close
indian-lady-1309048_1920

Di Isfahan Tuan Babak bergegas menyuruh aku dan Shahzad membongkar muatan lalu menyimpan dan menatanya di toko, lalu menghilang entah ke mana—jelas Tuan Babak tidak punya rencana pasti dengan barang-barang yang dia borong tersebut, dan menurut Shahzad ini bukan tabiat beliau. Sorenya, ketika aku dan Shahzad sedang begitu sibuk di toko, Tuan Babak langsung masuk ke lokakarya, menemui istri keduanya dan membawanya pulang; dari para pembantu yang kutanyai, ada suatu pembicaraan rahasia dan serius antara Tuan Babak dan kedua istrinya di harem.

Pada makam malam keesokan harinya barulah Tuan Babak, yang sekarang sudah jauh lebih tenang dan kembali tampak bijak dan berwibawa, menuturkan niatannya untuk menjadikan Shirin sebagai istri ketiganya. Dan yang jauh lebih mengejutkan lagi, Tuan Babak menjelaskan kalau Shirin sudah menerima pinangan tersebut di Tehran, untuk itu dia merasa bersalah sebab telah mendahului restu kedua istrinya dan merasa perlu mengucapkan terima kasih dan puji syukur yang berlebihan kepada mereka.

Malamnya aku bertanya pada Shirin tentang keputusannya dan dengan singkat dia menjawab bahwa semuanya sudah dipikirkan secara matang. Sewaktu aku bertanya tentang Pêro Cabral, dia diam saja dan aku perlu memancing lebih jauh lagi dengan bertanya apakah ini berkaitan dengan surat yang dia terima di Tehran.

“Pêro Dias de Cabral tidak akan kembali dan tidak akan menjemput dan membawaku keluar dari nasib ini,” jawab Shirin dingin.

Dan ketika aku hendak bertanya lagi, Shirin langsung memotong dan dengan agak kesal menegaskan bahwa selama ini akulah yang menyuruhnya untuk berterima kasih dan menunjukkan bakti kepada Tuan Babak; aku tidak tahu harus berkata apa lagi setelah itu

Pernikahan Shirin disiapkan dalam waktu singkat tapi megah dan besar-besaran. Setelah ijab yang begitu penuh sorak-sorai (Shirin berpura-pura malu dan perlu ditanya kebersediaannya menjadi istri sebanyak tiga kali, dan orang-orang perlu menyeru-nyerukan guyonan, sebelum akhirnya menjawab iya dan seisi ruangan pun melengking kegirangan) dan serangkaian upacara adat lainnya, pesta besar-besaran digelar tujuh hari tujuh malam.

Sepanjang itu kediaman Tuan Babak selalu terbuka dan undangan-undangan dari seluruh penjuru kota bebas masuk dan mencicipi jamuan-jamuan yang dimasak empat kali sehari. Sutra paling mahal didatangkan langsung dari Abrisham dan dibentang sebagai pembuka jalan menuju perjamuan mereka; sepasang kandil tinggi dengan dipasang di pangkal kain tersebut dan lilin besarnya dibiarkan terus menyala sampai pesta usai; di belakangnya berjajar dulang berisi beragam rumput dan rempah yang aromanya menjejali ruangan; gula-gula dan manisan; anglo kecil; roti berkaligrafi dan roti-roti lainnya; telur-telur berhias; badam, kenari, dan kemiri; delima, apel, dan rumpunan anggur merah; gentong yang penuh oleh emas dan perhiasan; air mawar dan sari mawar yang baunya ikut bercampur di ruangan; semangkuk madu di mana Tuan Babak akan menjilat madu dari jari Shirin dan Shirin dari jari Tuan Babak; Al Qur’an dan buku-buku puisi pilihan Tuan Babak; kain-kain sutra lainnya yang didatangkan dari berbagai penjuru negeri, saling bertumpuk di atas kain sutra utama. Tujuh pasang setelan baru lengkap dengan tujuh jenis turban mahal juga disiapkan untuk aku dan Shahzad, dan sepanjang pesta itu aku terus memperhatikan Shirin dan Tuan Babak yang duduk bersamping-sampingan: seharusnya aku merasa bahagia, setidak-tidaknya untuk Tuan Babak, tapi entah kenapa aku justru menahan sedih.

Malam ketika semua upacara yang panjang dan melelahkan itu selesai, kuceritakan pada Shahzad kalau aku tak yakin dengan pernikahan tersebut; tapi aku tidak menjawab apa-apa ketika Shahzad menanyakan alasanku. Aku terdiam cukup lama, kemudian Shahzad mendekatiku, meraih mukaku dan mengecup bibirku. Aku kaget, tapi ketika aku hendak membalas bibirnya, Shahzad malah menjauh dan berkata, “Aku tidak mau mengkhianati Tuan Babak.” Aku kecewa dan merasa yang diucapkannya barusan tidak adil, tapi aku tidak bisa berkata apa-apa.

