close
Cerbung

CERBUNG: Artaban, Kisah Orang Majus yang Lain (1)

pexels-photo-459319 (1)

Siapa mencari surga sendiri untuk menyelamatkan jiwanya,

Mungkin mengikhtiarkan jalannya, namun tidak akan mencapai tujuan

Ia yang berjalan dalam kasih mungkin mengembara ke tempat-tempat yang jauh,

Namun Tuhan akan menibakannya ke tempat di mana ada berkat.

 

Pengantar dari Pengarang

Bertahun tahun sudah kisah ini dilempar ke sebuah lautan buku. Ini bukanlah kisah untuk dipersaingkan atau dagangan yang harus dipajang paling depan. Ini hanyalah perahu layar yang kecil dan tenang. Sebuah petualangan perjalanan.

Dua kali kisah ini jatuh ke tangan perompak. Ombak pasang membawanya ke negeri-negeri yang jauh. Kisah ini sudah melewati pelabuhan-pelabuhan penerjemahan ketika memasuki Jerman, Prancis, Armenia, Turki, dan barangkali beberapa wilayah asing lain. Sekali waktu mata saya menangkap bendera pelabuhan tempat terpencil yang memperlihatkan bahasa fonetik baru di sepanjang pantai Prancis. Kisah ini pernah sekali diaku oleh seorang pedagang barang kuno dan menyebutnya sebagai legenda Asia Timur yang telah lama hilang. Yang terhebat di antara semuanya, kisah ini pernah terselip diam-diam di beberapa pelabuhan yang sangat jauh yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Kisah ini disambut hangat dan ramah, membawa pesan-pesan gembira yang mengesankan dari teman-teman yang belum saya kenal.

Sekarang kisah ini telah kembali dengan tali pancang baru dan siap untuk melakukan perjalanan berikutnya. Dan sebelum kisah ini disebar saya diminta untuk menceritakan dari mana kisah ini berawal dan apa maknanya.

Saya tidak tahu dari mana kisah ini berawal—dari udara, barangkali. Namun yang pasti, kisah ini tidak pernah ditulis di buku mana pun. Juga tidak akan ditemukan di antara adat kuno orang Timur. Saya juga tidak pernah merasa kisah ini milik saya sendiri. Kisah ini sebuah anugerah. Dikirim untuk saya, seolah-olah saya mengetahuinya dari Sang Pemberi, meski nama-Nya tidak disebut.

Tahun itu penuh dengan kesakitan dan penderitaan. Setiap hari selalu saja ada yang bikin susah. Setiap malam didera rasa sakit. Malam-malam panjang—malam-malam di mana seseorang masih terjaga, saya mendengar jantung berdetak yang memompa dengan kepayahan, sembari menunggu pagi datang, bahkan tidak tahu apakah akan dapat bertemu fajar lagi. Itu bukan malam-malam yang dipenuhi ketakutan. Pikiran tentang kematian tidak lagi menakutkan karena saya sudah mengakrabinya bertahun-tahun. Di samping itu, setelah sekian waktu merasa seperti seorang prajurit yang berdiri lama di dekat perapian, satu perubahan kecil akan terasa melegakan. Namun bahwa itu adalah malam-malam kesepian, itu benar. Malam-malam yang sangat berat. Bayangkankan bila bebannya seperti ini:

Kamu memikirkan bahwa tugas di dunia hampir berakhir, tetapi belum.

Kamu belum juga berhasil mengurai masalah yang membuat bingung selama ini. Tujuan semula pun belum. Kamu belum menyelesaikan tugas besar yang dirancang khusus untukmu. Kamu masih dalam perjalanan. Barangkali kisahnya harus berakhir di sini, di satu tempat—entah di mana—dalam kegelapan mungkin.

