close
Serba-Serbi

Obituari: Ibu Dr Dorothy Irene Marx (16 Februari 1923-17 Desember 2017)

Ibu Dorothy Marx

Ia mendudukkan perempuan yang mandul di rumah sebagai ibu anak-anak, penuh sukacita.
–Mazmur 113:9

Pagi di Wisma Nav Dago Pojok Bandung itu hening dan dingin. Saya duduk membaca sambil berselimut. Setelah beberapa waktu saya bangkit ke jendela untuk memeriksa keadaan udara di luar. Jendela terbuka lebar dan mata saya segera disambut oleh sesosok tubuh yang sedang berdiri menatap ke kejauhan. Tetangga kamar saya. Tadinya saya berpikir saya sendiri yang menginap di sini.

Rambut orang itu pendek ikal berwarna perak. Ataukah uban? Tubuhnya kurus, kecil. Ia menoleh ke arah saya, dan kami sama-sama tersenyum, sama-sama mengangguk. Wajah itu saya kenali. Ibu Dorothy Marx, yang banyak diceritakan teman-teman ITB.

“Ibu Dorothy Marx?” sapa saya.

Iya mengiyakan, bertanya, “Anda siapa?”

Saya menyebutkan nama. Saya bilang saya mengenali wajah dan namanya dari cerita teman-teman persekutuan. Ketika saya menjawab pertanyaan Ibu soal urusan saya menginap di Wisma itu, dia berkata, “Pekerjaan yang menarik. Silakan bekerja, maaf mengganggu,” lalu ia undur diri.

Itulah perjumpaan tiga menit saya dengan Ibu Dr. Dorothy Irene Marx.

Hari Minggu tanggal 17 Desember Ibu Dorothy Marx berpulang ke rumah Bapa. Halaman WA hape saya mengabarkan itu, di beberapa grup. Secara emosi saya tidak merasa terganggu karena saya tidak mengenalnya. Kecuali obrolan singkat di jendela pagi itu.

Karena itu saya tak berencana melayat. Namun seorang teman memberitahu agenda ibadah penghiburan oleh OMF. Saya sekarang bagian kecil dari OMF –lembaga pertama Ibu ke Indonesia- jadilah saya hadir. Barulah di Rumah Duka Husada, saya mengenal sedikit lagi tentang Ibu Dorothy.

Beberapa orang bergantian menceritakan pengalaman indah mereka bersama Ibu. Selama tiga hari disemayamkan di Rumah Duka, kamar duka dipadati mereka yang mengenal Ibu. Kesaksian demi kesaksian terus mengalir tak berhenti, pengalaman-pengalaman yang sungguh indah, bersama Ibu.

Semua itu memberi saya potongan-potongan kisah tentang siapa Ibu. Tetapi saya berhutang cerita pada Pendeta RAS Pandiangan –Pak Kaleb Tong menganggap Pak RAS anak angkat Ibu, yang membuat saya mengenal Ibu secara lengkap, saat itu.

Pak RAS Pandiangan adalah mahasiswa teologi di Duta Wacana Yogyakarta. Ia mahasiswa semester 6 ketika menghadiri KKR 5 hari yang dilayani oleh Ibu Dorothy.

Dalam mendengarkan penjelasan dan khotbah Ibu, Pak RAS bingung. Apa yang dia pahami selama ini tentang keyakinannya, menjadi tidak jelas. Karena itu ketika ada kesempatan untuk berbicara empat mata dengan Ibu, dialah yang pertama unjuk jari.

Di hadapan Ibu Dorothy, Pak RAS mengakui kebingungannya setelah mendengar khotbah Ibu, yang ditanggapi Ibu Dorothy dengan tenang dan berkata, “Kamu tidak jauh dari Kerajaan Allah.”

