close
corrections-70322_960_720

Sejak keluar dari penjara, sulit bagiku untuk mencari pekerjaan. Aku berkeliling ke setiap bagian di kota kecil ini, tetapi tidak satu pun orang sudi mempekerjakanku. Aku hanya berakhir di depan televisi busukku, satu-satunya harta berharga yang tak disentuh oleh siapa pun selama aku di penjara (karena benda itu sudah tua dan tidak mungkin laku dijual), dan menonton acara-acara tidak bermutu, lalu tidur sambil menahan lapar dari waktu ke waktu.

Uang tabunganku selama bekerja menggotong tumpukan kertas atau membungkus produk-produk mebel di penjara, tidak akan bertahan lebih dari dua tahun. Pada akhirnya semua uangku akan habis, dan jika itu terjadi, bagaimana caraku melanjutkan hidup?

“Andai saja di dunia ini ada pohon uang, tentu tidak akan ada penjara. Orang-orang bisa menanam pohon uang mereka sendiri sehingga tidak perlu ada kekacauan di muka bumi,” pikirku.

Aku terus bertanya-tanya dan tidak ingin terjebak ke dunia kriminal. Aku putuskan tidak ada lagi kejahatan yang kulakukan demi uang. Tidak ada pohon uang di dunia ini, dan jika seseorang mengharapkan uang, maka dia harus bekerja. Tetapi, mencari kerjaan halal tidak mudah bagi orang sepertiku.

Pernikahanku yang gagal setelah aku masuk penjara, orangtua yang tidak pernah mengakui keberadaanku, teman-teman yang secara pelan dan pasti menjauhiku hingga hilang sama sekali; semua itu adalah bukti betapa tidak berartinya hidupku. Aku hanya bisa melamunkan itu tanpa mampu memperbaiki segalanya.

Karena televisi membosankan, kadang-kadang aku tidur, dan kurasa itu efektif untuk membuang pikiran-pikiran masa depan suram untuk sementara waktu, tetapi seluruh kesialan kembali menghadang setelah aku terbangun.

Aku bangun dan menyadari, betapa setiap hari aku butuh makan dan minum. Tentu saja aku akan tetap berjalan ke beberapa bagian kota yang mungkin tidak tahu bahwa aku pernah di penjara. Lalu, di tempat itu, seseorang sudi memberiku pekerjaan. Apakah ada suatu tempat yang menerimamu bekerja tanpa surat keterangan atau semacamnya?

Aku tidak terlalu yakin dengan usahaku. Di suatu titik aku mengira dompetku tidak berisi uang. Tabunganku sudah berkurang terlalu banyak sejak aku bebas dari kurungan. Di depan sebuah toko yang baru saja menolakku, aku duduk dan menyalakan sebatang rokok terakhir. Seorang pengemis melintasi jalanan sepi di depan toko, dan terjatuh, lalu bangkit untuk kembali berjalan. Pengemis itu pincang, berbadan penuh luka, dan satu kakinya seperti meleleh serupa karet terbakar, tetapi ia memaksa untuk terus berjalan.

“Sebaiknya Bapak berhenti dulu, kalau tidak mau mati,” kataku.

Pengemis itu berhenti dan menatapku. Lalu, ia menoleh ke depan, ke arah yang dia tuju, dan setelah menghela napas panjang, dia putuskan duduk di sampingku. Aku tidak mengajaknya berbicara apa-apa, tetapi pengemis itu mulai mengatakan soal mimpi lamanya.

“Bapak tahu,” katanya penuh antusias, “mimpi-mimpi saya itu sebentar lagi bakal terwujud! Dan, saya pikir, saya harus berterima kasih kepada Bapak.”

“Saya benar-benar tidak paham,” kataku.

Pengemis itu menjelaskan pertemuannya dengan seorang gadis yang dia curigai adalah malaikat. Gadis malaikat yang menyamar jadi manusia, begitulah yang ia katakan, sambil bersumpah bersedia kehilangan dua bola matanya kalau perasaan yang baru saja dia sampaikan ini dusta.

“Saya benar-benar merasakan itu. Saya merasa dia memang malaikat.”

“Apa yang terjadi?” tanyaku, mulai tertarik.

Pengemis itu menyebut-nyebut tentang pohon uang; sebuah gagasan yang tak pernah terwujud nyata di kehidupan fana, sebuah gagasan yang hanya ada di kepala manusia yang membutuhkan masa depan yang jelas. Tentu saja aku heran; bagaimana ia atau gadis yang dianggapnya malaikat tadi dapat memikirkan hal sama yang juga aku pikirkan belakangan ini? Tapi, aku tetap diam dan menyimak kesaksian si pengemis ini dengan lebih saksama.

Katanya, gadis itu tahu sebuah tempat rahasia di mana seseorang bisa meraih mimpi terbesarnya lewat pohon uang. Pengemis itu mendapat informasinya begitu saja sebab si gadis iba. Gadis itu mengatakan sebuah syarat, “Jika Bapak mau, boleh pergi dan ambil uang sebanyak mungkin dari pohon uang agar Bapak dapat melakukan operasi kaki Bapak, tetapi ajaklah satu orang agar Bapak tidak lupa diri.”

Pengemis itu mengaku, sebelum kuperingatkan agar berhenti, dia lupa tentang syarat terakhir itu. Dan karena itulah dia berterima kasih dan berharap diriku mau pergi bersamanya, menuju ke pohon uang.

