close
roses-983972_1920

Aku mulai mencari Rosi di seputaran rumah dan menanyai beberapa tetangga. Tapi tak seorang pun melihatnya. Bocah-bocah cilik yang bermain sepeda di lapangan juga tidak melihatnya. Seharusnya Rosi ada di sekitar sini. Ia buta arah dan ia tak mungkin bisa berjalan gegas. Aku terus mencari dan bertanya pada setiap orang yang kutemui. Dibantu beberapa tetangga yang peduli. Tapi Rosi tak juga menampakkan batang hidungnya.

Aku pun mulai berpikir yang aneh-aneh, seperti misalnya Rosi diculik orang dan dimasukkan ke dalam mobil, lalu disekap di sebuah tempat, lantas si penculik itu meminta tebusan. Ah, tapi itu tak mungkin. Tak pernah ada cerita seseorang menculik  nenek-nenek dan meminta tebusan pada kakek-kakek. Lantas Rosi ke mana? Kepalaku mulai pening dan berkunang-kunang.

Setelah sekitar dua jam lebih pencarian tidak membuahkan hasil, beberapa tetangga mengantarku pulang. Setelah menenangkanku sejenak, para tetangga itu berpamitan. Mereka minta aku segera menghubungi mereka jika terjadi apa-apa. Rumah kembali hening. Aku terisak lirih, menyesali kerentaan yang begitu rapuh. Setelah lumayan tenang, aku menelepon neurolog yang memeriksa Rosi. Dan ia menyuruhku memeriksa kembali ruang demi ruang dalam rumah kami dengan saksama, misalnya dalam lemari, di bawah ranjang, di bak mandi, atau di tempat-tempat yang tak kuduga.

Begitu telepon kututup, aku bergegas ke kamar dan berjongkok mengintip ke bawah ranjang. Aku lemas seketika karena perasaan lega. Seonggok tubuh terbaring di sana, di bawah ranjang, di sebelah keranjang mawar yang membisu. Perlahan aku menarik tubuh Rosi yang terasa lebih berat.

“Apa yang kau lakukan di sini, Rosi? Mengapa kau selalu membuatku cemas?” aku memeluknya erat-erat, seolah kami telah terpisah begitu lama.

Aku membaringkan tubuh Rosi ke atas ranjang dan menghubungi para tetangga bahwa aku sudah menemukan Rosiku. Aku menyiapkan makan siang yang terlambat dan menyuapi Rosi di atas ranjang, lantas melanjutkan pekerjaanku. Pekerjaan yang harus tuntas sebelum senja. Apapun yang terjadi, pesta kecil-kecilan ini harus tetap berlangsung. Untuk melangsungkan pesta ini, aku hanya butuh Rosi, dan ia sudah kembali.

***

 

Jelang senja, semua pekerjaan telah beres. Biasanya paket hadiah dari Fredie datang pada pagi menjelang siang, atau siang menjelang sore. Namun, sampai detik ini paket itu belum sampai ke tangan kami. Barangkali paket hadiah itu datang terlambat. Lagi pula, paket hadiah itu kini tak lagi terasa istimewa. Dulu, sewaktu Rosi masih ‘sehat’, kami berdua selalu bermain tebak-tebakkan perihal isi paket hadiah yang dikirim Fredie. Dan Rosi selalu menang. Tebakan Rosi selalu benar. Ketika Rosi mengatakan paket ini berisi perkakas dapur, maka paket itupun berisi perkakas dapur. Ketika Rosi mengatakan paket itu berisi pakaian, maka paket itu benar-benar berisi pakaian. Rosi bisa tahu isi paket itu hanya dengan mengangkatnya dan menempelkan kupingnya ke kotak paket. Seolah ada seseorang yang berbisik ke Rosi dan memberi tahukan isinya. Sementara aku, tak pernah tepat. Satu-satunya tebakanku yang tepat adalah ketika paket itu berisi makanan atau kue-kue kering. Dari suara dan aromanya aku sudah tahu.

Sayang, semenjak Rosi didera penyakit aneh itu, paket-paket dari Fredie menjadi paket hadiah yang hambar. Aku tak bisa lagi bermain tebak-tebakkan dengan Rosi. Dan isi paket itu hanya akan menjadi penghuni gudang. Dan karenanya, diam-diam aku merasa bersalah pada Fredie. Suatu kali aku mengatakan pada Fredie, suapaya ia menghentikan kiriman paket-paket hadiah itu pada hari ulang tahun kami. Tapi kata Fredie, “Aku tak bisa datang langsung. Kalau ayah melarangku mengirim paket hadiah itu, aku merasa seperti bukan anak kalian. Dan itu membuatku merasa bersalah.”

Aku pun bungkam dan tak pernah membahasnya lagi. Dan paket-paket hadiah dari Fredie terus berdatangan pada hari ulang tahunku, hari ulang tahun Rosi, dan tentu saja pada hari ulang tahun pernikahan kami. Aku jadi bertanya-tanya, kira-kira paket hadiah apalagi yang akan dikirim Fredie pada hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-60 ini?

