close
woman-58558_1280

Sayangku Olivia,

Kematianmu mengheningkanku. Ketiadaanmu di sisiku menciptakan rasa lengang yang aneh. Sembilan tahun delapan bulan dua belas hari waktu kita bersama, seperti kemarin saja.

Usiaku empat belas ketika aku mulai bekerja di British East India Company, tahun 1795. Bertahun-tahun aku menghayati pekerjaanku sebagai klerk. Sampai pada satu musim gugur aku melihat wajahmu di antara dokumen yang mengatakan kau janda Jacob Cassivelaun Fancourt, seorang asisten bedah yang wafat dalam perang Anglo-Mysore di Madras, tahun 1800. Kau sedang di London waktu itu, hanya meratapi kematiannya dalam sunyi, sendiri.

Kau sepuluh tahun lahir lebih dulu dariku. Tetapi pesonamu melampaui kekuatanku. Kau adalah sebuah buku terbuka yang mudah dibaca. Ayahmu George Devenish dari Casheltauna Four Mile House. Ibumu seorang Sirkasia India.

Masa remajamu tertinggal di Irlandia. Usiamu enam belas tatkala berlayar ke India untuk mendekatkan diri dengan kerabat ibumu. Tanpa penyesalan kau mengisahkan, bahwa di satu kabin kapal Rose, di atas Samudera Hindia yang hitam dan dalam, hasrat mudamu takluk pada daya pukau sang kapten. Cinta sesaat yang membuahkan bayi perempuan, yang kau titip kepadanya, karena kau terlalu muda menjadi ibu.

Gayamu mewarnai kebosanan keseharianku. Dan hatiku jatuh di pintumu. Pada 14 Maret 1805, gereja St George Bloomsbury menjadi saksi bisu pernikahan kita.

Aku mencinta dirimu. Dan aku bersedia menyelesaikan remeh-temeh kekacauan di sekitar hidupmu, meski itu menyedot banyak energiku. Kau telah memberiku kebahagiaan. Matamu hitam. Gerakmu lincah. Kecerdasanmu berlandas kebijaksanaan seorang perempuan.

Kenyataan bahwa kau cucu John Hamilton Dempster, salah seorang direktur kantor dan tokoh pergerakan Skotlandia, menjadi jalan kita menumpang kapal Ganges yang berlayar ke Pulau Prince of Wales, sebulan setelah kita menikah.

George Town, Penang. Kota tempat tinggal kita yang baru. Atasanku Philip Dundas, seorang Skotlandia dan orang nomor satu di pemerintahan. Kepadanya aku bekerja sebagai asisten sekretaris.

Di negeri timur yang jauh ini aku mengenal wajahmu yang lain. Kulitmu berkilau seperti bintang di antara perempuan-perempuan Melayu yang berkulit sawo matang. Bahkan Abdullah Abdul Kadir, sekertarisku, yang adalah penulis, terhisap kegemilanganmu. Ceritanya tentangmu terangkum dalam Hikayat Abdullah.

Istri Tuan Raffles berbeda dari perempuan umumnya. Dia tampak tenang, berhati-hati, dan menarik mata memandang. Keramahannya menular. Perilakunya sopan kepada si kaya seperti kepada si miskin. Hasrat belajarnya tentang Melayu seperti bayi yang senantiasa haus susu ibunya. Mulutnya tak berhenti bertanya: apa ini apa itu dalam bahasa Melayu.

Kepadanya, Tuan Raffles selalu memandang. Bila berencana sesuatu, beliau tidak akan bertindak sebelum istrinya bersetuju. Seperti Tuan Raffles, istrinya seorang yang rajin dan tidak nampak kikuk bertemu sesuatu yang baru. Melihatnya kapan saja, tangannya sedang bekerja, entah apa. Sungguhlah Tuhan Allah menganugrahi pasangan ini serasi, sperti raja dan penasihatnya, seperti cincin dan batu permatanya.

Seorang istri yang cakap lebih berharga daripada permata, kata kitab suci. Itulah dirimu. Dan aku beruntung memilikimu.

