close
zagora-1541152_1920

Berhubung Tuan Babak menganggap sekolah sebagai sistem yang mubazir belaka, maka Shahzad ditugaskan untuk mengajari dan mendidik aku dan Shirin (khusus untuk Shirin, istri kedua Tuan Babak sempat protes, “Kenapa gadis dusun itu tidak menenun lampas di lokakarya saja?”; Tuan Babak tak acuh dan terus berlalu).

 

Sejak itu aku dan Shirin ditugasi banyak hal oleh Shahzad: belajar berhitung, membaca dan menulis Persia dan sedikit-sedikit Arab juga Azeri, menghapal harga dan jenis barang jualan, membedakan kopi, gula, dan rempah yang bagus dengan yang buruk, dan kadang-kadang kami diajari berkuda dan menggunakan belati untuk melindungi diri. Shahzad juga bertindak sebagai guru membaca Al-Quran dan imam salat pengganti Tuan Babak. Pada waktu lenggang Shahzad akan menunjukkan koleksi kuda Tuan Babak dan kami pun diajari menunggang kuda berkeliling Isfahan. Mau tidak mau aku dan Shirin harus patuh pada Shahzad. Suatu hari aku bercanda bahwa segala yang tengah aku jalani ini tiada lain adalah latihan untuk menjadi “tangan kanan kedua” Tuan Babak dan Shahzad membalas, “Bukan, tapi untuk jadi tangan kananku.” Entah kenapa aku merasa agak senang dan tersipu-sipu mendengarnya.

Agak berbeda denganku, Shirin tidak menikmati tugas-tugasnya. Dia tidak cekatan, lambat belajar, dan sering melakukan kesalahan. Shahzad tentu tak serta-merta menegur Shirin, dan Shahzad bukan jenis yang bisa memarahi orang lain. Suatu kali Shirin merusak seperangkat porselin yang didatangkan langsung dari Cina dan mendapat makian kasar dari salah satu karyawan Tuan Babak. Istri kedua Tuan Babak yang mengintip dari dalam lokakarya memaki-maki dan ketika Tuan Babak muncul berusaha memanfaatkan kesempatan itu untuk menyingkirkan kami. Aku diam saja di samping Shahzad dan kulihat Shahzad pun tidak bisa melakukan apa-apa. Untungnya Tuan Babak tidak marah pada Shirin, dia cuma mengajak Shirin masuk ke ruangannya dan menasihatinya.

Malam harinya, di kamar kami, Shirin berkata padaku, “Kita harus memanfaatkan baik-baik kesempatan ini. Kita tidak bisa terus-terusan begini.” Aku tidak terlalu tahu apa yang Shirin maksud, yang jelas ucapannya itu tidak berkaitan dengan kerjanya, sebab dia sama saja malasnya dengan sebelum-sebelumnya. Tapi kemudian aku tahu apa yang diinginkan Shirin sewaktu menyaksikan dia dengan lancang dan genitnya mendekati salah satu pelanggan muda dan kaya raya. Pada kesempatan lain Shirin bahkan lebih berani lagi mengangkat gaunnya dan menyibakkan lututnya sambil mendekati seorang menteri dari Kartli yang datang bersama istri dan anak-anaknya. Para karyawan dan kedua istri Tuan Babak gerah melihat tingkah Shirin tersebut, sebisa mungkin mereka meluangkan tiap kesempatan untuk mencibir dan menyindir Shirin, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Tapi Shirin tak acuh dan terus melancarkan aksi-aksinya, berharap salah satu dari saudagar atau pelancong kaya, tua atau muda, yang datang itu, terjerat olehnya.

Shahzad tetap sabar menghadapi kebebalan Shirin. Dia tetap berusaha menunaikan tanggung jawabnya mengajari, mencoba menjelaskan ini itu kepada Shirin sekalipun perhatian kakakku meloncat ke sana-kemari. Shirin bahkan pernah terang-terangan meremehkan Shahzad yang ketika itu mengajarinya menakar berapa tuman yang bisa dia dapat dari rempah-rempah berdasarkan baunya, “Oh Shahzad, andai bau-bauan itu bisa membuatku langsung kaya raya ketika bangun besok pagi!”

