close
Buku

Menziarahi Malam, Menziarahi Kota

jakarta-1948146_1920

Dunia di malam hari memang begitu kompleks. Bagi penyair, “malam” bukan cuma segudang inspirasi, tetapi juga merupakan sebuah tema yang cukup jarang digarap. Rata-rata penyair lebih memilih tema cinta, kematian, sampai dengan kesedihan. Bisa jadi karena tema “malam” begitu luas, sehingga orang jarang memilih tema itu.

 

Judul buku                                                       : Kota, Kita, Malam
Penulis                                                               : Isbedy Stiawan ZS
Penerbit                                                             : Basabasi
Tahun                                                                 : Desember 2016
Halaman                                                            : 76 Halaman
ISBN                                                                   : 978-602-391-340-4

Isbedy cenderung berani memadukan tiga tema sekaligus di buku puisinya. Buku puisi berjudul Kota, Kita, Malam (2016). Ketiga tema itu dikuliti satu persatu kedalam kurang lebih 47 puisinya. Penyair justru memberikan kebebasan kepada pembaca untuk membaca puisinya dari mana. Ketiga tema itu, sebenarnya bertalian yang mencerminkan seseorang yang sedang menelusuri malam.

Penyair, dalam hal ini memposisikan diri sebagai pejalan, peziarah. Ia tak hanya melihat malam dalam kasat mata melalui mata biasa, tapi memandang “malam” sebagai “mata puisi”. Melalui puisinya, malam digubah kedalam berbagai suasana, peristiwa sampai dengan emosi yang mengaduk jiwa. Ada dunia pelaut, ada suasana sunyi, dan sepi yang direkam dalam puisi-puisi Isbedy.

Di awal kita bisa melihat bagaimana kota dihadirkan dalam berbagai peristiwa dan suasana. Kita bisa menengok petilan puisi berikut : Aku duduk teduh disini/ gerimis memandu/ cakap;cinta ditunda/ lidahku kelu/ langit kelabu/ beri aku senyum/ hapus duka itu/ harapku (Aku Teduh di Sini). Ada suasana batin yang dihadirkan oleh penyair seperti kesedihan, kepiluan serta kesendirian. Penyair berhasil memadukan antara cerita atau peristiwa berteduh, dengan suasana hati yang mengikutinya.

Pada puisi lain masih dalam tema “kota”, ada puisi yang begitu lugas, serta tanpa basa-basi. Metafora serta personifikasi tak dibangun sama sekali. Membaca puisi ini barangkali kita akan merasa klise atau biasa mendengar peristiwa semacam ini.

Pembaca boleh saja tak sepakat dengan saya saat membaca puisi berikut : kita hanya menunggu/ sedang halte dan jalan/ terus menjauh/ tanpa bus berkunjung/ jalanlah yang bergerak/ sedang kita hanya menanti/ sampai bus datang/ lalu mengangkut ke entah/ kita hanya menunggu/ya, hingga kau datang/ sekadar berdendang (Hanya Menunggu). Membaca larik-larik puisi ini, kita tak menemukan sesuatu yang istimewa, diksi pun biasa saja, di puisi ini, kita melihat penyair hanya sekadar mengamati sekilas. Kata menunggu benar-benar fulgar diartikan menanti seseorang datang.

Ada puisi di buku ini yang mencerminkan kekuatan penyair dalam mengolah diksi dipadukan dengan tema “kota” : mungkin kita sudah lupa warna kota/ seperti tak pernah ingat bagaimana/ denyut malam/ begitu lupa bahkan pelangi diwajahku/ yang diamdiam menyusup pula di halaman itu (Menulis Peristiwa Sendiri). Ada lanskap yang meloncat-loncat, dari layar satu ke layar lainnya. Dari peristiwa satu ke peristiwa lainnya. Dari kota hingga ke denyut, dari lupa ke pelangi, dari halaman hingga aktifitas menyusup. Pada puisi ini, nampak kelihaian penyair mengecoh pembaca dengan judul. Ada upaya menautkan diri, kedirian, dengan imaji yang berlompatan.

Pada bagian tengah buku puisi ini, kita akan menemukan bagaimana penyair menyerap lebih dalam eksplorasi diri, baik eksplorasi batin, maupun eksplorasi pengalaman tubuh, atau pengalaman penyair mengundang orang lain masuk dalam puisinya. Ada nuansa percakapan yang hendak dimunculkan saat penyair menuliskan syairnya. Penyair justru nampak mengajak pembaca bukan orang lain. Puisi berikut menggambarkan suasana kearah sana : masuk ke dalam diri/ menyelamlah sedalam-dalamnya/ maka kepalamu akan tunduk/ hati mengembara ke ruang / hanya putih seluruh dindingnya/ masuklah ke dalam diri/ lihat sedalam-dalamnya (Menyelam Sedalam-Dalam).

