close
Galeri

Banten Biennale #01: Bata Keberanian dan Karang Keteguhan

Ill 1

Dari karya-karya yang dipamerkan, keberanian dan keteguhan mendapat ruang yang lebar dan mendalam. Gebar Sasmita, pelukis senior asal Pandeglang,  murid maestro Hendra Gunawan, menampilkan lukisan ekspresionistik berjudul Sungai Merah. Pelukis muda, Hilmi Fabeta, menampilkan The President Club: Introducing Mr. Sjaf dengan gaya realisme klasik. Keduanya seolah mewakili yang tua dan yang muda, bahwa sejarah Indonesia harus ditinjau ulang dan Banten menjadi pintu masuknya.

Menolak lupa adalah keberanian menerima sejarah sebagai pelajaran untuk melangkah dengan kejujuran dan keterbukaan. Aktor-aktor sejarah menjadi teladan yang otentik, luput dari gincu pencitraan yang meninabobokan generasi penerus bangsa. Gebar Sasmita mendorong bangsa ini tetap mengingat ketika sungai-sungai di Negeri menjadi semerah darah, agar peristiwa berdarah sepanjang republik ini berdiri, tidak terulang. Di sisi lain, Hilmi Fabeta mengingatkan bahwa Sjafroeddin Prawiranegara adalah Presiden RI ke-2, meski ia menjadi Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) kurang dari 7 bulan, namun posisinya menentukan eksistensi negeri kala itu. Tanpa keberanian Sjafroedin yang adalah putra Banten, sejarah Republik ini selesai dengan ditangkapnya Soekarno dan Hatta di Yogyakarta, dalam Agresi Militer II pada 19 Desember 1948.

Putra Banten sekaligus ulama Masyumi itu adalah Gubernur Bank Indonesia pertama. Namun sayang, rekam jejaknya digeser dari buku sejarah. Maka, untuk membangun negeri ini, untuk gawe nagari baluwarti, kita butuh keberanian menolak lupa. Revitalisasi kebudayaan bangsa harus dimulai dari rekonstruksi sejarah yang jujur.

Gawe Nagari Baluwarti

Banten Biennale #01 mengangkat tema Gawe Nagari Baluwarti. Tema ini bersumber dari moto kesultanan Banten dahulu, yakni gawe kuta baluwarti bata kalawng kawis  atau membangun benteng kota dengan bata dan karang. Bata adalah simbol keberanian dan karang adalah simbol keteguhan, dua arus yang mengalir menuju kerja-kerja pembangunan bangsa dan negara. Tak ada bangsa besar yang dibangun dari onggokan mentalitas pecundang seperti tak ada negara makmur tanpa keteguhan dalam kerja nyata.

Dalam karya instalasinya, Aidil Usman membangun susunan batu bata dalam ikatan-ikatan kecil dan rangka perahu dalam balutan benang warna-warni. Ia memberi petanda puncak peradaban Banten masa lalu pada kejayaan bidang maritim yang dibangun dengan semangat inklusivisme dalam penataan perniagaan hingga kebudayaan umumnya.

Dalam kondisi lebih terkini, karya Hendi Jalu yang berjudul White Army, dibentuk dari TV LCD 60 inci bekas, seolah menjadi respons atas strategi ketahanan budaya hari ini. Jalu menghadirkan wajah baru peperangan dalam era multimedia. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menyulut peperangan baru, yang memerlukan bentuk-bentuk diplomasi baru seperti tergambar dalam patung karya Inu Yushanan berjudul Diplomasi.

Patung yang dibangun dari pedestal kayu dengan tiga kaleng cat, mempresentasikan diplomasi-diplomasi kebudayaan perlu dihadirkan secara cair dan merembes ke bawah. Tanpa diplomasi budaya yang cair dan merembes ke berbagai sektor kehidupan, kegagapan masyarakat hari ini akan terjadi dalam bentuk-bentuk yang tak terbayangkan, sebagaimana tersirat dalam lukisan karya Mhaex Maranoes Komunitas Tak Berjarak, Afriani Millenial, Ahmad Nazili The Hunted and the Forgotten, Angela Irena Lifestyle, Alfin Luthviandi Where Is My Door, Imelda Ameliasari With Us, Dik Doank  Populasi, Politik, Balance, dan Edo Pop Indek Peradaban Tubuh.

