close
headscarf-1683164_960_720

AKU YAKIN akulah yang dilirik Tuan Babak ketika mendapati kami tengah berlari-larian di Pasar Shiraz. Tapi kakak perempuanku, Shirin, bersikeras dialah yang pertama kali dilirik oleh Tuan Babak. Kelak, meski tetap teguh pada keyakinanku, aku tak pernah mendebat pendapat Shirin.

Tuan Babak, seorang saudagar dengan turban besar dan senyum lebar yang melancong dari utara, bertanya macam-macam tentang kami. Kakakku memperkenalkan namanya dan memberitahu bahwa namaku Surin. Dia jelaskan bahwa umurnya enam belas tahun dan aku dua tahun lebih muda darinya, kami -kakak beradik yang sudah yatim-piatu dan bertaruh semata-mata pada kemurahan hati orang-orang pasar untuk bertahan hidup. Mendengar itu senyum Tuan Babak yang begitu lebar hilang seketika, diganti dengan mata iba dan raut tersentuh kebapakan yang membuat mukanya jadi terlihat lebih tua dari semestinya. Tuan Babak pun mengajak kami untuk ikut dengannya. Dia belikan Shirin gaun sutra baru dan untukku baju dari kain lampas bercorak benang perak dan emas, lengkap dengan kaus kaki dan sepatu baru. Tuan Babak tersenyum melihat penampilan baru kami, secara khusus dia memuji ketampananku lalu berkata, “Lampas ini didatangkan langsung dari lokakarya terbaik di Isfahan, aku tahu itu sebab aku yang memasoknya kemari.”

Selanjutnya Tuan Babak mengajak kami makan dan untuk pertama kalinya aku dan Shirin mencicipi sup delima dan daging domba buatan kedai paling mewah di Shiraz. Dan ketika itulah tiba-tiba saja Tuan Babak melempar ajakan untuk ikut bersamanya, dia bahkan berjanji akan mengurus kami dengan baik. Shirin bertanya apa yang perlu kami lakukan sebagai balasannya dan Tuan Babak menjawab, kami boleh saja membantu pekerjaannya kalau kami mau.

Aku tidak tahu harus menjawab apa sementara Tuan Babak terus menatapiku. Kulihat Shirin sepertinya tidak terlalu keberatan dengan ide itu, dan ketika dia bilang setuju, aku pun mau tidak mau harus ikut bersetuju dengan kakakku itu.

Selanjutnya Tuan Babak memperkenalkan kami pada Shahzad, pemuda yang sudah lama bekerja dengannya. Umurnya baru 19 tahun, lebih muda dari yang kuduga. Seketika saja aku kagum melihat Shahzad, lebih-lebih ketika menyaksikan dia, dengan otot-otot lengan yang kurus tapi kuat, mengangkut semua buntalan berat ke atas punuk masing-masing unta, sendirian.

Setelah Tuan Babak selesai bertawar-tawaran dengan seorang pedagang di salah satu loka, kami langsung berangkat. Shirin meminta ikut bersama unta Tuan Babak, maka aku menumpang unta yang ditunggangi Shahzad. Delapan unta lainnya yang membawa bekal perjalanan dan barang-barang dagangan, mengikuti dari belakang. Itulah kali pertama aku dan Shirin betul-betul keluar dari kota Shiraz. Kutatapi lekat-lekat jalur yang akan kami lewati dan bukit-bukit batu yang mengapitnya. Barangkali menyadari rasa kagumku itu, Shahzad berkata, “Kau sudah ikut Tuan Babak, jadi kau akan bertualang nanti. Kau akan jelajahi banyak tempat.” Sepanjang sisa hari itu aku diam bersandar padanya sambil menahan panas, haus, dan lesu. Bukit pasir dan tebing batu di sekitar yang kesemuanya terlihat begitu-gitu saja sejauh apapun kami melaju, ikut campur memupuk rasa bosanku, membuat kepalaku beberapa kali terkantuk-kantuk dan meluncur jatuh dari dada Shahzad, sampai dia perlu menahan dan membetulkan posisi kepalaku kembali, dan aku pun terbangun malu. Dari belakang kudengar samar-samar percakapan Shirin dan Tuan Babak, meski aku tak bisa menangkap apa yang mereka bicarakan, dan sekali Shirin bahkan tertawa keras, begitu keras sampai digemakan oleh tebing sekitar.