Sejak Shirin resmi menjadi penghuni harem Tuan Babak, aku jadi jarang bertemu dengannya. Shirin tak lagi berkeliaran di toko dan lebih banyak menghabiskan waktu di lokakarya; dia tak lagi mengunjungi kamarku dan tak berkata banyak sewaktu makan malam, salat, atau sekedar berpapasan, belakangan, sebagaimana kedua istri Tuan Babak, dia bahkan perlu mengenakan jubah besar dan kerudung ketat—dua hal yang tak pernah menempel pada tubuhnya sebelumnya—tiap kali hendak berpergian ke luar. Suatu malam Shahzad datang ke kamarku dan berkata bahwa Tuan Babak memintaku ke kamarnya. Aku tidak tahu harus merasa bagaimana, aku tahu apa yang akan Tuan Babak lakukan padaku dan untuk itu aku merasa bersalah pada Shirin, tapi ada sesuatu dalam diriku—terlepas dari hal-ihwal seputar Shirin dan Shahzad yang sekarang malah jauh dari harapanku—yang tidak kuasa menolak Tuan Babak; ada bagian dari diriku yang merasa muak sebab telah dibutakan oleh rasa baktiku sendiri kepada Tuan Babak dan membiarkan semua itu terjadi begitu saja padaku, tapi ada bagian lain yang terus-menerus membiusku dengan segala kebaikan-kebaikan yang telah kuterima dan membuatku perlu merasa bahagia mengabdi kepada Tuan Babak. Pada akhirnya aku tetap mamenuhi panggilan Tuan Babak—juga panggilan-panggilan pada malam-malam selanjutnya—dan dengan sukarela menerima segala perlakukan Tuan Babak atas tubuhku.

Musim gugur baru akan dimulai dan Tuan Babak berkata akan melakukan perjalanan lagi, ketika itu belum genap satu bulan sejak pernikahannya dengan Shirin. Ada barang-barang yang harus diantar ke Yazd dan beliau juga berniat memasok beberapa barang baru dari Kerman. Parjalanan tersebut terasa berbeda bagiku, bukan hanya karena Shirin tak lagi diikutsertakan, tapi juga karena semua hal yang telah kualami secara keseluruhan. Aku merasa telah terbentang padang pasir yang begitu luas antara aku dan Shahzad, sumber dari segala dahaga dan siksa yang harus kutekan dalam-dalam; segala kebaikan dan ketulusan yang ditunjukkan Shahzad malah semakin membuatku sesak.

Aku merasa situasi ini malah membuat Tuan Babak makin leluasa menggilaiku; ketika aku berdua dengannya, dia akan bertindak sehalus mungkin, tangan lembutnya akan menghiasiku dengan macam-macam mainannya, dan tak lama kemudian dia akan meremasku dengan kasar; dia akan mencengkeram, memeras, menghimpit, dan mendesak tubuhku sekeras yang dia mampu. Setelah usai Tuan Babak sering memintaku tetap bersamanya, berbaring berdua dengannya, dan menemaninya sampai pagi.

Di karavansara terakhir sebelum kami tiba di Kerman, Tuan Babak bercerita ketika kami sedang berbaring menunggu syahwat dan keringat masing-masing kering:

Tuan Babak lahir di Tabriz dan baru berumur sembilan tahun ketika Shah Ismail mengutuk para pengikut Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Ayahnya seorang ulama, cendekiawan, dan seniman Sunni, dan tak bisa berbuat banyak sewaktu semua yang dia miliki disita untuk pembangunan masjid Syiah; Tuan Babak bahkan percaya kalau ayahnya ikhlas ketika itu. Tapi dia tidak yakin—atau tidak mau meyakini—bahwa ayahnya tetap tulus hati ketika Shah Ismail menggunakan pedangnya untuk menyebarluaskan Syiah di negeri ini. Tuan Babak kecil menyaksikan sendiri masjid-masjid Sunni dibakar dan orang-orang yang menolak masuk Syiah dianiaya, dipenjara, diusir, bahkan dieksekusi langsung untuk dijadikan contoh. Sebelum keadaan makin memburuk, Tuan Babak dilarikan ke Soltaniyeh bersama seorang kerabat, seorang paman yang sudah menyerah dan melepaskan keyakinan Sunni-nya. Tuan Babak aman bersama pamannya, seorang pedagang yang kelak akan mewariskan segala kecapakan perdagangan padanya, tapi dia tidak dapat tidak merisaukan nasib keluarganya di Tabriz. Oleh pamannya, Tuan Babak diajari apa-apa saja yang harus dikatakan dan apa-apa yang pantang diucapkan ketika berhadapan dengan petugas-petugas pemeriksa tiap kali mereka keluar masuk kota. Ketika singgah di Shirvan, Tuan Babak menyaksikan secara langsung pembantaian orang-orang Sunni, dan dia kembali teringat pada keluarganya yang tak dia tahu lagi bagaimana nasibnya. Tuan Babak muda merasakan geram dan kalut, dan seorang  tentara Shah mendekat dan menyuruhnya melafalkan syahadat lengkap dengan nama dua belas imam, untungnya Tuan Babak berhasil melakukannya dan pamannya langsung dengan cerdik membawa mereka keluar dari kota itu sebelum keadaan semakin tak keruan.

