close
Kata Saya

Menikmati Lebaran di Bandar Seri Begawan – Brunei Darussalam

Foto Fajar 2

Sudah menjadi tradisi bagi Muslim di Indonesia untuk merayakan Idul fitri atau berlebaran dengan mudik ke kampung halaman. Namun, untuk Lebaran tahun ini, saya memutuskan mengunjungi negara tetangga, yaitu Brunei Darussalam karena ingin merasakan bagaimana atmosfir Idul Fitri di negara Islam tersebut sekaligus mengunjungi Istana Nurul Iman yang hanya dibuka untuk umum hanya pada saat hari raya Idul Fitri.

Perjalanan saya ke Brunei Darussalam tepatnya kota Bandar Seri Begawan (BSB) berdurasi 4 hari, yaitu 24 sampai 27 Juni 2017 dengan menggunakan salah satu maskapai low cost carrier dari Kuala Lumpur. Saya mendarat di Brunei International Airport sekitar pukul 9 pagi dan kesan pertama yang saya rasakan dari negara ini adalah ketenangan dengan nuansa islami. Bandara ini tidak terlalu besar, namun bersih dan modern serta letaknya juga tidak jauh dari pusat kota yaitu sekitar 10 km atau 15 menit berkendara. Sepanjang perjalanan menuju pusat kota, hal menarik lainnya adalah tidak terlihat adanya kemacetan disini sehingga perjalanan saya menuju pusat kota BSB lancar jaya. Jangankan macet, kondisi jalanan juga sangat sepi padahal berdasarkan informasi yang saya peroleh hampir setiap keluarga memiliki lebih dari satu kendaraan pribadi. Sekilas, kondisi jalan utama di Brunei sangat mirip dengan singapura, lebar dengan  masing masing memiliki 3 lajur disetiap sisi jalan.

Brunei Darussalam merupakan negara kaya penghasil minyak dan gas bumi yang saat ini dipimpin oleh Sultan Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Waddaulah. Memang Brunei terlihat tidak terlalu fokus pada pariwisata dan objek wisata juga tidak seperti beberapa negara asean lainnya. Oleh karena itu, jangan berharap menemukan mall mewah dengan berbagai outlet branded atau jenis hiburan lainnya karena gak akan bisa didapatkan disini. namun bukan berarti tidak ada yang dapat dilihat jika kita datang ke negara ini bahkan menurut saya, Brunei khususnya Bandar Seri Begawan memiliki daya tarik sendiri. Untuk urusan makanan, terdapat banyak restaurant yang masih sesuai dengan lidah Indonesia. Namun, biaya hidup di Brunei menurut saya masih terlalu mahal untuk kantong orang Indonesia. Mata uang yang digunakan adalah Dollar Brunei namun lebih akrab dikenal dengan sebutan ringgit. Oh iya, selain dollar Brunei, dollar Singapura berlaku loh di sini dengan nilai ekuivalen 1:1. artinya jika traveller memiliki Dollar Singapura (SGD) maka tidak perlu ditukar ke Dollar Brunei (BND) karna dapat langsung digunakan. Tidak perlu khawatir akan ditolak karena kedua negara ini memiliki perjanjian tentang penggunaan mata uang dikedua negara.

Karena negara ini merupakan negara Islam, tentu saja daya tarik wisata masih mengarah kepada hal yang berbau Islami. Namun seperti yang saya sebutkan tadi kota BSB sangat sepi sehingga lebih cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana kota yang sepi dan tenang.  Ada beberapa objek wisata yang dapat dikunjungi selama berada di BSB, diantaranya adalah masjid, museum, dan Istana tentu saja. Namun tentu saja traveller jangan lupa bahwa fungsi utama masjid adalah tempat ibadah umat islam jadi bagi traveler non-Muslim diharapkan menaati peraturan terutama masalah pakaian. Tetapi bagi pengunjung non-Muslim atau bagi pengunjung yang auratnya tidak tertutup oleh pakaian, panitia/ penjaga mesjid menyediakan jubah yang dapat dipinjam untuk menutup aurat. Ada beberapa bangunan masjid yang selalu menjadi bucket list para traveller. Sebut saja dua masjid dengan kubah emasnya yaitu Masjid jame’Asr Hassanal Bolkiah dengan 29 kubah emas yang terletak di distrik gadong dan Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin yang terletak di kawasan bandar/ pusat kota dan berseberangan langsung dengan Kampong Ayer yang merupakan kampung air terbesar di dunia dan disebut juga sebagai Venice of the East. Ada juga Masjid Ash Shalihee, berarsitektur Maroko – Mesir yang terletak dekat dengan komplek pemerintah Brunei Darussalam. Masjid di Brunei dibangun oleh Sultan Brunei sehingga sangat memperhatikan detail arsitektur serta kemegahannya. Selain masjid, tidak ada salahnya traveller mengunjungi museum yang ada di Bandar Seri Begawan. Mengunjungi museum sama seperti mempelajari sejarah bangsa tersebut bukan??

