close
Cerbung

CERBUNG: Artaban, Kisah Orang Majus yang Lain (2)

pexels-photo-693776

Di Tepi Sungai Babilonia

SEPANJANG malam Vasda, kuda Artaban yang paling tangkas, telah bersiap di kandang dengan sadel dan kekang terpasang di pundaknya, menunggu sambil mengais-ngais kakinya di tanah seperti tak sabar, menggoyang-goyangkan tubuhnya seolah-olah tertular semangat tuannya, meski dia tidak tahu apa maknanya.

Sebelum burung-burung berkicau dengan lengking suaranya, ramai riang menyanyi pagi itu, sebelum kabut putih yang malas menghilang dari pemandangan, orang majus satu ini sudah menaiki sadelnya, menunggang kudanya melesat di jalanan menanjak, menyusuri kaki Gunung Orontes, ke jurusan barat.

Betapa dekat dan intim relasi manusia dan kuda kesayangannya itu dalam perjalanan panjang ini. Sebuah kedekatan yang tenang, saling percaya, tanpa perlu penjelasan kata-kata.

Mereka meneguk air di mata air yang sama, tidur di bawah sekawanan bintang di langit. Mereka bersama mengatasi serangan malam dan terjaga dengan cepat sebelum fajar. Sang tuan berbagi makan malam dengan makhluk lapar itu, merasakan lembutnya bibir-bibir lembap sahabatnya menyentuh telapak tangannya saat memakan remah-remah roti. Menjelang fajar ia terjaga di tendanya dengan deru napas  hangat yang dekat ke wajahnya yang masih lelap, menatap teman seperjalanannya yang setia memandangnya, siap dan menunggu pekerjaan hari itu. Kepada Allah yang dia sebut nama-Nya, dia mengucapkan rasa syukur dengan khusyuk, dan ia memanjatkan doa paginya untuk mereka berdua mendapat berkat –berkatilah kami ya Allah, jagalah agar kaki kami tak tersandung dan jauhkan jiwa kami dari kematian!

Kemudian, melalui udara pagi yang menyengat, laju hentak kaki yang  berirama penuh semangat di sepanjang perjalanan, menjaga denyut jantung keduanya bergerak dengan gairah yang sama—menaklukkan ruang, mengalahkan jarak, mencapai tujuan perjalanan.

Artaban mengendalikan kudanya dengan baik dan bijaksana jika dia ingin mencapai tujuan bertemu teman-temannya pada waktu yang tepat. Rute yang harus ditempuhnya adalah seratus lima puluh parasang (parasang adalah ukuran jarak yang memungkinkan dicapai menurut ukuran Iran purba. Jarak diukur sesuai dengan karakter daerah dan kecepatan perjalanan. Di Eropa ukuran ini ekivalen dengan unit). Dalam kasus Artaban, lima belas adalah jarak paling cepat yang dapat dijalani dalam satu hari. Namun karena dia kenal betul kekuatan Vasda, dia mempercepat perjalanan tanpa menciptakan tekanan, mempertahankan jarak sama setiap hari, meski harus berjalan sampai larut malam dan berangkat sebelum fajar tiba.

Mereka melintasi lereng Gunung Orontes yang kecokelatan, berkerenyut oleh bidang-bidang berbatu dari derasnya seratus aliran air.

Ia memintasi tanah-tanah datar Nisasan, di mana sekawanan kuda sedang memamah rumput di hamparan padang yang luas, mendekatkan kepala mereka ke arah Vasda, dan menderapkan kudanya menjauh dengan suara guruh ratusan tapak kuda, yang membuat sekumpulan burung liar terbang serentak dari padang rumput yang berawa, berputar-putar dengan sayap-sayap bersinar yang tak terhitung jumlahnya dan berseru nyaring akibat keterkejutan.

Dia menyeberangi padang-padang Concabar, di mana debu lantai-lantai pengirik memenuhi udara dengan halimun keemasan, yang setengahnya mengaburkan kuil Astarte yang sangat besar dengan empat ratus pilar itu.

Di Baghistan, di antara taman-taman yang dialiri air yang memancar dari batu karang, ia menatap ke arah gunung, memaksa dengan seluruh kekuatannya agar dapat menyelusuri jalanan, melihat figur Raja Darius yang menginjak-injak para musuh, dan dengan arogan menunjukkan perang dan pampasan perangnya, yang terukir di atas wajah batu karang yang abadi.

