close
Rendra Agusta (baju merah) membimbing anggotanya membaca relief di candi sukuh (1)

Kota Solo yang selama ini dikenal sebagai salah satu kota yang menjadi pusat budaya Jawa di Indonesia menyimpan banyak keunikan. Utamanya adalah dalam hal komunitas. Salah satu komunitas unik yang berasal dari Kota Bengawan ini adalah komunitas Sradhha.

Komunitas ini dikatakan unik karena lebih memfokuskan diri untuk mempelajari aksara Jawa Kuno yang terdapat pada naskah-naskah kuno dan sejumlah prasasti-prasasti peninggalan jaman kerajaan Hindu-Budha. Oleh karena lebih fokus  dalam mempelajari aksara Jawa kuno, maka tidaklah mengherankan jika aneka kegiatan yang dilakukan pun berbeda dengan komunitas lainnya.

Komunitas ini didirikan oleh Rendra Agusta pada 2016 silam. Saat ini setidaknya ada 70 orang anggota yang aktif terlibat dalam komunitas ini.

“Lahirnya komunitas ini karena di Kota Solo ini minat masyarakat yang ingin mempelajari Jawa Kuno cukup banyak. Mereka seringkali kesulitan untuk menyalurkan minatnya tersebut. Di sisi lain sampai saat ini kajian-kajian mengenai Jawa Kuna juga masih sangat sedikit. Dengan alasan itulah komunitas ini didirikan,” ujar Rendra.

Biasanya komunitas ini akan berkumpul untuk melakukan kajian bersama di Musium Radya Pustaka, Solo, setiap sabtu. Untuk waktunya biasanya diberitahukan melalui akun instagram resmi dari komintas ini. Komunitas ini terbuka plus gratis bagi siapa saja yang ingin mempelajari dan mengetahui aksara Jawa Kuno secara mendalam. Aktifitas yang dilakukan oleh komunitas ini dalam mempelajari aksara Jawa Kuno tidak hanya dihabiskan di dalam ruangan saja. praktek langsung di lapangan juga menjadi agenda rutin dari komunitas ini.

Seperti yang dilakukan baru-baru ini, komunitas Sraddha melakukan penjelajahan peninggalan sejarah yang berada di lereng sebelah barat gunung lawu. Adapun peninggalan yang didatangi okeh komunitas Sraddha untuk dikuak nilai kesejarahannya oleh komunitas ini adalah Situs Planggatan dan Candi Sukuh yang kesemuanya masih dalam kawasan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Candi Sukuh dan Situs Planggatan merupakan peninggalan masa lalu yang memiliki nilai keunikan tersendiri. Baik secara wujud dan nilai kesejarahannya. Banyak pengetahuan yang diambil dari dua tempat tersebut. Misalnya kita akan tahu fungsi bangunan itu untuk apa dari prasasti dan ke arah arah mana peninggalan itu menghadap.

“Ada beberapa hal yang menarik dari Candi Sukuh. Selain bentuknya yang tidak asimetris, di sana juga juga bisa dijumpai banyak angka tahun yang berbeda-beda. Adanya perbedaan angka tahun yang ditemukan di Candi Sukuh bisa dijadikan bukti bahwa candi tersebut dibangun secara bertahap,” ujar Rendra.

Lebih dari itu Rendra juga menambahkan jika beberapa sengkalan memet, seperti  yang ada di bagian gapura yang mana apabila dibaca berbunyi gapura buta anahut buntut (gapura raksasa menggit ekor ular). Adalah sengkalan yang berarti tahun 1359 Saka atau 1437 M. Angka tahun itu bisa ditafsirkan sebagai tahun selesainya pembuatan candi.

Sementara itu di dalam kompleks candi, di belakang dua arca garuda juga ditemukan angka yang berbeda. Pada bagian garuda yang satu menunjukkan angka 1363 Saka atau 1441 M dan pada bagian satunya lagi dapat dilihat angka 1364 Saka atau 1442 M. Tentang perbedaan angka tahun ini dengan sengkalan di gapura tadi adalah petunjuk bahwa candi sukuh tidak selesai dalam satu kali pembagunan.

Untuk Situs Palanggatan sendiri sampai kini belum banyak informasi yang diperoleh tentang situs ini. Diperkirakan situs ini merupakan reruntuhan candi yang dibangun pada masa era akhir dari majapahit. Secara fisik, situs ini bisa dikatakan benar-benar runtuh. Yang menarik dari Situs Planggatan ini adalah ditemukannya pahatan berupa sengalan memet yang bila dibanya berbunyi : gajah wiku mangan wulan. Sengkalan memet ini memiliki arti 1378 Saka atau 1456 M. Tahun tersebut kemungkinan adalah tahun selesainya pembangunan situs planggatan.

Di sisi lain yang membuat Candi Sukuh cukup menarik adalah bentuknya yang sering dianggap sedikit menyimpang dari ketentuan membuat bangunan suci Hindu sebagaimana yang dituliskan dalam kitab wastu widya. Dalam kitab tersebut sebuah candi seharusnya berdenah bujur sangkar dengan tempat yang paling suci berada di bagian tengah.

“Adanya penyimpangan ini mungkin karena Candi Sukuh dibangun pada masa memudarnya pengaruh Hinduisme di Jawa. Pudarnya pengaruh hindu ini menghidupkan kembali unsur-unsur budaya setempat yang berasal dari jaman megalitikum. Buktiny adalah adanya kemiripan bentuk bangunan Candi Sukuh dengan teras berundak yang berasal dari jaman pra-Hindu,” jelasnya.

Untuk fungsi ada kemungkinan Candi Sukuh ini digunakan sebagai tempat pemujaan dan tempat peruwatan. Dugaan ini  dikuatkan melalui sejumlah panel relief yang menceritakan kisah-kisah peruwatan yang diwujudkan dalam cerita sudhamala, garudheya, dan pada arca kura-kura dan garuda di dinding candi.

 

Oleh : Sinung Santoso

 

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response