close
Mirah_dari_Banda

Dari sebuah generasi yang konon tidak suka membaca, tapi melahirkan banyak penulis muda berbakat; dari sebuah generasi penuh kontradiksi yang sejumlah karya literasinya menubrukkan visual dan teks dengan eksperimental, bagaimana karya klasik Mirah dari Banda oleh Hanna Rambe bisa menyusup masuk ke dalam hati seorang milenial?

Ya, ketika saya mendeskripsikannya dengan kata ‘klasik’ ini artinya sangat serius klasik! Novel yang pertama kali diterbitkan tahun 1980an ini mampu membuat pembaca duduk manis ‘menyaksikan’ narasinya, seperti seorang anak yang duduk di lantai di muka sebuah TV tabung untuk menonton film klasik.

Buku yang saya miliki, versi Penerbit Obor, hanya memiliki satu lukisan di sampulnya, sementara kontennya full teks dan cukup tebal meski tetap mungil dan ringan untuk dibawa kemana-mana (saya menuntaskan buku ini dalam sebuah TransJakarta). Barangkali memang awalnya saya terkesima oleh sosok Mirah yang dilukiskan di sampul buku, tampak bersahaja tapi juga berkharisma dalam model kebaya kutu baru yang sedang tren lagi belakangan ini.

Yang jelas, awal-awal buku menjadi seperti pendakian baru bagi saya.  Dialognya adalah gaya berbahasa yang sudah lama tidak terdengar di kehidupan sehari-hari, seperti film Indonesia tahun 80an. Dan ini bukan sesuatu yang buruk, justru menghidupkan sense of nostalgic yang menyenangkan. Membuat saya berkesimpulan, harusnya inilah teks yang dijadikan ilustrasi dalam buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah saya dulu (entah kenapa, Harimau Harimau-nya Mochtar Lubis selalu menjadi bahan yang diulang oleh guru SD-SMP saya dulu).

Sebenarnya bagi saya pribadi, susah untuk bersimpati dengan karater Wendy Higgins, yang mendominasi awal buku. Ternyata memang pesona buku ini sesungguhnya ada di Mirah. Sama seperti Wendy, kita semua menunggu kesempatan untuk bisa berbincang dengan Mirah, mendengarkan cerita panjangnya. Dan memang keseruan buku ini langsung intens setelah Mirah membuka kisahnya.

Banyak orang berkata bahwa buku ini adalah perjuwudan jiwa dari buah pala – konon, pembaca bisa mencium aroma pala saat membaca buku ini. Tapi masalahnya saya tidak akrab dengan aroma pala. Meski begitu, buku ini tetap sukses merangsang sensori saya yang lain – telinga saya seperti bisa mendengar desau ombaknya, dan logat Indonesia bagian timur yang khas.

Banyak karakter perempuan ‘nyai’ di literatur Indonesia yang digambarkan lugu di awal, namun kemudian menjadi sosok yang lebih ‘garang’ di akhir buku karena ceritanya sudah ditempa oleh hidup yang keras. Namun satu pesona yang menjadikan Mirah berbeda dari karakter perempuan lain, ia tetap Mirah yang sama, yang lugu dan tulus.

Di awal, sangat terasa kegagapannya ketika diceburkan menjadi pelayan di rumah Tuan Stein yang mewah. Kepolosannya ketika mengalami haid untuk pertama kali, dan Nyonya Stein berpesan padanya untuk jangan berdekatan dengan laki-laki, nanti bisa ada ‘boneka dalam poro’. Mirah langsung menangis! Kemudian kita kembali bertemu dengan Mirah di akhir ceritanya, sosok yang telah beranjak lansia. Dia pun ternyata punya spirit yang sama, kepolosan khas Mirah kembali menguar ketika ia melihat interior pesawat untuk pertama kalinya.

Mirah dari Banda masih relevan untuk kita baca hari ini, bukan demi pesan klise ‘jas merah’ – tapi karena buku ini merupakan salah satu pengantar terbaik untuk mencintai kekayaan bumi Indonesia, dari tanaman hingga manusianya. Buku ini juga menjadi literatur yang sangat ‘ramah’ untuk dibaca bersama keluarga atau studi di sekolah; salut pada penulis Hanna Rambe yang membuktikan bahwa kisah yang cemerlang tidak harus mengandung adegan seks eksplisit. Padahal, ini adalah kisah hidup seorang gundik! Dan saya juga berterima kasih atas ending yang ‘segar’, tidak memaksakan akhir yang membuat semua orang senang seperti konten-konten ala Hollywood (OLV)

 

Judul buku: Mirah dari Banda
Penulis: Hanna Rambe
Penerbit Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response