close
Cerpen

Nunung Pakai Kain Kebaya (Sebuah Cerpen oleh Hanna Rambe)

woman-148297_1280

Setelah mematut-matut diri di muka cermin,  Nunung mencoba berjalan normal. Artinya, berjalan gaya wartawati yang mau pergi dinas. Hampir ia terjatuh. Duuuh, keluhnya.

Ia berjalan perlahan, seperti sedang ikut upacara resmi. Kain batik dan selendangnya itu, menghalangi langkah besarnya. Tapi apa boleh buat. Kain kebaya itu dikenakannya karena diminta oleh Tuan Prasad, orang yang menjamunya makan siang hari ini.

Mereka bertemu dua tahun sebelumnya di Bali. Ada konperensi internasional tentang lingkungan hidup waktu itu. Tuan Prasad memakai pakaian India asli, celana panjang yang ketat dan kemeja selutut yang lehernya tinggi.

Nunung boleh datang ke India untuk urusan pelestarian harimau asalkan dengan biaya sendiri, ujar Tuan Prasad. Tuan Prasad juga menambahkan bahwa dia menyukai wanita yang pakai kain kebaya, bunga di telinga atau di sanggulnya.

“Kalau ke New Delhi, pakai kain kebaya ya, supaya istriku dapat sama-sama mengagumi,” harap Tuan Prasad.

Sekarang Nunung berada di India meski tidak dengan biaya sendiri. Ia menyempatkan diri mampir memenuhi undangan Tuan Prasad.

Nunung menundukkan kepalanya masuk ke taksi, dan segera memberikan alamat kepada si supir. Sekarang dia di India. Ternyata jaraknya tak jauh dari hotel tempat ia menginap. Seperti tak percaya ia memandang ke sekitar. Kompleks itu luas sekali, di tengah gedung-gedung kuno gaya Inggris lama atau pencakar langit.

Lho, seperti rumah Perumnas tahun 70an, pikirnya. Semi permanen, satu lantai tapi ada sedikit halaman. Inikah rumah Direktur Jenderal Taman Nasional  Surya, pembantu dekat Ny. Indira Gandhi, Perdana Menteri India? Ia tidak percaya saat supir taksi menyilakannya turun.

“Mungkinkah alamatnya salah? Orang  yang saya cari ini orang besar di pemerintahan, Pak Supir,” kata Nunung dalam bahasa Inggris dengan penuh hormat. Dalam benaknya terbayang gaya hidup orang pemerintahan di negerinya sendiri, yang malas jalan kaki, senang pakai jas walau udara panas dan kediamannya ‘representatif”. Apalagi pangkat dirjen, pikirnya.

Madam saya tidak kenal orang yang Anda cari. Tapi alamatnya memang di sini. Ini kompleks rumah pegawai negeri,” jawab supir taksi tak peduli.

Nunung berjanji akan mencarter taksi itu karena khawatir sulit mencari kendaraan untuk pulang. Ia turun dan berjalan seperti peragawati di jalurnya, menuju rumah nomor sekian yang diberikan Tuan Prasad.

Tuan Prasad menyambutnya di beranda, didampingi istri dan Kamala, anak perempuan mereka yang cantik. Suasana hangat dan gembira menggema. Mana kursi mejanya, pikir Nunung. Mungkin di dalam rumah, jawabnya sendiri.

Tuan Prasad menyilakannya masuk. Di ruang dalam itu hanya ada permadani terbentang. Tidak ada  meja kursi, atau bangku panjang, apalagi sofa. Tuan Prasad sibuk meminta istrinya memerhatikan pakaian daerah yang dikenakan Nunung. Nunung pun jadi  sibuk mendemo panjang kain, panjang ikat pinggang yang disebut setagen, selendang yang harus satu setel warnanya, dan lain-lain soal kebaya.

