close
sunset-1902317_1920

Banyak tempat dan ragam wisata di Kota Kuching, Negeri Sarawak, Malaysia. Salah satu ragam wisata di kota itu adalah menyusuri Sungai Sarawak. Sungai ini membelah Kuching menjadi dua bagian, satu kawasan disebut sebagai kota lama di mana difungsikan sebagai tempat niaga dengan penduduk mayoritas keturunan China. Sedang di bagian seberang adalah pusat pemerintahan Sarawak dengan mayoritas penghuni adalah kaum bumi putera (etnis Melayu).

Sungai ini menjadi penghubung kedua kawasan. Bila orang seberang ingin belanja ke pusat niaga, mereka ada yang menggunakan sampan sebagai alat transportasi. Tarif naik sampan sebesar 1 RM (Ringgit Malaysia).

Meski sungai itu memiliki panjang 217 km namun paket wisata menyusuri sungai hanya sekitar Water Front. Water Front merupakan pusat wisata, niaga, bisnis, dan hotel di Kota Kuching. Untuk itu bila kita ingin menikmati wisata susur sungai, kita harus ke Water Front. Kapal yang memiliki panjang sekitar 10 meter dan lebar 4 meter ini ditambatkan di salah satu dermaga Water Front.

“Kalau membeli di awal harganya 54 RM,” ujar penjual tiket. Ia menawarkan potongan harga dengan tujuan agar wisatawan yang lalu lalang di Water Front segera ikut tour itu. Harga resminya adalah 60 RM untuk dewasa dan 30 RM untuk anak-anak di bawah 12 tahun.

Di tengah lalu lalang orang, satu persatu orang membeli tiket. Waktu menyusuri sungai pukul 17.30 waktu setempat. Dalam sehari paket wisata susur sungai hanya sekali. Tepat pukul 17.00, peserta wisata susur sungai diperkenankan masuk ke dalam kapal yang di badannya tertulis Sarawak River Cruise itu. Peserta wisata susur sungai rupanya terbilang banyak, terlihat orang berduyun-duyun bergegas naik ke kapal.

Berada di dalam kapal, kita akan melihat kemewahan, ada restoran dengan fasilitas bardan café. Meski di ruangan ini suasana lebih mewah namun sepertinya penumpang lebih memilih naik ke bagian atas. Di bagian ini suasananya terbuka sehingga pandangan lebih luas. Berada di bagian atas, pramusaji langsung menyambut penumpang dengan menyodorkan roti yang berada di atas piring kecil dan segelas es jeruk. Sepasang roti dan minuman itu adalah bagian dari pelayanan tour.

Menjelang pukul 17.30, terdengar bunyi terompet kapal yang keras dan panjang. Klakson dibunyikan sebagai tanda kapal hendak lepas tali. Tak lama kemudian, kapal bergerak pelan meninggalkan dermaga. Ketika kapal sudah menengah, terlihat kawasan Water Front, seperti Main Bazaar. Main Bazaar adalah pusat belanja souvenir dan oleh-oleh khas Kuching dan Sarawak. Tak lama kemudian kita akan melihat bangunan wisata seperti Fort Margherita, Mahkamah Lama, dan Galangan Kapal Brooke. Bangunan-bangunan itu merupakan bangunan tua dan berfungsi pada masa ketika Sarawak berada di bawah kekuasaan bangsa asing, seperti pada masa Charles Brooke di tahun 1800-an. Charles Brooke merupakan orang Inggris yang pernah menjadi sekutu Sultan Brunai yang masih menguasai Sarawak.

Tak lama kemudian, pengunjung akan melihat megahnya Masjid Kota Kuching. Masjid ini umurnya setua pemerintahan Kota Kuching, dibangun mulai tahun 1852 dan mengalami masa pengembangan dari waktu ke waktu. Bangunan yang sekarang kita lihat merupakan renovasi terakhir yang dilakukan pada tahun 1962. Di kanan kiri masjid merupakan pemakaman Muslim.

Selepas melintasi masjid yang bercat pink itu, kapal berputar haluan, balik arah. Di sisi sebelah sungai, peserta susur sungai akan melihat dua bangunan penting Negeri Sarawak, yakni Astana dan Dewan Undangan Negeri (DUN) Sarawak. Astana adalah tempat tinggal Yang di-Pertuan Negeri Sarawak, jabatan setingkat gubernur. Tempat ini bak istana presiden di Indonesia. Dalam kesempatan itu, saya ingin mengunjungi Astana, ehrupanya tempat itu dibuka pada saat-saat tertentu seperti pada Hari Raya Idul Fitri. Tepat di samping Astana ada DUN. DUN kalau di Indonesia adalah DPRD.

Sebagai urat nadi masyarakat, di kanan-kiri sungai juga ada hunian penduduk. Saat susur sungai kita akan melihat Kampung Boyan. Kampung ini bisa jadi dulu adalah tempat hunian orang-orang Indonesia, di kampung itu ada lorong yang bernama Lorong Gersikan. Tak jauh dari Kampung Boyan, ada Kampung yang bernama Surabaya. Di Kampung Surabaya, ada lorong-lorong yang namanya para Wali Songo. Seperti Lorong Sunan Bonang.

Agar suasana susur sungai itu tidak menjenuhkan, pengelola memberikan hiburan tari di atas kapal. Di ujung perjalanan, peserta wisata disuguhi beragam tari tradisional, tari dari etnis dayak, melayu, dan etnis lain yang ada di Sarawak. Dengan suguhan tari tradisional itulah membuat wisata susur sungai menjadi lebih meriah dan menyenangkan. Pengelola tour pun memberi kesempatan kepada penumpang bila ingin foto bareng dengan para penari.

 

Ardi Winangun adalah seorang penulis traveller yang biasa menulis di Jawa Pos, Republika, dan Koran Tempo. Ia adalah founder komunitas Backpacker International. Naskah ini terpilih sebagai lima naskah terfavorit dalam kompetisi Lomba Menulis Perjalanan ke ASEAN yang diadakan Redaksi Litera dalam ajang ASEAN Literary Festival 2017

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response