close
dreams-2904682_960_720

SEJAK ratusan tahun silam, mendongeng itu upacara bahasa, ingatan, imajinasi, identitas, dan kebersamaan. Pada suatu tempat, orang-orang berkumpul membagi peran sebagai pendongeng atau penikmat dongeng. Mulut memberi edaran imajinasi dengan bahasa terdengar. Di telinga, dongeng itu memiliki musikalitas dalam memberi kepahaman atas tokoh, waktu, peristiwa, suasana, tempat.

Upacara mendongeng lazim memenuhi adab berpatokan tradisi dan anutan-anutan lokal. Penikmat dongeng mungkin membuka atau memejamkan mata menempuhi jalan-jalan imajinasi dari tuturan memikat. Dongeng tentu tak melulu kata-kata. Di pelbagai tempat, mendongeng terasa sakral dengan alunan musik atau pameran gambar. Sekian benda pun mungkin terpakai dalam memberi penguatan cerita dan percik imajinasi bermula di penglihatan. Upacara itu berlangsung ratusan tahun, diwariskan sesuai ketetapan atau perubahan.

Di Jawa, upacara agak dikejutkan kedatangan para pejabat, pendidik, pendakwah, dan sarjana asal Eropa. Di negeri berlimpahan dongeng, mereka takjub. Hasrat menikmati dongeng pun terpenuhi dengan mesin, berbeda dari upacara milik bumiputra. Sejak abad XV, mereka sudah bermesin untuk mengabarkan kitab suci, dongeng, ilmu, dan kekuasaan. Mesin ajaib buatan Gutenberg turut mempengaruhi adab berdongeng di Jawa. Pengaruh akibat perintah atau bujukan bernalar Eropa. Upacara tetap berlangsung di Jawa tapi mesin-mesin perlahan mengubah tata cara mendongeng, sejak pertengahan abad XIX.

Pada 1864, terbit buku berjudul Dongeng Isi Woelang Becik susunan CF Winter. Cetakan menggunakan huruf Jawa. Dongeng telah memasuki zaman mesin cetak, tak melulu mulut dan telinga. Dongeng-dongeng khas Jawa muncul berwujud cetakan di kertas bernama buku (Mochtar, Sari Literatur Jawa, 1986). Dalil terpokok adalah buku meminta mata-membaca. Penerbit memang memilih aksara Jawa tapi tampak sengaja mengalihkan upacara bersama berdongeng menjadi adegan membaca. Di kalangan sarjana Eropa dan pujangga keraton, siasat untuk tak terlalu jauh dari upacara lama adalah pembacaan (buku) dongeng dengan kehadiran para pendengar. Siasat itu pasti berbeda dari sakralitas mendongeng. Pembacaan menuruti kata-kata di buku, bergerak dengan struktur kebahasaan telah tercampuri nalar linguistik si  pengumpul dongeng, dan embusan imajinasi tak selalu semilir.

Upacara ingatan bersama berubah setelah mesin cetak memamerkan keampuhan adab Barat. Peran CF Winter tak cuma pengumpul. Pilihan mencetak dongeng seperti mengabarkan penggerogotan ingatan bersubstitusi ke sistem aksara cetak. Tata bahasa tentu berubah, tak lagi memberikan kelihaian tuturan. Bahasa sudah dicetak. Mata diperintah membaca urut, jelas, tertib, dan padu. Dongeng bermesin agak “mengejek” kegirangan dan kesakralan mendongeng di Jawa. Girang itu ungkapan hiburan. Sakral itu kenikmatan menuai pelbagai petuah dan panggilan mengalami hidup bergelimang makna.

