close
cake-2459944_1920

Semuanya terdiam, tampak turut prihatin. “Sebentar, akan kujemput bidadariku yang pemalu itu,” lanjutku dengan senyum mengembang. Para undangan yang segelintir itu tertawa sekilas dan kembali terdiam. Aku beranjak ke kamar menjemput Rosi.

Aku menuntun Rosi ke ruang tengah. Bibirnya sedikit menyunggingkan senyum. Senyum yang teramat datar. Dan sepasang matanya tetaplah sepasang mata yang kosong. Aku mendudukannya di kursi. Di tengah-tengah para tamu yang menatapnya iba.

“Ini dia, Rosiku, bidadariku,” aku menggenggam tangan Rosi erat-erat dan diam-diam melayangkan ribuan permohonan kepada Tuhan.

Satu persatu tamu kami menyalami Rosi. Aku membantu menggerakkan tangan Rosi untuk menyambut jabatan tangan mereka.

“Ini para tetangga kita, Rosi,” aku menatap istriku dan terus menggenggam tangannya, “Ini Rudi dan Amelia, mereka baru menikah.”

Rudi dan Amelia tersenyum. Tapi jelas, Rosi hanya bengong.

“Dan ini Jeri,” aku menegenalkan Jeri. Kepala Rosi menoleh sekilas dan kembali ke posisi semula.

Aku mulai menyodorkan kue mungil itu ke hadapan Rosi. “Selamat ulang tahun pernikahan, Rosi. Aku mencintaimu,” bisikku. Mata Amelia tampak berkaca-kaca. Sementara dua lelaki yang lain hanya tersenyum.

Dan Rosi tetaplah Rosi yang lebih banyak diam. Para tamu menatap kami, seolah begitu pensaran dengan apa yang akan terjadi.

“Sekarang kau sudah boleh memotong kuenya,” kataku sambil menyerahkan pisau plastik pemotong kue.

Di luar dugaanku, mendadak Rosi mendorong kue kecil itu hingga terlempar ke lantai. Aku menghela napas, tak marah. Aku berjongkok memungut kue tak berupa bentuk itu dibantu Rudi, dan menyisihkan kue itu ke meja lain. Di tengah-tengah kami kini tinggal satu kue ukuran besar, aku berdoa supaya Rosi tidak melempar kue itu juga.

Aku menghela napas sekali lagi, dan menatap para tamuku, “Ini yang kumaksud dengan ‘mohon dimaklumi’. Beginilah manusia, kalau mereka sudah tua, beberapa dari mereka terkadang kembali menjadi bayi.”

Semuanya mengangguk paham.

“Amelia, bisakah aku minta tolong,” aku menyodorkan pisau pemotong kue pada Amelia, “tinggal ini kue yang kita punya.”.

“Tentu saja,” Amelia mulai memotong kue itu menjadi beberapa bagian. Ia menyerahkan potongan pertama padaku.

“Selamat ulang tahun pernikahan, kami semua berdoa untuk kesehatan dan kebahagiaan kalian, senantiasa,” Amelia melirik Rosi dan kemudian suaminya.

“Terima kasih,” balasku penuh haru.

Setelah berdoa sebentar, kami pun mulai menyantap kue itu. Mendadak aku ingat bahwa aku belum menyiapkan minuman sama sekali.

“Ya Tuhan, minumannya,” aku menepuk jidat, “aku benar-benar minta maaf. Sebelum kalian tersedak, aku akan ke dapur sebentar untuk membuat sirup, aku titip Rosi dulu.”

“Biar kubantu,” Amelia membuntutiku ke dapur.

“Mengapa Anda tidak mencari pembantu saja?” tanya Amelia sambil menuangkan sirup dan mengaduknya.

“Aku sempat memikirkanya, tapi akhirnya kuputuskan untuk tidak mencari pembantu,” aku mengeluarkan lima gelas bertangkai dari laci kaca, “aku rasa aku masih cukup mampu mengurus Rosi dan rumah ini.”

“Oh,” Amelia meraih gelas-gelas bertangkai yang kukeluarkan dari laci dan mengelapnya.

“Dulu kami pernah punya seorang pembantu. Ia bekerja tak sampai satu tahun.”

“Tak betah?”

Aku menggeleng, “Ia kabur membawa beberapa perhiasan Rosi.”

“Lalu?”

“Ya, kami membiarkannya. Aku bermaksud menelpon polisi, tapi Rosi melarangku. Katanya, barangkali pembantu kami itu sedang kesulitan finansial. Mungkin anaknya sedang butuh susu, atau mungkin keluarganya ada yang sakit.”

“Rosimu memang malaikat.”

“Aku juga menganggapnya begitu.”

“Memang susah cari orang yang bisa dipercaya.”

Dan satu teko sirup sudah siap. Juga satu teko air putih.

“Oke, siap? Kau bawa gelasnya, dan aku bawa sirup dan air putihnya.”

“Oke,” Amelia mengelap tangannya sebentar dan membawa gelas-gelas itu hati-hati.