Untuk menata diri ke depan, Banten mulai mengeksplorasi pencapaian nilai-nilai spiritual yang transendental dan menancap sebagai akar tradisi yang unik. Para ulama dan jawara telah lebih dahulu mengilhami perjuangan Banten menjadi satu entitas dalam pergaulan masyarakat global abad 17 dan 18.  Hal itu tercermin dalam lukisan-lukisan karya Ade Pasker Moslem Theologian from Banten, Nuryasin Legenda (Rangkasbetung), Ibrohim Risalah Karangantu, Jamaluddin visuAl-Madad, dan Wita Delvi Berbagi Berkah.

Tanpa perhatian dan eksplorasi pencapaian peradaban masa silam, pengembangan kebudayaan ke depan akan mengalami disorientasi dan paradoks yang panjang. Hal tersebut diantisipasi dalam tiga karya fotografi Galih AP yang diberi judul Redefinisi Tanpa Pengindera, Nurhaipin La Manna Genggam Laten Kapitalisme, dan Raden Eka Sutrisna Seba Baduy. Foto-foto dengan teknik blur seolah mengingatkan cara kita mendefinisikan orang Banten yang masih belum jelas dalam konteks pluralisme sosial dan politik.

Pesta seni Banten Biennale #01 berlangsung di Museum Negeri Banten dan Taman Budaya Banten, pada 9-16 September 2017. Kegiatan itu telah meninggalkan kesan amat dalam bagi para perupa Banten dan masyarakat umum. Pesta seni ini pertama kali dalam sejarah Banten dan menyedot perhatian publik secara luas sehingga satu minggu pelaksanaan dipadati tamu, bahkan sebelum pintu dibuka, calon pengunjung sudah mengantre dengan sabar. Antusiasme ini dapat dikembangkan menjadi sebuah apresiasi dan kritik seni rupa nasional, juga harapan bagi pangsa pasar seni rupa Indonesia.

Banten Biennale #01 merupakan agenda pameran dan atraksi seni rupa yang menampilkan karya-karya fenomenal dan monumental perupa. Di sana-sini kita dapat menemukan pencapaian artistik luar biasa. Sesuai namanya, bienalle, kegiatan Banten Biennale akan berlangsung setiap 2 tahun.

Pameran menampilkan 60 perupa yang terdiri dari 40 peserta utama dan 20 peserta undangan. Selain dari Banten, perupa datang dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan DI Yogyakarta. Ke-40 peserta adalah Achdi Gunawan, Ade Pasker, Ahmad Musoni, Alfin Luthviandi, Andru Agus Kamto, Angela, Arifin, Budiman, Catherine Nadia Alexandra, Deri Hamid, Deden Mulyana, Diki Arifiana, Galih, Gunawan, Hendi Jalu, Hance Saputra, Ibrohim, Ika Kurnia Mulyati, Imelda, Inu Yushanan, J.Budi Santoso, Jamaluddin, Maria Tiwiq, Mhaek Maranoes, MT Harsana, Mulyono, Munadi, Nur Yasin, R. Zaglix, Rachman, Raden Eka Sutrisna, RB Ali, Seno Purwanto Aji, Sudrajat, Asehuo, Tubagus Pathoni, Wahyudi, Wita Delvi, Yayat Lesmana, dan YB Roy.

Sebanyak 20 peserta undangan, yaitu Ali Bone, Aidil Usman, Ahmad Nazili, Afriani, Bedi Zubaedi (alm), Edi Bonetski, Edo Pop, Dik Doank, Gebar Sasmita, Hilmi Fabeta, Ibnu Alwan, Iwan Ismael, Kokok P. Sancoko, Komroden Haro, Leonardo SK (alm), Q’bro Pandam, Rady Bonek (alm), Sukamto, Uci Sanusi, dan Wahyu Widyantono.

*Chavchay Saefullah adalah Ketua Dewan Kesenian Banten periode 2017-2022

 

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response