close
people-2562694_1920

Sepuluh tahun mengajar di Sekolah Minggu bukanlah waktu yang pendek bagi Budi. Kejenuhan mulai menghantui dirinya.  Apalagi usianya sudah mencapai kepala lima. Anak-anak mulai besar dan meminta perhatian lebih darinya. Hatinya bimbang antara mundur atau tetap mengajar.

 

“Ma, bagaimana baiknya, ya? Apakah aku mundur saja dari mengajar?”
“Terserah Papa saja. Mana yang Papa anggap baiklah.”

Kegelisahan hati Budi memuncak. Malam itu ia bergumul hebat. Sudah dua minggu berturut-turut ia tidak mengajar. “Ya Tuhan, berikanlah petunjuk-Mu, apa yang sebaiknya aku lakukan?” Berhari-hari Budi berdoa dan memohon jawaban, namun seakan-akan Tuhan tidak pernah mendengar doanya. Ia diam. Hatinya semakin resah. “Keputusan harus kuambil!” demikian ia berkata dalam hatinya. Sabtu malam itu, Budi beranjak dari tempat tidurnya. Diambilnya sebuah amplop putih dan selembar kertas. Ia menulis sebuah surat pengunduran diri. Hatinya mantap. Ia tidak akan mengajar Sekolah Minggu lagi.

Minggu pagi Budi ke gereja untuk beribadah. Sambil digenggamnya surat yang ia tulis semalam, ia memasuki ruang ibadah. Tiba-tiba didengarnya suara memanggil dari belakang,”Kaaaak … Kakaaaaak …!” Budi menoleh cepat. Dilihatnya Susan murid di kelasnya berlari menghampiri. Dipegangnya tangan Budi, ditempelkan ke dahinya, Susan berkata lirih, ”Kakaaak … kenapa Kakak nggak ngajar lagiii …?” Budi terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca. Digenggamnya erat tangan Susan. Sambil menghapus air mata yang mulai menetes, Budi berbisik, ”Susan, minggu depan Kakak mengajar lagi, ya. Pasti!”

“Iya, Kak, Susan tunggu.”
Budi memasuki ruang ibadah dengan hati sangat ringan. Akhirnya Tuhan menjawab doanya dengan jelas. Sangat jelas. (26/8/2017

Oleh Julianto Dj.

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response