close
dove-518904_1920

Pertemuan

 

malam itu, tiang-tiang kota

memeluk wajahmu yang muram

kelelahan mengendarai punggung

kota hingga hampir pagi

 

di alun-alun itu,

aku ingat seorang Ibu

yang mengusap peluhmu

dengan bakul kopi jualannya

 

lampu kota mati

seakan-akan itu sebermula

 

dari

perpisahan

yang tertunda

 

(Malang, 2017)

 

 

 

Pada Mulanya

Tuhan menciptakan pundakku
untuk mengairi sungai tangismu
yang bermuara—
di jantung kata-kataku

 

(Malang, 2017)

 

 

Stanza untuk V

sepotong sore terlipat waktu
burung-burung kembali melingkar
di atas atap gereja
sedang aku menatap pantulan
wajahku pada kaca retak di dinding
hidungmu yang nyaris tenggelam
dan menciumi bau jejak sajak
yang tersesat di bibir cangkirmu

 

(Malang, 2017)

 

Samudera Tangis

aku ingin menjadikan

tangismu sebagai samudera

tempat anak-anak puisiku

berlayar menuju matamu

 

di tengah pelayaran

karam tak menghalangi

anak-anak puisiku

menenggalamkan diri

 

menuju kedalaman hatimu

 

(Malang, 2017)

 

Ibadah

aku menjadikan rindu

sebagai kiblatku dalam

mencintaimu

 

tubuhmu serupa sajadah

di atasnya aku

khusyuk beribadah

 

(Malang, 2017)

 

Perpisahan

saat aku menuliskan frasa

pada larik akhir puisiku

kau datang membawa fragmen duka

mengalungkan rumbai bunga di leherku

 

(Malang, 2017)

 

 

 

 

 

 

Editor Litera

The author Editor Litera

1 Comment

Leave a Response