Air mata dan ingus berleleran berderai-derai membanjiri pipi dan seluruh wajah Pak RAS, saat Ibu Dorothy berdoa untuknya, sehingga ia repot betul mengelapnya dengan ujung bajunya. Doa yang pendek tapi menggempur dada mahasiswa yang masih hijau tanpa ampun. Setelah itu ia merasa dirinya melayang menyusul sukacita besar yang memenuhi seluruh dirinya, entah apa.

Dari peristiwa itu, di perpustakaan kampus, Pak RAS memutuskan untuk berhadapan sendiri dengan Tuhan, berbicara seperti laki-laki, menunggu Tuhan menjawabnya. Dia sungguh tak tahan dengan segala perasaan yang mengubek-ubek hatinya menjadi melankolik dan ringan sekaligus.

Tiba-tiba dalam dialog mereka berdua itu, Pak RAS melihat sebuah penglihatan, seperti slide yang nampak di dinding perpustakaan, persis di depan dirinya duduk. Slide yang menyatakan semua kesalahan yang pernah dia lakukan termasuk mencuri jambu tetangga, menyontek, berbohong, dan lainnya —sebuah daftar yang panjang. Ia mencatat dengan pensil dengan kekuatan tangannya, sampai ia berseru, “Berhenti, tangan saya pegal”, barulah slide itu berhenti, berganti tulisan I Yoh 3: 1, yang kemudian diketahuinya berbunyi, “Tengoklah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah dan memang kita adalah anak-anak Allah.”

Itulah awal relasi mereka sebagai ibu-anak yang intim, secara spiritual.

Bahwa selama tiga hari Ibu disemayamkan di rumah duka, dan para pelayat mengisahkan hubungan-hubungan pribadi mereka dengan Ibu, Pak RAS menyimpulkan bahwa sedikit apa pun persentuhan seseorang dengan Ibu, ada energi di dalam diri Ibu yang terpancar keluar, yang tidak pernah padam, tak pernah kompromi, tak pernah berhenti, untuk menjadi hamba Yesus, Tuhannya.

Energi yang kuat, pun secara jasmani. Ibu Dorothy bersepeda sepanjang 14 km Bandung-Cimahi tanpa kepayahan, meski hanya sedikit asupan makan, sedikit tidur, tetapi banyak berlutut di atas bantal doanya. Itulah sebuah rahasia kekuatan, yang tak pernah menjadi rahasia.

Ibu Dorothy, seorang keturunan Yahudi yang memenuhi panggilan Tuhan, pergi ke Indonesia pada usia 30 tahun, menanggalkan kewarganegaraan Inggrisnya tanpa ragu, menjadi Indonesia dan membela Indonesia dengan kebenaran, sebagai hamba Tuhan yang setia dan tak berhenti mencintai. Ia bersentuhan dengan banyak lembaga banyak gereja banyak sekolah banyak pemuda banyak hati. Dengan energi yang tak tergoncangkan, yang ia dapat dari Langit.

Di ruang duka yang berdraperi bernuansa putih-ungu yang agung, harum lembut dari wangi bebungaan mawar putih, pink, oranye, lily, seruni kecil, chrysanthemum, aster putih, sedap malam, daun kubis, daun bunga kol, pandan iris, kuncup melati, setiap orang merayakan Ibu. Saling menghibur saling  menghangatkan hati. Bila tak diatur, mungkin kesaksian-kesaksian tentang Ibu dan apa yang dilakukannya untuk Indonesia, takkan selesai sampai besok, atau lusa. Belum pernah saya merasa sedemikian betah, di rumah duka.

Di pagi hujan jam 10 ini, Ibu akan diberangkatkan dari GKI Gunung Sahari, menuju San Diego Hills, untuk dimakamkan. Rumah jasadnya. Sementara dirinya telah bersama Yesus, cinta satu-satunya Ibu.  Selamat jalan, Ibu. Berharap mengenal Ibu sedikit lagi kelak, di rumah Bapa. (itasiregar, 20des2017)

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response