close
typewriter-1215868_1920

Kami terus merawat Fredie. Menyekolahkannya sampai jenjang tertinggi. Hingga pria kecil kami itu tumbuh menjadi seorang lelaki yang gagah.

 

Kini, Fredie telah menikah dan memiliki dua putra. Ia dan keluarga kecilnya tinggal di Amerika. Sesekali ia masih menelepon kami dan menanyakan kabar. Setiap hari ulang tahunku, atau hari ulang tahun Rosi, atau hari ulang tahun pernikahan kami, Fredie selalu mengirim paket hadiah beserta ucapa selamat buat kami. Paket itu berisi pakaian-pakaian mahal, kadang berisi perkakas-perkakas dapur dan berkebun. Dan kadang berisi makanan.

Setiap kali barang-barang itu sudah sampai di tangan kami, Fredie menelepon dan menanyakan apakah hadiah darinya sudah sampai. Fredie selalu meminta maaf karena tak bisa menemani hari tua kami. Kami tahu, Fredie juga sangat menyayangi kami. Dan kami sangat memakluminya, ia punya istri, anak-anak, dan pekerjaan yang harus ia prioritaskan. Aku sering mengatakan itu padanya, supaya ia tak terlalu merasa bersalah.

***

Aku seorang pensiunan pegawai negeri, dan Rosi, meski namanya tak terlalu masyhur, ia adalah seorang penulis novel yang cukup produktif. Puluhan novelnya telah terpajang di rak-rak toko buku. Beberapa novelnya, meski tak terlalu ribut-ribut, sempat mendapat ‘gelar’ best seller. Novel terbarunya mulai ia tulis sekitar empat tahun lalu, baru dapat sekitar 50 halaman. Sayangnya, naskah itu tak selesai. Takkan selesai. Ada sesuatu yang pelik yang menimpa diri Rosi, yang membuat banyak hal tak selesai.

Sekitar tiga tahun lalu, pukul dua dini hari lebih sedikit, aku terbangun dan tidak menemukan Rosi di sebelahku. Ketika aku bangkit dan mencarinya, aku mendapatinya tengah duduk di depan mesin ketik tuanya. Tapi ia tak mengetik apapun, ia hanya mengawasi vas berisi lima tangkai mawar—yang sudah lebih dari tiga hari dan belum diganti. Aku menyalakan lampu. Tubuh Rosi terhenyak sesasat.

“Apa yang kau lakukan di sini malam-malam, Rosi,” di tengah keheningan malam, suaraku terdengar seperti dentuman yang lantang.

Rosi tak menjawab, aku menyentuh pundaknya dan ia terlonjak seperti orang kaget, “Aku harus menyelesaikan novelku,” bisiknya.

Sejurus kemudian, sambil mengangkat vas mawar yang semula membatu di samping mesin ketiknya, ia mengatakan, “Mawar ini sudah hampir layu dan harus diganti, yang di dapur dan di ruang depan juga.”

“Iya, besok aku akan memetik lebih banyak lagi,” aku duduk di sebelahnya. Ia menoleh, menatapku dengan tatapan ganjil. Lalu kembali menatap mesin ketiknya.

“Apa yang kita lakukan di sini malam-malam, sebaiknya kita tidur,” ia bangkit dan beranjak ke dapur.

“Apa kau lapar?” aku menyusulnya.

“Aku mau tidur.”

“Tapi kenapa kau berjalan ke dapur?”

Rosi menghentikan langkahnya. Ekspresi wajahnya seperti orang bingung. Aku meraih tangannya dan menuntunnya ke kamar. Dan kami pun kembali tertidur seolah tak terjadi apa-apa. Aku tak berpikir yang macam-macam dan tak mencurigai apapun, karena esok paginya, Rosi telah menyiapkan sarapan seperti biasa, menyeduh teh hijau dalam cangkir besar, dan menyirami semak-semak mawar di halaman rumah.

Aku memerhatikannya dari beranda. Beberapa kali Rosi tampak menunduk, seperti menatap tanah yang ia pijak, sejurus kemudian ia mendongak seakan memastikan bahwa langit di ketinggian tak akan runtuh menimpa kepalanya. Ketika kutanya mengapa ia melakukan itu, menunduk dan mendongakkan kepala berkali-kali, ia menyangkal. Pada suatu hari yang lain, tiba-tiba aku menemukan puluhan tangkai mawar yang baru kupetik dicampakkan ke keranjang sampah.

