close
book-1291164_1920

Di sana, di rak paling atas, berjajar buku-buku Rosi yang telah diterbitkan. Aku mengusapnya satu persatu, seperti mengusap tuts-tuts piano yang berjajar dan hanya menggaungkan nada-nada yang sunyi. Aku kembali mendengar isakku sendiri. Isakan yang kelewat lirih, bahkan pada malam sehening ini. Mengapa aku cengeng sekali? Si tua yang cengeng.

Aku terduduk di depan mesin ketik tua Rosi dan membuka-buka naskah novel terbaru Rosi yang berhenti di halaman 50. Aku sudah membaca semua novel yang ditulis Rosi. Hampir semua berisi tentang episode-episode kecil kehidupan kami yang romantis dengan bumbu-bumbu isu sosial dan politik sesekali. Soal mengarang, Rosi memang ahlinya. Terkadang, diam-diam aku salut padanya. Aku tak pernah paham bagaimana cara Rosi merangkai kata demi kata dan menyusunnya menjadi kalimat hingga beratus-ratus halaman.

Menilik karya-karya Rosi, rasanya aku tak bisa percaya bahwa detik ini ia tak bisa mengingat apapun. Kadang-kadang aku berpikir bahwa semua isi kepala Rosi telah berpindah ke dalam novel-novel yang ia tulis, dan ia lupa menyisakan sedikit ingatan untuk kami kunyah di hari tua kami ini. Novel-novel karya Rosi, semuanya kubaca setelah Rosi menyelesaikannya. Tuntas. Rosi tak pernah mengizinkan aku membaca novel-novelnya yang belum jadi. Kata Rosi, itu seperti melihatnya selesai mandi tapi belum berpakaian. Aku tak paham apa maksud Rosi, tapi aku menurutinya. Aku tak pernah membaca tulisan-tulisannya sebelum selesai dan ia sendiri mempersilahkanku untuk membacanya.

Dan naskah novel terbaru Rosi, yang baru 50 halaman ini, tiba-tiba aku ingin membacanya. Melihat keadaan Rosi sekarang, rasanya mustahil naskah ini akan selesai. Dan itu berarti, kalau aku tak berinisiatif mencuri-curi baca sendiri, aku tak akan pernah membacanya. Bukan apa-apa, aku hanya ingin tahu apa yang dipikirkan Rosi sebelum semua ingatannya mengabur dan tak bersisa sedikit pun. Mungkin, naskah novel barunya ini bisa sedikit mengobati kesedihan mahaluas yang telah mendarah daging dalam kepala tuaku.

Lembar naskah yang mulai kusam itu kini sudah ada di tanganku. Tampak sebuah judul di halaman paling depan. Ditulis dengan huruf kapital: MAWAR INGATAN. Novel terbaru Rosi ini berjudul ‘Mawar Ingatan’. Saat itu juga aku mulai membacanya. Tiba-tiba dadaku menggempa. Seakan aku hendak berhadapan dengan Rosi langsung dan berbincang-bincang dengannya. Dan Rosi memulai kalimat paragraf pertama dari novel barunya dengan dua buah pertanyaan.

Kapan pertama kali seseorang mengingat?

Kapan terakhir kali seseorang mengingat?

Kalimat-kalimat berikutnya begitu mengalir begitu lancar dan penuh metafora. Itulah gaya khas Rosi. Aku pun mulai larut dalam pembacaanku. Hinggga sampai pada paragraf terakhir. Tepat di halaman 50.

Aku sudah menduga, suatu ketika kepalaku hanya akan berisi kabut tebal. Aku tak dapat melihat apa pun. Aku hanya tertatih-tatih meraba-raba arah. Dan udara begitu dingin. Sewaktu bayi, hal pertama yang kuingat adalah aroma keringat ibuku. Dan detik ini, ketika usia melangkahi segalanya. Satu hal yang kuingat hanyalah aroma mawar. Aroma suamiku. Aroma mawar dan aroma suamiku adalah satu. Desah napas suamiku adalah aroma mawar itu. Bau tubuhnya adalah aroma mawar itu. Lekuk suara seraknya adalah aroma mawar itu.

Ke mana angin membawa aroma itu?

Dalam kabut pekat itu aku terus berjalan. Mengendus aroma-aroma yang mungkin masih tersisa dalam kepalaku. Namun semuanya sia-sia. Segala bentuk dan rupa yang kasat mata telah menjelma kabut. Aku tak mendapti apapun dalam lautan kabut. Namun aku terus berjalan, mencari arah. Hingga tiba-tiba, semak-semak mawar menghentikan langkahku. Ada duri yang menusuk di sana. Tapi aroma itu membuatku lega. Rasanya aku ingin tertidur pulas di antara semak-semak mawar yang wangi itu. Tidur yang tak perlu bangun lagi.

 

Sampai pada kata terakhir itu, aku tak bisa menghentikan tangisku. Cerita dalam naskah novel terbaru Rosi ini nyaris seperti nyata. Seperti apa yang terjadi pada detik ini. Antara aku dan Rosi. Novel itu mengisahkan tentang sepasang suami istri yang kehilangan ingatannya karena lanjut usia. Bedanya dengan kondisi kami sekarang adalah, kalau dalam novel itu, sang suami juga hilang ingatan, dan keduanya tak saling mengenal. Sedangkan dalam dunia nyata ini, ingatan si suami, tepatnya ingatanku, masih utuh. Masih cukup bagus, bahkan untuk menyimpan rasa sakit yang bertumpuk menjadi gunung kesedihan.