Ia menempuh jalan-jalan yang dingin dan suram, setengah mati merangkak melintasi punggung-punggung bukit yang berangin; menuruni ngarai gunung yang gelap curam, di mana arus sungai bergemuruh dan mengalir deras di depan matanya seperti pemandu yang ganas; melangkahi lembah yang tersenyum, dengan teras-teras batu kapur yang kekuningan yang dipadati pohon buah-buahan; menembus belukar pohon oak di Carine dan gerbang-gerbang Zagros yang seram, mengelilingi tebing curam; menuju kota purba Chala, di mana orang Samaria sudah  memeliharanya pada waktu yang lalu; keluar ke dekat portal megah, merepih melalui pebukitan yang melingkupiya, di mana ia melihat gambar Pendeta Agung orang majus yang ditatah di dinding karang, dengan tangan terangkat ke atas seolah-olah memberkati abad-abad para peziarah; melewati jalan kecil jurang yang sempit, yang dari ujung ke ujung dipenuhi kebun buah persik dan buah ara, meniti buih sungai Gyndes yang bersentuhan dengannya; meninggalkan ladang-ladang padi yang luas, di mana uap air musim gugur menyebarkan kabut yang mematikan; membayangi sisi-sisi sungai, di bawah bayang-bayang semacam pohon dan tumbuhan asam yang padat, di antara bukit-bukit rendah; di luar dataran yang rata, di mana jalan tampak lurus serupa anak panah yang melewati tunggul ladang yang terbakar karena panas dan padang rumput yang kering; melewati kota Ctesiphon, di mana kaisar-kaisar bangsa Parthia memerintah, dan kota metropolis Seleucia yang sangat luas yang dibangun oleh Alexander; melewati luapan sungai Tigris yang berputar dan banyak kanal sungai Efrat, yang kuning mengalir melewati ladang-ladang jagung—Artaban terus membujuk Vasda agar dia tiba pada malam kesepuluh, di bawah dinding-dinding kota Babilonia yang berserakan dan padat penduduk.

Vasda hampir kehabisan tenaga, Artaban bisa saja dengan senang hati kembali ke kota untuk mencari tempat istirahat dan menyegarkan dirinya dan kudanya. Namun tempat itu hanya tinggal tiga jam perjalanan untuk tiba di Kuil Tujuh Kubah, dan dia harus mencapainya pada malam hari dia dia tidak ingin ditinggalkan oleh kawan-kawannya. Jadi dia tidak berhenti, terus duduk di punggung Vasda, melewati ladang-ladang tunggul kering.

Hutan kecil kurma membuat suram lautan kuning ladang yang memucat. Ketika melewati bayangan, Vasda memperlambat langkahnya, seperti berhati-hati.

Mendekati kegelapan di ujung sana, seperti satu peringatan menyerang. Dia mencium bahaya; sesuatu yang bukan dari dirinya, berkata untuk berlari dari bahaya itu—dan dia hanya bisa bersiaga, mendekati dengan bijak, sebagaimana yang harus dilakukannya. Hutan kecil itu kian dekat dan sunyi seperti kuburan; tak terdengar selembar daun pun berdesau, tak seekor burung pun menyanyi.

Kuda itu merasakan langkah-langkah kaki di depannya, sambil menundukkan kepalanya, mengikik mengeluh dengan kecemasan. Akhirnya napasnya memburu, terdengar lemah dan letih, ia berdiri namun tubuhnya tak bergerak, kemudian seluruh ototnya bergetar lembut, di hadapannya tampak satu bayang gelap pepohonan palem yang paling ujung.

Artaban turun dari kuda. Sinar bintang yang suram menunjukkan adanya sebentuk tubuh manusia yang terbaring melintang di atas jalan. Pakaiannya bersahaja dan sketsa kepayahan nampak di wajahnya yang penat, menunjukkan ia seorang pelarian Ibrani miskin yang masih tinggal di wilayah itu. Kulitnya pucat, kering dan kuning seperti kertas kulit, menandakan serangan demam yang mematikan, seperti memorakporandakan rawa musim gugur. Kematian tampak dari tangannya yang terkulai, dan ketika Artaban melepaskannya, lengan itu tak bergerak di atas dadanya yang seperti tak berdetak.

Dia memalingkan wajahnya dalam rasa iba, menopang tubuh itu ke dekat pemakaman dan bersikap sebagai pendeta Majus berperilaku yang paling pantas—pemakaman gurun pasir, di mana layang-layang dan sayap-sayap burung hering akan muncul dari kegelapan, di mana binatang-binatang liar memangsa dengan sembunyi-sembunyi, hanya meninggalkan seonggok tulang-belulang putih di atas pasir.

Namun saat dia berbalik, terdengar rintihan kesakitan dari bibir laki-laki malang itu. Tulang-tulang jemari yang kecokelatan mengejang di ujung jubahnya, berpegangan erat.

Jantung Artaban seakan melompat dari tenggorokan, bukan karena takut, tetapi kepahitan tiba-tiba atas kesadaran akan kemungkinan ia menunda perjalanannya.

Bagaimana mungkin dia tinggal di sana dalam gelap demi menolong seorang asing yang sedang sekarat? Apakah tuntutan kemanusiaan yang tak bernama ini atas nama belas kasihan atau pelayanan? Jika dia di sana selama satu jam, mungkin pada waktu yang sama dia tiba di Borsippa. Teman-temannya mungkin akan berpikir dia sudah menyerah dan mereka akan melanjutkan perjalanan tanpanya. Lalu dia akan kehilangan misinya.