Lalu pada satu malam yang panjang dan sepi, kisah ini muncul begitu saja di kepala saya. Sebelumnya saya memang sudah tahu dan penasaran soal kisah Tiga Orang Majus dari Timur ketika mereka disebut dalam “Legenda Emas” Jacobus de Voragine dan buku-buku serupa. Kisah tentang Orang Majus Keempat belum pernah saya dengar. Saat itulah saya melihatnya dengan jelas, ceritanya bergerak melalui bayang-bayang dalam satu lingkaran cahaya yang temaram. Air mukanya begitu jelas saya lihat, sejelas ingatan saya tentang wajah ayah saya ketika saya terakhir melihatnya. Narasi tentang perjalanan Artaban dan segala ujian dan kekecewaannya, terus bergerak dalam benak saya tanpa jeda. Bahkan beberapa kalimat tertentu muncul lengkap dan tak terlupakan, sangat jelas seperti sebuah kameo. Yang perlu saya lakukan hanyalah mengikuti ziarah Artaban, selangkah demi selangkah, sebagaimana sebuah kisah dari permulaan sampai akhir.

Saya seringkali ditanya mengapa saya menulis Orang Majus Keempat itu mengatakan kebohongan di kota kecil di Betlehem, demi menyelamatkan hidup seorang anak.

Saya bilang, itu bukan cerita kebohongan. Apa yang Artaban katakan kepada para prajurit, dia berkata kepada dirinya sendiri karena dia tidak dapat menolongnya.

Apakah sebuah kebohongan dapat dibenarkan? Barangkali tidak. Tetapi bukankah kadang-kadang itu tampak tidak ternilai harganya?

Dan jika itu adalah dosa, mungkin bukan dimaksud untuk seseorang mengakuinya, dan diampuni, itu lebih mudah daripada dosa yang lebih besar yaitu rasa ego spiritual atau pengabaian, atau pengkhianatan dari darah orang tidak berdosa? Begitulah yang saya lihat tentang Artaban. Itulah yang telingat saya dengar apa yang dia katakan. Seluruh hidupnya dia upayakan untuk melakukan yang terbaik semampu yang dapat dilakukannya. Memang tidak sempurna. Tetapi ada beberapa jenis kegagalan yang lebih baik daripada keberhasilan.

Meski cerita Orang Majus Keempat datang kepada saya secara tiba-tiba dan tanpa usaha, ada banyak hal yang harus dipelajari dan kerja keras yang harus dilakukan sebelum menuliskan kisahnya. Sebuah gagasan datang tanpa upaya. Sebuah bentuk harus dibuat dengan kesabaran. Jika ceritamu bermakna untuk diceritakan, kamu sendiri harus benar-benar menyukainya sehingga rela mengerjakan ulang sampai menjadi benar—benar tidak dalam arti ideal, tetapi benar yang sesungguhnya. Cahaya itu sebuah anugerah. Namun warnanya hanya dapat dilihat oleh seorang yang melihatnya untuk waktu lama dan terus-menerus. Artaban berjalan bersama saya ketika saya bekerja keras melewati sejumlah kisah perjalanan kuno dalam sejarah. Saya melihat sosoknya sementara saya melakukan perjalanan di laut yang tenang di gurun dan di kota-kota yang asing di Timur.

Dan setelah itu, maknanya apa?

Bagaimana saya menjawabnya? Apa makna dari hidup? Jika artinya dapat dituliskan dalam satu kalimat maka saya tidak perlu lagi menceritakan kisah ini.

Anda tahu kisah Tiga Orang Majus dari Timur, dan bagaimana mereka berjalan dari tempat yang jauh untuk mempersembahkan hadiah mereka di sebuah palungan sederhana di kota Betlehem. Kamu pasti belum pernah mendengar kisah Orang Majus yang Lain, yang juga sama melihat bintang terang itu, dan mengikuti arahnya, tetapi tidak sampai tiba di hadapan bayi kecil Yesus, seperti saudara-saduaranya yang lain. Mulai dari keinginan terbesar peziarah keempat ini, bagaimana  kisahnya ditolak, namun penyangkalannya berhasil, dan dari banyak perjalanan dan percobaan jiwanya, perjalanan jauhnya untuk mencari, jalan asing yang dia temukan, Seseorang yang dia lihat—saya dapat katakan bahwa fragmen-fragmen kisahnya sudah saya dengar di Lorong Mimpi-Mimpi, dalam kerajaan Hati Manusia.

