close
mountains-2320358_1920

Musim salju di Asia Tengah amat dingin menusuk dan suram. Sementara, musim panas yang terik membakar membawa serta kolera, disentri, dan nyamuk. Namun, pada bulan April, udara membelai lembut seperti sentuhan kulit paha dalam yang halus mulus dan aroma segar segenap pepohonan yang sedang berbunga memenuhi seluruh penjuru kota.

Teks Angela Carter*
Penerjemah Anton Kurnia**

Setiap kota punya logika tersendiri. Bayangkanlah sebuah kota yang digambar dengan bentuk-bentuk geometris dalam garis-garis lebar dengan krayon dari kotak pewarna seorang bocah, berwarna nila, putih, dan cokelat muda. Serambi-serambi rumah yang rendah dan pucat tampak mencuat dari bumi. Putih semu merah jambu. Seakan-akan terlahir dari bumi, bukan dibangun di atasnya. Ada selaput samar debu di atas segala benda, seperti lapisan debu yang ditinggalkan krayon-krayon itu di jemarimu.

Di hadapan serambi-serambi pucat ini, petak-petak lantai keramik yang menutupi mausoleum-mausoleum kuno menggoda mata. Nuansa warna Islam yang biru mengubah diri menjadi hijau ketika kau memandangnya. Di bawah sebuah kubah yang berwarna antara lazuardi dan nila, tulang belulang Timurleng—sang momok Asia—terbaring di dalam sebuah makam sewarna zamrud. Kita sedang mengunjungi sebuah kota luar biasa yang tiada duanya. Kita tengah berada di Samarkand.

Revolusi menjanjikan para perempuan petani Uzbekistan baju-baju sutra yang indah. Kebanyakan dari mereka mengenakan gaun-gaun tunik dari bahan satin lembut, berwarna merah jambu dan kuning, merah dan putih, hitam dan putih, merah, hijau dan putih, dengan garis-garis berwarna terang yang menyilaukan seperti ilusi optik. Dan mereka menghias diri dengan amat banyak perhiasan terbuat dari kristal kaca.

Mereka selalu tampak seperti sedang cemberut karena mereka menggambar garis hitam tebal tepat pada dahi mereka, menyatukan alis mereka dari satu sisi ke sisi lain. Mereka menghiasi pinggiran mata mereka dengan kohl, mereka tampak menggemaskan. Rambut panjang mereka dikepang menjadi dua atau tiga jalinan kecil-kecil. Gadis-gadis belia memakai topi beludru mungil bersulam benang emas dan manik-manik. Para wanita yang lebih tua menutupi kepala mereka dengan dua helai kerudung dari bahan wol bersulam motif bunga. Yang satu diikat ketat ke dahi, yang lainnya disampirkan longgar ke bahu. Namun, tak seorang pun memakai cadar selama enam puluh tahun.

Mereka berjalan begitu pasti, seakan-akan mereka tidak hidup di sebuah kota khayali. Mereka tak tahu bahwa mereka beserta turban, mantel kulit domba, dan sepatu but lelaki mereka adalah makhluk-makhluk istimewa bagi orang asing. Sama ajaibnya dengan kuda bertanduk.

Mereka ada dalam segenap eksotisme mereka yang kemilau dan lugu, dalam pertentangan langsung dengan sejarah. Mereka tak tahu apa yang kutahu tentang mereka. Mereka tak tahu bahwa kota ini bukanlah seluruh isi dunia. Yang mereka tahu tentang dunia hanyalah kota ini. Indah seperti ilusi. Tempat bunga-bunga bakung tumbuh subur di selokan. Sementara itu, di sebuah kedai teh seekor burung nuri hijau mematuk-matuk jeruji kurungannya.

Pasar berbau tajam dan hijau. Seorang gadis beralis alami legam menuangkan air segar dari gelas ke jejeran lobak. Pada awal tahun ini, kau hanya bisa membeli buah-buahan kering sisa musim panas lalu—aprikot, prem, kismis—kecuali beberapa butir delima keriput yang diperam di antara serbuk gergaji sepanjang musim dingin dan kini dibelah rekah di sebuah kios, menunjukkan betapa tetap basah butir-butir kemilau yang bersarang di dalamnya. Penganan khas Samarkand adalah asinan biji aprikot yang rasanya bahkan lebih sedap dan gurih daripada kacang pistachio.

Seorang wanita tua menjual bunga bakung gunung. Pagi ini dia datang dari gunung tempat tulip-tulip liar berbunga seperti gelembung darah yang ditiup dan burung-burung merpati liar bersarang di sela batu cadas. Wanita tua ini mencelupkan roti ke dalam secangkir susu kental untuk makan siangnya dan makan pelan-pelan. Ketika dagangannya telah habis, dia akan pulang ke kampung asalnya.

Dia nyaris tampak berada di luar putaran waktu. Seakan-akan dia sedang menunggu Syahrazad menghadapi fajar terakhir tiba, sedangkan kisah terakhir yang harus diceritakannya kelu dalam lidahnya. Maka, si penjual bakung itu barangkali akan mati.