Malam harinya kuberanikan diri untuk menegur Shirin, menyuruhnya untuk lebih hati-hati lagi dalam bersikap dan mengingatkannya agar menyadari baik-baik posisi kami sekarang ini. Alih-alih membalas teguranku Shirin malah membahas hal lain, “Kau tahu apa masalah kedua istri Tuan Babak itu? Masalahnya mereka tidak punya keturunan dan Tuan Babak pastilah mau keturunan. Tahu tidak, istri kedua Tuan Babak cuma diajari memintal dan menenun di lokakarya dan istri pertamanya tak diajari apapun selain duduk di harem dan mengisap pipa, sedangkan aku, seorang perempuan seperti mereka, diajari macam-macam seperti ini! Kau tahu maksudku? Ada yang spesial pada diriku.” Betul saja, dua hari setelah berkata demikian, ketika Tuan Babak tengah berbicara dengan Pêro Dias de Cabral dari Kedutaan Portugis, sedang tawar-menawar, Shirin memotong mereka, dan dengan geliat genitnya, bertanya pada Tuan Babak apakah ada yang bisa dia bantu. Tapi Tuan Babak tampak tak terlalu terpengaruh oleh aksi rayu-merayu itu. Dengan santainya Tuan Babak malah tersenyum dan memperkenalkan Shirin kepada Pêro Cabral. Shirin menawari tamunya kopi atau madat, dan tak lama kemudian dia kembali membawa kopi panas. Dua hari berturut-turut Shirin mencoba keberuntungannya pada Tuan Babak, tapi laki-laki itu bagai tak punya kepekaan sama sekali terhadap tingkah mengundang yang terang-terangan dipaparkan melalui bahasa tubuh kakakku. Istri kedua Tuan Babak yang mengikuti tiap-tiap aksi Shirin tertawa dan melemparinya hinaan, “Pemburu tuman murahan, sungguh menyedihkan!”

Namun, yang terjadi beberapa hari kemudian malah di luar dugaanku. Pêro Cabral datang kembali ke toko dan kali ini dia tidak mencari Tuan Babak sama sekali. Dengan bahasa Farsi yang terdengar kaku dan aneh, Pêro Cabral memanggil Shirin. Sekembalinya sore hari, Shirin tersenyum lebar dan meloncat-loncat kegirangan. Si Portugis menemui Tuan Babak, meminta maaf karena telah lancang membawa Shirin pergi dan meminta izin pada Tuan Babak untuk membawanya pergi lagi lain hari. Dan begitulah, hampir setiap hari Shirin pergi bersama Pêro Cabral dan kembali dengan cerita-cerita tentang kemajuannya, tentang betapa baiknya orang Portugis itu padanya, tentang janji laki-laki itu untuk menjadikannya perempuan Portugis. Suatu hari Shirin dengan girangnya bercerita bahwa Pêro Cabral baru saja berkata akan menikahinya, dua hari lagi dia akan pulang ke Portugis dan mengabarkan pada keluarganya bahwa dia akan menikahi seorang perempuan, dan sekembalinya barulah mereka akan menikah. Kukatakan pada Shirin kalau itu kedengarannya lebih rumit dari yang diceritakan, dan aku ragu keluarga orang Portugis itu mau begitu saja menerima Shirin. Tapi Shirin tidak peduli.

Besoknya ketika kami baru tiba di toko, Tuan Babak langsung mengabarkan kalau dia sedang menyiapkan perjalanan baru. Perjalanan tersebut akan memakan waktu berhari-hari: melewati Tehran, Qazvin, Soltaniyeh, dan langsung menuju Tabriz. Ada barang yang harus diantar, ada barang-barang baru yang mungkin menarik, dan ada peluang kerja sama yang cukup menggiurkan di sana. Dua hari lagi dan kami berdua akan ikut. Shirin tidak terlalu gembira mendengar kabar itu. Secara halus dia mencoba menolak, menawarkan alasan kalau dia perempuan dan sebaiknya tak ikut dalam perjalanan sepanjang itu. Tapi Tuan Babak berkata bahwa Shirin sendiri sudah pernah berkaravan dari Shiraz ke Isfahan dan perjalanan kali ini tak akan jauh bedanya. Tuan Babak tidak memberi kesempatan Shirin untuk beralasan lagi dan langsung masuk menuju ruangannya.

Shirin kesal dan berkata padaku kalau dia ingin tetap di Isfahan dan menunggu Pêro Cabral. Dia ingin menyambut kekasih Portugisnya serta kabar baik yang akan dibawanya. Shirin menggerutui Tuan Babak, menyebutnya jahat dan tidak adil, maka aku merasa perlu kembali mengingatkannya bagaimana nasib kami tanpa kemurahan hati Tuan Babak.

Dengan muka kusut Shirin tetap ikut dalam perjalanan kami. Kali ini aku dan Shirin mendapat unta sendiri, iring-iringan unta yang mengangkut barang-barang dagangan dan perbekalan lebih banyak daripada perjalanan kami sebelumnya. Aku membantu Shahzad menyiapkan semua itu sore hari sebelumnya dan memeriksa kelengkapannya lagi subuh besoknya. Ketika hendak berangkat sempat kudengar istri kedua Tuan Babak berbisik kepada istri pertama bahwa dia tidak setuju Shirin ikut serta. Menyadari aku berada di dekat mereka, kedua perempuan itu cepat-cepat menutup mulut dengan ujung kerudung mereka dan bersungut-sungut pergi.

