close
Galeri

Hari Asuhan Paliatif Anak Sedunia

girl-32403_1280

Yayasan Rumah Rachel merayakan Hari Asuhan Paliatif Anak Sedunia dengan instalasi “Living Wall” raksasa di Cilandak Town Square, dan mengimbau pemerintah agar asuhan paliatif diintegrasikan dalam Kebijakan Kesehatan Nasional dan Jaminan Kesehatan Nasional.

Pada pembukaan instalasi The Living Wall di Cilandak Town Square (Citos) dalam rangka Hari Asuhan Paliatif Anak Sedunia, penyedia layanan asuhan paliatif anak Yayasan Rumah Rachel menyerukan Pemerintah Indonesia untuk mengintegrasikan asuhan paliatif dalam setiap jenjang sistem kesehatan Indonesia agar ratusan ribu anak Indonesia dapat hidup terbebas dari nyeri.

Didirikan pada tahun 2006, Yayasan Rumah Rachel adalah pelopor asuhan paliatif di Indonesia, menyediakan pengelolaan nyeri serta dukungan emosional dan sosial bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera di daerah Jakarta dan sekitarnya yang hidup dengan kanker stadium akhir dan HIV AIDS. Yayasan Rumah Rachel juga menyediakan pelatihan asuhan paliatif bagi tenaga kesehatan dan anggota masyarakat dalam usahanya untuk meningkatkan akses asuhan paliatif bagi semua warga Indonesia.

“Visi kami adalah tidak ada lagi anak yang harus hidup atau meninggal dalam kesakitan,” tutur Kartika Kurniasari, CEO Yayasan Rumah Rachel. “Dalam rangka Hari Asuhan Paliatif Anak Sedunia, kami bermaksud mengajak masyarakat untuk mendukung asuhan paliatif bagi begitu banyak anak-anak yang hidup dengan penyakit berat serta keluarganya di Jakarta. Tapi kami pun menyadari bahwa pekerjaan kami belum selesai, mengingat besarnya tantangan yang dihadapi Indonesia. Diperkirakan kurang dari satu persen dari hampir 700.000 anak-anak Indonesia yang hidup dengan penyakit berat bisa mengakses asuhan paliatif, sementara anak-anak lainnya terus hidup dalam kesakitan,” jelas Kartika.

“Jaminan Kesehatan Nasional telah memungkinkan jutaan warga Indonesia mendapat perawatan yang mereka butuhkan sejak 2014. Dengan segala hormat, kami mengimbau Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan layanan JKN ke jenjang yang bahkan lebih baik lagi, dengan mencakup layanan asuhan paliatif dan biaya-biaya terkait baik dalam lingkungan rumah sakit maupun rumah pasien. Pemerintah juga dapat membantu memastikan penerapan asuhan paliatif berjalan baik dengan menerbitkan panduan dan kebijakan untuk memasukkan asuhan paliatif sebagai komponen inti sistem kesehatan nasional. Jika kita bekerja bersama, semua hal di atas bisa merubah hidup ratusan ribu anak-anak yang hidup dengan penyakit berat dan keluarga mereka di berbagai penjuru Indonesia,” tambahnya.

 

The Living Wall adalah serangkaian Papan Tulis Raksasa yang didirikan di atrium Cilandak Town Square, di mana masyarakat diundang untuk menjawab pertanyaan berikut: apa yang akan Kamu lakukan jika ini hari terakhirmu?

“The Living Wall mengundang warga Jakarta untuk merenungkan betapa berharganya setiap hari yang kita miliki dan menyadari bahwa ada banyak anak-anak yang hidup dengan penyakit berat, yang mungkin tidak memiliki hari esok,” terang Kartika.

“Dengan bertanya ke masyarakat apa yang akan mereka lakukan ‘jika ini hari terakhir’, kami berharap dapat memicu dialog tentang asuhan paliatif dan kesulitan yang dihadapi anak-anak yang hidup dengan penyakit berat. Bagi mereka, setiap hari bisa saja menjadi hari terakhir.”

Instalasi The Living Wall akan berlangsung mulai hari Jumat, 13 Oktober, hingga hari Minggu, 15 Oktober, di Cilandak Town Square (Citos), Jakarta.

​​

Informasi tambahan tentang Asuhan Paliatif:              

·       Asuhan paliatif adalah suatu spesialisasi ilmu medis bagi orang-orang yang hidup dengan penyakit berat beserta keluarganya. Asuhan paliatif mengatasi nyeri dan gejala, serta menyediakan dukungan emosional dan sosial agar pasien dapat hidup terbebas dari nyeri dan menikmati kualitas hidup terbaik.

·       Di Indonesia, terdapat hampir 700.000 anak yang hidup dengan penyakit berat – sumber: Estimating the Global Need for Palliative Care for Children: A Cross-sectional Analysis; Journal of Pain and Symptom Management; Vol. 53 No. 2 Februari 2017

·       Diperkirakan kurang dari satu persen anak-anak ini memiliki akses akan penanganan nyeri atau asuhan paliatif – sumber: Hidden Lives, Hidden Patients; Worldwide Hospice Palliative Care Alliance and International Children’s Palliative Care Network; 2015

·       Dalam laporan tentang layanan asuhan paliatif, majalah The Economist menempatkan Indonesia di peringkat ke-53 dari 80 negara dalam perihal kualitas kematian – sumber: Economist Intelligence Unit 2015 Quality of Death Index

·       Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly/WHA) menerbitkan resolusi tentang asuhan paliatif pada tahun 2014, menyatakan bahwa asuhan paliatif wajib tersedia bagi semua yang hidup dengan penyakit berat. Resolusi tersebut juga menyatakan bahwa demi mencapai “kualitas hidup, rasa nyaman, dan martabat manusia, setiap orang perlu mendapatkan informasi terkait kondisi kesehatan mereka, yang disesuaikan dengan tiap individu dan budaya, serta memiliki peran inti dalam membuat keputusan”.

Tentang Yayasan Rumah Rachel:

·       Berdiri sejak tahun 2006, Yayasan Rumah Rachel adalah pelopor layanan asuhan paliatif berbasis rawat rumah bagi anak-anak yang hidup dengan penyakit serius seperti kanker dan HIV AIDS. Yayasan Rumah Rachel juga menyediakan pelatihan asuhan paliatif bagi tenaga kesehatan dan anggota masyarakat demi meningkatkan akses asuhan paliatif bagi semua.

·       Layanan asuhan paliatif Yayasan Rumah Rachel telah menjangkau 2.612 anak dan keluarga. Program pelatihan dan edukasi asuhan paliatif Yayasan Rumah Rachel telah melatih 3.095 tenaga kesehatan, 2.332 anggota masyarakat, serta 636 mahasiswa kedokteran dan keperawatan.

·       Yayasan Rumah Rachel bekerja dengan anggota masyarakat, tenaga kesehatan, dan pembuat kebijakan untuk membangun jaringan asuhan paliatif se-Indonesia.

·       Pada Agustus 2017, pendiri Yayasan Rumah Rachel, Lynna Chandra, diakui sebagai salah satu dari 72 Ikon Prestasi Indonesia oleh Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) atas kontribusinya dalam membuat asuhan paliatif tersedia bagi semua, khususnya anak, di Indonesia.

 

 
 
 
Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response