close
Dariah, lengger Banyumas

Dari sisi Barat, penari itu berjalan sangat pelan menapaki lantai pendapa yang mengilat. Berpasang mata mengikut sepasang kaki kurus milik tubuh renta berkemben hitam. Selendang merah tersampir menutup bahu tipisnya.

Seluruh penonton seolah turut menanggung beban usia penari sehingga sesekali terdengar helaan napas, sampai sang penari berada tepat di depan grup pemusik pengiring, memberi isyarat, kemudian ia menari di hadapan puluhan pasang mata dan lensa kamera.

Dialah Dariah (89), penari lengger asal Banyumas,  satu dari enam maestro tari yang dihadirkan dalam Festival Payung ke-4 pada 15-17 September 2017, di Pura Mangkunegaran, Solo. Mereka menerima penghargaan atas sumbangsihnya melestarikan seni tari tradisi.

Dariah terlahir dengan nama Saddam, berjenis kelamin laki-laki. Tetapi indang lengger telah memilihnya. Sejak ia mendapati tubuhnya ingin menari, penduduk desa memberinya nama Dariah. Dan sejak saat itu tari menjadi hidupnya. Sang maestro terus belajar tentang kesejatian dalam hidup yang dijalani. Hingga usia senja, ia setia menggembalakan jiwa penarinya.

Apa yang dikatakan Phytagoras, ahli matematika Yunani, bahwa tubuh adalah penjara jiwa, tidak berlaku bagi Dariah. Ia lebih cenderung pada apa yang dikatakan Plato bahwa tubuh adalah cermin jiwa. Tubuh Dariah mengikuti dan mencerminkan jiwa feminin seorang lengger dan meng-iya-kan semesta. Jiwanya menari melalui tubuhnya.

Lima maestro tari lainnya yang juga mendapat penghormatan adalah Munasiah Daeng Jinne dari Makassar, Ayu Bulantrisna Djelantik dari Bali, Retno Maruti dari Jakarta, Rusini dari Solo dan Didik Nini Thowok dari Yogyakarta, yang termuda di antara mereka alias berusia 63 tahun.

Ayu Bulantrisna Djelantik dari Bali

Meski sudah tidak muda, selain Dariah, mereka masih menari dan berkarya. Masing-masing mempresentasikan karya ciptaannya malam itu. Rusini (Roncen) dan Retno Maruti (Sekar Puri) kental dengan tari gaya Surakarta seperti yang digeluti selama memilih jalan tari. Munasiah membawakan nomor tari Pakarena, salah satu dari 19 karya koreo-nya. Berkostum dominan warna emas, ia menari sambil membawa kipas, diiringi seorang penari laki-laki dan dua perempuan. Ayu Bulantrisna meragakan Joged Pingitan dalam iringan musik bumbung dan gamelan khas Bali. Didik Nini Thowok menghadirkan beberapa karakter topeng, dengan tubuh lenturnya yang memukau penonton karena bermetamorfosis sangat detil dan terampil dengan topeng yang dikenakannya.

Didik Nini Thowok dari Yogyakarta

Jalan Tari

Masing-masing maestro memiliki keunggulan dalam bentuk dan ciri khas daerah mereka berasal. Mereka pun mempunyai kesamaan yaitu menggunakan kewenangan untuk memilih jalan tari sebagai laku hidup. Totalitas dan loyalitas menjadi pembuktian bahwa tari adalah persembahan bagi Sang Hidup.

Mereka menerima penghargaan bukan dihitung dari berapa lama mereka menjadi penari, tetapi konsistensi melestarikan seni tradisi dan sumbangsihnya pada kekayaan seni budaya Nusantara. Itulah letak penghormatannya.

Pada saat tari bukan sekadar menggerakkan tubuh, tetapi mengintegrasikan seluruh unsur budi, kehalusan, filosofi dan keindahan, di situlah pernyataan tubuh tentang pengabdian dan meng-iya-kan kehidupan, muncul ke permukaan. Penghayatan setiap pengalaman, pengamatan setiap peristiwa zaman diolah menjadi sesuatu yang bernilai tinggi dan luhur. Itulah yang segera tertangkap ketika enam maestro tari tradisi berhimpun.

Melalui tubuh, jiwa mereka menari. Mereka menjadi pendoa dan pengagung nilai-nilai kehidupan. Menari bukan lagi kerja berkesenian, tetapi juga pemenuhan kebutuhan jiwa, melatih rasa agar tajam dan taji.

Tari tradisi yang telah terintegrasi dengan diri para maestro bukan ilmu yang jatuh dari langit atau didapat secara instan. Mereka telah memulainya puluhan tahun di belakang dan dihidupi oleh lingkungan yang membentuknya. Meski Rusini mewarisi darah seni dari ibunya, Yohana Darsi Pudyorini, penari wayang orang Sriwedari, ia tak akan menjadi maestro seandainya tidak menanggapi panggilan jiwanya.

Ayu Bulantrisna Djelantik, Indo-Belanda yang lahir di Deventer 8 September 1947. Ia cucu dari Anak Agung Anglurah Djelantik, raja terakhir Kerajaan Karangasem, Bali. Ia tak mungkin  menjadi maestro tari seandainya hanya berfokus pada profesinya sebagai dokter THT dan mengabaikan semesta Bali yang kental aroma tari. Bulantrisna telah memilih dan memulai menapaki jalan tari sejak usia 7 tahun.

Retno Maruti dari Jakarta

Tari sebagai Salah Satu Pilar

Seperti bahasa ibu, bahasa penubuhan tari pun menjadi salah satu pilar penyangga indentitas sebuah bangsa. Meski para maestro pernah belajar tari daerah lain, mereka tetap mengakar dari tradisi yang mengalir dalam darah tarinya. Didik Nini Thowok, misalnya. Ia mendalami tari tradisi Cirebon, Sunda, Bali bahkan flamenco hingga Noh dari Jepang, namun dasar tarinya tetap Jawa. Munasiah, ia mempelajari tari Jawa dan Bali dan beberapa tari daerah lain, namun konsisten dengan seni tradisi Sulawesi.

Retno Maruti dan Rusini terus setia dengan gaya klasik Jawa (Surakarta) serta Dariah dengan lengger Banyumas. Tari tradisi adalah bahasa ibu tubuh tarinya.

Penghormatan

Upacara penghormatan bagi enam maesto pada Festival Payung ini adalah ajakan kepada generasi kini untuk menyusu pada jiwa-jiwa yang menari melalui tubuh, supaya tak tercerabut akar di tengah gempuran globalisasi budaya yang tak terbendung ini. Sumbangsih dan kekuatan cinta seni tradisi para maestro telah mengindahkan wajah Indonesia yang bermartabat dan bernilai luhur.

Munasiah Daeng Jinne dari Makassar

Reportase: Indah Darmastuti
Fotografer: Joko Sarwedhi

 

*Indah Darmastuti lahir dan bermukim di Solo. Menulis tentang seni pertunjukan khususnya tari. Ia juga menulis cerpen, puisi, novel. Karyanya antara lain novel Kepompong (2006), kumpulan novelet Cundamanik (2012) dan Kumpulan Cerita Makan Malam Bersama Dewi Gandari (2015). Ia pengurus aktif Buletin Sastra Pawon Solo.

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response