close
Puisi

Kumpulan Puisi Dadang Ari Murtono

buddha-56510_960_720

seh domba

 

pada halaman fotokopian itu

ia meminjamkan sebagian dirinya

yang ia datangkan dari abad ke enam belas

 

ia tahu, dalam tongkat bekas adipati itu

ia tak akan mendapat secuil emas

seperti yang dikatakan tiga laki-laki keliru di bakalan salatiga

 

dan ia mengerti, si bekas adipati akan mengucap

sepatah mantra yang mengubah paras rupawannya

jadi domba

 

namun tak ada yang sia-sia, seperti yang dikira

orang pada hari depan

sebab ia bertuhan, ia berguru, dan ia tahu ada dosa

di pundaknya yang mesti ia tebusi

 

maka ia tak perlu membayangkan dirinya bahagia

sewaktu menempuh kilometer demi kilometer

selama 35 hari

untuk mengangsu air dan mengisi padasan bocor di puncak jabalkat

 

sebab hanya dengan begitu

ia akan kembali jadi manusia, seutuhnya manusia

 

pada halaman fotokopian itu,

seorang lelaki yang terus menulis puisi

dan merasa tak berarti

lalu menyamakan diri dengan sisiphus,

seolah melihat bayangannya

yang berkepala domba

 

lantas ia, penyair itu,

memupus niatan bunuh diri

 

 

 

 

 

tembayat

 

sejak wali kali yang menyaru penjaja alang-alang

itu mengubah sebongkah tanah jadi seonggok emas

permata, ia mengerti segala hal bisa bercahaya di

tangan yang sungguh-sungguh

 

hanya tangan yang sungguh-sungguh

 

maka ia tinggalkan apa yang kata awam

berharga, dan sekian bulan kemudian, di pasar

wedi, pada suami istri tasik yang tiap hari

memanggang serabi namun lamur pada hakikat

api, ia singkirkan kayu bakar, dan ia munculkan

nyala api dari sepasang tangannya yang telanjang

 

sayangnya ia telah lama tak ada

sewaktu seorang penyair dari negeri tropis

bersajak tentang salju dan musim gugur

dan mengutuki segala yang berasal dari bahasa ibunya,

juga semesta sekitarnya sebagai sesuatu

yang tak punya tempat dalam larik-larik yang

bebas dari fana

 

 

 

 

 

 

brawijaya moksa

 

barangkali ia sesali kemelun asap dari dupa

terakhir yang ia bakar,

ia tak ingin kitab-kitab mengekalkannya sebagai

raja pengecut yang lari dari palagan,

tapi dewa-dewa yang kian susut

tahu hari tak ada lagi

 

“ini memang masa tuhan dari arab,”

ia dengar kalimat itu

dari suara tanpa bunyi

 

“apa yang lebih terhormat

bagi satria selain mati dalam area laga?”

ia keberatan

 

tapi dewa-dewa – juga kelak tuhan – tak pernah

setara untuk tawar menawar dengan hamba

 

ia tahu, pada akhirnya

ia akan baka dalam kemurungan

bersama keratonnya,

dan keinginan untuk mati

yang sia-sia

 

 

 

 

 

selamat pagi, dadung awuk

 

selamat pagi, dadung awuk,

malam tak ada lagi bagimu,

ke alun-alun itu kau akan datang

untuk mengalahkan kerbau liar dalam dirimu

tapi seseorang, sang cikal susuhunan jawa,

bakal mengakhirimu dengan ujung tumpul

sirih sadat

 

tapi dalam puisi ini,

kupanjangkan apa yang sementara,

kujaga kau dari fana

seperti kujaga diriku sendiri, penyair sekedar

yang tak henti bertarung melawan kerbau dalam diri

dari tikaman mereka, yang mengira dirinya susuhunan,

dan sibuk merangkai huruf-huruf yang tak mereka pahami

lalu tenggelam dalam ilusi, “aku tingkir, aku tingkir,

pendiri dinasti, yang baka dalam babad-babad agung”

 

 

 

 

 

asmayawati

 

dia ingin dewa-dewa datang

dan berbisik bahwa semua hanya mimpi

namun dewa-dewa terlalu sibuk

menyiapkan upacara kematian mereka sendiri

dan persoalan cinta, barangkali, terlampau sepele

 

ia belum tahu bahwa tuhan impor telah tiba

dan karenanya, ia tak lagi berdoa

 

ia meyakinkan diri sendiri, berulang kali

bila cinta sekadar perkara kebiasaan

 

maka ia terima buaya putih itu merangkak di atas

tubuh telanjangnya, dan dibisikkannya

“jangan menyaru laki-laki tampan lagi

 

dan akan kau dapati aku sebagai pecinta

paling sungguh”

 

namun buaya itu mengira ia tengah berakting

 

 

 

 

 

pengging

 

aum singa yang tak pernah ada itu

masih bergaung dalam halaman kitab dari penyair

yang suka menyamarkan nama,

yang menolak tanggung jawab dari apa yang dituliskannya

 

“ia memang begitu,

kerap membayangkan diri sebagai tuhan,

tuhan kecil” lelaki itu menggumamkan kalimat

yang sengaja diabaikan oleh sang penyair

 

“ia juga, sesungguhnya, tak pernah

memberi tokoh-tokohnya pilihan”

 

maka ketika senapati para sunan itu tiba

ia singsingkan lengan bajunya

 

“kanjeng senapati jimbun mengutusku,” kata sang sunan

“sebab seperti gurumu, kau tenggelam dalam genangan kesesatan

dan menyangka dirimu allah”

 

ia ingin menjawab tidak

dan mengarahkan telunjuknya pada diri sang penyair

yang membunyikan kisah-kisah dari balik persembunyian

 

tapi, toh, ia tidak punya pilihan

 

maka ia persilakan wali dari kudus itu menggores

sikunya, sedikit saja, dengan belati tumpul

untuk menggenapkan cerita, mengikis yang mustahil dalam alur

 

dalam kitab itu

bahkan sang penyair mengiranya tak ada lagi

 

 

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

 

 

 

Editor Litera

The author Editor Litera

6 Comments

Leave a Response