close
indonesia-2700382_1920

 

 

Pada tubuh biru itu,

yang kelak menerimaku dan nasib yang kian kerut ini.

Dan ikan-ikan disana

: Penunggu setia bagi doa dan seserahan

yang turut menemaniku menemui laut dan berkata

“Tersenyumlah bila bertemu laut, sebab ia bakal suamimu

bakal rumahmu.”

 

Akulah bunga bakal pengantin laut

yang kerap menangkup angin

meningkup matahari

menangkap doa-doa.

Dan warna pelangi meranggas

: Tumpang tindih bersama warna lain di kapal kencana

menggambarkan keyakinan serupa bulir cahaya lampu jalan

atau denting ranum hujan.

 

Maka padamu, lautku

jemputlah tubuh dalam kapal ini

bersama rona pelangi dan doa yang kusimpan dalam pundi

: Kepala Kerbau teman sepenantianku ini.

 

Lalu, mereka berdoa dan bersorai

begitu kau datang menarikku

ke dalam gelombang

dalam arus

dalam buih

dalam kau

dalam aku

: Ke kedalaman sunyi lagi asing

Maka dari laut, tuhanku

kuhantar seribu cita, seribu doa menjadi pundi

dalam kerbau yang tenggelam ke rumahmu di langit.

Keringat mereka yang bersorai sekilau kunang-kunang

kerap melukiskan harap, asa, luka atau kejatuhan

namun juga menggambar tawa, cita dan bahagia tersebab percaya

tuhan selalu berkunjung dan tinggal dimana saja.

 

Akulah bunga yang diperistri laut

sekarang tenggelam di tubuh suamiku.

Hanya ada biru, selain dari bau arus

Bau air

Bau pesisir

Bau gelombang

Bau kau

Bau kami

 

 

Lalu, doa dalam kerbau menjalar

lahir serupa ikan dan berenang ke langit.

Ikan-ikan doa bertemu tuhan

membawa asa

membawa asma yang berdenting serupa kata baru dieja

dari ranumku

: Dari kelopak yang tak lagi kerut baik disapu waktu atau keheningan.

 

Eko Ragil Ar-Rahman 
Riau 2017

 

*Terinspirasi dari tradisi Ngumbai Lawok, tradisi rakyat pesisir Lampung dalam mengucapkan syukur dengan melepas kepala kerbau yang disembelih ke tengah laut

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response