close
henna-2545152_1280

Shirin tidur di tempat khusus perempuan, sementara aku menghuni sebuah kamar yang lumayan besar dengan tempat tidur yang cukup untuk dua orang. Sebelumnya aku sempat berkata kepada Tuan Babak kalau aku bisa sekamar dengan Shahzad untuk menghemat pengeluaran. Entah karena dorongan apa, mulutku spontan saja mengucapkannya.

Tuan Babak menolak dan berkata kalau Shahzad akan tidur di kamar lain. Ketika aku diam-diam mengikuti Shahzad dari belakang, barulah aku tahu kamar lain yang dimaksud ialah kamar Tuan Babak sendiri. Firasatku langsung membawaku kembali pada apa yang aku lihat di dalam tenda Tuan Babak pada perjalanan pertama kami. Dan dengan begitu jelas aku mulai mengkhayalkan semua kemungkinan yang bisa terjadi pada Shahzad di dalam kamar Tuan Babak, sampai akhirnya aku tertidur dan mendapati sela pahaku sudah basah ketika bangun.

Pagi-pagi sekali kami melanjutkan perjalanan, lebih dulu dari rombongan Turki yang ketika itu sedang sibuk membenahi tambahan bekal perjalanan mereka. Shahzad menyempatkan diri menggoda Shirin, menyindir apakah Shirin tidak ingin memberikan tanda perpisahan yang tak terlupakan kepada kawan-kawan Turki, atau semacam itu. Aku tidak betul-betul memerhatikan sebab kepalaku masih bersarang sisa-sisa lamunan seputar Shahzad dan Tuan Babak.

Kami terus melaju mengikuti jalur yang dipilih oleh Shahzad, melintasi bukit-bukit gersang; sesekali angin kecil berhempus, menampar kulit bersama debu dan panas yang di bawahnya. Shirin sepertinya sudah mulai mampu berpikir sehat untuk tidak bertingkah kekanak-kanakan dan menghabiskan isi kantung airnya sekaligus. Petangnya, karena tidak berhasil mencapai desa terdekat dalam waktu yang sudah direncanakan, kami terpaksa berkemah di bawah naungan ngarai kokoh. Shahzad mendapat giliran jaga pertama dan aku diam-diam mengintip dari balik tenda. Shirin beberapa kali bertanya apa yang aku lakukan, tapi aku tidak menjawab, dan pun pada akhirnya tertidur sementara aku terus mengintip dan berharap sesuatu bakal terjadi. Dan sesuatu memang terjadi tak lama kemudian: sayup-sayup kudengar suara memanggil dari arah tenda Tuan Babak. Kemudian, alih-alih terus berwaspada di dekat api unggun, kulihat Shahzad menoleh, berdiri, lalu melangkah menuju tenda Tuan Babak. Sejenak aku tetap tertegun menatapi ruang kosong di luar tendaku, tempat sosok Shahzad sebelumnya ada dan kini tengah bersemayam dalam genggaman Tuan Babak. Aku mencoba merenungkan semua itu dan mendapati ada dua sosok Tuan Babak dalam kepalaku: Tuan Babak yang baik dan saleh, yang petang tadi menjadi imam salat kami; dan yang begitu dikuasai kehausan akan Shahzad. Aku mencoba memahami bagaimana kedua sosok tersebut bisa mewujud menjadi satu keutuhan Tuan Babak yang begitu kuhormati, dan karena pada satu sisi perhatianku terus mengarah pada gambaran tubuh Shahzad yang liat dan siap dijajahi tangan-tangan Tuan Babak, aku menyerah, satu-satunya yang bisa kusimpulkan adalah ada satu sisi dari kesetiaan Shahzad pada Tuan Babak yang tidak aku pahami sama sekali, dan aku merasa bersedih atas itu. Aku pasrah, kubiarkan sesuatu dalam diriku memuncak dan menyisakan jejak pada kelangkangku. Lalu aku pun berbaring dan tertidur tanpa peduli pada keringat dan sisa lengket di tubuhku.

