close
Galeri

Pameran Seni Rupa: Keadilan dan Perdamaian di Awal Tahun

WhatsApp Image 2018-01-05 at 17.11.55

 

Tiga puluh seniman berkarya dengan berbagai medium dan gaya mengusung tema keadilan dan perdamaian di Gedung Balai Budaya Jakarta yang bersejarah.

Awal tahun diisi dengan semangat perdamaian dan lantang menyuarakan keadilan.
Inilah pesan yang diselipkan 30 seniman yang menggelar rangkaian pameran bertajuk Solidarity Peace and Justice di Balai Budaya, sejak 4 hingga 11 Januari 2018. “Ini merupakan silaturahmi kami di awal tahun,” ujar RB Ali kepada Litera di pembukaan pameran, Kamis (4/1).
Ali menampilkan karya bertajuk Keseimbangan dengan karya  menyerupai nuansa kubisme. Sebagaimana pendapatnya, inilah ikatan para seniman membaca gejolak lokal, nasional dan global belakangan ini.


Kegelisahan tentang keadilan dan perdamaian diperlihatkan oleh Idris Brandy dengan obyek timbangan  berukuran besar dan manusia mini yang meliuk menyerupai zigot. Judul karya terasa menyindir, Timbang Menimbang tak Berimbang. “Kebetulan obyeknya sama dengan tema yang disepakati. Aku sedang menangkap kondisi bangsa yang terjadi sekarang ini,” ujar perupa yang merintis Studio Bongkar Otak di Tangerang itu.
Karya pameran 30 perupa menghasilkan beragam obyek. Aisul Yanto  menyertakan karya berjudul Energi Perdamaian menampilkan abstraksi hitam-putih, Syahnagra Ismail mengusung karya bertajuk Doa dari Pinggir Sawah yang memperlihatkan nuansa pointilisme – titik di antara lukisan menjadi bidang warna. Syahnagra, kini nampak lebih tenang dalam menuangkan abstraksi lanskap. Tak begitu riuh, baik dalam pilihan warna dan guratan.
Para seniman menampilkan karya yang beragam. Permaknaan yang universal ini tak hanya di karya yang verbal tapi juga yang bernuansa abstrak sebagaimana pada karya Cak Kandar bertajuk Forever Happy, FX Jeffrey sumampouw lukisan Percakapan Kemaren dan Sri Warso Wahono bertajuk Optimisme.

Perupa Edy Bonetski membuat karya media campuran dengan panel terpisah yang menarik perhatian pengunjung dengan karya bertajuk Bonetski Kode.  Tak hanya dengan kanvas, dia  menjadikan kaos sebagai medium.
Seniman lain yang ikut serta di pameran ini adalah Ahmad Musoni, Anfield Wibowo, Ireng Halimun, Anthony Sutanto, Koko Rajasa, AR Sudarto, Maria Tiwi, Bambang Win, Remy Silado, Chrisnanda Dwilaksana, Ridwan Manantik, Daniel Rudi Haryanto, Robby Lukita, Satya B Pranaya, Egi Sae, Emmy Go, Sohieb Toyaroja, Greg Susanto, Yahya TS, Ika Umy Hay dan Yayat Lesmana.

Energi Positif
Bagi Aisul Yanto, perupa yang  menjabat sebagai Sekretaris Jenderal di Balai Budaya Jakarta ini, kesemua rekannya telah memancarkan greget dan fibrasi dalam karyanya, dari taksu masing-masing ke penjuru ruang dan kehidupan dengan energi positif.
Kondisi sosial saat ini, antara mayoritas dan minoritas belakangan cenderung ingin menguasai atau memanipulasi situasi yang ada. Keduanya berhadapan untuk saling menguasai, saling menegaskan keberadaan masing-masing. Bagi Aisul, seharusnya hal itu tidak terjadi, bila masing-masing mengedepankan rasa kebersamaan, perdamaian dan keadilan. Tegasnya, di sinilah posisi seniman, untuk menyikapi situasi tadi.
Ika Ismurdiyahwati yang lulusan S-2 dan S-3 di Departemen Seni Rupa Institut Teknologi Bandung mengatakan pameran seniman di Balai Budaya Jakarta sekalugus juga untuk menghidupkan kembali tempat yang pernah memegang peranan penting dalam sejarah Indonesia.
Menurutnya, menjadikan keberadaan Balai  Budaya semakin membumi bagi kita adalah bermakna juga mempelajari masa lalu untuk kepentingan masa depan. Agar menjadi bangsa yang lebih maju dan bermartabat sebagai bangsa yang besar: Indonesia. *

 

Oleh: Sihar Ramses Simatupang

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response