Hanya, ia meminta maaf karena rambutnya terlalu pendek sehingga tidak dapat disanggul, apalagi disematkan bunga. Rasanya undangan makan siang jarang yang berdiri, Nunung membatin.

Mereka menyilakan Nunung duduk  beralas permadani. Ia tidak biasa melakukan itu di negerinya, bahkan di  mana pun. Maka ia duduk dengan cara membanting dirinya ke permadani, sementara tuan rumah bergerak luwes, duduk dengan baik di atas permadani.

Nunung merasa tak nyaman. Nanti waktu mau berdiri, lebih celaka lagi, pikirnya. Aku harus berpegangan dinding.

Mereka berbincang dengan nikmat. Nyonya Prasad banyak bertanya tentang Bali karena mendengar cerita suaminya yang ke sana dua tahun sebelumnya. Ia heran penduduk Bali  beragama Hindu seperti di India, padahal sekelilingnya beragama lain.

“Oh itu kan persoalan politik, Madam, seperti  India juga. Kami berdekatan tetapi berbeda nenek moyang, mungkin. Namun karena sama-sama menderita oleh penjajahan orang Barat, jadi sependeritaan sepenanggungan. Jadi seperti orang bersaudara, saling berbagi, saling menikmati.”

“Hebat ya. Saya kagum,” kata Nyonya Prasad sambil menggerak-gerakkan kepala, seperti orang India pada umumnya.

Obrolan terus ke mana-mana, mulai dari teh, lada, cendana, Himalaya, Ramayana, Mahabharata dan sebagainya. Nyonya Prasad dan putrinya banyak bertanya tentang gunung-gunung berapi. Juga tentang gajah dan harimau, perbedaan dengan hewan yang sejenis dari India.  Mereka seperti bagian Tuan Prasad sebagai kepala bagian pelestarian hewan pemangsa berukuran besar, di negerinya.

Mungkin tiba saatnya makan karena tiba-tiba Kamala berdiri dan meninggalkan obrolan. Tak lama terciumlah bau makanan yang harum, wangi rempah-rempah. Nunung beribu dari Sumatra. Jadi harum kapulaga, cengkeh,  poka, kayu manis, cabai dan entah apa lagi,  langsung menggugah selera makannya.

Sambil bergurau ia melirik ke  arah lebih jauh dari ruangan duduk. Sama juga, lapang, tanpa kursi dan meja. Ya  ampun, pikirnya, berapa kali lagi aku harus banting diri ke permadani?

Tak lama ajakan makan siang  diucapkan. Tuan Prasad berdiri. Nyonya Prasad khusus berdiri di sebelah Nunung, menyorongkan kedua tangannya dan membantu  Nunung mengangkat tubuhnya dari lantai. Mereka tertawa gelak-gelak,

“Aduh, saya seperti bayi belajar berdiri,” ucap Nunung manja.

“Apakah di negeri  Anda orang tidak duduk di permadani?” tanya Nyonya Prasad.

“Sehari-hari tidak. Namun pada waktu ada upacara adat yang dikunjungi oleh banyak kerabat, kami menghamparkan tikar atau permadani. Jika ada kematian pun biasanya kami duduk di ubin beralas. Namun tidak kalau sedang berkain sempit seperti ini. Kebaya kurung orang Sumatera pada umumnya lebar, berbentuk lingkaran,” jawab Nunung, tertawa, seperti menertawakan keadaannya.

“Apakah indahnya sama seperti yang Anda kenakan sekarang?”

“Agak berbeda. Blusnya lebih panjang. Gerakan kami lebih bebas.”

“Sehari-hari Anda pergi kerja dengan kain yang seperti lingkaran itu?”

“Tidak, Madam. Pakaian seperti ini sangat menyusahkan gerakan. Umumnya kami memakai pakaian seperti orang Barat atau orang Muslim yang membuat gerakan bebas karena lebar atau berbentuk celana panjang,”

Obrolan pindah ke masalah hidangan di atas meja. Mereka makan bukan dari piring berbentuk bundar, melainkan dari  semacam baki besar, berbantuk persegi. Baki sudah dibagi untuk tempat lauk pauk dan makanan utama, yakni nan  atau chapatti. Baki disebut thali.