Paginya, seusai salat subuh berjamaah. Aku maju mendekati Tuan Babak, sambil menunduk kuraih tangannya, lalu kucium pelan. Ketika itu aku tidak betul-betul yakin apa yang aku harapkan dari aksi spontan itu. Belakangan setelah kurenungkan lagi, barangkali aku sekedar ingin Tuan Babak betul-betul menyadari keberadaanku; barangkali dengan begitu satu gairah banal dalam diriku dapat terpenuhi: untuk merasakan apa yang dirasakan Shahzad. Penjelasan itu agaknya terdengar cukup aneh bahkan untukku sendiri, tapi itulah satu-satunya yang dapat kupikirkan tentang keputusanku ketika itu.

Sejak itu aku mulai misi mencuri perhatian Tuan Babak. Aku akan menyimak perkataannya dengan seksama, kata per kata, meski sekadar gurauan kosong belaka, bukan karena aku ingin betul-betul memahami tiap-tiap ucapan yang keluar dari mulutnya, tapi semata demi harapan Tuan Babak dapat menangkap mataku yang lurus menatap matanya dan menangkap apa yang aku inginkan darinya; aku akan senantiasa mengecup telapak tangan Tuan Babak, sesudah salat dan sebelum menuju pembaringan masing-masing, sesudah makan dan sebelum memulai kembali perjalanan; siang pada hari ketujuh, ketika kami tiba di Kashan dan baru saja menitipkan unta-unta di penginapan, aku bahkan dengan canggung menyampaikan suatu pernyataan terima kasih dan syukur yang janggal kepada Tuan Babak atas segala yang telah dia berikan kepadaku dan kakakku, yang sia-sia dan malah dimaknai sebagai pertanda kedewasaan oleh Tuan Babak sendiri (dan oleh Shahzad disalahartikan sebagai sikap salah tingkah akibat terlalu lama terpapar panas). Betapapun aku berusaha, tak kunjung juga kudapatkan tanda-tanda keberhasilan; sikap Tuan Babak kepadaku tetap tak ada bedanya, ketakacuhan yang sama dengan yang telah beliau tunjukkan kepada Shirin menjulang tinggi menghalangiku. Aku putus asa, dan dalam kenelangsaan aku malah merasa telah melakukan hal yang tak jauh beda dengan Shirin. Tiba-tiba aku merasa jahat dan mesum; kutanamkan bahwa setidak-tidaknya yang kulakukan tidak mencoreng rasa segala kebaikan hati yang telah Tuan Babak kucurkan kepadaku, suatu pembenaran yang membuatku malah merasa mereput di hadapan Shirin.

Aku seharusnya membantu Shahzad memasok perbekalan, tapi yang kukerjakan di pasar cuma melamun meratapi kemalangan. Sambil melangkah melintasi toko demi toko, Shahzad terus bercerita panjang lebar tentang khatifah khas Kashan dan perbedaan corak dengan buatan Qum, Nain, dan Isfahan; tak sekalipun dia protes padaku—Shahzad yang baik itu.

Kami meninggalkan Kashan keesokan pagi dan tiba di Qum lima hari selanjutnya. Berhubung Tuan Babak tidak ingin singgah lama dan ingin cepat-cepat tiba di Tehran yang kurang lebih tinggal empat hari perjalanan, kami cuma istirahat sekadarnya di penginapan murah di Qum. Sepanjang itu aku mencoba mengakrabi Tuan Babak, memancingnya bicara dan dia pun akan bercerita panjang lebar tentang ketegangan-ketegangan ketika memasuki perbatasan Utsmani, atau dihadang orang-orang Darazi di Jabal Amil. Pada satu titik tingkahku tersebut begitu banal sampai Shirin berkata, “Kau seperti orang pesakitan yang manja saja!” Aku agak tersinggung tapi tidak membalasnya sama sekali.

Dalam perjalanan dari Qum menuju Tehran, di atas unta aku kembali memancing Tuan Babak, dan dia bercerita tentang perjumpaannya dengan budak-budak Yunani yang dikirim ke Mesir melalui Semenanjung Anatolia. Sebagian dari mereka merupakan anak laki-laki yang masih begitu belia, mereka akan menjadi pembantu tentara atau pelayan di pemandian, dan Tuan Babak merasa iba. Ketika kutanya apa yang membuat Tuan Babak secara khusus bersedih kepada para anak laki-laki muda tersebut, dia terdiam cukup lama, lalu menoleh kepadaku dan tanpa kuduga menjawab, “Karena mereka muda dan tampan sepertimu, Anakku. Apa yang telah hidup tawarkan kepada mereka sungguh sesuatu yang sia-sia.”