***

Selepas petang, rumah sederhana ini telah tampak seperti ruang pengantin, bersih, wangi, dan penuh mawar. Aku juga telah memandikan Rosi seperti biasanya. Pada hari istimewa ini, aku mengenakannya gaun pengantin berwarna putih gading yang telah kami simpan selama puluhan tahun dan rasanya tak pernah berubah. Rosi selalu tampak cantik berkali-kali lipat ketika mengenakan gaun itu.

Setiap vas telah kuisi dengan mawar-mawar segar yang baru kupetik tadi pagi. Kue yang kupesan juga sudah datang. Melihat kue itu mendadak aku teringat beberapa tetangga yang siang tadi membantuku mencari Rosi. Mungkin akan bagus kalau aku juga mengundang mereka. Tapi bagaimana mungkin, kue ini terlalu kecil bahkan untuk dua orang. Saat itu juga aku menghubungi kios kue yang sama dan menanyakan apakah ada stok kue yang kira-kira bisa diantar langsung, dan mereka memilikinya. Tak sampai satu jam kue dengan ukuran besar itu pun sudah tertata di meja.

Aku kembali menelpon para tetangga, beberapa dari mereka menyanggupi datang. Dan beberapa yang lain meminta maaf karena sudah ada agenda. Aku pun balik meminta maaf pada mereka karena undangan yang sangat mendadak itu.

Tepat pukul delapan malam, tiga dari tujuh tetangga yang kuundang sudah hadir. Sepasang pasangan muda yang tampaknya baru menikah dan seorang pemuda berusia dua puluhan. Kami tidak saling mengenal dekat. Kami hanya tetangga yang bertemu dan saling menyapa sesekali. Kami menjadi sedikit lebih akrab ketika mereka membantuku mencari Rosi siang tadi. Bisa dibilang, aku dan Rosi adalah salah satu penghuni paling awet di komplek perumahan ini. Beberapa yang lain datang dan pergi. Sebab itulah, kami tak begitu kenal dekat dengan tetangga. Semenjak menikah dengan Rosi, kami sudah pindah rumah sebanyak tiga kali. Dan rumah ini sepertinya akan menjadi rumah terakhir kami. Aku membeli rumah ini sekitar tiga puluh lima tahun yang lalu, dan sampai sekarang kami tak berniat pindah-pindah lagi. Usia kami tinggal sejengkal, dan kami sudah terlalu capek dengan urusan keduniaan yang melelahkan.

“Sepertinya Anda sudah lama tinggal di komplek ini,” ujar salah satu dari pasangan muda itu. Siang tadi mereka mengenalkan diri, yang laki-laki bernama Rudi dan yang perempuan bernama Amelia. Meski wajahku dipenuhi kerutan, tapi ingatanku masih cukup bagus.

“Sudah sekitar tiga puluh lima tahun.” Sahutku.

“Wah. Lumayan. Kami belum ada apa-apanya?”

“Adik sepertinya baru pindahan, ya?”

“Tepat setahun, tanggal dua lima bulan ini.”

“Kalau adik?” aku menyapa pemuda berusia dua puluhan itu. Aku juga masih ingat, pemuda itu bernama Jeri.

“Saya sebenarnya sudah hampir dua tahun di sini, tapi jarang keluar-keluar,” jawab Jeri.

“Baru juga berarti,” sela Rudi.

“Wah, berarti saya memang paling tua di sini, bahkan di komplek ini. Mungkin saya sepantaran dengan kakek kalian.”

“Jadi ini pesta ulang tahun pernikahan kalian yang ke-60?” Amelia mengeluarkan suara.

“Ya, yang ke-60.”

“Wah, salut. Bikin terharu.”

“Kesetiaan yang patut dicontoh,” ujar si Jeri lagi.

“Dan Nyonya mana?” Amelia kembali bertanya.

“Tak usah panggil, Nyonya,” kataku, “Namanya Rosana, tapi panggil saja dia Rosi.”

“Kalau tak keberatan, kami akan panggil Ibu saja, dan kami akan panggil Anda Bapak,” ujar Amelia sambil melirik suaminya.

Aku tersenyum dan merasa haru tiba-tiba, “Dengan senang hati, Nak.” Setelah memanggil mereka ‘Adik’, kini aku memanggil mereka ‘Nak’. Rasanya sudah lama sekali tak ada yang memanggilku ‘Bapak’ atau menyebut Rosi dengan sebutan ‘Ibu’ secara langsung, kecuali suara kecil dari balik telepon. Suara Fredie. Mungkin kami benar-benar merindukan panggilan itu secara langsung.

“Oh ya, seperti yang telah kuceritakan siang tadi. Rosiku ini, ia agak berbeda. Jadi, jika nanti kalian mendapati yang aneh-aneh, mohon dimaklumi,” ujarku lagi.

Cerita Bersambung ini dipersembahkan oleh Mashdar Zainal. Nantikan kelanjutannya hanya di Litera.id, Rabu depan!

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response