-Henry Van Dyke

 

Tanda di Langit (1)

PADA masa Kaisar Agustus mendominasi banyak kerajaan dan Herodes memerintah di kota Yerusalem, adalah seorang Media bernama Artaban. Ia tinggal di kota Ekbatana, di pegunungan Persia. Ia seorang muda bestari. Kediamannya dikelilingi tujuh dinding kompleks istana yang indah permai. Dari atap rumahnya, ia dapat memandang ke loteng-loteng hitam dan putih dan merah dan biru dan perak dan emas, terus hingga ke bukit kastil musim panas kekaisaran Partia yang berkilau bak mahkota tujuh lapis permata.

Di sana terhampar seluas taman yang rapi tersusun pepohonan bebuahan dan bebungaan, selalu segar karena air dari lereng Gunung Orontes tak henti mengalir, mencipta bebunyian riang seperti nyanyian ratusan burung. Kelembutan aroma malam-malam di penghujung bulan September, seperti bisik-bisik pada kedalaman yang senyap, yang menyimpan percik air yang bersuara antara tangis atau tawa halus di bawah bayang-bayang. Jauh di pepucuk pohon, setitik cahaya bersinar lemah, mengintip lewat keluk tirai kediaman tuan rumah yang sedang mengadakan musyawarah bersama tetamunya.

Tuan rumah berdiri di dekat pintu masuk, menyambut tamu-tamunya dengan wajah tersenyum sopan. Tubuhnya tinggi langsing, berkulit agak gelap. Usianya sekitar 40 tahun. Kedua matanya berdekatan, menonjol di bawah sepasang alis yang lebat, garis bibir tipis namun tegas; alis mata seperti seorang pemimpi dan mulut seorang tentara. Ia laki-laki berperasaan anteng namun berkemauan keras—seseorang yang di dalam dirinya, pada usia kapan pun, senantiasa menyimpan konflik batin yang kentara dan kepala yang tak berhenti bertanya.

Jubah putih wolnya jatuh mengenai tunik suteranya, dengan tutup kepala meruncing berwarna senada, dengan kerah panjang pada kedua sisi telinga, rebah di rambutnya yang legam. Itulah pakaian yang menandakan ia pendeta Magi kuno, para penyembah api.

“Mari!” katanya dengan suara rendah dan ringan, menyapa tetamunya yang memasuki ruangan. “Selamat datang, Abdus. Salam damai, Rhodaspes, Tigranes, dan ayahanda Abgarus. Anggaplah berada di rumah sendiri. Tempat ini menjadi hangat karena kehadiran kalian. Mari!”

Ada sembilan laki-laki beragam usia, berasal dari kelas hartawan dan cendekiawan yang nampak dari sutera halus yang mereka pakai, kerah-kerah motif keemasan pada leher mereka, para kaum Partia terhormat, tanda lingkaran emas bersayap di dada mereka, yang menandakan pengikut Zoroaster.

Mereka mengelilingi sebuah altar hitam kecil di ujung ruang. Api kecil terus menyala. Lalu Artaban berdiri di samping altar, melambaikan sebuah barsom -ranting tamarisk (yang digunakan pendeta Zoroaster untuk merayakan upacara sakral tertentu) di atas api, menambahkan pinus kering lalu minyak harum ke arah api. Mulutnya mulai melantunkan ayat-ayat Yasna, tetamunya tak dikomando ikut bergumam mengikuti ayat-ayat indah yang dipersembahkan sepenuh hati kepada Ahura-Mazda:

 

Kami menyembah Roh Suci,

pemilik segala kebijaksanaan dan kebaikan,
Dan para kudus yang abadi,
Pemberi segala berkat dan kelimpahan,
Kami bersukacita atas karya tangan-Nya,
Kebenaran-Nya dan kekuasaan-Nya.
Kami memuja segala yang murni,
Ciptaan-Nya,
Pikiran-pikiran yang lurus,
Pekerjaan dan perilaku yang menang atas pencobaan,
Yang ditolong oleh-Nya,
Yang karena itu kami memuji setinggi-tingginya.
Dengarlah kami, O Mazda! Engkau yang berdiam dalam