“Apa kau yang membuang mawar-mawar itu ke tong sampah, Rosi?” aku tak harus mencurigai siapapun, di rumah ini hanya ada kami berdua.

Rosi, yang duduk di kursi goyangnya menatapku dingin, “Bunga-bunga itu sudah lama tidak diganti, dan kau selalu lupa menggantinya.”

Aku mengerutkan dahi, “tapi mawar-mawar itu baru kupetik tadi pagi,” aku meyakinkan diriku sendiri, dan kembali menengok ke keranjang sampah yang dipenuhi kuntum-kuntum mawar yang masih segar. Aku yakin aku belum pikun.

Ketika aku kembali ke hadapan Rosi, Rosi menampakkan wajahnya yang cemberut sambil berujar dengan sangat yakin, “Kau juga harus bersikap tegas pada bocah-bocah nakal itu.”

“Bocah-bocah nakal?” aku semakin bingung.

“Iya, bocah-bocah yang suka memetik mawar-mawar kita sembarangan dan merusaknya. Kamu lihat saja sendiri sana…”

Aku mengalah dan memilih menengok ke halaman. Semuanya baik-baik saja, mawar-mawar itu. Tak ada yang ambruk ataupun rusak.

Aku kembali lagi ke hadapannya, “Apa kau baik-baik saja, Rosi?”

Rosi tidak menyahut dan malah berjalan mendekati mesin ketiknya, tapi ia tak mengetik apapun. Hanya duduk di sana dan menatap mesin ketik tuanya seolah-olah barang itu barang baru di rumah kami. Aku mulai cemas dengan sikapnya, tapi tak tahu harus berbuat apa. Puncaknya adalah pada sebuah pagi, ketika aku tak menemukan apapun di meja makan, tidak ada sarapan, tidak ada teh hijau dalam cangkir besar, dan tidak ada Rosi. Ketika aku beranjak ke dapur, aku mendapati Rosiku yang malang tengah duduk di depan lemari es yang terbuka sambil memeluk lututnya sendiri. Tatapan matanya kosong. Piamanya basah. Aroma sayur busuk dari dalam lemari es menguar, bercampur aroma pesing dari tubuhnya. Saat itu aku tak bisa berkata apa-apa. Aku memeluknya dan menangis begitu saja. Setelah kumandikan ia, aku menelpon seorang dokter kenalan kami. Aku menceritakan semua yang terjadi pada Rosi. Dan ia menyarankanku membawa Rosi ke neurolog.

Esok harinya, kami pergi neurolog. Ketika Rosi diperiksa, kecemasan itu kembali memberondongku, kecemasan yang nyaris sama dengan puluhan tahun lalu ketika dokter kandungan memeriksa kesuburan kami. Setelah pemeriksaan itu selesai, aku dan Rosi duduk bersebelahan di depan neurolog yang banyak senyum itu. Aku menggandeng tangan Rosi erat-erat. Seolah ingin menguatkannya.

“Nyonya Rosana, saya pernah membaca beberapa novel yang Anda tulis. Saya suka sekali dengan tulisan Anda. Dan saya benar-benar tak menyangka hari ini akan bertemu dengan Anda, seorang penulis yang saya kagumi,” neurolog itu memulai mengajak Rosi bicara.

Tapi Rosi tak menjawab. Hanya menatap kosong ke depan.

“Saya benar-benar menunggu karya baru Anda.”

Rosi masih seperti orang lupa. Bahkan matanya nyaris tak berkedip.

“Saya dengar, Anda sedang menyiapkan novel terbaru.”

Rosi seperti tidak mendengar kata-kata neurolog itu. Ia seperti berada dalam dunianya sendiri. Dunia yang sepi, yang ia huni seorang diri. Mataku mulai berkaca-kaca menatap wajah yang diam seperti manekin itu.

Sang dokter syaraf itu silih mengalihkan pandangannya padaku, “Maaf Tuan, sepertinya istri Anda sudah tidak tahu lagi satu tambah satu berapa. Jika Anda meninggalkannya dua blok saja dari rumah, maka ia takkan bisa pulang.”

Aku kurang paham dengan apa yang dimaksud neurolog itu.

“Istri anda menderita Alzheimer,” ujarnya lagi.