Kalau dia berangkat sekarang, orang itu pasti kehilangan nyawanya. Jika dia bertahan, mungkin hidupnya masih dapat diselamatkan. Semangat Artaban berdentam dan gugup secara bersamaan menghadapi krisis yang mendesak ini. Haruskah dia mengambil risiko iman demi satu tindakan kemanusiaan? Haruskah dia mengesampingkan, sekejap saja, dari mengikut bintang terang itu, demi memberi secangkir air dingin bagi seorang yang malang ini, seorang Ibrani yang hampir mati?

“Allah sumber kebenaran dan kemurnian,” doanya, “tunjukkan kepadaku jalan suci, jalan kebijaksanaan yang hanya Engkau sendiri mengetahui.”

Kemudian dia membalikkan tubuhnya ke arah si sakit. Dia melonggarkan pegangan tangannya, menopang dan membaringkannya ke gundukan kecil di bawah pohon palem.

Artaban membuka turban dan pakaian atas si sakit. Dia mengambil air di kanal di dekat situ, membasahi alis dan mulut si sakit. Dia mencampur obat-obatan herbal kering yang dia selalu selipkan di balik korsetnya—sebagai seorang Pendeta Magi, dia juga adalah tabib dan ahli bintang—dan meneteskannya perlahan ke bibir pucat itu. Jam demi jam berlalu dia terus melakukan itu; sampai akhirnya kekuatan orang itu kembali. Dia duduk dan menatapnya.

“Saudara siapa?” tanyanya, dalam dialek kasar warga kampung, “dan mengapa Saudara menyembuhkan saya?”

“Saya Artaban, pendeta Magi, dari kota Ekbatana. Saya sedang menuju Yerusalem untuk mencari seorang yang lahir sebagai Raja Yahudi, Raja Agung dan Pembebas manusia. Saya tidak berani menunda lagi perjalanan ini, karena karavan yang menunggu saya mungkin sudah berangkat tanpa saya. Tetapi ini, saya punya roti dan anggur, dan ini obat-obatan herbal. Kalau Saudara sudah merasa kuat, carilah orang Ibrani di sekitar sini.”

Orang Yahudi itu mengangkat tangannya yang gemetar ke surga.

“Semoga Allah Abraham dan Ishak dan Yakub memberkati perjalanan Saudara dan membuatnya berhasil, dan damai sejahtera dari surga turun ke atas Saudara. Saya tidak memiliki sesuatu pun untuk diberikan sebagai tanda terima kasih—kecuali ini: saya  memberitahu Mesias yang Saudara cari. Nabi-nabi kami sudah berkata bahwa Dia tidak lahir di Yerusalem, tetapi di Betlehem, di tanah Yehuda. Semoga Tuhan menyelamatkan perjalanan Saudara sampai ke tujuan, karena telah menunjukkan belas kasihan kepada si sakit ini.”

Sudah hampir tengah malam. Artaban melarikan kudanya secepatnya. Vasda sudah pulih dari letihnya, berlari sepenuh semangat melewati tempat yang sunyi dan wilayah rawa-rawa dekat sungai. Kuda itu mengupayakan segala kekuatannya untuk berlari kencang dan lincah seperti rusa.

Namun sinar matahari pertama membentuk bayang sebelum dia memasuki gelanggang akhir perjalanannya. Kedua mata Artaban tampak cemas melihat ke arah bukit besar Nimrod dan Kuil Tujuh Kubah. Ia tidak melihat jejak kawan-kawannya di sana.

Teras-teras berwarna hitam dan lembayung dan merah dan kuning dan hijau dan biru dan putih, menyebar karena ledakan alam, meremuk di bawah tiupan kedegilan berulang akibat ulang manusia, bersinar seperti serpihan pelangi pagi hari.

Artaban menaiki bukit, menanjak, menaiki teras tertinggi dan memandang ke arah barat.

Kesunyian yang paling sunyi di atas rawa-rawa di seluruh horizon dan batas-batas gurun. Kegetiran nampak di kolam-kolam yang tak mengalir, serigala mengendap-endap di belukar yang rendah; tetapi tidak ada tanda-tanda karavan para majus, di kejauhan atau di dekat sana.

Dan di ujung teras matanya menepukan setumpukan kecil pecahan batu bata yang dibentuk pirami, dan di bawahnya tergeletak kain perkamen. Dia mengambil dan membaca pesan di sana: “Kami menunggumu sampai melewati malam, tidak bisa menunda lagi. Kami pergi mencari Raja itu. Ikutilah kami melewati gurun.”

Artaban terduduk di tanah, lemas, menutupi kepalanya dalam keputusasaan.

“Bagaimana aku melewati gurun tanpa makanan dan dengan kuda yang sudah kelelahan,” pikirnya sedih. “Aku harus kembali ke kota Babilonia, menjual batu safir ini lalu  membeli beberapa unta dan perlengkapan untuk perjalanan ini. Tak mungkin aku dapat menyusul teman-temanku. Hanya Allah Maha Pemurah yang tahu apakah aku akan kehilangan kesempatan melihat Raja itu karena aku terlambat untuk menunjukkan belas kasihan bagi orang itu.”

*Cerita Bersambung ini hadir setiap hari Senin.  Diterjemahkan oleh Ita Siregar dari judul asli The Other Wise Man (1896) karya Henry van Dyke

 

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response