Kebenaran dan kegembiraan surgawi

Bersihkan kami dari segala kesalahan, dan jagalah kami
Dari kejahatan dan kemelekatan pada kejahatan,
Curahkan terang dan sukacita Kehidupan dari-Mu
Atas kegelapan dan kesedihan kami.
Bersinarlah atas kebun dan ladang kami,
Bersinarlah atas pekerjaan dan alat tenun kami,
Bersinarlah atas seluruh umat manusia,
Mereka yang percaya dan yang tidak,
Bersinarlah atas kami sepanjang malam,
Bersinarlah sekarang dengan kekuasaanMu,
Engkaulah kobar dalam cinta suci kami
Serta pujian atas penerimaan penyembahan kami.

 

Api menyala bersama lantunan doa, berdenyut seperti musik yang bernyanyi, sampai api menyemburkan sinar terang ke seluruh bagian, alami dan semarak.

Lantai biru tua bergaris putih dengan pilar-pilar berwarna perak motif berjalin, tegak menghadap dinding-dinding biru. Loteng setengah lingkaran dengan jendela-jendela berhias kain halus sutera biru. Kubah langit-langit yang ditutupi permata safir berbentuk dadu, serupa tubuh surga dalam puncak kejernihan yang memanen bintang-bintang perak. Pada keempat sudut atap bergantungan lidah-lidah para dewa yang eksotis keemasan. Di ujung timur, di belakang altar, tampak dua pilar porfiri –batu merah yang dihias ornamen kristal putih. Di pucuknya sebuah batu ukir pemanah bersayap, dengan panah yang diarahkan pada benang dan jalinan pita.

Pintu keluar diapit dua pilar, yang terbuka menghadap teras loteng, bertudung tirai tebal berwarna delima matang, bersulam ratusan garis emas yang seperti muncul dari lantai. Anjungan serupa malam tenang penuh bintang, bernuansa biru perak, matang kemerahan serupa ufuk matahari di sayap timur. Sebuah paduan kemuliaan yang merupakan ekspresi karakter dan semangat tuan rumah.

Ketika lantunan tiba pada bait terakhir, ia memandang para tamu, mempersilakan mereka pindah ke sofa di ujung barat anjungan.

“Terimakasih atas kedatangan kalian, para pengikut Zoroater yang setia,” katanya sambil mengedarkan pandangan, “Kita berada di sini untuk memperbaharui dan memperbaiki iman kita kepada Allah Segala yang Murni, juga api baru di altar ini. Kita bukan menyembah api tetapi apilah termurni dari seluruh benda. Api berbicara kepada kita soal seseorang yang adalah Terang dan Kebenaran. Bukan begitu, Ayahanda?”

“Tepat, Ananda,” suara Abgarus tegas. “Mereka yang mendapat pencerahan bukanlah para pemuja berhala. Mereka adalah yang mengangkat topi mereka, pergi ke kuil sejati, kepada terang dan kebenaran baru yang sedang datang melalui tanda dan simbol-simbol purba.”

“Ayahanda dan sahabatku sekalian, bila berkenan, mohon kiranya mendengarkan apa yang akan kukatakan ini,” kata Artaban pelan, dengan penekanan yang jelas.  “Aku akan memberitahu kalian tentang terang dan kebenaran baru yang telah datang kepadaku melalui semua tanda yang paling purba. Kami bersama telah meneliti rahasia-rahasia dan mempelajari faedah air dan api dan segala tumbuhan. Kami sudah menekuni buku-buku ramalan masa depan yang ditulis dalam kata-kata yang sulit dipahami. Namun di antara semua yang kami pelajari, yang termulia adalah pengetahuan tentang bintang-bintang. Meneliti jejak-jejak mereka adalah seperti memanasyrihkan benang-benang misteri kehidupan awal hingga akhir. Jika kami mampu mengikuti semua itu dengan sempurna, tak ada satu rahasia pun tersembunyi. Namun, bukankah pengetahuan tentang itu masih belum lengkap? Bukankah masih banyak bintang yang berada diluar pengamatan kita—terang yang hanya dipahami oleh mereka yang tinggal jauh di tanah selatan, di antara pepohonan rempah Punt dan tambang-tambang emas Ophir?”

