close
Cerpen

CERPEN: Teropong Kembang Goyang

Ruhut menatap keluar, menyadari malam yang semakin pekat. Angin menukik dari daun kelapa sawit berusia dua tahun, menerobos ia ke hati lelaki yang hanya bisa merenungi sebatang pohon kelapa sawit apabila rindu mencabik-cabik dirinya. Kelapa sawit itu dulunya sesosok perempuan yang tiba-tiba menjadi kabar kepedihan pada satu malam Natal.

Di hadapan tungku yang baru menyala, lekas-lekas Ruhut mengelapkan ingus. Sejentik air mata runtuh ke adonan kue kembang goyang, secara refleks tangannya membuang bagian yang tercemar itu, kemudian mengaduk adonan lebih cepat dan cepat tersebab mesti disegerakan ke dalam minyak panas. Serenauli anak gadisnya yang berusia tujuh tahun sudah merengek menyerukan kue kembang goyang semenjak di gereja tadi.

Membuat kue kembang goyang tidaklah sulit. Ruhut dulu kerap membantu Duma melakukannya malam hari, sekembali dari ladang sawit. Tepung beras dicampur telur dan gula pasir. Santan dan air. Komposisi pertama Duma yang mengurus. Komposisi kedua, Ruhut yang menuangi perlahan-lahan, dengan penuh penghayatan, sementara mereka terus mengaduk dengan gerakan searah hingga adonan merata dan siap dicelup loyang panas. Loyang didiamkan beberapa detik dalam minyak di kuali, lantas digoyang-goyang. Minyak akan membusa, lapisan kue akan terlepas dari loyang, lalu lubang kue akan sempurna, tempat mereka meneropong bintang setelah bergantian meneropong mata masing-masing, dan beberapa bulan setelah itu seluruh desa mendengar berita lahirnya seorang bayi perempuan. Serenauli.

Namun mengenang-ngenang peristiwa itu sama dengan mengorek luka di atas luka. Pagi itu tubuhnya gemetaran mendapati punggung tangannya retak dan bengkak, berdenyut-denyut, merasa kian parah mengingat tiada lagi kekasih hati yang bisa ia mintai tolong untuk sekadar menyendokkan nasi. Ia dulu akan manja berprotes, “Kau masih tega memarahi orang demam?”, sembari mengambil tangan Duma lalu melekatkannya di dahi sendiri. Dan Duma selalu luluh setelah itu. Ia akan menggelitiki tapak kaki Ruhut sampai lelaki itu tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.

Sekarang ia tak bisa menahan air mata yang deras berjatuhan begitu saja. Bila bukan karena permintaan anak gadisnya yang bermata jeli, ia lebih memilih tidur untuk melupakan apa pun yang berhubungan dengan Natal lalu esoknya ke ladang sawit. Di sana ia bisa membersihkan rumput, memotong pelepah-pelepah tua serta sesekali memperhatikan batang bagian akar apakah kokoh ataukah bila datang badai pokok-pokok itu tumbang mendadak. Itu cukup untuk mengelabui hatinya yang sendu.

“Kue kembang goyangnya apa sudah masak, Pak?”

“O-o, sudah, sudah,” Ruhut pura-pura sibuk memegangi saringan alumunium padahal tak ada apa-apa dalam kuali.

Dengan suara kecilnya Serenauli sungguh-sungguh berkata bahwa mereka harus merayakan Natal untuk Ibu di langit: Ibu yang menembus awan dengan cara berdarah-darah demi tinggal di surganya Tuhan. Tak membantah Ruhut memantik korek api. Kemudian tiga lilin putih memancarkan cahaya lembut di pekarangan rumah. Pohon kelapa sawit di sudut sana seakan memelototi keduanya.

“Apa Ibu melihat kita, Pak?” bisik Serenauli, menengadahkan dagu ke langit.

Ia mengambil satu kue kembang goyang untuk meneropong tiga bintang yang berkedip-kedip, seperti saling bicara dalam keheningan. Satu bintang nun jauh di sana, lebih terang dibanding yang lain. Kepala kecilnya membayangkan itulah bintang timur, bintang yang dalam kitab suci pertanda Yesus lahir sebagaimana diceritakan guru sekolah minggunya. Kata Serenauli, dari bintang besar itulah ibunya menatap mereka ke bumi.

