mengenakan sweater rajut warna merah tua dan mengayun-ayunkan setangkai mawar putih di tangan kanannya. Ya. Ia yang duduk di sana. Mungkin kau kerap melihatnya.

Ia istriku. Namanya Rosana. Tapi aku lebih suka memanggilnya Rosi. Hanya Rosi. Rosiku yang manis dan beraroma mawar. Aku mengenalnya lebih baik dari mengenal diriku sendiri.

Lihatlah! Lima detik ke depan ia akan mengembalikan setangkai mawar putih yang ia pegang itu ke dalam vas, dan mengambil mawar merah sebagai gantinya, dan mengayun-ayunkannya lagi. Ia suka melakukannya. Satu dua kelopak terkadang berguguran mengotori lantai. Dan Rosi hanya memelototinya, sampai aku datang dan memunguti kelopak-kelopak itu lalu memasukkannya ke dalam saku.

Kami punya banyak vas mawar yang sama dalam rumah. Vas mawar kecil—yang terbuat dari keramik, yang selalu kami isi dengan tiga tangkai mawar, dua merah satu putih, atau satu merah dua putih. Aku dan Rosi selalu menyukai mawar, dan karenanya, halaman dan teritis rumah kami sesak dengan semak mawar. Merah dan putih. Juga biru, kuning, dan jingga. Tapi, selain merah dan putih, mereka jarang sekali berbunga. Kalaupun berbunga, bunganya cenderung kerdil dan kurang cocok dipajang dalam jambangan.

Mawar merah dan putih selalu menjadi andalan kami, mereka berbunga sepanjang musim dan begitu setia mengisi vas-vas mungil kami. Dan keduanya memang warna istimewa. Seperti warna bendera yang gagah sekaligus anggun. Seperti sebuah simbol dalam sebuah lagu. Merah seperti warna darah kami, dan putih seperti warna tulang kami. Merah darahku, putih tulangku. Merah cintaku. Putih kasihku. Sungguh indah.

Flower Shop, Meissen Impression, Hdr

Aku dan Rosi sangat karib dengan mawar. Bunga anggun dengan kelopak berjejalan itulah yang mempertemukan kami. Cerita itu dimulai pada suatu pagi yang bening, puluhan tahun silam. Aku dan Rosi tak sengaja bertemu di sebuah toko bunga. Rosi datang beberapa menit setelahku. Ia datang untuk seikat mawar. Tapi ia terlambat. Seikat mawar terakhir sudah kubayar dan siap kubawa pulang. Kami saling tatap sebentar, sebelum akhirnya Rosi menghampiriku.

Dengan sedikit basa-basi Rosi menyapaku, “Mawar yang indah,” tuturnya dengan senyum mengembang.

“Terima kasih. Mawar memang selalu indah,” balasku spontan, tanpa menyangka bahwa Rosi muda yang anggun itu akan menyapaku.

“Apa kau sangat menyukai mawar?” Rosi mengedarkan pandangan ke bunga-bunga yang tertata dalam vas raksasa. Dahlia dan amaryllis. Juga krisan dan seruni. Serta beberapa bunga lain. Tiga vas besar yang semula berisi mawar sudah kosong.

Mendengar pertanyaan Rosi aku langsung mengangguk dan menatap mawar yang tiba- tiba terasa jauh lebih indah itu.

“Apa itu untuk kekasihmu?” tanyanya kemudian.

“Oh,” aku menggeleng, “aku masih sendiri.”

Rosi terlihat canggung. Jelas sekali ia tak tahan lagi dengan basa-basi yang dibuatnya sendiri. Maka setelah kami terdiam beberapa saat Rosi pun mengatakannya, “Mmm… sebenarnya aku butuh mawar itu. Mmm… maksudku, kalau kau tak keberatan aku rela membayar mawarmu itu dua atau tiga kali lipat.”

Silih aku yang terlihat canggung. Perempuan penjaga toko bunga tampak memerhatikan kami. Sesekali Rosi meliriknya.

“Apa mawar ini sangat penting untukkmu?” aku menggigit sedikit bibirku, takut kalau pertanyaanku salah atau malah konyol.

“Oh, penting. Tentu saja mawar itu sangat penting.”

“Bukankah biasanya lelaki yang memberikan mawar untuk kekasihnya, dan bukan malah sebaliknya.”

“Ou, itu bukan untuk kekasihku, aku belum punya kekasih,” balas Rosi tampak antusias.

“Lalu?”