Mendengar perkataan Artaban mereka berbisik-bisik, mengiyakan.

“Bintang-bintang,” ujar Tigranes, “adalah akal budi yang Abadi. Mereka tak terhitung jumlahnya. Segala akal budi seorang manusia dapat dihitung, seperti tahun-tahun dalam hidupnya. Kearifan para Magi adalah yang tertinggi dari semua kemahardikaan bumi, karena ia mampu memahami ketidaktahuan. Itulah rahasia kedigdayaan. Kita memiliki mereka yang senantiasa mengamati dan menantikan fajar baru. Kita memahami kegelapan yang senantiasa setara dengan terang, dan bahwa sengketa di antara keduanya takkan pernah berakhir.”

“Namun kenyataan itu tidak memuaskanku, kawan,” sela Artaban, “karena, jika penantian itu tiada berakhir, jika dari semua itu tiada penggenapan, lantas apa makna kearifan dalam merenung dan menanti. Kita semestinya seperti guru-guru Yunani, yang mengatakan tidak ada kebenaran, bahwa hanya para Magi yang menghabiskan hidup mereka demi menemukan dan memperlihatkan kebohongan-kebohongan yang dipercayai dunia. Fajar baru akan terbit pada waktunya. Bukankah buku-buku membuka rahasia kepada kita bahwa ini akan terjadi, bahwa manusia akan melihat cahaya terang yang paling terang?”

“Benar,” kata Abgarus, lalu melanjutkan, “setiap murid Zoroaster yang setia memahami nubuat Avesta dan menyimpan perkataan itu di dalam hatinya. ‘Pada hari itu Sosiosh the Victorious (satu dari tiga putra Zoroaster) akan bangkit dari antara para nabi di timur. Di sekelilingnya akan terbit yang paling terang, yang akan membuat kehidupan abadi, tegak bermoral, kekal, yang mati akan hidup kembali.'”

“Ada kegelapan yang berbicara,” tambah Tigranes, “yang mungkin tidak akan pernah bisa kita pahami. Lebih baik kita mempertimbangkan hal-hal yang dekat, meningkatkan pengaruh kita di negeri sendiri, daripada mencari-cari seorang yang mungkin asing bagi kita, dan kita mesti mempertaruhkan kekuasaan kita kepadanya.”

Pemirsa tampak setuju dengan perkataan yang terakhir. Sebuah kesepakatan tak terucap di antara mereka telah nyata. Ekspresi yang tak dapat dilukiskan yang telah menenangkan para pendengarnya. Namun Artaban dengan sinar di wajahnya, berpaling ke arah Abgarus, yang tertua di antara mereka, berkata:

“Ayahanda, aku telah menyimpan nubuat di tempat yang paling rahasia dalam hatiku. Agama tanpa harapan adalah seperti altar tanpa api yang menyala. Dan sekarang api itu telah menyala terang, dan oleh terang itu aku dapat membaca kata-kata lain yang juga berasal dari sumber Kebenaran, dan berkata lebih jelas tentang munculnya Sang Pemenang dalam segala kecemerlangannya.”

Lalu ia mengeluarkan dua gulungan kecil yang terbuat dari kain halus dari tuniknya, dan membukanya hati-hati di atas lututnya.

“Dalam tahun-tahun yang hilang di masa lalu, lama sebelum leluhur kita tiba di tanah Babilonia, ada para bijaksana dari Kasdim, yang dari mereka para Magi mempelajari rahasia-rahasia surga. Bileam putra Beor adalah satu yang terbesar. Ia mengatakan nubuat ini: ‘Kelak akan muncul bintang dari keturunan Yakub, dan tongkat dari Israel.'”