Seekor kambing menggigit-gigit melati liar di antara reruntuhan sebuah masjid kuno yang dibangun oleh istri Timurleng.

Istri Timurleng mulai membangun masjid ini untuk suaminya sebagai hadiah kejutan ketika dia pergi berperang. Namun, ketika sang istri diberi tahu tentang saat kepulangan suaminya yang sudah dekat, satu kubah masih belum selesai dikerjakan. Perempuan cantik yang mencintai suaminya itu bergegas pergi menemui si arsitek dan memohon kepadanya agar segera menyelesaikan pembuatan kubah terakhir sebelum suaminya pulang. Namun, si arsitek yang jatuh cinta kepada istri sang penguasa itu malah berkata bahwa dia hanya akan menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu apabila sang wanita jelita bersedia mencium bibirnya. Satu ciuman saja. Hanya sebuah kecupan.

Istri Timurleng tidak hanya sangat ayu dan berbudi luhur, tapi juga amat pintar. Dia pergi ke pasar, membeli sekeranjang telur, merebus telur-telur itu hingga matang, dan mewarnai kulit mereka dengan selusin warna yang berlainan. Dia lalu memanggil si arsitek ke istana, menunjukkan kepadanya keranjang berisi telur berwarna-warni, lalu memintanya memilih telur yang paling disukainya dan memakannya. Lelaki itu mengambil telur berwarna merah.

“Bagaimana rasanya”

“Seperti telur.”

“Makanlah telur yang lain.”

Ia pun mengambil telur berwarna hijau.

“Bagaimana rasanya”

“Seperti telur yang merah.”

“Coba lagi.”

Lelaki itu memakan telur berwarna ungu.

“Semua telur sama saja rasanya jika masih segar,” ujar si arsitek.

“Nah!” tukas istri Timurleng. “Setiap telur tampak berbeda dari yang lainnya, tapi pada akhirnya rasanya sama. Maka, kau boleh mencium siapa pun di antara dayang-dayangku yang paling kausukai. Namun, janganlah kau menggodaku.”

“Baiklah,” sahut si arsitek dan bergegas pergi. Namun, tak lama kemudian dia kembali. Kali ini dia membawa sebuah nampan berisi tiga mangkuk penuh air.

“Minumlah dari setiap mangkuk ini,” katanya.

Istri Timurleng minum dari mangkuk pertama lalu dari mangkuk kedua. Namun, dia tersedak dan memuntahkan air yang sempat direguknya ketika dia minum dari mangkuk ketiga. Isi mangkuk yang itu memang bukan air, melainkan vodka.

“Vodka ini dan air itu tampak sama, tapi masing-masing berbeda rasanya,” ujar si arsitek. “Dan itu sama dengan cinta.”

Kemudian, istri Timurleng mencium bibir sang arsitek. Setelahnya, lelaki itu kembali ke masjid yang sedang dibangunnya dan menyelesaikan pembuatan kubah terakhir tepat pada hari yang sama ketika Timurleng yang jaya berkuda pulang ke Samarkand bersama bala tentaranya diiringi panji-panji kebesaran dan kurungan berisi raja-raja musuh yang ditaklukkan.

Namun, ketika Timurleng menemui istrinya, wanita molek itu menolaknya karena tak satu perempuan pun akan mau kembali ke harem setelah tahu nikmatnya vodka. Timurleng yang murka menderanya dengan cambuk kuda hingga akhirnya wanita malang itu mengatakan kepada suaminya bahwa dia telah mencium si arsitek yang telah membangun masjid untuknya.

Dalam gejolak amarah, Timurleng segera mengirim algojo-algojonya menuju masjid itu. Para algojo melihat sang arsitek sedang berdiri di atas kubah dan segera berlarian menaiki tangga masjid dengan belati terhunus. Namun, ketika lelaki itu mendengar mereka datang, tumbuhlah sayap di kedua lengannya. Dan dia pun terbang melarikan diri ke Persia.

Sebuah kisah dalam bentuk-bentuk geometris sederhana dan warna-warna cerah krayon seorang bocah …

Istri Timurleng dalam kisah ini akan mengecat garis hitam di atas dahinya dan mengepang rambutnya menjadi selusin jalinan kecil-kecil seperti para wanita Uzbek lainnya. Dia akan membeli lobak merah dan putih di pasar untuk makan malam suaminya. Setelah dia lari dari suaminya yang kejam, mungkin dia akan mencari nafkah di pasar. Barangkali di sana dia akan berjualan bunga bakung.

*

 

*Angela Carter (19401992) adalah pengarang Inggris terkemuka yang juga seorang penerjemah dan editor. Dia dikenal dengan karya-karyanya yang kental dengan nuansa feminisme dan bergaya realisme magis. Cerita di atas diterjemahkan oleh Anton Kurnia dari judul semula “The Kiss” dalam antologi The Oxford Book of English Short Stories, Oxford University Press, Oxford, 1998, susunan Antonia S. Byatt.

*Anton Kurnia, pembaca dan penulis, hobi menerjemahkan karya sastra. Penggemar setia Persib dan Real Madrid.

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response