Ketika kami hendak beranjak ke depan, Jeri sudah menyusul kami ke dapur, “Nyonya Rosi, berontak, sepertinya hendak menuju pintu depan. Sekarang Mas Rudi sedang menahannya, takut kalau Nyonya Rosi menghilang lagi.”

Jeri meraih teko dari tanganku, aku bergegas ke depan dan meraih Rosi lalu kembali mendudukannya di kursi.

“Aku benar-benar minta maaf sudah merepotkan kalian.”

“Tak masalah.”

“Kalau begitu, mari kita lanjutkan makan kuenya.”

Kami pun kembali duduk mengitari meja. Aku menyuapi Rosi beberapa suapan. Krim gula belepotan di bibirnya. Persis anak kecil. Aku mengelapnya dengan tisu.

“Kalian romantis sekali,” sindir Amelia, lantas menoleh ke suaminya, “Kalau sudah tua nanti, aku berharap bisa seperti kalian.”

Aku hanya tersenyum sambil geleng-geleng. Setelah mengobrolkan beberapa hal yang tak terlalu penting, mereka pun berpamitan. Aku menyuruh mereka membawa pulang sisa potongan kue yang masih lumayan banyak.

“Di sini tak ada yang makan,” kataku, “dan sekali lagi aku minta maaf sudah merepotkan kalian.”

“Jangan sungkan-sungkan,” kata Rudi, “kalau butuh sesuatu, ketuk saja pintu rumah kami.”

Amelia dan Jeri mengangguk. Sepakat. Aku mengantar mereka sampai pintu depan. Mereka melambaikan tangan dan melangkah menjauh. Setelah menutup pintu depan dan menguncinya, aku mendekap tubuh Rosi dan kembali menuntunnya ke meja.

“Aku ada sesuatu untukmu, Rosi. Tunggu sebentar, jangan beranjak.”

Aku berjalan menuju kamar dan kembali dengan seikat mawar dengan hiasan pita merah yang berkilap-kilap. Aroma mawar segera meliputi kami.

“Ini untukmu,” aku menyerahkan seikat mawar itu padanya dan mengecup keningnya yang telah dipenuhi kerutan.

Rosi menerima seikat mawar itu dengan kaku dan tanpa sepatah kata pun. Namun ia membawa rangkaian bunga itu ke dadanya, memeluknya, hingga beberapa kelopaknya terlepas. Beberapa jenak kemudian, diciumnya bunga-bunga itu penuh hasrat, sebelum dipandanginya berlama-lama.

“Kau ingat, Rosi, bunga-bunga ini dulu yang mempertemukan kita.”

Rosi masih memandangi bunga-bunga itu.

“Aku selalu berharap, mawar-mawar ini bisa mengembalikan ingatanmu. Kedengarannya seperti mustahil, bukan?”

Aku bicara sendiri, diselingi tawa kecil yang getir. Sementara Rosi masih seperti orang yang melamun. Sepasang matanya masih terpaku pada rangkaian mawar di tangannya.

“Waktu kita sudah sangat dekat, Rosi. Barangkali, tak lama lagi, mawar-mawar ini yang akan tertanam di atas pusara kita.”

Aku menatap Rosi lekat-lekat. Tiba-tiba dari sudut mata tuanya yang bergaris-garis itu, meleleh cairan bening yang tampaknya mengalir begitu saja, tak bisa ia tahan. Rosi terisak, lantas kembali memeluk seikat mawar itu. Ia menatapku sekilas, tersenyum, tapi air matanya terus meleleh. Beberapa membasahi kelopak mawar di dadanya. Hingga bunga-bunga itu tampak berembun.

Aku terus membiarkan Rosi menangis. Aku tak menghapus air matanya. Aku hanya memeluknya. Setelah tangisnya berhenti, tubuh Rosi tampak lemas, hingga aku harus membawanya ke tempat tidur. Di sana Rosi berbaring miring masih dengan gaun pengantinnya. Masih dengan seikat mawar yang ia dekap di dadanya. Aku mengusap rambutnya yang telah memutih, seperti juga rambutku. Aku menatapnya, seperti menatap bocah kecil yang begitu polos. Rosi memejamkan matanya. Malam menjadi begitu hening.

Aku meninggalkan Rosi yang tampak tenang di ranjangnya. Aku berjalan seorang diri menyusuri ruang demi ruang. Rumah ini adalah saksi bahwa aku dan Rosi tak pernah bisa dipisahkan. Waktu rasanya berjalan cepat sekali. Setelah tahun-tahun yang kami lalui, tiba-tiba rasanya kami menjadi tua begitu saja.

Aku berjalan ke ruang depan, membuka korden, dan menengok keluar jendela. Kesunyian ini terasa ganjil. Di halaman, semak-semak mawar tampak bergoyang dihalau angin.

Entah siapa yang menuntunku, tiba-tiba aku berjalan ke tempat favorit Rosi. Sebuah ruangan penuh buku.

 

Cerita Bersambung ini dipersembahkan oleh Mashdar Zainal. Nantikan Edisi Terakhir-nya hanya di Litera.id, Rabu depan!

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response