Dalam naskah itu, sepasang suami istri yang hilang ingatan itu tinggal di sebuah panti sosial karena mereka tak mempunyai anak. Di tempat itu, mereka telah menjadi orang asing satu sama lain. Tak saling mengenal. Aku benar-benar penasaran dengan ending cerita itu. Tapi sayang, novel itu tak akan menemukan ending. Seperti juga aku dan Rosi yang tak pernah tahu seperti apa ending dari kisah kami.

“Tidurlah, sudah malam,” suara itu membuatku terhenyak, nyaris seperti tersengat.

Aku menoleh, Rosi berdiri gontai di ambang pintu dengan gaun pengantinnya yang merumbai. Jam dinding dalam ruangan itu sudah menunjukkan pukul sebelas malam lebih beberapa menit. Aku tak sadar kalau sudah melamun cukup lama. Dan aku lebih tak sadar lagi ketika melihat Rosi berdiri di sana dan tersenyum padaku. Aku bergegas menghampirinya dan kembali membawanya ke ranjang. Aku tak tahu kalau dada tuaku masih bisa bekerja dengan normal: berdetak begitu kencang karena senang.

“Rosi,” aku menatapnya tak percaya.

Rosi tersenyum padaku. Mata itu tak lagi kosong. Hanya saja tubuh Rosi tampak begitu lemas. Mendadak aku ingat, malam ini Rosi hanya menyantap beberapa suap kue. Lambungnya pasti perih. Aku juga ingat, di rumah ini tak ada makanan apapun kecuali seonggok kue yang hancur dan beberapa helai roti tawar yang belum dipanggang.

“Kau harus makan Rosi, tunggu sebentar, biar kusiapkan,” ucapku. Ketika aku hendak beranjak, tapi Rosi menarik tanganku.

“Aku tak ingin makan,” lirihnya, “aku hanya ingin berbaring di sini bersamamu.”

Malam itu kami berpelukan dalam tidur yang terasa sangat panjang. Dengus napas Rosi menyaput wajah tuaku. Matanya terpejam dan bibirnya tersenyum lunas. Kami berduapun melayang ke alam tidur yang indah. Hingga ketika pagi tiba, dengan semangat meluap-luap, aku bergegas menyiapkan sarapan di dapur. Aku memanggang roti tawar dan menyeduh teh hijau dalam cangkir besar.

Sebentar aku menengok Rosi, tampaknya ia masih tertidur pulas. Aku meneruskan membersihkan rumah dan menyiram semak-semak mawar di halaman depan. Aku kembali menengok Rosi di kamar, ia masih meringkuk dengan bibir menyunggingkan senyum. Roti panggang sudah hampir layu dan teh hijau dalam cangkir besar sudah dingin. Aku ingin membangunkan Rosi tapi tak sampai hati. Kurasa aku bisa menahan lapar sampai Rosi terbangun nanti. Sekitar pukul sepuluh.

Bel berbunyi. Aku yakin, itu pasti paket hadiah dari Fredie yang datang terlambat. Aku bergegas membuka pintu depan. Dan aku kembali dihadapkan dengan sebuah kejutan: Fredie dan keluarganya tersenyum di ambang pintu. Mereka diapit beberapa koper besar.

Dua kakiku terasa goyah. Fredie menghambur ke arahku, memelukku kelewat erat. Aku mencium kening Fredie dan istrinya. Aku mencium pipi bocah-bocah mungil di hadapanku. Aku masih tak percaya kalau mereka adalah cucu-cucuku. Sangking girangnya, aku berteriak-teriak, memanggil-manggil Rosi. Rasa laparku hilang. Aku berlari ke kamar. Tiba-tiba aku merasa usiaku kembali muda. Sendi-sendiku terasa begitu kuat. Fredie dan keluarganya menyusulku ke kamar.

“Rosi, ada kejutan untukmu, Rosi. Bangunlah, Sayang! Lihatlah siapa yang datang!”

Tapi Rosi masih saja tertidur lelap dengan posisi tak berubah sedikitpun semenjak tadi pagi.

“Rosi!” aku menggenggam tangan Rosi yang telah begitu kaku dan dingin. Lantai dan langit-langit seperti berputar kencang sekali.

“Rosi,” aku menggoyang-goyangkan tubuhnya pelan.

Aku terpaku menjadi arca ketika menyadari bahwa tubuh Rosi terlalu kaku dan dingin untuk seseorang yang masih bernapas. Aku mendekap tubuh kaku itu. Menciumnya. Tak ada napas hangat mengusap wajahku. Dan tak ada lagi sesuatu yang berdetak di dada Rosi. Setelah lantai dan langit-langit terasa berputar kencang sekali. Tiba-tiba semuanya terasa melambat. Semakin lambat. Hingga akhirnya berhenti. Waktu berhenti.

Diam. Hening.***

 

Mashdar Zainal

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response