close
Sinema

Nyai Ahmad Dahlan: Biopik yang Datar dan Terlalu Penuh Kebaikan

maxresdefault

ANDA mungkin pernah membaca ini: “Seorang suami yang membantu istrinya berbelanja derajat ketampanannya naik 180 derajat.” Atau kata-kata lain yang mirip dengan itu, yang hendak menegaskan bahwa hal-hal baik, mulia, atau luhur yang dilakukan oleh orang-orang tertentu dapat menimbulkan kesan mendalam. “… derajat ketampanannya naik 180 derajat” hanyalah frasa guyonan yang dapat diganti dengan yang lebih serius atau puitis seperti “… sungguh tak akan terlupakan” atau “… adalah suami idaman semua istri”.

Mengapa kata-kata yang memuat guyonan, atau ungkapan kekaguman yang serius atau puitis itu bisa terlontar? Tanpa bermaksud seksis, sederhana saja alasannya: kebanyakan kaum pria lebih suka melihat-lihat, berkeliling, atau berjalan-jalan sendiri bila istrinya sedang berbelanja. Bagi (sebagian besar) istri, ditemani suami berbelanja jadi terasa istimewa.

Lalu, bagaimana dengan suami yang memutuskan menjadi sosok yang suka menemani istri berbelanja? Guyonan dan kekaguman itu tentu tak pernah terlontar. Saat hal-hal yang baik, luhur, atau mulia menjadi biasa, kebaikan malah bisa terasa hambar. Itulah kesan terkuat ketika menonton film Nyai Ahmad Dahlan.

Nyai Ahmad Dahlan (berikutnya disebut Nyai Dahlan, diperankan Tika Bravani) adalah sosok yang dekat dengan tiga kata itu: baik, luhur, dan mulia. Di bagian awal film, saat melihat beberapa teman wanitanya sembunyi-sembunyi menonton orang sedang mengaji, ia menyarankan agar teman-temannya diperbolehkan ikut. Teman-temannya yang sering bersamanya pun diajaknya rajin menabung saat mereka bertumbuh remaja.

Ketika sudah menikah dengan Kiai Dahlan (David Chalik), saat bertemu dengan petani perempuan yang sedang hamil, Nyai Dahlan pun memberi wejangan. Petani itu, yang mengenakan kalung dari bawang putih sebagai jimat untuk menolak bahaya, diberitahunya untuk bergantung kepada Tuhan. Kemudian, di dapur, waktu mengobrol dengan pembantunya, ia mengingatkan agar bila kelebihan makanan harus mau berbagi dengan orang yang kekurangan.

Begitulah kebaikan demi kebaikan lainnya pun terus bergulir di sepanjang film—dalam wejangan, dalam dakwah, juga dalam keseharian Nyai Dahlan.

Namun, saya terkesan dengan adegan ketika Kiai dan Nyai Dahlan berada di kamar. Di situ, Kiai Dahlan mengutarakan niatnya membangun Muhammadiyah. Terhadap niat itu Nyai Dahlan menyatakan siap mewakafkan hidupnya. Di situ sorot kamera bergerak tepat, wajah Nyai Dahlan ditampilkan terang; sementara wajah Kiai Dahlan redup, nyaris gelap—ya, ini film tentang Nyai Dahlan!

 

Judul               : Nyai Ahmad Dahlan

Sutradara         : Olla Atta Adonara

Produser          : Dyah Kalsitorini, Widyastuti, Siti Muthmainah

Penulis             : Dyah Kalsitorini

Pemeran          : Tika Bravani, David Chalik, Cok Simbara

Rilis                 : 24 Agustus 2017

 

Adegan lain yang menghibur adalah pelajaran bahasa Latin. Di papan, seorang guru menulis ‘ajam’ (ejaan lama) sambil menggambar ayam. Di antara para wanita yang belajar ada yang menyahut, huruf-huruf itu dibaca ‘pitik’ (bahasa Jawa untuk ayam) karena belum bisa membaca, hanya melihat gambar. Murid-murid lainnya pun tergelak. Setelah semua tertawa, sebuah lagu tentang hakikat belajar dalam bahasa Jawa terlantun merdu.

Selebihnya, tak banyak adegan memukau. Datar, dan malah menimbulkan kesan yang samar tentang Nyai Dahlan. Bila menyebut Ahmad Dahlan, orang akan langsung mengenalnya sebagai pendiri Muhammadiyah. Saya yang tidak akrab dengan sosok Nyai Dahlan sebelumnya jadi merenung setelah menonton film ini: Jadi, siapa sebenarnya Nyai Dahlan yang mau ditunjukkan dalam film ini?

Kalau ia penting sebagai pendamping suami yang bervisi memajukan pendidikan bercorak Islam, mestinya beragam konflik yang mereka temui saat pendirian Muhammadiyah bisa dikisahkan lebih banyak. Atau kalau ia penting sebagai sosok pendiri Aisyiyah, yang berdiri pada 19 Mei 1917, mestinya perjuangan dan kiprahnya di organisasi yang mengangkat derajat perempuan itu diberi porsi lebih besar. Di biopik ini penonton disuguhi kisah dari kecil hingga dewasa yang rentang masanya sangat panjang. Porsi tiap masa nyaris sama, tanpa ada penekanan penting tentang suatu peristiwa yang (diharapkan dapat) identik dengan sosok Nyai Dahlan.

Padahal, peluang untuk memunculkan konflik atau dramatisasi di film ini sebenarnya cukup banyak. Bila dikembangkan lebih jauh, pertentangan Kiai Dahlan dengan orang-orang di Banyuwangi yang tidak mau menerima ajarannya, musuh misterius mirip ninja yang melempar surat kaleng, atau tentara-tentara Jepang yang menyerang pribumi bisa mempertebal latar atau suasana perjuangan di dalam film ini.

Kurangnya dramatisasi dalam skenario—atau mungkin malah peniadaan dramatisasi dalam beberapa peristiwa tertentu—membuatnya datar mirip film dokumenter, bukan film cerita. Padahal Tika Bravani berakting bagus, terutama saat menjadi Nyai Dahlan yang tua. Ia tampil lebih karismatis, berwibawa, dan gigih melanjutkan perjuangan suaminya. Biopik ini kehilangan daya pikat karena skenarionya tampak terlalu membawa beban berat menampilkan Nyai Dahlan sebagai sosok penting dan mulia, berjasa bagi agama dan bangsa, tapi di sisi lain kurang menonjolkan kiprahnya yang paling signifikan dalam perjuangan bangsa maupun Muhammadiyah. (*)

 

*) Sidik Nugroho adalah penulis lepas dan penyuka film. Cek tulisan-tulisannya di http://sidiknugroho.com

 

 

 

 

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response