close
flower-2577944_1920

Ditodong seperti itu aku tak bisa berkutik.

“Aku tahu sesuatu telah terjadi pada ibu. Aku punya firasat,” suara Fredie mulai goyah.

“Kalau ayah tak mau cerita, sebaiknya aku segera memesan tiket pesawat, aku akan ke sana,” kata Fredie tergesa-gesa.

Aku tak punya pilihan lain kecuali menceritakannya pada Fredie. Kukatakan, bahwa usia tua telah menggerogoti ingatan ibunya. Ibunya sudah mulai pikun dan tidak bisa diajak bicara dengan normal. Aku tak bilang pada Fredie bahwa ibunya menderita Alzheimer, dan keadaannya lebih buruk dari yang kuceritakan. Aku hanya bilang bahwa ibunya mulai pikun. Dan itu normal untuk usia tua. Setelah mendengar ceritaku, Fredie sedikit tenang, meski ia sempat terisak. Berkali-kali ia meminta maaf karena tak berada di sini kami. Ia berjanji, kalau ada kesempatan, ia akan segera terbang menjenguk kami. Atau membawa kami ke Amerika, kalau kami bersedia.

Aku mengiyakan semua kata-kata Fredie agar ia tenang. Aku memang tak ingin membebaninya. Kalau Rosi sadar secara penuh tentu ia juga tak mau Fredie terbebani olehnya. Aku tahu seperti apa Rosi menyayangi bocah itu. Selama aku bisa menjaga Rosi, aku akan menjaganya dengan tanganku sendiri, sampai Tuhan menjemput kami dari dunia yang menyedihkan ini.

Semenjak mengetahui keadaan ibunya, Fredie menelepon lebih sering. Seperti biasanya, ia selalu meminta maaf. Ia bilang belum ada waktu luang. Hingga bulan demi bulan berlalu menjadi tahun.

Pada suatu malam. Aku terkejut ketika mendapati Rosi duduk di atas ranjang seperti orang normal. Ia membolak-balik album foto yang ia ambil sendiri dari laci. Pasti ia tak sengaja menggeledah laci-laci itu hingga menemukan album foto tua berisi gambar-gambar kami sewaktu muda. Rosi tampak termangu ketika aku mendekatinya dan terduduk di bibir ranjang. Rupanya ia tengah memandangi foto Fredie kecil. Pasti ia sangat merindukan bocah itu. Sudah lama sekali. Mendadak dadaku sesak.

Malam itu juga aku menelepon Fredie yang mengatakan bahwa ibunya terus memandangi fotonya dalam album. Mendengar itu, dari suaranya, Fredie tampak bahagia karena ibunya masih bisa mengingatnya. Sebenarnya, dengan menelepon Fredie malam-malam seperti itu. Aku ingin agar Fredie tahu, bahwa kami, aku dan ibunya sangat merindukannya dan mengharapkan ia datang meski hanya sekejap. Tapi aku tak pernah bisa memohon pada Fredie. Aku sudah berjanji tidak akan membebani anak itu.

Dan begitulah. Di akhir pembicaraan kami, Fredie hanya meminta maaf. Ya, ia memang ahlinya meminta maaf. Dan aku, seperti juga Rosi, tak pernah bisa untuk tidak memaafkannya.

***

 

Hari ini adalah hari istimewa: hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-60. Kupastikan hari ini akan datang sepaket hadiah dari Fredie. Terlampau seringnya mengirim paket-paket seperti itu, Fredie jadi hapal betul kapan paket hadiah itu harus ia kirim supaya sampai tepat waktu: pada hari istimewa kami. Memang, terkadang paket itu telat satu hari atau malah kadang datang lebih cepat. Tapi biasanya ia datang tepat waktu.

Hari ini aku bangun lebih pagi. Selepas menyiapkan sarapan dan membersihkan rumah, dengan sepatu bot dan topi rotan yang kusam aku mulai mendekam di halaman. Di antara semak-semak mawar yang penuh duri. Sementara Rosi, aku mendudukkannya di beranda, beberapa meter dari tempatku bekerja, mengguntingi tangkai-tangkai mawar yang telah mekar dan memasukkannya ke dalam keranjang. Aku senang sekali melakukan pekerjaan ini: memetik mawar-mawar ini, sambil ditunggui Rosi di beranda.