Pengarsipan dongeng di Jawa dengan penerbitan buku-buku meniru kebijakan-kebijakan di Eropa. Pada abad XIX, para sarjana di Eropa melakukan pengarsipan dan pembuatan indeks dongeng-dongeng. Mereka mengerjakan studi dengan mencetak dan menerbitkan dongeng-dongeng mengacu klasifikasi modern. Katalog dongeng pun digarap dan dipelajari bermisi keilmuan dan kekuasaan. Para sarjana Belanda ketularan dengan menerapkan studi di Hindia Belanda. H Kern mengadakan penelitian dari kumpulan dongeng kancil bernalar menjadi teks-teks cetak. Studi Kern berjudul Losse Aantekeningen op het Boek van den Kancil (1880). BC Hummen juga mengarsip dan meneliti dongeng kancil di Jawa, menghasilkan artikel “ilmiah” berjudul Javaansche Sprookjes (1883). Detik-detik pengalihan dongeng-dongeng Jawa ke buku-buku sebagai berkah mesin cetak ajaib perlahan dikerjakan secara sistematis, mendapat restu dari universitas dan pemerintah kolonial (James Danandjaja, 1984). Jawa sebagai negeri berlimpahan dongeng “dibajak” para sarjana Eropa dengan mesin, bersimpang jalan dari upacara.

Pada abad XX, studi dongeng bersumber dan menghasilkan buku semakin deras melalui peran Balai Pustaka dan pelbagai institusi penerbitan atau pendidikan. Zaman melek aksara cetak semakin menjauhkan dongeng-dongeng dari upacara. Para sarjana Belanda masih keranjingan menekuni dongeng-dongeng tercetak, bukan dongeng dalam tuturan. Mesin cetak memungkinkan pemberlakuan klasifikasi dan pembuatan katalog modern. C Hooykas di Panjedar Sastra (1952) menjelaskan bahwa pelbagai misi mencetak ribuan dongeng menjadi buku, sejak abad XIX. Para sarjana bertugas mengumpulkan dan menerbitkan dongeng-dongeng dengan pengharapan memiliki data-data dalam mempelajari bahasa-bahasa. Studi kebahasaan berlanjut ke sosial, politik, kultural, seni, dan pendidikan. Corak itu ditularkan ke elite pelajar Indonesia saat mempelajari sastra di AMS dan universitas-universitas di Belanda, sejak masa 1930-an.

Mesin terpilih ketimbang upacara. Abad XIX dan XX mengingatkan dongeng dalam dilema kolonialisme dan janji-janji pendidikan modern. Dongeng perlahan terdefinisikan bermukim di buku-buku atau berwujud cetak. Konon, cara itu membuat dongeng-dongeng terselamatkan dan memiliki jalan baru pewarisan secara canggih. Pada abad XXI, dongeng-dongeng tetap jadi pilihan pemerintah dan perusahaan-perusahaan untuk berpihak ke “tradisi” berdalih pendidikan karakter atau pelestarian nilai-nilai tradisional. Dongeng tentu buku! Pemerintah mencetak ratusan dongeng berwujud buku menggunakan anggaran negara. Buku-buku dongeng disebar gratis seantero Indonesia  melalui perpustakaan dan komunitas.

Kebijakan itu disaingi perusahaan-perusahaan beruntung besar untuk pamer “prihatin” pada dongeng dan nasib bocah Indonesia. Penerbitan buku-buku dongeng bercap pelbagai perusahaan adalah tindakan baik agak “mengelabui” pemaknaan dongeng berlatar sejarah peradaban di Nusantara. Perusahaan-restoran berlogo “pak tua” asal Amerika Serika berjualan chicken mempersembahkan buku berjudul 10 Kisah Dongeng untuk Anak Indonesia (2010). Buku-buku sejenis pun diusahakan pelbagai perusahaan nasional atau internasional. Restoran kondang itu menganggap penerbitan buku dan pembagian secara gratis dengan pelbagai ketentuan bisnis adalah bukti “menemani” anak-anak di seluruh Nusantara menggapai impian melalui dongeng. Kita mungkin menduga si bocah berpikiran bersantap di restoran berlogo “pak tua” bakal menuai buku dongeng  secara “gratis.”

Mesin telah membuat keajaiban-keajaiban baru. Dongeng semakin buku, berimbuhan dongeng di mesin-mesin elektronik. Dongeng semakin tak berupacara. Dongeng itu mesin bertarung kepentingan dalam kebijakan pemerintahan kolonial, nalar universitas modern, dan bisnis berlimpahan untung perusahaan-perusahaan asing di Indonesia. Kita cuma memberi sangkaan saja, tak bermaksud mengadakan penelitian kolosal dan memberi seribu argumentasi paling bermutu. Begitu.  

 

Bandung Mawardi, esais dan kuncen Bilik Literasi di Solo.

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response