Dua bintang yang berdekatan bisa jadi dirinya dengan Ruhut yang saat itu mendekap jemari kecilnya. Ruhut mencium jemari Serenauli, meletakkan seluruhnya di depan jantung yang kini berdebar lebih sakit—ia merasa dirinya hanya ayah tak berguna karena tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan gadis kecilnya.

“Bila Ibu melihat kita, apakah nanti dia akan menjumpai kita dalam mimpi, Pak?” Suara Serenauli terdengar lagi. Ruhut terkejut sekaligus kagum mendengar kata-kata yang entah berasal dari mana keluar dari mulut kekasih kecilnya. Ruhut tahu ini karena Duma. Selagi  masih ada dulu, menjelang tidur Serenauli kerap dibacakan cerita oleh Duma. Dan Duma selalu punya jawaban untuk setiap pertanyaan putri mereka. Sekarang, bagaimana mencari perempuan itu lagi? Perempuan yang kini tinggal kenangan.

“Kau ingin Ibu datang sekarang, Sere?”

“Memangnya bisa, Pak?”

“Bisa. Tutup matamu dan pikirkanlah Ibu.”

“Tapi aku ingin kita merayakan Natal bersama Ibu.”

“Ya?”

“Apa itu bisa juga, Pak?”

“Ummm, ya ….”

Serenauli berhenti meneropong langit. Ia meletakkan kue kembang goyang ke atas bangku lalu menutup mata seraya mengatupkan tangan. Kue kembang goyang terjatuh tersentuh Serenauli yang merapatkan anggota tubuh tersebab kedinginan. Memang ini sudah kelewat larut. Daun-daun kelapa sawit pasti sudah sangat lembab.

Di belakang anaknya, Ruhut menggebuki dada, merasa tolol setolol-tololnya mengapa dirinya begitu melankolis. Ia merasa kelelakiannya tercoreng. Tak ada laki-laki secengeng sepertinya sekarang. Ia kenal seseorang, panggilannya Senu, baru beberapa bulan istrinya meninggal, sudah berjalan dengan dada membusung, membiarkan diri menjadi rebutan gadis-gadis.  Ia takkan mampu seperti itu, meskipun ia mencobanya. Hari ketika Ruhut memeluk tubuh kaku Duma dan tak lagi ia dengar desah napasnya, ia berjanji kepada dirinya: aku akan bersetia pada kesendirian meski itu kesepian yang paling mematikan.

Di belakang Serenauli Ruhut mundur untuk membuang ingus. Pohon sawit berusia dua tahun memelototi dirinya hingga ke dasar jiwa. Sawit yang ia sengaja tanam di sana tempat jasad Duma tidak jauh di bawahnya. Sawit yang menjelma Duma sendiri. Bijinya berasal dari pokok kelapa sawit tua yang tumbang lalu menimpa tubuh Duma dikala dirinya sedang sakit hampir seminggu dan akan segera dibawa berobat ke kota kabupaten namun mereka hanya memiliki sedikit tabungan. Maka itu, atas kehendaknya sendiri, Duma berbohong pada Ruhut. Duma bilang pada Ruhut ia hanya mencari kayu bakar di pinggir hutan menunggu keberangkatan mereka esok pagi yang mendekati masa-masa Natal.

Tetapi sampai pukul delapan Duma tak kunjung pulang. Hari itu Senin. Setiap orang biasanya pergi ke simpang tiga untuk berbelanja. Membeli ikan kering, beras, gula, tepung, minyak, baju-baju baru, sepatu, tas dan lainnya. Malam itu Ruhut menyakini sesuatu telah terjadi. Mengingat itu dadanya tiba-tiba berdebur keras. Perasaannya sungguh lain. Tiba-tiba matanya melihat seekor kupu-kupu cokelat mengilap memaksa diri masuk melewati celah dinding, dan berhasil.

Kupu-kupu itu mengepak-ngepakkan sayapnya. Ia berputar-putar di kamar hingga berhenti di foto Duma kemudian berputar-putar lagi. Memandang itu, Ruhut bergerak, kepalanya terasa menggasing serta mata berkunang-kunang. Ia lebarkan tangan untuk menangkap kupu-kupu yang ia tahu pasti jatuh. Lalu tangannya dipenuhi serbuk cokelat. Sayap kupu-kupu patah. Kupu-kupu tergeletak tak berdaya di telapak tangan Ruhut.

