close
flowers-2427954_1920

Setahun berlalu, dan aku mulai bisa melupakan senyuman yang serupa mawar itu. Hingga pada tahun keenam hari kematian ibuku (yang kebetulan sama dengan hari ulang tahu ibunya Rosi), aku kembali mengunjungi toko bunga itu. Saat itu, ingatanku tentang senyuman mawar itu kambuh dan menggebu-gebu, seolah pertemuan setahun lalu itu baru saja terjadi.

“Mawar,” ujarku pada perempuan penjaga toko.
“Maaf,” perempuan penjaga toko itu menyelaku, “kalau boleh tahu, apakah mawar itu untuk akan kau letakkan di pusara ibumu? Untuk mengenang enam tahun hari kepergiannya?” Aku mengernyitkan dahi, bagaimana ia bisa tahu? “Benar sekali, dan bagaimana Anda tahu?”

Lantas ia menjelaskan, bahwa pagi-pagi sekali seorang perempuan datang ke toko itu dan mengatakan, kalau ada seorang lelaki dan mencari seikat mawar untuk diletakkan di pusara ibunya, untuk megenang tahun keenam kepergian ibunya, maka mawar untuknya telah lunas dibayar. Perempuan itu telah membayarnya. Mendengar penjelasan penjaga toko itu, jantungku berdetak cepat. Rasanya, sebuah anugerah yang besar akan segera mendatangiku.

“Apakah perempuan itu meninggalkan kartu nama, atau alamat, atau nomor telepon atau apa saja?” tanyaku terburu-buru. Perempuan penjaga toko itu mengangguk, “Ya, sepertinya ia meninggalkan alamat dan nomor telepon untuk pengiriman pemesanan rangkaian bunga.”

“Jadi ia memesan rangkaian bunga?”
Perempuan itu mengangguk.
“Apakah bunganya sudah dikirim?”
“Belum, bunganya sedang dirangkai di belakang, sepertinya sebntar lagi akan kami kirim,” jelasnya.

Aku tersenyum namun sedikit ragu untuk mengatakannya, “Mmm… apakah boleh aku yang mengirimkan rangkaian bunga itu? Maksudku, kalian tak perlu membayarku. Maksudku, aku hanya ingin datang dan berterima kasih pada gadis itu. Dan sepertinya akan bagus dan akan ada alasan yang tepat kalau aku datang bersama bunga pesanannya itu.”

Perempuan penjaga toko itu terlihat bingung sekaligus ragu, “Mmm bagimana, ya?”
“Aku bersumpah, bunga itu akan sampai pada alamat yang tepat.”
“Tapi,” perempuan itu masih tampak ragu. Keraguan yang utuh.

“Ya. Mungkin Anda tak kenal saya, tapi demi Tuhan, setiap tahun saya mendatangi toko ini, kalau saya butuh bunga, saya juga selalu mendatangi toko ini. Bisa dibilang saya termasuk pelanggan toko ini meskipun tak pernah beli bunga banyak-banyak.” Perempuan penjaga toko itu terus memberiku tatapan aneh. Dan entah mengapa, aku tak peduli, aku masih terus memaksanya. “Apakah bunga pesanan itu sudah dibayar?” tanyaku akhirnya.

“Belum, ia bilang akan membayar bunga itu kalau sudah sampai nanti.”
“Baiklah, aku yang bayar pesanan bunga itu, berapa?” Perempuan itu menengok ke belakang, seperti ingin meminta pertimbangan dari pegawai lain yang tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Namun, ia menyebutkan juga nominal harga pesanan bunga itu. Aku segera membayarnya.

“Apakah sekarang aku boleh mengantarkannya?”
“Baiklah, sepertinya Anda sangat memaksa, tapi tunggu dulu, rangkaian bunganya belum selesai sebentar lagi.”
“Aku akan menunggu.”

Sekitar lima belas menit, aku menunggu dengan degup jantung yang terus berpacu serta luapan harapan yang melayang-layang dalam benak. Sekali lagi, aku merasakan keanehan itu, tepatnya kekonyolan itu. Ya, aku melakukannya lagi. Membayangkan dan mengharapkan sesuatu yang tak pasti. Lima belas menit berlalu, seorag lelaki datang menghampiriku.

“Apakah Anda yang ingin mengantar bunga ini?” Aku segera berdiri, “Oh ya, aku.” Lelaki itu menyerahkan serangkaian bunga yang telah terbungkus plastik dengan sangat rapi, serta sebuah ucapan. Dari situ, aku tahu bahwa nama gadis itu adalah Rosana.

“Alamatnya?”
“Alamatnya di sini,” perempuan penjaga toko menyahut dari belakang meja kasir. Aku beranjak mendatanginya. Ia menyerahkan selembar kertas berisi nama dan alamat, “Maaf, kalau tak keberatan, bisakah Anda meningggalkan nomor telepon atau alamat rumah? Sebagai data pelanggan, maksudku.”

“Oh tentu,” aku menuliskan nama dan alamat rumah beserta nomor telepon. “Apa aku perlu meninggalkan Kartu Tanda Penduduk juga?” sambungku. Perempuan penjaga toko itu tersenyum, “Oh, tak perlu.” Ia tahu aku sedang bercanda. Selanjutnya, aku sudah melaju dengan taksi dan mencari alamat gadis bernama Rosana itu.

