close
Cerbung

CERBUNG: Artaban, Kisah Orang Majus yang Lain (3)

diamond-704072_960_720

Demi Seorang yang Kecil

Artaban terus menekuni perjalanannya melewati padang gurun bergelombang dan suram, di atas punggung untanya, bergerak seperti mengambang di sebuah kapal di tengah samudera.

Tanah kematian menyebarkan jaring durjana ke dalam tubuhnya. Padang pasir yang luas kering tiada pohon atau pohon buah, hanya onak dan tanaman berduri. Bingkai gelap batu karang menusuk di atas permukaan di sini dan di sana, seperti tulang-tulang makhluk monster yang mati merana. Barisan gunung yang kersang dan tak ramah menghadangnya, berkerenyut bersama saluran-saluran yang sudah ada sejak zaman purba namun kering tak berait, gambaran mengerikan seperti luka gores pada wajah alam.

Bukit-bukit bergerak karena pasir mematikan yang bertumpu seperti sederet kuburan di bawah kaki langit. Pada siang hari, panas yang ganas menggigit hingga tak dapat ditoleransi pada udara yang menggigil; tak satu pun makhluk hidup akan berjalan dalam kedunguan seperti ini, bumi yang nyaris pingsan, celurut kecil terbirit-birit menerobos semak  kering, atau cecak-cecak kabur lalu raib di langit-langit batu karang. Pada malam hari, ancaman segerolombolan serigala mencari mangsa dan lolongnya yang menggetarkan hati, auman singa bergaung dari jurang-jurang dalam dan gelap, sementara udara dingin yang sengit dan membinasakan, setelah demam siang hari. Melewati panas dan dingin yang ekstrem, ia terus berjalan.

Lalu ia melewati taman-taman dan kebun buah-buahan kota Damaskus, yang diairi arus Abana dan Pharpar, dengan lereng tanah berumput yang bertatahkan sekumpulan bunga, dan harum belukar damar dan kembang-kembang mawar. Ia melihat punggung bukit Hermon yang luas dan bersalju, hutan kecil cedar dan lembah Yordan, air Danau Galilea yang biru jernih, tanah subur Esdraelon, bukit-bukit Efraim, dan tanah tinggi Yehuda. Melalui semua ini Artaban terus bergerak, sampai dia tiba di Betlehem. Itu adalah hari ketiga setelah tiga kawannya tiba dan bertemu Maria dan Yusuf, dan bayi Yesus, dan sudah meletakkan persembahan-persembahan berupa emas dan kemenyan dan mur, di kaki bayi Yesus.

Dan Artaban mendekat, dengan rasa letih, namun penuh harapan, membawa batu merah delima dan mutiara kepada Raja itu. “Akhirnya,” katanya. “Aku akan menemuinya, meski sendirian, dan lebih lama dari saudara-saudaraku. Inilah tempat yang dikatakan oleh pelarian orang Ibrani kepadanya, yang sudah dikatakan kepada nabi-nabi, dan di sana ia dapat melihat munculnya cahaya agung. Tetapi ia harus meneliti kunjungan kawan-kawannya, ke rumah mana bintang mengarahkan mereka, dan mempersembahkan persembahan mereka.”

Jalan-jalan di desa tampak sunyi dan ditinggalkan. Artaban bertanya-tanya apakah semua laki-laki sudah pergi ke bukit-bukit padang rumput untuk mengangon. Di situ ia melihat satu pintu terbuka, sebuah pondok beratap rendah. Ia mendengar suara halus yang sedang menyanyi dengan suara lembut. Dia masuk dan melihat seorang ibu muda sedang meninabobokan bayinya. Kepadanya, perempuan muda itu berkata soal tiga orang asing dari Timur yang muncul di desa tiga hari lalu, dan mereka bilang, kedatangan mereka itu karena merkea mengikut petunjuk satu bintang besar di langit, sampai tiba di tempat Yusuf dari Nazaret menginap di pondok kecil, dengan istri dan bayi mereka yang baru lahir, dan mereka membayar biaya penginapan dengan penuh hormat, dan memberikan hadiah yang sangat mahal harganya.

“Para peziarah itu kemudian menghilang, mendadak seperti kedatangan mereka,” tambahnya. “Kami merasa khawatir dengan ganjilnya kunjungan mereka. Kami tidak dapat memahaminya. Kemudian orang Nazaret itu membawa istri dan anaknya, malam itu juga, sembunyi-sembunyi, ke Mesir. Sejak kepergian mereka, desa ini seperti terkena kutuk; sesuatu yang jahat meliputi kami. Mereka bilang prajurit-prajurit Romawi datang dari Yerusalem untuk memaksakan pajak baru kepada kami. Banyak orang desa membawa ternak-ternak mereka ke belakang bukit-bukit yang jauh di sana, untuk bersembunyi.”