Ruhut bergegas ke pintu setelah disuruhnya Serenauli menunggu di rumah. Terseok-seok ia berjalan sambil mengenakan pengikat kepala mengetuk pintu demi pintu yang dipenuhi aroma minyak sawit di atas penggorengan. Sambil berjalan ia terbayang seharusnya malam itu Duma membuat kue kembang goyang. Ia akan mendengar denting sendok. Suara adonan diaduk, setelah itu mungkin mereka akan melakukannya, berharap seorang anak laki-laki akan lahir beberapa bulan kemudian.

Ruhut membayangkan anak laki-lakinya itu: matanya, mulutnya, oh, hidungnya, apakah nanti akan mirip hidungnya atau Duma?  Ah, lebih baik mirip Duma supaya tidak pesek seperti hidungku, ujarnya dalam hati. Lalu ia bayangkan anak laki-lakinya bertumbuh besar. Usianya tujuh tahun. Namanya Tona. Ia kemudian meninju lembut lengan Tona karena anak laki-lakinya itu menangis saat tali layangannya tersangkut di pucuk sebatang kelapa sawit. Jangan menangis, katanya. Anak laki-laki tidak boleh cengeng. Tahu-tahu Ruhut sendirilah yang menangis membayangkan semua itu.

Dua jam Ruhut melakukan pencarian di sekitar rumah tetangganya. Dalam waktu cepat warga berkumpul, berembuk, lalu berpencar. Seorang perempuan pemilik ladang sawit berhektar, berseru, “Coba kalian ke ladangku”. Warga mendelik agak marah. Perempuan kaya itu memang sering nyinyir. Ia menuduh Duma berada di ladangnya untuk mencuri sesuatu? Seharusnya ia menjaga mulutnya agar tak melukai perasaan orang tak berpunya. Tetapi perempuan itu ngotot, berkata, pernah melihat Duma di ladangnya sehabis panen, mengumpulkan brondolan sawit yang tersisa. Mau tak mau orang pun ke sana.

Malam yang tak membuahkan hasil. Hari sudah pagi ketika Ruhut mendengar kabar melumpuhkan pikiran. Tubuhnya runtuh seketika. Orang-orang membawa peralatan ke ladang perempuan pemilik ladang sawit yang luas itu. Bukan hanya parang dan kayu, melainkan gergaji mesin.

Duma ditemukan sedang duduk telungkup seperti bersujud. Sebatang kelapa sawit tua gugur menimpa dirinya. Badannya memar di banyak tempat. Tangan bajunya robek menembus daging. Dahinya mengesumba.

Seorang lelaki menggergaji batang sawit besar, yang lain menggulingkan tubuh itu. Semua mata memandang dengan perasaan ngeri. Pemandangan yang merobek jiwa. Tangis Ruhut memantul ke daun-daun kelapa sawit. Sebagian jiwanya menguap pergi. Ruhut meninju batang sawit berkali-kali sampai tangannya merekah dan robek, tidak berhenti bila orang-orang tak menahannya.

“Apa Bapak menangis?”

Ruhut menangkap anak gadisnya dan merangkul tubuh mungil itu erat-erat.

“Aku sudah memikirkan Ibu, dan Ibu akan selamanya hidup di hatiku,” kata Serenauli membuat bentuk hati di bawah dagunya.

“Tentu saja, Nak. Tentu.”

Pohon sawit berusia dua tahun di sudut rumah ditiup angin. Langit tak lagi temaram. Bintang paling besar sudah pergi dan tak ada lagi kedip di sana. Serenauli membuka toples. Ia meneropong wajah Ruhut melalui kue itu.

“Selamat Natal, Bapakku.”

“Selamat Natal, Sereku.”

Kue kembang goyang di tangan keduanya retak tiba-tiba. Seekor kupu-kupu cokelat menabrak, lalu pergi setelah meninggalkan sebelah sayapnya hinggap di bahu Ruhut.

Riau, Oktober 2017

 

Jeli Manalu tinggal di Rengat-Riau. Cerpennya pernah hadir di Analisa, Sumut Pos, Media Indonesia, Majalah Litera, Lombok Pos, Rakyat Sultra, Haluan Padang, Merapi Pembaruan, Padang Ekspres, Banjarmasin Post, Suara NTB, Medan Bisnis, Apajake.com. Cerpennya Bahagia Tak Mesti dengan Manusia, menjadi judul buku antologi kumpulan cerita yang akan segera terbit.

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response