Tigranes menarik bibirnya ke bawah, berkata, “Yehuda telah terpenjara oleh air Babilonia, dan putra Yakub telah takluk kepada raja-raja kita. Suku-suku Israel telah terserak di seluruh gunung-gunung seperti domba-domba yang hilang, dan sisanya yang tinggal di Yehuda, berada di bawah tekanan Romawi, karena itu bintang atau tongkat tak mungkin akan muncul dari sana.”

“Namun,” kata Artaban cepat, “Daniel orang Ibrani itu, seorang pengarti mimpi yang wahid, penasihat raja-raja, Beltsazar yang bestari, yang paling dihormati dan disayangi oleh raja agung kita, Koresh. Daniel telah membuktikan dirinya kepada bangsa kita sebagai seorang nabi sejati dan seorang yang dapat membaca pikiran-pikiran Allah. Dan inilah kata-kata yang dia tulis.” (Artaban membacanya dari gulungan kedua:) “’Maka ketahuilah bahwa Yerusalem akan dipulihkan, sampai kedatangan Yang Diurapi, Seorang Raja, ada tujuh kali tujuh masa dan enam puluh dan dua kali tujuh masa.'”

“Tetapi, Ananda,” sela Abgarus, dengan suara ragu berkata, “angka-angka itu adalah simbol. Siapa yang dapat menafsir, atau siapa yang dapat menemukan kunci untuk mengartikannya?”

Artaban menjawab: “Ayahanda, telah ditunjukkan kepadaku dan kepada tiga rekanku—Kaspar, Melkhior, dan Baltazar. Kami telah meneliti loh-loh purba orang Kasdim dan menghitung waktunya. Jatuhnya tahun ini. Kami sudah mempelajari langit, dan pada musim semi tahun ini kami melihat ada dua bintang besar yang berdekatan dalam bentuk Ikan, yang berada di kediaman orang Ibrani. Kami juga melihat satu bintang baru di sana, yang bersinar hanya satu malam setelah itu hilang. Kemudian ada dua planet besar akan bertemu. Dan malam inilah pertemuannya. Ketiga kawanku sedang mengamati tanda-tanda itu di Kuil kuno Tujuh Kubah di Borsippa, di tanah Babilonia, sementara aku mengamatinya di sini. Kami bersepakat, jika bintang itu bersinar kembali, mereka akan menungguku di Kuil selama sepuluh hari, dan dari sana kami akan ke Yerusalem, untuk melihat dan menyembah seorang yang telah dijanjikan lahir sebagai Raja Israel. Aku percaya tanda itu akan datang. Dan aku sudah menyiapkan sebuah perjalanan. Aku sudah menjual rumah dan seluruh harta milikku, dan membeli tiga batu permata ini—batu safir, batu delima, mutiara—untuk kubawa sebagai persembahan untuk Raja itu. Dan aku memintamu untuk pergi bersamaku dalam ziarah ini, agar kita bersama-sama bersukacita ketika menemukan Raja yang layak disembah itu.”

Sementara berkata-kata, ia memasukkan tangannya ke lipatan korset yang paling dalam dan menarik ketiga batu pertama—satu berwarna biru cemerlang seperti langit, satu lebih merah daripada matahari terbit, dan satu putih seperti senja di puncak gunung salju—lalu ia menaruhnya dalam gulungan linen.

Seluruh kawannya menatap ganjil dan mata yang asing. Sebuah purdah seperti telah menyungkup wajah mereka, serupa kabut yang merayap naik ke atas dari rawa-rawa yang menutupi pebukitan. Mereka saling berpandangan dengan penuh syak dan syafakat, seperti sekelompok orang yang baru saja mendengar sesuatu yang mencengangkan, cerita binal tentang penglihatan, atau usulan sebuah upaya yang musykil dilaksanakan.

Akhirnya Tigranes berkata, “Artaban, ini adalah mimpi yang sia-sia. Mimpi yang disebabkan terlalu banyak menatap bintang dan membesar-besarkan pikiran yang tinggi. Menurutku, lebih bijaksana menghabiskan waktu mengumpulkan uang untuk membangun kuil api baru di Chala. Tidak akan ada yang muncul dari ras bangsa Israel yang sudah menyerah itu, tidak ada akhir bagi keabadian makna terang dan gelap. Orang yang mencari-cari itu hanyalah mengejar bayangan. Karena itu, selamat tinggal, kawan.”