“Mawar itu untuk ibuku. Hari ini ia berulang tahun. Dan ia sangat menyukai mawar. Aku hanya ingin menyertakan mawar itu sebagai pelengkap kado untuknya. Sejujurnya, aku sudah berkeliling ke tiga toko bunga. Tapi semua mawar telah ludas. Mereka bilang hari ini ada dua kampus yang tengah menyelenggarakan wisuda kelulusan. Dan pada saat-saat seperti itu, mawar selalu laku. Ya, ini salahku juga, seharusnya aku datang lebih pagi, atau paling tidak memesan jauh-jauh hari.”

Rosi terdiam sejenak, lalu tertawa masam, sedikit malu-malu, “Yah, baiklah. Mungkin aku memang belum beruntung. Tak masalah. Hari ini akan tetap berlanjut dan ibuku akan tetap meniup kue ulang tahun meski tanpa mawar. Maaf, sudah menahanmu. Kau pasti terburu-buru. Aku duluan kalau begitu,” lanjutnya, dengan seuntai senyum yang keindahannya nyaris mirip dengan seikat mawar yang kupegang.

Rosi melenggang meninggalkanku yang hanya diam seperti patung. Entah siapa yang menyuruhku, tiba-tiba aku berlari menyusul Rosi. Di sebuah trotoar, tepat di bawah tiang lampu jalan, di depan toko bunga itu, aku menghadangnya, “Ini untukmu,” kataku tanpa berpikir panjang, “mawar ini untukmu saja.”

Seikat mawar itu segera berpindah ke tangannya.

“Itu untuk ibumu,” kataku lagi.

Rosi tampak sedikit canggung, sambil menatap seikat mawar itu ia bertanya “Mengapa tiba-tiba kau memberikan mawar ini padaku?”

Dengan pelan kujawab, “Mawar itu akan lebih bermanfaat untukmu.”

“Apakah mawar itu tidak terlalu penting untukmu?” ia bertanya lagi.

“Penting,” jawabku, “tapi mawar itu akan lebih bermanfaat untukmu.”

Sebelum ia bertanya lagi, segera kujelaskan, bahwa hari itu bertepatan dengan lima tahun hari kematian ibuku. Dan seikat mawar itu, rencananya akan kubawa ke makam ibuku dan kuletakkan di atas pusaranya, seperti yang kulakukan setiap tahun.

Mendengar penjelasanku, Rosi hanya terbengong. Ia menatapku agak lama sebelum mengembalikan seikat mawar itu padaku.

“Aku sangat berterima kasih. Sungguh. Tapi mawar ini untukmu saja.”

“Tidak. Ini untukmu saja. Aku tak keberatan.”

“Tapi aku tak mungkin menerimanya, mawar itu sudah kausiapkan untuk ibumu. Untuk kau letakkan di pusaranya. Jadi sebaiknya kau melanjutkan rencanamu. Tradisi penghormatan itu. Dan maaf, aku turut berduka atas ibumu. Aku yakin, ia seorang ibu yang beruntung.”

“Sesungguhnya, dengan atau tanpa mawar di atas pusaranya, penghormatan dan doa-doaku untuk ibu tak berkurang sedikitpun.” Seikat mawar itu kembali kuserahkan padanya, “Ibumu lebih membutuhkannya,” lanjutku.

Begitu mawar itu sudah berpindah ke tangannya untuk kedua kali, aku tersenyum padanya dan segera berlalu.

“Hei, aku belum membayarnya,” ia bersuara sedikit lantang.

“Itu hadiah,” balasku sedikit berteriak, yang dibalasnya dengan teriakan terima kasih yang lebih lantang.

Dan kami pun berpisah.

Entah sebab apa, sesampainya di rumah, wajah itu tiba-tiba terus membayang dalam benakku. Senyumnya berkelebat serupa mawar merah yang ranum. Tiba-tiba aku menyesalkan kebodohanku, yang pergi meninggalkannya begitu saja tanpa meninggalkan jejak, bahkan namapun tidak. Semenjak hari itu, aku jadi sedikit konyol dan tak masuk akal. Saat aku ingin pergi ke suatu tempat, aku sengaja berjalan melewati beberapa toko bunga. Tentu saja termasuk toko bunga tempatku dan Rosi bertemu untuk pertama kalinya.

Dengan melewati toko-toko bunga itu, aku berharap sebuah keajaiban agar kami dipertemukan kembali. Terkadang, aku merasa seperti tengah bermain lotre. Menerka-nerka, berharap-harap, dan tak pernah mendapatkan apapun.

 

Cerita Bersambung ini dipersembahkan oleh Mashdar Zainal. Nantikan kelanjutannya hanya di Litera.id, Rabu depan!

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response