Olivia kekasihku,

Tentang John Caspar Leyden, penyair Skotlandia itu, izinkan aku membahasnya di sini, supaya lega hatiku melerainya.

Dari Madras John datang. Dia berangkat ke Penang demi menyembuhkan sakitnya. Dia terkena lever karena terlalu keras bekerja. Sejarah Melayu, buku yang ia terjemahkan dari bahasa Melayu ke bahasa Inggris, adalah awal perkenalan kita dengan namanya. Kehadirannya menyalakan semangat kita. Betapa indah ia menguasai kata-kata.

Aku mengundangnya untuk tinggal di bungalow kita. Dia akan mendapat segala yang dibutuhkannya, di sini. Sebuah tempat yang tenang. Dan kau menjelma perawat pribadinya. Dengan kasih sayang, tanganmu mencampur obat dengan air di badan sebuah sendok, memastikan John betul-betul menelan pahit obatnya. Tampak betul kau kenal perangai bengal seorang seniman yang tak adil saat memperlakukan kesehatannya sendiri.

Di tempat tidur kita hampir setiap malam, kau menceritakan perilaku John sepanjang hari itu. Sambil tertawa dan nada berbeda, kau mengulang perkataan spontan John, untuk menunjukkan rasa terima kasihnya atas perhatianmu. Kalian telah saling mengikat diri dengan puisi.

Beberapa kali aku memergoki kalian berduaan. Aku tak sampai hati mengusik. John memerlukanmu lebih daripadaku. Meski rasanya kau belum melakukan hal-hal mesra seperti itu kepadaku. Aku tidak sedang dilanda cemburu mengatakan ini, malah bangga dengan kecerdasan seleramu.

John memang sejenis makhluk yang tahu segala sesuatu. Dia bukan seorang intelek yang diam di menara gading. Kakinya menyusuri jalan-jalan kecil untuk bertemu segala jenis manusia dan masalahnya. Kau mengagumi pengalaman dan pengetahuannya, seperti halnya aku.

Di beranda rumah kita yang hangat, bertiga kita duduk bertukar cerita sambil menikmati char kway teow, asam laksa, dan teh yang kita bawa dari Inggris. Apa yang tidak kau tahu, John? desakmu girang, setelah John berkata bahwa Penang adalah kota yang menarik, seperti gerabah berisi leburan akar budaya Melayu, Cina, India, peranakan, Thailand, Eropa.  Dan kau bertanya lagi. Dan lagi. Terkadang kau menyesali malam menjemput terlalu cepat.

Atas provokasi John, aku rakus mempelajari sejarah, kebudayaan, politik dunia Melayu. Apa yang dikatakannya benar, kelak. Bahwa pengetahuan akan membawamu ke tempat-tempat baru yang belum pernah terpikirkan.

Itulah jalan kita ke Melaka. Waktu itu Belanda mengangkat raja seorang Prancis untuk memerintah. Secepat itu pula British East India Company mengambil langkah, mengusir Belanda dari pulau yang disebut Jawa. Sebuah tempat strategis yang nanti menjadi pos jalur lintas perdagangan ke Tiongkok.

Akhirnya pada 11 Juni 1811, atas perintah pusat, kita berlayar ke pulau Jawa. John ikut bersama kita. Gubernur Jenderal Lord Minto memimpin invasi, dan pada 4 Agustus 1811, kapal kita merapat di pelabuhan Cilincing.

Kita tinggal di istana indah bercat putih di Buitenzorg. Sebuah kota hujan, 65 km jaraknya dari Batavia. Aku memperindah halaman kediaman kita yang luas dengan mendatangkan puluhan ahli botani, menanami segala tanaman, agar menjadi kebun yang luar biasa kayanya.

Sementara itu tugas-tugas berat sebagai Gubernur menyerbuku seperti bah. Aku melakukan pelbagai transaksi menguntungkan, meningkatkan pajak, merombak peraturan-peraturan yang merugikan, memperbaiki administrasi hukum dan kepolisian, menghapuskan perdagangan budak, mengumpulkan data statistik yang penting dari seluruh negeri, memberi napas baru bagi seni dan sastra komunitas Batavia.