“Saya benar-benar tidak mengerti,” kataku setelah terdiam beberapa lama, karena ini sungguh aneh. “Bapak main-main, ya? Saya tidak ingin kembali ke masa itu. Dan jika Bapak bermaksud begini, saya akan hajar Bapak sekarang juga!”

Aku berdiri dan melempar rokok terakhir yang masih tersisa setengah batang, dan akan pergi meninggalkan pengemis itu sebelum dia menarik-narik celanaku.

“Saya juga tidak percaya, Pak. Tidak ada pohon uang di dunia ini. Itu setahu saya, tetapi gadis itu lugu dan bermata jernih, dan saya tahu dia benar-benar memberi kita informasi ini. Bagaimana?”

“Kalau benar apa yang dia katakan, kenapa saya? Dan jika syarat itu berlaku untuk Bapak, apakah saya juga harus mengajak seseorang?”

“Itu terserah saja. Tetapi, yang jelas, syarat itu ditujukan untuk saya, karena gadis itu bilang, jika saya pergi ke sana seorang diri, saya bisa kehilangan akal, tidak ada yang ¬†mengingatkan diri untuk merasa cukup!”

Entah apa yang ada di pikiranku. Segera saja acara-acara sampah dari layar kaca mengelebat di otakku, kata-kata menyakitkan dari mantan istriku, menyambangi pikiranku. Segala luka dan kepastian sialnya hidupku di hari tua, berdatangan dan menghantam pikiranku secara telak. Apakah ini cuma mimpi? Kupandangi kaki pengemis itu; benar-benar terlihat meleleh bagaikan karet. Dan baunya itu, sungguh memuakkan. Aku pikir ini bukan mimpi.

Kami pun pergi ke tempat yang dimaksud. Jaraknya dari tempat kami bertemu tidak terlalu jauh. Hanya dua kilometer saja berjalan kaki. Kami berjalan pelan dan pasti menuju arah itu, ke pinggir kota kecil ini, ke sebuah danau yang jarang didatangi orang karena konon kawasan itu ada yang memiliki. Properti pribadi yang dipagari khusus, yang mampu membuatmu terkena sengatan listrik jika berani main-main.

Dan entah bagaimana semua ini mulai terasa masuk akal. Apakah benar seluruh hal di pikiran manusia, yang aneh dan mustahil, tidak pernah benar-benar ada? Berbagai hal telah manusia temukan dan seluruh keanehan, seperti pesawat terbang, memang ada dan nyata pada masa kini. Mungkinkah pohon uang itu nyata?

Pagar berlistrik itu memperkuat dugaan kami. Aku dan si pengemis curiga bahwa sang gadis adalah malaikat yang menjelma manusia untuk memberi pelajaran si pemilik properti agar tidak kikir dan menjaga pohon uangnya sedemikian rupa. Tentu saja aku sedikit banyak tahu tentang pemilik properti ini, yakni orang yang menguasai nyaris segala aspek kehidupan di kota ini, sekaligus orang yang kebal hukum dan apa pun yang terkait masalah keuangan.

“Ya, siapa lagi kalau bukan walikota korup itu?” bisik si pengemis sinis ketika dia mencoba mencari cara menjebol salah satu bagian pagar yang tak berlapis di pinggir danau.

Usahanya berhasil. Kami masuk tanpa takut tersengat dan mati. Kami telusuri tepi danau berkabut itu sampai kira-kira dua jam, lalu kami beristirahat. Pukul 11 malam ini. Kami mencari lagi dan lagi, sampai kami menemukan pohon yang dimaksud.

Pohon itu terletak di sebuah goa kecil yang agak menjorok ke bagian hutan, di tepi danau yang menuju kaki bukit. Kami masuk ke goa itu sejauh lima belas meter sebelum menemukan pohon kuning yang menumbuhkan uang pecahan seratus ribu rupiah. Aku benar-benar tertawa dan takjub, memastikan bahwa uang itu memang terkait dengan bagian pohon selaiknya berhelai daun. Kami makin takjub ketika memeriksa keaslian uang tersebut: dilihat, diraba, diterawang. Sungguh, mereka benar-benar asli!

Aku dan si pengemis melepas baju masing-masing dan membentuk semacam karung dari itu, mengambil uang sebanyak yang kami sanggup. Pengemis itu berhenti saat hari mulai pagi dan nyaris telanjang bulat karena sarung yang harusnya dia kenakan, dilepas demi menampung lebih banyak uang. Aku, yang memang mengenakan jaket, jaket itu bisa membawa lebih banyak uang. Pengemis itu pergi lebih dulu, sementara aku masih sibuk, memutuskan akan keluar dari sana sore hari.

Tetapi aku merasakan tubuhku letih. Aku memutuskan untuk tidur. Bangun keesokan harinya, aku keluar dan bingung menemukan jalan pulang. Bagaimana mungkin aku tersesat padahal kota kecil ini kukenal seperti aku mengenal tubuhku sendiri? Aku malah tiba di satu tempat dengan gedung-gedung pencakar langit. Sebuah kota modern yang belum pernah kulihat.

Maka, kusembunyikan uangku sebaik mungkin, dan masuk ke satu toko kecil untuk bertanya. Aku berhenti melangkah ketika kulihat cermin diriku memantul dari pintu kaca toko. Aku tidak melihat diriku yang dua hari lalu keluar rumah untuk mencari pekerjaan. Aku melihat seorang laki-laki tua berkeriput dan seluruh rambut di kepalaku putih.

-Gempol, 26 September 2017

 

Ken Hanggara menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya tersebar di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017).

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response