Jawaban tersebut menumbuhkan sedikit harapan padaku, membuatku menunggu-nunggu suatu pertanda bahwa Tuan Babak tahu kalau aku sudah siap untuknya. Aku duduk bersila di kedai makan di Qum menghadap sajian lengkap hidangan khas wilayah barat yang disiapkan khusus oleh kerabat baik Tuan Babak, seorang Azeri kaya raya yang haremnya sarat oleh perempuan berbagai usia; aku duduk langsung berhadap-hadapan dengan Tuan Babak, dipisahkan oleh piring-piring berisi shekerbura, qurabiya, dushbara yang disusun sedemikian rupa, tapi Tuan Babak lebih tertarik menghabiskan waktu bernostalgia dengan kawan lamanya, bercerita tentang bagaimana tuan kami itu telah betul-betul berjasa membantunya di masa silam sewaktu terjadi penjagalan besar-besaran orang Sunni, juga tentang bagaimana pria Azeri tersebut membantu tuan kami keluar-masuk wilayah Utsmani; peluangku mustahil ada tapi aku terus menyimak dan menatap Tuan Babak sampai-sampai aku hampir luput menjawab tawaran dovga atau sekedar teh rempah dari tuan rumah.

Kami bermalam di kediaman megah laki-laki Azeri itu. Penghuni harem dan para pembantu yang kesemuanya berpakaian berlapis-lapis—keduanya dibedakan oleh kerumitan corak dan kemeriahan ornamennya—menyambut kedatangan kami. Shirin dibawa ke kamar perempuan oleh beberapa pembantu, sementara kami sisanya mendapat satu bungalo besar yang terpisah dari bangunan utama. Bagian dalamnya berupa satu ruangan segi delapan besar yang penuh dengan dinding berukiran dan berkaligrafi, lukisan-lukisan miniatur dipajang di beberapa tempat, dan khatifah yang menurut Tuan Babak didatangkan dari berbagai penjuru, sekilas tampak disusun secara acak tapi memberi kesan unik pada ruang peristirahatan tersebut; satu permadani besar bercorak pohon raksasa berwarna biru dengan puluhan, atau ratusan, jenis tanaman dan binatang kecil di sekitarnya terbentang tepat di tengah-tengah. Aku berbaring beralas bantal bersulam di atas permadani tersebut, mataku terkagum-kagum menatapi muqarnas yang menghiasi bagian dalam kupel di atas; “Mirip sarang lebah,” kata Shahzad, “dan semuanya mengerucut mengelilingi sarang induknya yang paling besar.”

“Di sinilah Husin al-Akbar bersenang-senang dengan salah satu atau lebih penghuni haremnya tiap malam,” kata Tuan Babak tentang kawan Azerinya, dan ketika itulah aku sadar kalau beliau sudah berbaring di sampingku, menatapiku dengan pandangan yang sudah berhari-hari ini kutunggu-tunggu. Shahzad menjauh, memisahkan diri di salah satu sudut ruang dan berbaring memunggungi kami. Sementara jari-jari Tuan Babak menjelajahi tubuhku sambil membuka lapis demi lapis pakaianku, aku terus menatap Shahzad, memikirkan apa yang dirasakannya sekarang, apa yang dirasakannya ketika Tuan Babak melakukan hal yang sama kepadanya. Sisanya terjadi begitu saja; bersama nyeri yang dibawa Tuan Babak pada tubuhku, datang juga nikmat dan syahwat, dan ketika semuanya mulai mengarah pada lonjakan puncak, aku kembali mencoba mencari Shahzad, tapi sinaran lilin-lilin di dinding bagai membiasi mataku, membuat sosok Shahzad bagai begitu jauh dan kabur.

 

Cerita Bersambung hari setiap Kamis! Cerita kali ini diisi oleh Rio Johan – penyuka buku, film, dan video game. Buku pertamanya, kumpulan cerpen Aksara Amananunna (KPG, 2014), termasuk sepuluh besar Kusala Sastra Khatulistiwa dan terpilih sebagai Buku Prosa pilihan Tempo. Pada tahun 2016 tinggal di Berlin selama dua bulan untuk program residensi penulis dari Komite Buku Nasional. Novel hasil program tersebut baru saja terbit dengan judul Ibu Susu.

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response