close
pexels-photo-191295 (1)

Tapi Tuan Babak muda tidak menyesali kejadian tersebut, dia malah mengakui kalau sejak dari pelarian sampai sekarang, apa yang dilakukan ayahnya kepada dirinyalah yang paling dia rindukan; dia menyesalkan keputusan ayahnya untuk mengasingkan diri. Tuan Babak merasa dirinya bagai seorang Siavash. Tuan Babak pernah menceritakan kerinduannya yang teramat-sangat tersebut pada pamannya dan nekat meminta agar pamannya melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan ayahnya, tapi pamannya menolak. Pada satu perjalanan bersama pamannya, Tuan Babak berjumpa dengan seorang saudagar yang memberikan tatapan ganjil serupa tatapan ayahnya. Tuan Babak memutuskan untuk meninggalkan pamannya dan mengabdi pada saudagar yang dianggap paria oleh orang-orang sekitar karena menolak punya harem atau seorang istri sama sekali. Bertahun-tahun mereka bersama sampai akhirnya sang saudagar meninggal dan Tuan Babak mewarisi semua hartanya.

Tuan Babak menghentikan ceritanya sampai di situ dan merangkul dan menciumiku sampai kami akhirnya tertidur lelap.

Kerman sedang menggelar suatu perayaan yang besar sewaktu kami tiba. Ini penghujung Zulhijah, Shahzad membisikiku, seluruh negeri sedang merayakan keberhasilan pembunuhan Umar bin Khattab oleh Firuzan. Aku ingat di Shiraz juga rutin diadakan perayaan pada penghujung Zulhijah; tanpa pernah tahu latar belakangnya, aku dan Shirin akan senantiasa ikut serta dalam hiruk-pikuknya dan kami akan mendapat makanan cuma-cuma tanpa perlu terlebih dahulu meminta. Di pusat Kerman kami menyaksikan sebuah patung kayu yang didandani dan dipahat seadanya dipajang tepat di tengah-tengah; orang-orang berkerubun mengelilingi patung yang dimaksudkan sebagai Umar bin Khattab tersebut, dan mereka pun berebutan melempari batu dan cacian (aku sempat mendengar seseorang berteriak begitu lantang, “O khalifah, masih sanggupkah berdiri di Gunung Arafah?”). Pada puncaknya, patung tersebut dibakar dan orang-orang tak berhenti menari-nari dan bersorak-sorai sampai Umar bin Khattab tumpas menjadi abu.

Aku melihat Tuan Babak terus berjalan menembus segala hingar-bingar tersebut. Tak ada perubahan berarti pada air mukanya, bahkan ketika tadi seseorang menawarinya batu dan dia harus mengambil dan ikut melempari patung Umar bin Khattab. Melihat itu, rasa iba pada Tuan Babak yang muncul sebelumnya, berubah menjadi suatu kekaguman pada ketabahannya.

Kami singgah di Kerman selama tiga hari dan enam belas hari kemudian sudah kembali ke Isfahan. Shirin menyambut bersama kedua istri Tuan Babak, tapi dia tidak mengucapkan apapun kepadaku. Aku agak terluka sebenarnya, tapi aku juga tak berani menyapanya. Anggapanku bahwa Tuan Babak akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama istri-istri yang dia rindukan dan memberiku lebih banyak kesempatan untuk memperbaiki hubunganku dengan Shahzad terbukti salah besar: kenyataannya adalah sebuah mukjizat kalau Tuan Babak sudi menyinggahi haremnya sekali atau dua kali dalam seminggu.

Belum sempat aku memikirkan bagaimana sebaiknya menjalin ulang hubungan baik dengan Shirin maupun Shahzad, Tuan Babak sudah merencanakan perjalanan lagi, satu yang terakhir tahun ini sebelum musim dingin membuat jajaran jabal mustahil dilewati. Tuan Babak hendak melancong ke timur laut menuju Asterabad, tempat di mana pelancong-pelancong dari Cina, India, dan Jawa akan singgah dengan barang-barang yang akan dibawa ke Eropa untuk persediaan musim dingin. Itu kesempatan bagus, menurut Tuan Babak.

Perjalanan tersebut baru dimulai dua minggu lagi sebab Tuan Babak ingin persiapan yang lebih matang dan lengkap. Dan aku bertekad kebisuanku dengan Shirin harus segera diakhiri sebelum itu, sebelum perjalanan dimulai dan situasinya niscaya mustahil diperbaiki. Titik nekatku muncul setelah tiga hari berturut-turut menyaksikan Shirin melintas menuju lokakarya dan berpikir keras tentang bagaimana memulai percakapan dengannya; aku menyerbu masuk ke lokakarya, membuat kaget pekerja-pekerja yang sedang menenun dan menggambari kain. Kulihat Shirin juga terkejut, kumanfaatkan kegentingan tersebut dengan menariknya masuk ke sebuah bilik istirahat di belakang dan langsung kutembakkan pertanyaan, “Apa sebetulnya salahku?”