Ayahnya tetap bersikeras menolak mengikuti ajaran Syiah dan sebagai salah satu pemuka Sunni di Tabriz, dia dijadikan contoh untuk orang-orang. Sementara ibunya konon mencoba melarikan diri menuju tanah orang-orang Kurdi bersama istri-istri ayahnya yang lain; itu kabar terakhir yang Tuan Babak dengar dan dia pun tak pernah mendapat kesempatan sama sekali untuk berjumpa dengan mereka.

Dari ayahnyalah Tuan Babak mengenal keindahan puisi: dari puisi-puisi pengobatan—begitu sang ayah menyebutnya—Abu Ali Sina sampai ghazal-ghazal Sufi yang sarat akan kecabulan tersembunyi; dari syair-syair kuno Akhmeniah, sajak puja-puji Sasaniyah, sampai nazam-nazam populer Safawiyah; dari kata-kata mulia dan luhung Asjadi sampai kecintaan Rudaki pada alam; puisi-puisi Sana’i, Nizami, Anvari, Shirvani, Sadi, Hafiz Shirazi, dan nama-nama yang tak mungkin dia sebut semuanya. Kadang-kadang, ayahnya akan membacakan beberapa lembar atau baris untuknya sambil memberi uraian dan tafsir atau malah membuka diskusi untuk perenungan. Pada satu kesempatan, ayahnya membacakan beberapa halaman tentang Siavash, seorang pangeran Majusi yang menunggangi kuda berwarna malam dan menolak kecamuk gairah Sudabeh, ibu tirinya, atas dirinya. Tak terima, sang ibu tiri lantas memalsukan pemerkosaan dan keguguran di mana Siavash yang dituding sebagai dalang utamanya. Siavash dituntut membuktikan ketidakbersalahannya dengan mengendarai kudanya menembus kobaran api raksasa, dan manakala berhasil, sang Shah, ayahnya, malah bersikap semakin dingin terhadap dirinya demi mempertahankan Sudabeh, putri kerajaan sekutu di Timur. Pangeran malang itu pun memutuskan untuk mengasingkan diri dan pada akhirnya berakhir nahas di negeri asing.

Tuan Babak tidak betul-betul ingat apa yang terjadi selanjutnya; yang dia yakini, ayahnya tidak melanjutkan epos tersebut dan dia menatap balik ayahnya, mengira barangkali beliau sekadar memberi jeda untuk perenungan. Tapi jeda itu terlalu lama dan tatapan ayahnya terlalu ganjil, dan Tuan Babak malah bercerita bahwa ayahnya memang sering melantunkan ghazal-ghazal tentang kerupawanan anak laki-laki yang membawakan lilin dan anggur, tentang rasa iba atas tubuh indah anak laki-laki malang Utsmani yang disiksa oleh pasukan Shah, tentang anak laki-laki gagah berani yang menunggangi kuda sembrani, tentang anak laki-laki dengan bibir semerah rubi, tentang anak laki-laki yang sanggup menjajah keteguhan hati dan keyakinan orang-orang—Tuan Babak merasa seakan-akan semua bait itu ditulis semata-mata hanya untuknya sebagaimana tatapan ganjil ayahnya ketika itu.

“Dia melakukannya dengan lembut dan pelan,” kata Tuan Babak, “Dia yakinkan bahwa aku akan baik-baik saja dan apa yang akan dia lakukan semata-mata adalah pendidikan yang dilakukan seorang ayah kepada anaknya.”

Tiga hari setelah itulah ayahnya mengirim pamannya ke Soltaniyeh. “Sang Guru benar-benar memanfaatkan kesempatan terakhirnya,” gurau Tuan Babak.

Cerita Bersambung hari setiap Kamis! Cerita kali ini diisi oleh Rio Johan – penyuka buku, film, dan video game. Buku pertamanya, kumpulan cerpen Aksara Amananunna (KPG, 2014), termasuk sepuluh besar Kusala Sastra Khatulistiwa dan terpilih sebagai Buku Prosa pilihan Tempo. Pada tahun 2016 tinggal di Berlin selama dua bulan untuk program residensi penulis dari Komite Buku Nasional. Novel hasil program tersebut baru saja terbit dengan judul Ibu Susu.

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response