Meski tak tahu apa itu, tapi lututku mulai terasa lemas. “Apa itu?”

“Semacam gangguan pada otak, yang menyebabkan penderitanya kehilangan daya ingat, kesulitan berpikir, bahkan sindrom ini bisa menyebabkan perubahan perilaku dan emosi.”

“Apa ini ada hubungannya dengan kepikunan dan penuaan?” suaraku lirih dan gemetar.

Sang neurolog menggeleng, “Ini sebuah penyakit, dan bukan bagian normal dari penuaan. Saya pernah ada pasien yang usianya jauh lebih muda dari istri Anda dan mengalami hal yang sama.”

“Apa penyakit semacam itu bisa disembuhkan?”

Ia menggeleng lagi, meminta maaf.

Selanjutnya, penjelasan dokter syaraf yang panjang lebar itu terdengar seperti dengungan lebah yang tak begitu jelas. Seolah aku berjalan dalam keadaan tidak sadar, sambil menuntun Rosi keluar dari ruangan itu.

Aku ingin menelpon Fredie tapi kuurungkan. Hari itu aku kembali runtuh. Hidupku seperti dikerumuni keputusasaan yang wujudnya seperti kabut gelap. Hari itu, aku nyaris tidak melakukan apapun kecuali menemani Rosi di ranjang dan menatap wajahnya sepanjang malam. Esok harinya, aku mencoba bangkit. Aku mengambil alih semua pekerjaan Rosi. Mulai dari membersihkan rumah, mencuci pakaian, sampai menyiapkan sarapan. Rosi, ia masih sangat normal. Ia bisa menghabisnya sepiring mie goreng dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Ia masih bisa berjalan-jalan mengitari taman dan sesekali memetik mawar dan menatanya ke dalam vas. Tapi pada lain kesempatan, ia juga menumpahkan susu ke semak-semak mawar, tertidur di lantai, dan meletakan sepatu sandal di dalam lemari es.

Aku tak tahu apakah keadaan Rosi sudah sangat parah. Kami pun kembali berkunjung ke neurolog yang memeriksa Rosi. Ia baik sekali, ia meminjamiku banyak jurnal dan hasil penelitian yang berhubungan dengan penyakit aneh itu. Bagaimana cara merawat penderita, dan mengatasi hal-hal yang mungkin tidak terduga.

Dari jurnal-jurnal itu aku tahu bagaimana bersikap saat menghadapi ulah Rosi yang kadang-kadang sangat menjengkelkan. Dari tulisan-tulisan itu aku tahu bagaimana menanggapi kata-kata Rosi yang kadang tak masuk akal dan melantur. Seperti misalnya, ketika Rosi mengatakan bahwa dalam bak mandi kami ada seekor ular yang berenang-renang. Menurut jurnal yang kubaca, akan lebih baik kalau aku tak mematahkan keyakinan Rosi. Maka dengan pelan, kukatakan pada Rosi bahwa aku sudah mengusir ular itu, dan ia tak perlu takut pada ular atau apapun, karena aku selalu ada untuknya. Dan begitulah, semudah menggunakan tisu, Rosi melupakannya. Dan masih banyak ulah-ulah Rosi yang lain yang terkadang membuatku ingin menangis, sekaligus tertawa.

Waktu pun berjalan begitu saja, hingga lambat laun, aku menjadi sangat terbiasa. Sekitar hampir lima bulan setelah Rosi divonis menderita Alzheimer, Fredie menelepon dan bertanya kabar. Aku masih belum menceritakan penyakit Rosie. Aku belum siap menceritakannya. Ketika Fredie bertanya di mana ibunya, kukatakan bahwa ibunya sedang keluar. Beberapa minggu kemudian, Fredie menelepon lagi. Ketika ia bilang ingin bicara dengan ibunya, aku kembali mengada-ada. Kukatakan bahwa ibunya sedang tidur. Pada lain kesempatan, Fredie menelepon lagi. Ia mulai merasa curiga ketika ketiga kalinya, ia menelepon dan tak mendapati ibunya.

“Apa Ayah menyembunyikan sesuatu dariku?” kata Fredie dari seberang.

 

Cerita Bersambung ini dipersembahkan oleh Mashdar Zainal. Nantikan kelanjutannya hanya di Litera.id, Rabu depan!

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response