Yang lain berkata, “Artaban, aku tidak tahu-menahu masalah ini, dan kantorku tiap hari sibuk mengurus properti kerajaan. Misi ini bukan untukku. Seandainya engkau akan berangkat juga, persiapkan dirimu dengan baik.”

Yang lain menambahkan, “Aku masih pengantin baru, dan aku tidak dapat meninggalkan dia atau membawanya bersamaku dalam perjalanan ini. Misi ini bukan untukku. Semoga perjalananmu berhasil. Jadi, selamat tinggal.”

Yang lain berkata, “Aku sedang sakit dan tidak siap melakukan perjalanan yang sulit, tetapi aku punya beberapa asisten yang aku bisa kirim untuk menemanimu, untuk membawa kabar tentangmu kepadaku.”

Abgarus, yang tertua dan yang paling mengasihi Artaban, masih berada di sana ketika yang lain pergi, berkata dengan nada murung, “Ananda, mungkin cahaya kebenaran yang muncul di langit akan memimpinmu kepada Raja dan cahaya paling terang itu. Atau itu hanyalah bayangan terang, seperti yang dikatakan Tigranes, dan siapa pun yang mengikuti cahaya itu hanya akan melakukan ziarah panjang tanpa makna. Tetapi, lebih baik mengikuti bayangan yang terbaik daripada merasa puas dengan yang terburuk. Mereka yang akan melihat hal-hal yang menakjubkan seringkali akan siap melakukan perjalanan itu, sendiri. Aku terlalu tua untuk perjalanan ini, tetapi hatiku akan mengikuti ziarah ini siang dan malam, dan aku akan mengetahui akhirnya. Pergilah dalam damai.”

Lalu di ruang biru sublim dengan bintang-bintang perak itu, hanya ada Artaban sendiri.

Ia mengumpulkan ketiga permata dan menyimpannya di belakang sabuknya. Matanya memandang jentik api yang meletup lalu menghilang di altar. Kemudian dia berjalan melintasi lorong, mengangkat tirai yang berat itu, melewati pilar-pilar porfori di teras loteng.

Getar digelorakan bumi yang sedang terlelap dan siap terjaga, angin sejuk memberitahu fajar menyingsing dari ketinggian, jejak-jejak salju turun dari Gunung Orontes ke jurang-jurang. Burung-burung, setengah terjaga, bangun dan bersuara riang di antara dedaunan yang berderak, aroma ranum bebuahan anggur tercium samar dari arah rerumah tanaman yang dipenuhi tumbuhan menjalar.

Jauh di timur kabut putih diam-diam melebar membentuk danau yang mengambang. Di ujung barat puncak cakrawala Zagros yang seperti bergerigi, langit tampak bersih. Planet Yupiter dan Saturnus sedang bergulung-guling bersama dengan sinar lembut yang bergerak perlahan, bersiap menyatu.

Ketika Artaban memperhatikannya, lihatlah, sebuah sinar biru tampak dalam kegelapan di bawah, mengitari warna ungu, mengitari sebidang merah, lalu bergerak ke atas dengan sinar berwarna safron dan lembayung, lalu menjadi putih cemerlang. Kecil dan nun di sana, namun setiap bagiannya sempurna, berdenyut dalam kubah seolah-olah tiga permata di dada orang Magi itu, bersatu dan berubah diri menjadi sinar yang benderang.

Dia menundukkan kepalanya. Dia menutupi alis dengan kedua tangannya.

“Inilah tandanya,” gumamnya. “Raja itu sedang datang. Aku akan ke sana untuk melihatnya.”

 

*Cerita Bersambung ini hadir setiap hari Senin.  Diterjemahkan oleh Ita Siregar dari judul asli The Other Wise Man (1896) karya Henry van Dyke

 

 

 

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response