Mula-mula mereka takut saya tak suka makanan mereka. Melihat saya tanpa basa basi bolak-balik mengambil nan dan lauknya, mereka heran.

“Di Indonesia nan dijual dalam ukuran besar, diisi dengan daging cincang yang telah dimasak. Kami menyebutnya martabak,” kata Nunung, sebelum mereka bertanya.

Daging yang diutamakan untuk tamu biasanya kambing, kata mereka. Mereka tak makan sapi atau babi dan hidangan penutup selalu yang manis-manis. Nunung suka berbagai cara mengolah susu asam (yoghurt) mereka.

“Mungkin saya tamu Anda yang rakus. Semua dimakan dengan lahap,” Nunung mencoba berseloroh  mengapa ia makan banyak siang itu. Mendengar itu mereka tertawa riang.

Lalu tibalah saat untuk berdiri. Waduh, keluh Nunung dalam hati. Dengan perut penuh dia akan lebih sulit bergerak. Untung Nyonya Prasad ingat pembicaraan mereka sebelumnya. Ia menjulurkan lengan ke arah Nunung, lalu Nunung menyambut menangkap tangan nyonya rumah.  Kemala tersenyum lebar menyaksikan.

Nunung yang enggan duduk lagi di lantai, cepat-cepat menanyakan soal bunga mungil warna-warni di halaman. Kelopak bunganya mirip tulip tetapi berenda-renda. Indah sekali.  Saya belum pernah melihatnya, katanya.

“Baguslah kalau begitu. Itu memang tanaman jahanam, pembawa maut,” jawab Tuan Prasad.

Mereka lalu berjalan ke halaman. Untung, pikir Nunung. Ternyata itulah tanaman candu yang pada masa dahulu menjadi alat pemati rasa untuk pasien yang akan menjalani operasi sebagai pengobatan.

Bunganya indah, mungil, berwarna merah, ungu, biru, merah jambu, jingga dan putih. Nunung tidak melihat yang berwarna kuning. Entah memang Tuhan tak menciptakan atau tak ada dalam koleksi itu.

‘Semua penduduk kompleks ini saya beri tahu, inilah candu yang sekarang jadi obat untuk menyenangkan diri. Kalian harus kenal dan menghindarinya. Siapa mau mati kurus kering, pelan-pelan dalam ketagihan yang menyakitkan?”

“Jika bunganya mulai  ada benjolan, semua bunga saya tuai. Jika benjolan dianggap sudah tua, akan diiris sampai getah keluar. Getah itulah yang diolah jadi bubuk jahanam,” katanya.

Nunung manggut-manggut.

Mereka lalu mengobrol tentang bahaya narkotika sampai ke obat-obat aphrodisiac (pembangkit nafsu seksual) yang diyakini berasal dari bagian tubuh hewan tertentu seperti cula badak, kumis harimau, ekor gajah, rahang buaya, dan entah apa lagi.

Ada kelompok orang yang mencari itu semua dan mereka memusuhi hewan besar berkaki empat. Rakus hendak jadi kaya cepat dan tak peduli bahayanya. Orang-orang semacam Prasad dan Nunung yang sibuk melindungi  hewan-hewan besar demi keseimbangan  alam beserta isinya. Sebagai  bentuk penghormatan juga kepada Pencipta alam semesta.

“Apakah di India juga ada pabrik bubuk-bubuk jahanam, terutama yang gelap tapi berkuasa karena uangnya?”

“Ada.”

“Apakah ada upaya membasminya? Dari Pemerintah?”

“Ada. Tapi kadang-kadang alat-alat Pemerintah  kurang canggih dibanding alat-alat para bandit itu. Ada juga pegawai yang ingin kaya, bekerja sama atau menerima suap dari mereka.”