Artaban mendengarkan perkataan ibu muda itu baik-baik, sementara anak kecil di tangannya, menatap wajahnya yang letih, mengulurkan tangan mungilnya yang montok dan merah muda, seolah-olah merenggut lingkaran emas yang bersayap di dada bajunya. Tingkah bayi itu menghangatkan hati Artaban yang letih. Sentuhan itu seperti sapaan sayang dan rasa percaya kepada seorang peziarah yang berjalan jauh sendirian dan sering kebingungan, berjuang atas keraguan dan ketakutannya sendiri, mengikuti terang yang diselubungi awan gemawan.

“Mungkinkah anak itu Raja yang dijanjikan?” batin Artaban, ketika bayi itu menyentuh pipinya dengan lembut. “Raja-raja lahir di sini, di rumah-rumah yang lebih sederhana dari pondok ini, dan bintang dapat muncul dari rumah kecil itu. Tetapi tampaknya tidak baik untuk memberi hadiah dengan cepat dan mudah. Ia yang kucari sudah pergi; dan sekarang aku harus mengikut Raja itu ke Mesir.”

Ibu muda itu meletakkan bayinya ke dalam ayunan, lalu bangkit untuk menyediakan makanan sederhana ala petani kepada Artaban, namun dengan rasa rela. Makanan itu sungguh menyegarkan tubuh dan jiwa tamunya. Artaban pun menerima semua yang disajikan dengan penuh syukur. Ketika dia sedang makan, bayi di ayunan tertidur dengan wajah bahagia, bergumam lembut dalam mimpi dan suara bayinya. Kedamaian meliputi pondok sederhana itu.

Namun tiba-tiba terdengar keributan dan kegaduhan di jalanan desa, pekik dan ratap para perempuan, gemerincing suara terompet dan denting pedang yang menciptakan suasana horor, dan jerit yang terdengar putus asa, “Tentara! Tentara Herodes! Mereka membunuhi anak-anak kita.”

Wajah ibu muda itu berubah pucat ketakutan. Dia mendekap anaknya dekat ke dadanya, meringkuk tegang di sudut gelap rumah, menutupi bayinya dengan baju lebar, menjaganya agar ia tidak terjaga atau menangis.

Artaban sendiri dengan cepat menyelinap ke luar pondok, berdiri di depan pintu. Bahunya yang lebar memenuhi seluruh pintu , ujung penutup kepalanya menyentuh kusen.

Dalam sekejab tentara memenuhi jalan dengan tangan dan pedang yang meneteskan darah. Penampilan tak biasa asing dan pakaian Artaban membuat mereka sedikit ragu. Kapten gerombolan itu berjalan mendekati ambang pintu, dengan maksud menyingkirkan Artaban agar ia dapat memeriksa rumah. Tetapi Artaban tidak bergerak. Wajahnya tenang seperti ia sedang memandang bintang-bintang. Nyala di matanya bersinar teguh bahkan akan membuat seekor leopard bersembunyi dalam ragu, dan darah memburu yang liar itu menghentikan langkahnya. Ia menahan tentara itu dengan tenang, lalu dengan suara rendah ia berkata, “Aku sendiri di tempat ini, dan aku sedang menunggu untuk memberikan permata ini kepada kapten yang bijaksana, yang akan meninggalkan tempat ini dalam damai.”

Artaban memperlihatkan batu delima di telapak tangannya, kilaunya yang rupawan nampak seperti tetesan darah seorang yang luhur mulia.

Kapten itu terkesima menatap gemerlap batu permata yang menakjubkan itu. Bola matanya membesar seperti juga hasrat di dalam dirinya. Garis-garis serakah mengerutkan sekeliling bibirnya. Dia segera mengulurkan tangannya, mengambil batu itu.

“Jalan terus!” teriaknya kepada pasukannya, “tidak ada anak di sini. Rumah ini aman.”

Kegegeran dan suara gemerincing senjata segera lewat seperti juga kemarahan yang tidak berpikir, yang bermaksud menyapu buruan, yang membuat rusa bergetar bersembunyi. Artaban kembali memasuki pondok itu. Dia memalingkan wajahnya ke arah timur dan berdoa,

“Allah yang benar, ampuni dosaku! Aku telah berkata sesuatu yang tidak benar, demi menyelamatkan hidup seorang anak. Dua persembahanku sudah tidak ada lagi padaku. Aku sudah memberikannya kepada seseorang di tengah jalan, yang kumaksudkan adalah untuk Allah. Layakkah aku untuk melihat wajah Sang Raja?”

Tetapi di belakangnya, ia mendengar suara ibu muda itu menangis dalam haru, menanggapi doanya, berkata lembut, “Karena engkau telah menyelamatkan nyawa anak kecil ini, kiranya Tuhan memberkati dan menjagamu; kiranya Tuhan menghadapkan wajahnya kepadamu dan kemurahan akan mengikutimu; kiranya Tuhan mengangkat wajahNya atasmu dan memberimu damai.”

*Cerita Bersambung ini hadir setiap hari Senin.  Diterjemahkan oleh Ita Siregar dari judul asli The Other Wise Man (1896) karya Henry van Dyke

 

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response