Seperti kau mencintai Penang, kau membuka dirimu kepada Jawa.  Manusia-manusia sederhana dan baik hati. Tulang pipi mereka yang menonjol, rambut mereka yang hitam. Kulit mereka yang kuning seperti emas muda. Pergelangan tangan yang kurus bertulang. Dan hidung itu. Kecil dan pendek. Bentuk bibir yang paling kusuka. Tebal dan mudah tersenyum.

Matamu melihat tanah yang luar biasa. Anak-anak sungainya dialiri air jernih. Matahari bersinar setiap pagi. Udara hangat. Hujan secara teratur membasahi kebun luas kita. Keringat mengucur di dahimu saat kemarau tiba.

Dan kita mencicipi manisnya buah-buahan tropis. Manggis, durian, rambutan, nangka. Bermacam jenis mangga, nanas, jambu batu, pepaya, delima. Asam, jeruk, lemon, sitrun, pir. Tanah negeri ini menyediakan segala yang dibutuhkan penduduknya. Apakah surga seperti Jawa, tanyamu heran, menyadari segala rempah penting Eropa berasal dari timur negeri ini. Aku tak berhenti mencatat dengan tanganku.

Lalu tanpa kita sadari, malaria menyerang John seperti perang. Usianya berhenti menjelang 36 tahun. Dengan duka mendalam kita menanam tubuhnya di Pemakaman Tanah Abang. John, sahabat kita tersayang, meninggalkan kita.

Lukamu kehilangan John, melebihi yang kurasakan. Aku didera rasa cemburu yang aneh namun tak mampu mengusikmu merayakan kepedihan dengan caramu. Aku terbalut sepi ketika menemukan satu puisi yang indah dari John, untukmu.

Di pulau timur ini,Aku tersulut gelombang hijau berkilau,Senyum Olivia yang menawanYang akan mengingatkanku dari kubur.Ketika, jauh melewati laut Malaya,Aku menyusur jejak gelap hutan-hutan Soonda,Olivia! Aku akan mengingatmu;Merahmati langkahmu, saat perpisahan kita

 

Setiap pagi dan petang menghabiskan waktu bersamamu,Berkhayal belantara di dalamku berangkat pulih,Dan semua pesonanya, akan menjadi,Hari-hari manis yang takkan kembali.

 

Dua bulan kita di Jawa, persis 19 Oktober 1811, aku diangkat menjadi Letnan Gubernur Jawa oleh kantor pusat. John tak sempat menyaksikanku mencapai mimpi terbesarku. Dan kau, pun tidak terlalu lama membiarkan diri diterpa duka. Kau kembali menjadi Olivia, milikku.

Pertama kali menghadiri resepsi, kau kehabisan kata-kata untuk mengomentari gaya primitif perempuan-perempuan Batavia. Mereka merokok, main dadu, dengan mulut belepotan merah akibat mengunyah daun sirih.  Langsing tubuh mereka tertutup sarung dan semua perhiasan untuk mempermanis penampilan, malah bergantungan di leher seperti pameran. Apakah mereka tidak tahu apa itu keindahan?

Dengan kegemasanmu, tradisi mengunyah sirih di istana putih, tidak ada lagi. Kau menambah sedikit lagi pendidikan dan pengetahuan, bagi mereka. Kau sungguh baik. Perhatian yang kau tunjukkan kepada mereka, setulusnya berasal dari hatimu.

Dan wajahku sebagai Gubernur Jawa bersinar karena keberadaanmu di sisiku. Keluwesanmu memudahkan diplomasi dan gerak tawarku. Kau melembutkan suasana pertemuan dengan raja-raja lokal. Di istana putih, kau membuat resepsi yang tak terlupakan bagi Sultan Cirebon.