Shirin tidak langsung menjawab, dia duduk di ujung pembaringan dan menatapku sejenak sebelum akhirnya membalasku dengan pertanyaan lain, “Tahu kau alasan sebetulnya Tuan Babak menjadikanku istri ketiganya?”

Tentu saja aku tak mampu menjawab dan Shirin mencibir dan menertawai ketidaktahuanku itu. Dia katakan akulah penyebab kenapa Tuan Babak harus menikahinya, dan dia mengucapkannya dengan penekanan yang membuatku tampak menyedihkan. Shirin menjelaskan, Pêro Dias sudah menikah, si orang Portugis  menegaskan itu di suratnya. Di Tehran Shirin sempat berdebat dengan Tuan Babak soal itu: Shirin yang keras kepala bersikeras menuntut Pêro Dias, mencarinya sampai ke negerinya yang jauh itu kalau perlu, tapi Tuan Babak berkata bahwa semua itu akan sia-sia semata dan Shirin harus berpikir lebih jernih. Betapapun Shirin terus membantah, dan pada satu titik dia berkata akan membawaku dalam misi merebut kembali kekasih Portugisnya. Pada titik itulah, menurut Shirin, Tuan Babak menjadi gusar. Pada Shirin dia tegaskan bagaimana keinginan bebalnya itu hanya akan membawa nasib bodoh padaku dan dirinya sendiri, juga betapa Shirin dengan keinginan bebalnya itu hanya akan menunjukkan bahwa dia betul-betul tak tahu berterima kasih atas segala kebaikan yang telah takdir curahkan padanya.

“Tuan Babak bahkan berkata kalau membiarkanku melakukan semua itu akan membuatnya merasa begitu berdosa dan hina,” kata Shirin yang kemudian diikuti dengan tawa lirih tapi cukup untuk menunjukkan kekalutannya.

Tuan Babak terus memojokkannya. Dan ketika Shirin sudah merasa begitu dungu dan putus asa, dengan lagak seorang bapak yang begitu bijak dan penuh tanggung jawab, Tuan Babak menawarkan diri untuk menikahi Shirin. Tawaran yang diikuti dengan iming-iming kemakmuran dan kebahagiaan itu terdengar tak terbantahkan, dan dalam kalut Shirin menerima satu lagi uluran kemurahan hati dari Tuan Babak.

“Seharusnya aku tahu… bodohnya aku…,” isak Shirin, dan aku dengan canggung meraih pundaknya dan mencoba menenangkannya. Tapi dia malah semakin menjadi dan dalam rintihnya dia menuding bahwa Tuan Babak menikahinya untuk mendapatkanku. Kukatakan kepada Shirin bahwa tidak semestinya dia berkata demikian kepada Tuan Babak dan barangkali sebaiknya dia istirahat dan menenangkan diri dulu. Tapi Shirin malah menyerapahi Tuan Babak, lalu menatapku nyalang dan mengajakku kabur dari gari-gari berwujud Tuan Babak. Aku mundur dan hendak mengatakan sesuatu tapi Shirin keburu memotongku, menyergapku, dan kembali mendesakkan kepadaku ajakan untuk kabur entah ke mana. Kukatakan pada Shirin bahwa idenya itu sinting dan pikirannya sedang lindap oleh kekalutan. Tapi Shirin malah mendakwaku telah terbutakan oleh segala yang telah Tuan Babak lakukan padaku, dengan sengit dia bahkan berkata, “Atau jangan-jangan kau sudah kecanduan jadi istrinya di perjalanan?” Entah bagaimana pertanyaan tersebut memantik gelisah, aku jadi merasa begitu buta kepada diriku sendiri dan Shirin terus-terusan memojokkanku dengan tudingan-tudingannya. “Kau tak akan menduga rahasia apa saja yang sudah merayap ke telingaku,” kata Shirin sambil melonggarkan sabuk celanaku lalu menancapkan genggamannya pada selangkanganku.

“Coba kulihat apa yang membuat laki-laki tua itu tergila-gila padamu!” Shirin mendengus seperti sedang kerasukan.

Aku mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Shirin yang kuat dan menyakitkan, dan itu membuat semuanya jadi bertambah gaduh. Ketika itulah Tuan Babak tiba-tiba menyerbu masuk bersama seorang pekerja lokakarya, dan mukanya langsung beringas melihat aku dan Shirin di pojok bilik. Dengan ganas dia mendorong Shirin hingga terjatuh lantas dengan cepat buku tangannya langsung menampar keras pipiku. Tuan Babak berteriak bahwa aku telah mengecewakannya dan sebelum aku bisa menjelaskan satu tamparan sudah bersarang di pipiku yang satu lagi.

Cerita Bersambung hari setiap Kamis! Cerita kali ini diisi oleh Rio Johan – penyuka buku, film, dan video game. Buku pertamanya, kumpulan cerpen Aksara Amananunna (KPG, 2014), termasuk sepuluh besar Kusala Sastra Khatulistiwa dan terpilih sebagai Buku Prosa pilihan Tempo. Pada tahun 2016 tinggal di Berlin selama dua bulan untuk program residensi penulis dari Komite Buku Nasional. Novel hasil program tersebut baru saja terbit dengan judul Ibu Susu.

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response