Ada beberapa museum yang juga dapat traveller kunjungi diantaranya Royal Regalia Building yang berisi koleksi Kesultanan Brunei, ada juga Museum Brunei atau dapat mengunjungi Museum Teknologi Melayu. Selain itu traveller juga dapat mengunjungi Museum Kampong Ayer yang terletak di Kampong Ayer tepatnya di Brunei River. Untuk mengunjungi Kampong Ayer, traveller bisa menuju dermaga di kawasan bandar yang berada di depan komplek perbelanjaan yayasan. Dengan menggunakan boat yang super cepat traveller dapat menyebrang ke Kampong Ayer dengan waktu kurang lebih 1 menit 40 detik saja loh, dengan tarif $1 pulang pergi.  Dan traveller nggak usah pusing memikirkan berapa biaya masuk ke museum, karena semua dapat dikunjungi secara gratis!.

Satu hal yang masih menjadi kekurangan di Brunei yaitu transportasi umum. Transportasi umum di Brunei masih tertinggal dari beberapa negara maju lainnya sebut saja Malaysia dan Singapura. Frekuensi kedatangan bus termasuk lama sekitar 30 sampai 60 menit dengan tarif flat sebesar $1. Meskipun Brunei negara kaya, namun transportasi di negara ini masih belum mencerminkan kekayaannya. mungkin karena hampir seluruh penduduk memiliki kendaraan pribadi sehingga pemerintah tidak terlalu fokus pada transportasi umum. Kendaraan umum di kota BSB biasa hanya dipakai oleh pengunjung seperti saya, pekerja asal Filipina, Bangladesh dan Indonesia.

Selain masjid dan musem, tujuan utama kedatangan saya kali ini adalah mengunjungi Istana Nurul Iman. Istana Nurul Iman merupakan tempat tinggal raja dan keluarga. Berdasarkan luasnya Istana Nurul Iman merupakan kawasan kerajaan terluas di dunia. Sudah menjadi tradisi, setiap tahun Sultan Bolkiah akan membuka istana untuk umum selama tiga hari dan warga Brunei ataupun pengunjung dapat bertatap muka dan bersalaman langsung dengan Sultan dan Pengeran (untuk laki – laki) serta bersalaman dengan permaisuri dan putri (untuk perempuan). Selain itu, Sultan menjamu seluruh tamu dengan makanan yang  beraneka ragam dan luar biasanya banyaknya. Selama tiga hari tersebut, biasanya kerajaan dikunjungi lebih dari 100 ribu pengunjung.

Kesempatan untuk masuk ke Istana Nurul Iman hanya ada pada saat hari raya Idul Fitri. Oleh karena itu jika traveller berkunjung ke Brunei dan ingin mengunjungi Istana Nurul Iman serta bertemu langsung dengan keluarga kerajaan Brunei, sebaiknya traveller mulai merencanakan, ya. Kapan lagi coba mengunjungi istana, bertemu Sultan dan dijamu dengan makanan kerajaan.  Hehe…

Oleh: Fajar Sardi Syahputra

 

*Naskah ini terpilih sebagai lima naskah terfavorit dalam kompetisi Lomba Menulis Perjalanan ke ASEAN yang diadakan Redaksi Litera dalam ajang ASEAN Literary Festival 2017

 

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response