“Apa nama badan yag bekerja melawan mereka, termasuk pemburu hewan liar?”

“Saya lupa persisnya. Tapi kami dari lingkungan hidup bekerja sama. Itu juga dukacita kami, para orangtua yang jadi pegawai negeri. Saya kerap  khawatir kedua anak saya yang belajar di Inggris jatuh, dibodohi oleh  mereka. Mudah-mudahan mereka kuat iman.”

“Anak Anda tiga sesungguhnya?” sela Nunung.

“Ya, yang dua di perguruan tinggi. Biayanya mahal. Kalau mereka tamat, biar mereka yang bantu biaya Kamala ke Inggris. Saya hanya sanggup membeli rumah seperti ini untuk hari tua saya. Sedikitnya saya ada atap di kepala. Saya enggan menempati rumah dinas. Mentereng, tetapi bukan milik saya. Belum lagi kalau rusak, kita harus betulkan padahal milik orang lain. Hidup sederhana pun bahagia,” katanya melirik istrinya yang manggut-manggut.

Sejenak Nunung termenung. Ia seperti berada di alam lain. Sudah lama ia tak mendengar kebahagiaan hidup dalam kesederhanaan, dengan contoh jelas di hadapan matanya.

Ia ingat di negerinya hutan dibabat habis demi …, entahlah, sampai badak, beruang, gajah, orangutan, ular, tapir kehilangan habitat mereka. Siapa peduli? Nyonya Gandhi dengan  suaka harimaunya dapat menyebabkan harimau berbiak sedikit sehingga mengecilkan peluang kepunahan.

Itulah alasan Nunung datang, hendak menyaksikan sendiri hasil sukses Tuan Prasad. Sayang ia harus terbang jauh sekali untuk itu.

(New Delhi, Maret 1984. Saat cerita ini ditulis, di Indonesia belum ada KPK).

 

Hanna Rambe (23 November 1940) seorang penulis dan wartawan. Ia lahir dan besar di
di Jakarta. Kuliah bahasa Inggris di Universitas Indonesia tetapi tidak sampai lulus. Dia bekerja
sebagai editor bahasa di the Indonesian Observer, sebagai penerjemah dan wartawan di Indonesia
Raya hingga (1974,) kontributor majalah Intisari (1972–1977), dan wartawan majalah
Mutiara (1977–1992).
Pekerjaannya sebagai wartawan memberinya kesempatan bepergian. Sebagai penulis, ia dengan
rinci meneliti subjeknya. Sebelum menulis Mirah dari Banda ia tinggal selama sebulan di Banda.
Ketika menulis Seorang Lelaki dari Waimitai Hanna bepergian bolak-balik ke Seram, ke tempat-

tempat yang sulit dijangkau di pulau tersebut.

Ia baru kembali dari Amerika Serikat atas undangan Universitas Wesleyan, Middleton karena
bukunya Mirah dari Banda. Pada kesempatan itu ia juga menziarahi Ground Zero World Trade Center New York
yang dibangun kembali setelah peristiwa 9/11. Saat ini Hanna Rambe mengisi hari-harinya dengan menulis dan
mengajar Bahasa Inggris.
Karya-karyanya: Mencari Makna Hidupku: Bunga Rampai Perjalanan Sujatin Kartowijono ,1983,
Sinar Harapan; Seorang Lelaki di Waimital, 1983, Sinar Harapan; Petualangan Effendy Soleman
dengan Cadik Nusantara, 1992, Sinar Harapan; Dua Permata Nusantara, 1999, Persetia;
Pertarungan, sebuah novel ekologi, IndonesiaTera; Mirah dari Banda, 2003, IndonesiaTera, Mirah of
Banda, 2010, Lontar; Aimuna dan Sobori, 2013, Yayasan Pustaka Obor Indonesia

 

 

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response