Malam ini rumah kita akan dipenuhi mawar, Rosi. Kuharap, malam ini, aku bisa membuatmu bahagia, atau setidaknya tersenyum.

Malam ini aku merencanakan sebuah pesta kecil-kecilan, pesta ulang tahun pernikahan kami. Dengan kue tar mungil yang diatasnya dihiasi gula-gula berwarna merah muda berbentuk mawar, serta sepasang mempelai yang tersenyum, yang terbuat dari cokelat beku yang lezat. Rosi akan memotong kue itu dan kami akan menyantapnya sambil mengenang masa lalu.

Oh Rosiku yang cantik, apa ingatan itu masih utuh dalam kepalamu?

Sudah sekitar tiga tahun terakhir ini, kami melewatkan banyak pesta dan hari-hari istimewa. Aku terlalu sibuk mengurus Rosi hingga terkadang lupa pada hari-hari istimewa kami. Hingga paket-paket dari Fredie datang tiba-tiba dan mengingatkanku. Tapi hari ini, hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-60, harus dirayakan. Meski hanya dengan memetik mawar dan memotong kue kecil-kecilan.

Sambil memilah-milah kuntum mawar yang bagus, aku melirik Rosi yang duduk di beranda. Ia sedikit memiringkan kepalanya ke kanan. Sekuntum mawar merah terkulai di tangan kanannya. Aku tersenyum padanya dari kejauhan. Dan ia masih seperti sebelum-sebelumnya, menatapku tanpa ekspresi. Untuk menarik perhatiannya, aku mencoba mengangkat keranjang berisi mawar itu.

“Lihatlah mawar-mawar ini, Rosi. Sepertinya malam ini kita akan tidur berselimutkan mawar.”

Rosi tak menggubris. Aku sudah tahu itu. Dan aku masih berusaha tersenyum.

Setelah keranjang itu pernuh. Aku beranjak ke teras dan meletakkan sekeranjang mawar itu di atas meja kaca, di sebelah Rosi. Lantas beringsut menuju gudang kecil di teritis kanan rumah kami. Sebuah ruangan kecil tempat kami menyimpan alat-alat berkebun. Aku meletakkan topi jerami dan sepatu bot, pada tempatnya. Sejenak aku mengawasi ruangan itu, ruangan yang kian waktu kian using dan menyedihkan. Dulu, Rosi yang selalu merawat tempat ini.

Di sudut ruang, sebuah sekop dan cangkul tampak membatu seperti sepasang mempelai tua yang kesepian. Sekop dan cangkul itu kubeli saat pertama kali kami menanam mawar-mawar di halaman. Di dalam laci-laci kayu, beberapa alat berkebun yang bentuknya sedikit aneh, juga tampak kesepian, itu semua hadiah kiriman dari Fredie. Aku dan Rosi jarang menggunakannya. Sebuah topi jerami dengan hiasan bunga-bunga rumput, itu juga pemberian Fredie. Sepasang dengan topi jerami tua milikku. Sudah tiga tahun lebih Rosi tidak mengenakan topi itu. Aku menghela napas berat dan kembali beranjak ke teras.

“Saatnya kita membersihkan mawar-mawar itu, Rosi,” ujarku sambil ngeloyor menuju beranda.

“Rosi?” Aku terhenyak ketika tidak mendapati Rosi di tempat duduknya.

Aku berlari ke dalam rumah. Memanggil-manggil nama Rosi. Tapi tidak ada tanda-tanda Rosi masuk ke dalam. Aku menengok kamar demi kamar, dapur, kamar mandi, gudang dalam, halaman belakang. Dan Rosi tidak ada di sana. Kepanikan menjalari kepala tuaku. Aku kembali ke beranda. Sekeranjang mawar itu juga sudah tidak ada di tempatnya. Aku baru ingat, dalam keranjang mawar itu ada sebuah gunting pemetik bunga yang cukup tajam. Ya Tuhan, mengapa aku ceroboh sekali.

 

Cerita Bersambung ini dipersembahkan oleh Mashdar Zainal. Nantikan kelanjutannya hanya di Litera.id, Rabu depan!

Editor Litera

The author Editor Litera

2 Comments

  1. Hi there! Someone in my Myspace group shared this site with us so I came to give it a look. I’m definitely enjoying the information. I’m bookmarking and will be tweeting this to my followers! Great blog and superb design.

    http://www.zvodretiluret.com/

Leave a Response