close
Galeri

Diskusi Buku dengan Secangkir Kopi

Foto Diskusi Rida 2

Penyair Rida K. Liamsi meluncurkan dan mendiskusikan bukunya yang bertajuk Secangkir Kopi Sekanak di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Rabu (15/11).

Lantunan Andong khas Gayo meningkahi pembacaan puisi penyair L.K. Ara tentang Serambi Mekah karya Rida K. Liamsi.

Selain L.K. Ara, penyair kelahiran Dabosingkep, Provinsi Kepulauan Riau, 17 Juli 1943 itu juga mengundang penyair lain seperti Rini Intama, Asrizal Nur, Ewith Bahar, Jimmy S. Johansyah dan Hoesnizar Hood di momen peluncuran buku puisinya di Perpustakaan Nasional Lantai 2 Jl. Merdeka Selatan 11 Jakarta Pusat.

Membuka acara, Rinidiyanti Ayahbi, melantun dengan petikan gitar karya Rida dalam sajian musikalisasi puisi.

Setelah itu penyair Sutardji Calzoum Bachri meluncurkan buku Rida. Lelaki yang berjuluk Presiden Penyair itu mengungkap tugas penyair yang membangkitkan kata-kata yang semula terendam lalu mencipta sejarah dan membuat kata-kata menjadi hidup.

Di acara, juga ditayangkan kehidupan kepenyairan Rida yang bernama asli Ismail Kadir. Kedekatannya dengan Ibrahim Sattah dan Sutardji Calzoum Bachri kemudian membuat lelaki yang dikenal sebagai pengusaha ini terus menulis dan karyanya dimuat di berbagai media massa, membaca di beberapa tempat dan dibukukan.

Tentang proses kreatif, pada momen diskusi, Rida mengatakan bahwa ketika menjadi pengusaha, dia mengaku setiap tahun selalu saja ada yang dikerjakan membuat perusahaan. Ketika tak ada ruang untuk membuat perusahaan maka dia pun berniat untuk membuat buku setiap tahunnya.

“Itu saya lakukan untuk mengobati kegelisahan saya, mediumnya adalah buku. Saya tak terlalu produktif. Tempuling itu puisi hampir 25 tahun. Kalau ada puisi tak bagus maka saya drop atau tarik kembali. Di buku ini pun sempat 29 puisi lalu saya cari kembali untuk menjadi 30 puisi,” kata pendiri Yayasan Hari Puisi juga lembaga penggerak kebudayaan seperti Yayasan Sagang dan Yayasan Jembia Emas.

Dia pun mengatakan bahwa menulis puisi tak selalu di tempat sepi, bisa saja dia menulisnya di warung kopi. “Saya terus menulis puisi, tak akan berhenti. Menulis puisi sampai mati,” paparnya.

Tentang Sejarah dan Anak Muda

Diskusi buku sesi pertama Secangkir Kopi Sekanak dimoderatori Sofyan RH Zaid,  menampilkan Ahmadun Yosi Herfanda dan Hasan Aspahani.

Ahmadun mengatakan, dalam buku ini Rida dominan mengangkat sejarah. Puisi ini menurutnya hampir kesemuanya disajikan dalam bentuk puisi naratif dan dalam strukturnya disajikan seolah berbentuk paragraf. “Pak Rida banyak menulis sejarah karena minatnya ke sana. Ini berpeluang untuk abadi sebagaimana abadinya puisi,” ujarnya sambil menyebut penyair Leon Agusta dan Chairil Anwar sebagai penyair yang kerap mengangkat tema sejarah.

Meski banyak menyerap bahasa Melayu, dalam pola pengucapan, menurut Ahmadun, Rida tak lagi mempertahankan pola pantun melainkan nuansa kontemporer yang terasa sekali. “Rida membebaskan ikatan struktur teks terutama rima pantun a-b-a-b. Kalau puisi diibaratkan gadis, puisi Rida tak lagi mengenakan kostum Melayu. Jadi Melayukah puisi ini? Lalu apakah sastra Melayu harus pantun dan gurindam, bagaimana dengan puisi yang kontemporer?” katanya, retoris.

Penyair Hasan Aspahani, membuka pendapat dengan mengutip dari sajak Chairil Anwar bertajuk “Rumahku”. “Sajak adalah rumah penyair, kita dari luar dapat melihat penyair lagi ngapain. Seolah Chairil berkata, saya dapat melihat ke luar tapi hai pembaca, kalian pun dapat melihat ngapain saya di dalam. Meski kerap dikatakan, sajak tak selalu berhubungan dengan kehidupan penyairnya, tapi pendapat Chairil dapat dilakukan,” paparnya.

Di “rumah”nya pada kumpulan puisi Tempuling, dapat dilihat bagaimana seorang Rida. Kehidupan laut, ombak, narasi maritim, nampak dalam karya. Di buku puisinya yang kedua, bertajuk Perjalanan Kelekatu, terlihat perjalanannya yang mulai mengglobal seperti kunjungan ke Gedung Putih atau ke tempat lain, meski tak semua tempat dia tulis dalam bentuk sajak.

“Pada buku ketiga Secangkir Kopi Sekanak, pada puisi Kucing Musim Sakal membuat saya ambil kesimpulan bahwa penyair berusia 74 tahun ini sama sekali tak terkesan tua. Pada puisi itu terkesan (ditulis) anak muda, lincah bahkan tak adanya melulu bicara soal kematian. Ada sedikit terselip hal itu, tapi ditulis tetap bersemangat dan tak dalam suasana dicekam maut,” Hasan menambahkan.

Pembicara lain, Fakhrunnas MA Jabbar dan Kurnia Effendi yang mengisi diskusi sesi kedua, juga mengulik teks buku Secangkir Kopi Sekanak sekaligus membicarakan proses kreatif karyanya, sekaligus interaksi Rida dengan kemelayuan.

Kurnia Effendi mengatakan bahwa karya Rida bertema intens mengangkat warna lokal yang justru menjadi kekhasan sekaligus kekuatan dia. Kekuatan tutur dan melodius dengan memunculkan kata-kata arkhaik, denyut kemelayuan nampak dalam puisi Rida, dijabarkan oleh Fakhrunas MA Jabbar. “Hal lain yang nampak adalah semangat orang yang meski telah dikalahkan tetap berjuang, nafas dan semangat perlawanan selalu nampak di dalam karyanya,” pungkas Fakhrunas. (sihar ramses simatupang)

 

 

*Foto oleh Kurnia Effendi dan Sihar Ramses Simatupang

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response