close
pexels-photo-432812

Aku merangkak menjauh dan berpegangan pada sisi pembaringan, tapi sebelum dapat berdiri Tuan Babak sudah melingkarkan kedua tangannya pada leherku. Aku ingin bersuara tapi tenggorokanku seperti tersedak dan badanku serasa begitu ditekan pada kaki pembaringan, aku begitu sesak sampai-sampai kabur atas apa-apa saja yang terjadi selanjutnya, sampai akhirnya genggaman Tuan Babak melemah dan yang berikutnya aku tahu dia sudah bersimpuh di hadapanku, memohon ampunanku dan meracaukan rasa cinta dan kasihnya padaku.

Dia hendak mengusap telapak kakiku dengan kecupan-kecupan ketika Shirin tiba-tiba muncul di belakang dan menghantamkan arca batu kecil dari India pada kepala Tuan Babak, lagi, lagi, lagi, dan lagi, sampai tubuh laki-laki tua itu terkapar dan dari batok kepalanya yang sudah hancur, merembes darah segar.

Semua itu terjadi begitu cepat dan tiba-tiba, dan tanpa kusadari orang-orang dari lokakarya sudah mengintip segala sesuatu yang ada di pojok bilik. Istri kedua Tuan Babak masuk bersama Shahzad dan pandangan mata mereka secara spontan langsung tertuju pada mayat Tuan Babak dan arca batu di tangan Shirin yang ujungnya berlumuran darah. Untuk sekian detik yang sangat singkat mereka semua tertegun, mencoba mencerna semuanya dan berpikir apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku agak kaget melihat tak ada satupun dari mereka yang hendak bergerak cepat memberikan pertolongan kepada Tuan Babak, meski kukira itu sia-sia belaka sebab aku yakin beliau sudah tak lagi bernyawa.

Istri kedua Tuan Babak yang pertama bergerak, dengan cepat dan terkesan tergesa-gesa keluar entah ke mana dan hendak melakukan apa; aku tak tahu apa yang ada di kepalanya dan cuma bisa berharap kesumat pada Tuan Babak yang serupa dengan yang dirasakan Shirin, cukup untuk tak meletakkan kami pada posisi yang lebih menyulitkan. Tapi lantas beberapa pekerja lokakarya ikut berhamburan keluar dan Shahzad langsung menarik aku dan Shirin, meninggalkan bilik tersebut. Dia berkata bahwa kami bertiga sebaiknya pergi selagi masih ada kesempatan. Tapi ketika kami baru beberapa langkah meninggalkan toko, Shirin berhenti dan berkata bahwa dia tidak bisa ikut dengan kami. Dia berkata, “Harus ada yang bertanggung jawab agar kalian tidak ikut dipersalahkan dan jadi buronan.” Aku menolak dan berkata akan tetap di sini kalau Shirin tetap di sini. Tapi Shirin bersikeras, “Aku ingin kau pergi dari sini, Adikku, dan bebas dari gari-gari Tuan Babak seperti yang kukatakan tadi.” Aku membantah sekali lagi tapi Shahzad menengahi dengan mengingatkan bahwa kami tidak punya banyak waktu.

Aku merasa begitu enggan dan terluka harus meninggalkan Shirin, tapi Shahzad terus menarikku berlari menembus lorong-lorong dan pasar-pasar tanpa memberi kesempatan untuk bahkan melirik kembali ke arah kakakku. Tahu-tahu kami sudah tiba di kediaman Tuan Babak, membuat kebingungan istri pertama dan para pembantu dengan lagak kami yang begitu terburu-buru. Setelah menyiapkan bekal secukupnya, sebagaimana yang diperintahkan Shahzad, aku menemui Shahzad di kandang kuda Tuan Babak di belakang. Dan selanjutnya, dengan menunggang kuda Tuan Babak, kami sudah berhasil menjauh dari Isfahan ketika matahari terbenam.

Kami terus memacu kuda sesuai dengan Shahzad sebagai haluan, melewati jalur-jalur yang asing belaka bagiku. Shahzad berkata tujuan kami Khanat Bukhara. Setelah hampir satu hari dua malam berkuda, dengan sedikit perhentian untuk sekedar istirahat sekadarnya, kami tiba di sebuah karavansara. Barangkali tersebab kelelahan dan tak bisa tidak membuang pikiran tentang petaka-petaka apa yang mungkin menimpa Shirin, aku jatuh sakit dan kami pun harus tinggal untuk beberapa hari. Shahzad merawatku dengan telaten dan pada hari ketiga aku mulai membaik. Pada hari itu juga aku mendengar seorang musafir duduk di halaman karavansara dan bercerita tentang seorang pedagang kaya dari Isfahan yang baru-baru ini mati di tangan istri mudanya. Sebab musababnya, si istri muda merasa ditipu ketika mengetahui laki-laki itu ternyata seorang Sunni bertopeng Syiah. “Sungguh culas, ‘kan?” kata si musafir meminta persetujuanku.

Aku tidak menjawab musafir itu. Aku agak terkejut Shirin tahu cukup dalam tentang Tuan Babak—meski sebetulnya tak perlu mengingat apa yang dia tahu antara aku dan Tuan Babak—tapi aku lebih terkejut dia memanfaatkannya sebagai tipu daya yang barangkali bisa meringankan petakanya. Aku berharap dengan begitu Shirin setidaknya dapat baik-baik saja, tapi aku juga kembali teringat cerita yang dituturkan Tuan Babak dan entah bagaimana bangkitlah sedikit rasa bersalah atas harapanku tadi.

Aku juga teringat kisah Siavash, dan meski tak betul-betul sama, mungkin yang kurasa serupa dengan apa yang pangeran Majusi rasakan sewaktu pergi mengasingkan diri dari ayah tercinta.

Menyadari resah di mukaku, Shahzad berkata bahwa Shirin akan baik-baik saja. Aku tak teryakinkan, tapi cukup terhibur, dan ketika itu aku menyadari Shahzad sekarang berada di sampingku.

“Ke mana tujuan kalian?” tanya musafir tadi.

“Saya dan adik saya cuma musafir seperti Anda,” kata Shahzad.

Aku senang, dan sebetulnya tersipu, mendengar Shahzad menyebutku sebagai adiknya. Suatu bisikan dalam diriku bahkan berkata bahwa dalam perjalanan ini aku bisa jadi “istri di perjalanan” milik Shahzad. Tapi aku teringat pada Shirin dan merasa pikiran itu cabul dan tak pantas.

Karena aku sudah cukup sehat, Shahzad berkata kami sebaiknya melanjutkan perjalanan besok pagi setelah salat subuh, dengan dia sebagai imamnya.

 

 

*Rio Johan adalah penyuka buku, film, dan video game. Buku pertamanya, kumpulan cerpen Aksara Amananunna (KPG, 2014), termasuk sepuluh besar Kusala Sastra Khatulistiwa dan terpilih sebagai Buku Prosa pilihan Tempo. Pada tahun 2016 tinggal di Berlin selama dua bulan untuk program residensi penulis dari Komite Buku Nasional. Novel hasil program tersebut baru saja terbit dengan judul Ibu Susu.

 

 

 

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response