close
WhatsApp Image 2017-12-03 at 02.44.41

Sebuah perbincangan yang perlu kita lakukan demi kemajuan Sastra Indonesia telah diadakan pada Minggu 3 Desember lalu di Balai Budaya. Seperti apa suasananya?

Acara yang mempertemukan Komunitas Apresiasi Sastra dan Majalah Litera itu berlangsung hangat dengan berbagai diskusi yang penting mengenai situasi Sastra Indonesia saat ini. Narasumber Saut Situmorang dan Nuruddin Asyhadie membuat para peserta tidak beranjak dari kursinya hingga acara berakhir (silakan simak isi diskusi di artikel Sastraku Sayang Sastraku Malang).

Komunitas ApSas sendiri dibentuk secara cair dari milis apresiasi sastra pada 5 Januari 2005.  Ada 7 moderator yang memotori, yaitu Hernadi Tanzil (Bandung), Yahya TP –Pemulung Cerita (Purwantoro), Dorsey Silalahi (Jakarta), Cak Bono (Surabaya), Mega Vristian dan Djodi Setiawan (dulu Hongkong, sekarang Jakarta), Sigit Susanto (Swiss).

ApSas sudah menerbitkan 3 buku: Selasar Kenangan (2007), Gempa Padang (2009), buku kumcer Apsas, The Graveside Ritual (2017), dan memiliki sejumlah acara tahunan:

  • Bedah 10 karya ApSas semalaman sudah berjalan selama 9 tahun di Jogyakarta.
  • Parade Obrolan Sastra. Di Boja, Jawa Tengah sudah berjalan 6 tahun. Yang pernah diundang Kurnia Effendi, Agus Noor, Ahmad Tohari, D. Zawawi Imron, Saut Situmorang, Wayan Jengki Sunarta, F Rahardi, Anindita, Shiho Sawai, Remy Silado, Iman Budhi Santosa, Martin Aleida
  • Sejak 2014, Kemah Sastra di Lereng Kebuh Teh Medini, sudah 3 kali. Narsum yang pernah diundang: Korrie Layun Rampan, Ahmadun Yosi Hermawan, Eka Kurniawan, Gus Tf dari Padang, Martin aleida (kedua kali), F. Rahardi dan Iman Budhi Santoso menjadi rutin hadir karena pernah bekerja di sini. Iman sebagai ketua afdeling, semacam sinder, manager dan F. Rahardi kepala SD persis di bawah pabrik teh medini.
  • Mei 2018, akan mengundang Triyanto Triwikromo untuk berbicara tentang Program Residensi di Berlin
  • Peserta pada umumnya mahasiswa sastra dari berbagai perguruan tinggi Semarang, UNY Jogya, dan UIN. Ada juga dari Tangerang dan Madura.

Sementara itu untuk yang mungkin belum mengenalnya, Majalah Litera adalah majalah yang mengusung tema-tema kemanusiaan-keberagaman-spiritualitas, dan menggabungkan sastra dan rupa. Terbit perdana Desember 2016, belum rutin terbit. Sampai saat ini telah terbit 3 edisi, Agustus dan September 2017. Situs resminya adalah Litera.id. Majalah Litera dan Litera.id menerima kiriman naskah cerpen dan puisi dan tulisan lain melalui email ke redaksi@litera.id atau literamagz@gmail.com.

Penulis yang pernah menulis di sini di antaranya Gerson Poyk, Iksaka Banu, Sanie B. Kuncoro, Hanna Rambe, Mario F. Lawi, Sunlie Thomas Alexander, Dedy Tri Riyadi, Sihar Ramses Simatupang, Jeli Manalu, Gayatri W.M, Bresman Siregar, dan banyak yang lain. Bulan ini akan menerbitkan buku kumpulan 11 cerpen pilihan Majalah Litera 2017. Majalah Litera digagas oleh Ita Siregar, Dedy Tri Riyadi, Sihar Ramses Simatupang.

 

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response