Kita melakukan perjalanan ke Semarang, ke Yogya. Saat itulah kau mengenali tubuhmu yang rentan diterpa angin dan matahari Asia. Di pegunungan sejuk di Salatiga ku tinggal beberapa saat untuk mengembalikan kekuatanmu. Tetapi tubuhmu enggan pulih. Kembali ke istana putih, dokter mengharuskanmu berada di tempat tidur, sepanjang hari dan malam.

Sampai kau merasa bosan dan mengadakan pesta untuk merayakan kesembuhanmu. Kau memerintahkan dapur mengolah makanan yang terbuat dari 2000 butir telur, 26 bebek, 120 ayam, 666 botol bir, 397 botol Madeira, 24 ayam kebiri, 72 botol anggur, 400 potong roti, dua biri-biri, seekor sapi, satu ton daging asin, untuk memanjakan perut 400 tamu yang kau undang.

Dengan gaun anggun kau duduk dekat sebuah meja yang berhias cantik. Bibirmu tak berhenti tersenyum. Pesta kembang api pecah di langit malam kebun. Sebuah pesta yang ambisius karena baru selesai pukul 4 dini hari.

Kau menguji tubuhmu dengan melakukan perjalanan ke Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang. Kau berhenti selama lima hari di tiap kota, memberi jeda pada tubuhmu. Dan kau tidak bisa menolak undangan makan malam, pertemuan, sarapan bersama. Lalu kau kembali ke Salatiga, kota favoritmu, kota kesembuhanmu, sampai kau tiba di rumah, beberapa hari sebelum ulang tahunmu.

Tanggal 16 Februari 1814, sebuah  pesta dibuat untukmu. Orang-orang ingin melihatmu muncul. Tetapi dokter istana dengan keras melarangmu muncul, di pesta di rumahmu sendiri. Tubuhmu sungguh genting, meringkuk lemas di atas tempat tidur.

Lama setelah itu, pada 14 Oktober 1814, Mayor Jenderal dan Lady Nightingal ingin membuat kejutan manis untukmu. Ratu Inggris memberimu penghargaan atas jasa-jasamu, dalam mendampingku, dan sebuah pesta harus digelar sebagai penghormatan bagimu. Kali ini kau muncul dengan segala kejayaanmu, suara ramahmu, senyummu. Kau bahagia malam itu.

Tetapi itulah kemunculan terakhirmu, di depan publik.

Setelah itu tubuhmu tak pernah beranjak dari peraduan. Kau kian lemah. Sebulan setelah pesta itu, dokter tidak lagi mempunyai obat untuk masalahmu. Dan malam 26 November 1814, malaikat kematian terbang di atas istana putih, bersembunyi di antara pepohonan hijau kebun kita, menunggu waktu yang tepat membawamu, dalam sayapnya yang lembut. Kau pergi ke tempat yang lebih baik, dalam damai. Maut membebaskanmu dari kelemahan tubuhmu.

Istana putih menjadi buram sejak kepergianmu. Semua orang menangisimu.

Aku menanam jasadmu di sisi John. Kupikir kalian akan saling menghibur. Lalu aku membangun sebuah monumen di halaman kebun istana kita, untuk mengenangmu. Bahwa kita telah melewatkan hari-hari gemilang, di sini. Di atasnya, aku menggoreskan ini:

“Tempat suci untuk mengenang Olivia Marianne, istri Thomas Stamford Raffles, Letnan-Gubernur Jawa, meninggal di Buitenzorg pada 26 November 1814.Oh engkau, yang kepadamu hatiku tetap, satu momen telah terlupa, meski takdir memisahkan kita, namun tidak pernah dilupakan.” Selamat tinggal, Sayang.  Izinkan aku pulang kampung, tanpamu.

*

 

Catatan:
Olivia Mariamne Devenish (16 Februari 1771-26 November 1814)
Thomas Stamford Raffles (6 Juli 1781-5 Juli 1826)
John Caspar Leyden (8 September 1775-28 Agustus 1811)

*Diambil dari buku Raffles dan Kita, Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI), 2017.

Ita Siregar, cerpenis dan novelis.

 

 

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response