Di puisi lain, kita bisa melihat ada semacam petuah, nasihat, serta ajakan untuk mendalami diri lebih jauh, masuk ke ruang jiwa lebih dalam. Kita bisa membaca puisi berjudul Kau Tersenyum  : bacalah/ embun telah menetes/ dari kedua alis mataku/ serupa pelangi begitu warnawarni/ kau bernyanyi dan menari/ sebutlah bukit-bukit berbaris/di mataku, aku pun tak lelah/ mendaki, begitu indah / kau tersenyum dan inginku sampai. Meski sekilas puisi ini menampakkan kekaguman pada orang, namun puisi ini seperti mengisyaratkan bagaimana kita memasuki relung jiwa seseorang begitu dalam meski hanya lewat tatapan wajah, ekspresi senyumannya.

Bila di puisi-puisi sebelumnya penyair mencoba untuk membuat bait terakhit begitu biasa, maka di puisi berikut ada usaha penyair mencari kejutan di bait terakhir. Setelah hujan/ aku berangkat/ hanya sendiri/ begitu sepi/ sebuah taman/ masih basah/ sangat berair /mungkin untuk basuhku sebentar lagi/ satusatunya air/ yang kutemui/ di taman itu/ air matamu? (Setelah Hujan).

Ada usaha mengaitkan antara air hujan, kesedihan, sampai dengan air mata seseorang (baca :kesedihan seseorang). Pada bait penutup, kita menemukan satu kejutan, meski masih satu makna antara kesedihan dengan air mata. Ada satu ketukan yang berlainan dengan baris-baris syair sebelumnya.

Mari kita menuju pada penutup buku puisi ini. Penutup buku puisi ini mencoba untuk menziarahi malam. Malam dalam pandangan buku puisi ini bisa berbagai macam. Kita bisa menyimak bagaimana malam ditafsir dalam puisi ekspresif. Puisi-puisi di bagian belakang ini lebih merupakan bentuk ekspresi seseorang yang bisa kita baca secara terang dan gamblang. Ada kejujuran pada satu sisi, tapi juga kita melihat ada rasa mampat saat penyair mencoba mencari metafora, atau diksi yang indah di puisinya. Tapi aku akan terus mencari meski/ laut dan udara dilintasi: petang/ mendekati kelam/ kemana kau pergi dirundung sunyi (Milikku Sunyi).

Nampak betul penyair kurang begitu lihai menelusup ke relung lebih dalam menyusuri sunyi. Makna sunyi saya kira tak sekadar kematian dan kesepian. Disini, kita hanya menangkap ekspresi kehilangan semata. Sementara kata sunyi sendiri lebih identik dengan alam.

Selain kesunyian yang coba digambarkan penyair, ada tema yang mengajak kita merenung pada persoalan religiusitas. Kita bisa membaca penggalan puisi berikut : setiap malam/ mataku jadi siang/kekasih yang disayang/ tak pernah pulang/ bergemuruh kedalam/ jalanjalan cemerlang/ sekiranya malam /telah menjadikan/ mataku siang/ apakah aku masih / bisa memiliki/ matahari pagi? (Kupulangkan Malam).

Puisi-puisi Isbedi memang lebih terkesan vulgar. Akan tetapi, melalui buku puisi ini, kita diajak untuk menziarahi diri, menziarahi malam, menziarahi kota. Melalui perjalanan ke kota-kota barangkali Isbedy bisa lebih matang dalam memilih “diksi”maupun metafora. Kekuatan sajak ini ada di cara pengungkapan. Cara Isbedy mengungkap refleksi kota, tentu berbeda dengan cara Afrizal. Kota dalam pandangan Isbedy tentu saja tak ditemukan relasi modernitas, spirit pembangunan, dan sebagainya. Saya merasa yang diangkat Isbedy adalah suasana, spiritual serta manusia yang ada pada peristiwa ketimbang mengangkat tema kota yang lain.

 Meminjam kata-kata penyair, buku ini memang berkesan untuk memberi pesan agar kota serta manusianya menjadi lebih baik.

 

 

 

*) Arif Yudistira, Tuan Rumah Pondok Filsafat Solo, Pengelola doeniaboekoe.blogspot.com

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response