Dua kali Shahzad menawariku minum dan aku tetap diam saja, pada kali ketiga dia menawari, aku benar-benar haus dan kusambar kantung air yang terbuat dari kandung kemih sapi itu. Ketika itu hari mulai gelap dan Shahzad berkata kepada Tuan Babak  sekarang sebaiknya istirahat, desa atau karavansara—semacam tempat peristirahatan—terdekat masih jauh dan sia-sia saja melanjutkan malam hari. Shahzad menunjuk batu bagian di kaki bukit depan kami, yang menurutnya tepat dan kami berempat pun tolong-menolong mendirikan kemah.

Shahzad membuat api unggun, dan sambil memasak rebusan daging, dia menjelaskan bahwa Tuan Babak semestinya bersabar menunggu pagi, tapi beliau begitu terburu-buru, ada pembeli yang ingin dikejar di Isfahan nanti, seorang dari kedutaan Inggris yang sudi membayar mahal barang-barang antik dari semenanjung Arabia, dan dia juga mendapat pesanan hadam-talka terbaik yang didatangkan langsung dari Gujarat. Dan  kami juga tidak  dapat membasuh badan karena harus menghemat air, sebab Tuan Babak kemungkinan tidak akan berhenti lama di karavansara terdekat. “Berharap saja tidak ada bandit yang menunggu kita di jalan,” kata Shahzad, entah bercanda atau tidak.

Tak lama setelah itu Shahzad mengajak kami bertayammum, dan kami pun bersembahyang dengan Tuan Babak sebagai imam. Di Shiraz, aku tak pernah betul-betul taat bersembahyang, dan entah kenapa, mungkin untuk menunjukkan rasa syukurku atas kebaikan yang kami terima, kali ini aku ingin betul-betul mengkhusyuki laku tersebut.

Karena sudah begitu lelah, aku memutuskan untuk langsung tidur setelah menghabiskan rebusan dagingku. Aku tidur di tenda yang sama dengan Shahzad dan Shirin sementara Tuan Babak punya tenda sendiri yang besar dan lapang.

Besoknya kami kembali melanjutkan perjalanan, dan sebagaimana yang sudah dijelaskan Shahzad malam harinya, kami tidak beristirahat ketika tiba di karavansara terdekat, hanya mampir sebentar untuk mengisi kantung air dan memasok perbekalan. Kami menyempatkan diri membasuh badan sebentar, dan aku bisa melihat Shahzad membasahi badan liatnya dan aku semakin terkagum-kagum padanya.

Dalam perjalanan Shahzad bercerita panjang padaku. Dia hasil hubungan haram seorang bangsawan Anatolia dengan perempuan Azeri yang hina dan papa. Ibunya meninggal ketika melahirkan dan ayahnya tak sudi mengakuinya. Dia diasuh oleh tangan keras pamannya, seorang pandai besi di Nishapur, yang telah menyisakan memar dan jejak cemeti di punggungnya. Sampai akhirnya dia bertemu dengan Tuan Babak yang ketika itu mampir di penginapan, di seberang pandai besi pamannya. Tuan Babak pun mengasuh Shahzad, membawanya sebagai teman seperjalanan dan orang kepercayaan, mengajarinya banyak hal tentang perdagangan.

Shahzad bercerita tentang kota-kota yang telah dia kunjungi bersama Tuan Babak, dari Zirra ke gudang-gudang anggur di Herat, dari Tabriz ke Dyar-Bakr, dari Arzinjan ke Tehran, jauh sampai menembus perbatasan orang-orang Mongol cuma untuk mengambil barang-barang dari Malaka, menyeberangi semenanjung Arab, pada satu kesempatan mereka bahkan mengarungi Laut Mazandaran menuju Rusia, sampai akhirnya Tuan Babak memutuskan untuk tidak lagi melancong sampai keluar perbatasan negeri karena pajak pedagang luar yang begitu tinggi dan urusan administrasi yang membuat mereka harus menunggu berhari-hari.

Kami kembali berkemah di dekat bukit-bukit batu. Ketika kami tengah makan tiba-tiba saja Shirin mengajukan permintaan yang cukup mengejutkan, “Bolehkah aku tidur di tendamu, Tuan Babak?” Tuan Babak menolak, “Aku laki-laki beristri, A-nakku,” senyum lebarnya merekah dan dia pun melanjutkan makanannya.