Meski dua malam sebelumnya sempat berkata hendak nekat kabur dari kediaman Tuan Babak dan menunggu di Gedung Kedutaan Portugis sampai kekasih hatinya datang, Shirin tetap muncul pada hari keberangkatan. Pagi itu dia langsung menaiki untanya dan abai padaku dan Shahzad yang sedang susah payah mengangkat dan mengikat buntalan-buntalan besar ke punuk tiap unta. Muka masam Shirin yang nyata langsung hilang dan berganti canggung sewaktu Tuan Babak dengan begitu ceria menyapanya dan menanyakan apakah dia sudah siap berangkat. Setelah Tuan Babak mengingatkan kembali beberapa hal kepada karyawan yang akan menjaga tokonya, kami pun berangkat dari Pasar Qarsariyya dan langsung keluar gerbang kota. Aku dan Shahzad memimpin di depan menyusuri setapak, Tuan Babak tepat di belakang kami, dan Shirin agak menjauh bersama unta-unta pengangkut barang. Ketika sudah beberapa langkah dari Isfahan, Tuan Babak tiba-tiba berteriak, “Shirin, ucapkan selama tinggal dan sampai jumpa lagi kepada ‘separuh dunia’,” tapi Shirin tetap diam saja di belakang. Begitulah Shirin sepanjang hari itu. Dan karena Tuan Babak sepertinya tidak cukup peka, dia terus saja berseru-seru dan mengikutsertakan Shirin pada percakapan kami.

Barulah ketika hampir petang, Shirin maju dan mendekat padaku, malu-malu dia berkata bahwa dia kehausan dan kantung airnya sudah kosong sejak siang tadi. Tanpa menunggu izin dariku, Shirin langsung menyambar kantung air di pinggangku. Melihat Shirin menegak isi kantung airku tanpa sisa, aku spontan marah dan menyebutnya kekanak-kanakan. Tapi Tuan Babak langsung muncul, menengahi kami dan berkata bahwa di depan ada karavansara, tak jauh lagi, kami—Shirin terutama—cuma perlu bersabar.

Kami tiba di karavansara tersebut hampir bersamaan dengan rombongan lain yang datang dari arah berlawanan. Mereka pedagang Turki dan menyapa kami dengan bahasa Farsi yang fasih ketika berjumpa di lobi. Ketika mereka sudah jauh di halaman, Tuan Babak mendesis kepada kami, “Orang-orang Turki sialan itu! Lihatlah betapa culasnya mereka menggunakan bahasa Farsi; tentara-tentara kita sekarang sudah berlogat Turki semua dan sekarang mereka mau mencomot perdagangan juga!”

Setelah salat berjamaah, kami memutuskan untuk makan malam. Ketika kami tiba di kedai, rombongan Turki tadi sudah ada di sana dan kami pun duduk di meja yang cukup berjarak dari mereka. Seorang pria yang sepertinya pemimpin mereka menyapa kami dan Tuan Babak membalas ramah sebelum diam-diam mencibir bagaimana bisa orang-orang Turki itu cocok dengan hidangan-hidangan agung Safawi dan kenapa mereka tidak pulang saja ke kampung mereka di Utsmani sana. Ketika itulah Shirin kembali bertingkah,  menoleh ke arah salah satu pemuda di rombongan tersebut dan mulai meragakan gerak-gerik tubuh yang genit dan mengundang. Sebegitu terang-terangannya tingkah Shirin di mataku dan Shahzad, tapi Tuan Babak tetap santai, melanjutkan lawakan sambil sesekali menyindir puak lawan di seberang. Bahkan ketika rombongan tersebut hendak pergi, Shirin tetap meneruskan gelagatnya, menguntiti sasarannya sampai si pemuda Turki hilang dari pandangan. Shahzad yang ketika itu sepertinya sudah gatal terang-terangan menembakkan sindiran, “Sebaiknya aku cepat habiskan makananku sebelum dicemari birahi di meja ini.”

 

Cerita Bersambung hari setiap Kamis! Cerita kali ini diisi oleh Rio Johan – penyuka buku, film, dan video game. Buku pertamanya, kumpulan cerpen Aksara Amananunna (KPG, 2014), termasuk sepuluh besar Kusala Sastra Khatulistiwa dan terpilih sebagai Buku Prosa pilihan Tempo. Pada tahun 2016 tinggal di Berlin selama dua bulan untuk program residensi penulis dari Komite Buku Nasional. Novel hasil program tersebut baru saja terbit dengan judul Ibu Susu.

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response