Tak sampai satu jam, aku sudah sampai di alamat yang kucari. Rumah itu mungil dan berhimpitan, khas sebuah perumahan. Halamannya kecil. Ada beberapa pot yang ditanami mawar-mawar mungil. Bunga-bunganya juga begitu mungil, tak seperti mawar pada umumnya. Aku mengetuk pintu dan tepat sekali, Rosi yang membukanya. Kami saling tatap sesaat dan saling tunjuk. Aku bersyukur ia masih mengenaliku. Rosi mempersilahkan aku duduk dan menyuguhkan secangkir teh serta stoples kue kering yang tak kutahu namanya.

Awalnya kami saling diam, hingga Rosi membuka percakapan, “Rupanya kau bekerja di toko bunga itu.”
“Oh, aku hanya mengantarkann pesanan, aku yang memaksa. Ya, supaya aku tahu alamatmu dan bisa mengucapkan terima kasih atas niat baikmu membayarkan seikat mawar ini.”
“Oh, aku hanya ingin balas budi.”
“Ah, kau masih mengingatnya rupanya.”
“Aku tak pernah lupa,” balas Rosi dengan wajah bersemu merah.
“Sebenarnya kau tak perlu repot-repot. Aku jadi berpikir apakah ini sebuah kebetulan atau apa. Maksudku, bagaimana kalau aku tak membeli mawar di toko itu.”

“Jujur saja, pagi ini aku mendatangi tiga toko bunga langgananku dan mengatakan hal yang sama, aku berharap, paling tidak kau mendatangi salah satunya. Dan itulah yang terjadi.” Aku tercengang dan hanya bisa mengucapkan terima kasih sekali lagi. Dan semenjak hari itu, kami mulai sering bertemu. Kami membuat janji untuk bertemu di suatu tempat dan mengobrolkan hal-hal yang tidak penting tapi teramat penting untuk keberlangsungan pertemuan kami. Seperti yang sudah kau tebak. Aku jatuh cinta padanya dan ia jatuh cinta padaku. Dan dengan kisah romantis yang terlalu panjang untuk dijabarkan di sini, akhirnya kami pun menikah.

***

Kami menikah sudah 60 tahun. Waktu yang cukup panjang untuk umur seseorang. Kami sangat bahagia menerima kehadiran satu sama lain, meski kami tidak dikaruniai momongan. Aku memang lelaki mandul semenjak lahir. Pada awal-awal tahun pernikahan kami, aku sempat runtuh ketika mendengar keterangan dari dokter yang memeriksaku, bahwa aku tak mungkin bisa memiliki anak. Aku, bukan Rosi.

Melihat ekspresi Rosi ketika itu aku sempat menyesal karena telah dilahirkan ke dunia dan menikahi Rosiku yang malang. Seharusnya Rosi bisa lebih bahagia dengan lelaki lain yang bisa memberinya anak. Maka, pada suatu hari, dengan kemurungan yang tak tertanggungkan kukakatakan padanya, bahwa aku siap menandatangani surat cerai, kapan pun, jika ia bermaksud mengajukannya.

“Itu hakmu,” lirihku, “aku memang lelaki tak berguna yang tak bisa memberimu keturunan. Aku benar-benar sudah rela melepasmu, kalau kau ingin mencari laki-laki lain. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga.” Dan apa yang terjadi, Rosi malah menamparku. Ia sangat marah mendengar perkataanku. “Bicara apa kau ini, siapa yang mau melayangkan surat cerai? Dunia takkan berakhir hanya karena kita tak bisa memiliki anak. Ada banyak bocah-bocah manis yang bisa kita adopsi kalau kita mau.” Aku ingat, Rosi mengatakan itu, dengan gemetar. Dan kami pun berpelukan. Dengan napasnya yang terasa hangat di telingaku, ia berbisik, “Kumohon, jangan pernah berkata seperti itu lagi.”

Dan hari-hari yang berat itu pun berhasil kulalui, Rosi menguatkanku. Pada hari ulang tahun kelima pernikahan kami, kami mengadopsi seorang bocah lelaki, bahkan ia belum diberi nama ketika kami mengangkatnya sebagai anak. Kami pun memberinya nama Fredie. Kami menyayanginya sepenuh kehidupan kami, memperlakukannya seperti darah daging kami sendiri. Hari-hari kami menjadi sangat sempurna. Rosi memasak masakan kesukaan Fredie dan memandangi Fredie kecil makan dengan lahap. Kami tidur bertiga. Fredie meringkuk di tengah, diapit pelukan dua orang. Diam-diam aku sering mengamati Rosi yang begitu suka memandangi wajah Fredie kecil ketika bocah itu tertidur. Sebuah kenyataan kecil kemudian menusukku: Bagaimanapun kami menyayangi bocah ini, bocah ini bukanlah darah daging kami…

 

Cerita Bersambung ini dipersembahkan oleh Mashdar Zainal. Nantikan kelanjutannya hanya di Litera.id, Rabu depan!

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response