Tidak seperti sebelumnya, kali ini aku mendapat giliran jaga, bergantian dengan Tuan Babak dan Shahzad. Aku terbangun sebelum giliranku, ketika itu Shirin sudah tertidur pulas dan aku tidak menemukan Shahzad di manapun ketika mengintip keluar tenda. Aku keluar dan mencari-cari sampai akhirnya kusadari ada bunyi samar-samar dari tenda Tuan Babak. Diam-diam aku mengintip melalui satu lubang kecil dan di bawah cahaya temaram tenda kudapati Tuan Babak tengah mengelus dan meremas tubuh Shahzad yang telanjang. Kuperhatikan juga muka Shahzad sekarang berpupur dan matanya diberi celak, tangan dan kakinya juga digambar dengan hena. Sesekali Tuan Babak mengelus-elus rambut Shahzad lalu kembali meremaskan tangannya keras-keras, dan Shahzad akan mendesah dan merintih sesuai dengan irama Tuan Babak di belakang. Aku tertegun dan bergeming, merasa takut juga jijik, tapi aku terus memberanikan diri menyaksikan tiap-tiap perlakukan yang menimpa tubuh liat Shahzad. Dan ketika mereka usai, ketika Shahzad membersihkan diri dan bersiap-siap berpakaian, aku bersegera berlari ke tendaku, berpura-pura tidur. Sebisa mungkin aku redam gemetar tubuhku dan pura-pura bangun ketika Shahzad masuk, membangunkanku dan mengabarkan bahwa sekarang giliranku jaga.

Setelah salat subuh keesokan harinya, kami kembali melanjutkan perjalanan. Aku merasa ragu dan takut duduk di atas unta bersama Shahzad, lebih-lebih ketika aku melihat sisa-sisa hena pada tangannya. Tapi pada akhirnya, karena merasa kelelahan, tetap kusandarkan kepalaku pada dada Shahzad. Dia tetap bersikap baik padaku, dan karena itu aku merasa serba salah. Sepanjang perjalanan itu sebisa mungkin kuredam semua pikiran buruk tentang Shahzad dan terus membalas obrolannya sebisa dan sebaik mungkin.

Setelah sebelas hari perjalanan, dengan perhentian di beberapa desa dan karavansara, kami tiba di Isfahan. Kota tersebut lebih besar Shiraz dan kami langsung menuju pasarnya yang lebih ramai dan sesak dari dugaanku. Kami disambut oleh dua orang karyawan ketika kami berhenti di toko sekaligus lokakarya khusus perempuan milik Tuan Babak. Shahzad langsung mengurus unta-unta dan menurunkan semua bawaan, sementara aku dan Shirin diserahkan pada seorang perempuan yang kemudian mengaku sebagai istri kedua Tuan Babak.

Perempuan itu mengajak kami naik kereta kuda dan kami pun berjalan-jalan keluar dari bazaar, melewati pagar istana, Masjid Shah yang begitu megah, pemukiman orang-orang Armenia; keluar dari kota tua dan menuju bagian kota yang lebih selesa, dan tibalah kami di sebuah pemukiman yang lebih mewah dan asri, dengan rumah-rumah yang besar dan taman-taman yang luas dan tertata. Kami berhenti di salah satu rumah besar, itulah kediaman Tuan Babak. Perempuan itu mempersilakan kami masuk dan kami langsung disambut oleh beberapa pembantu dan satu perempuan yang paling tua dan berkuasa di situ, yang kemudian mengaku sebagai istri pertama Tuan Babak. Aku dan Shirin dipersilakan membersihkan diri di tempat pemandian yang besar, pakaian bagus lengkap dengan aksesoris dan wangi-wangian sudah disiapkan untuk kami. Ketika siap kami langsung dijamu buah-buah dan makanan oleh kedua istri Tuan Babak. Kedua perempuan tersebut menanyai macam-macam sampai-sampai aku merasa seperti sedang diinterogasi, tapi Shirin selalu mampu menjawab dengan tenang dan tepat.

Sorenya Tuan Babak tiba bersama Shahzad dan di depan kedua istrinya dia menjelaskan niatnya untuk mengasuh dan mengurus kami, mendidik kami berdua sebagaimana yang dia lakukan pada Shahzad dulu. Kuperhatikan baik-baik raut muka kedua perempuan yang umurnya pasti tak jauh beda dan kulihat garis-garis ketidaksetujuan pada mata dan dahi mereka.

 

Cerita Bersambung hari setiap Kamis! Cerita kali ini diisi oleh Rio Johan – penyuka buku, film, dan video game. Buku pertamanya, kumpulan cerpen Aksara Amananunna (KPG, 2014), termasuk sepuluh besar Kusala Sastra Khatulistiwa dan terpilih sebagai Buku Prosa pilihan Tempo. Pada tahun 2016 tinggal di Berlin selama dua bulan untuk program residensi penulis dari Komite Buku Nasional. Novel hasil program tersebut baru saja terbit dengan judul Ibu Susu.

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response