close
OASE

Penulis, Idealisme Profesi, dan Maecenas Cabe-cabean

Startup Stock Photos

Anindita Thaft menulis esai berjudul Pengarang Gurem, Pajak, dan Honor (dimuat di Harian Fajar 18/12/2017). Dalam tulisannya, novelis ini membuat istilah pengarang hiu dan pengarang gurem.

Pengarang hiu, menurut pemandangannya, adalah pengarang yang karena ketenaran namanya –setelah bekerja keras selama ini- memudahkan dia menjual tulisan. Karyanya ditunggu-tunggu oleh redaksi atau penerbit. Sementara pengarang gurem, karena belum dikenal, menjual satu dua tulisan saja sulitnya ampun-ampun.

Pengarang hiu meributkan pajak karena besarnya royalti yang diperoleh. Sementara energi pengarang gurem sudah habis ketika memperjuangkan tagih-menagih honor yang tidak seberapa, dari media atau penerbit.

Pertanyaannya, ke mana lari pengarang hiu atau pengarang gurem mengadu memperjuangkan hak-hak khas masing-masing? Konsumen yang kesal ditipu oleh produsen, dapat meminta bantuan YLKI. Yang  merasa diperlakukan tidak adil, bisa lapor Kontras. Pengarang ke Menteri Keuangan? Asosiasi profesi?

Sedikit lebih lama sebelum itu, Pasar Buku menyelenggarakan sebuah diskusi bertajuk Perlukah Asosiasi Pengarang? Salah satu nara sumbernya, Riri Satria, adalah konsultan manajemen dan juga penulis. Ia mencari tahu stakeholder atau para penyandang kepentingan dunia sastra. Ada sembilan yang ia temukan terlibat dalam sastra, dan salah satunya adalah maesenas.

Maesenas, menurut KBBI, adalah orang kaya pendukung kebudayaan, pelindung seni dari kalangan seniman. Federasi Teater Indonesia menggunakan istilah Maecenas untuk memberi penghargaan kepada mereka yang telah menyokong kerja-kerja kesenian secara luar biasa. Sebuah kelompok filontropi di Jerman memakai nama Maecenas untuk menyebut khas aktivitas dirinya.

Kata maesenas diilhami oleh nama Gaius Maecenas. Ia seorang diplomat dan penasihat kaisar di zaman Romawi baheula. Ia kaya-raya dan seorang yang royal. Secara penuh ia memberi segala fasilitas bagi Virgil dan Horace -dua penulis yang menulis karya epic setelah itu. Maecenas sendiri seorang penulis. Artinya, ia kenal kemampuan diri. Ia tidak menipu diri dengan “membeli” –katakanlah Virgil dan Horace- untuk menulis sesuatu demi glorifikasi dirinya. Ia membebaskan diri dari praktik kemunafikan macam itu. Ia percaya sebuah puisi –karena kekuatan kata-katanya- dapat menjadi alat yang mendukung atau mengkritik pemerintah atau penguasa yang korup.

Maesenas-maesenas dalam porsi kecil dan besar ada di sekitar kerja kesenian. Festival Ubud yang setiap tahun mengundang sekitar 150 penulis dunia, menulis nama-nama maesenas mereka dalam buku programnya. Ketika penulis senior Hanna Rambe tak punya ongkos menghadiri undangan sebuah universitas di Amerika Serikat, Toeti Heraty berperan maesenasnya. Gabriel Marques dapat duduk menyelsaikan Seribu Tahun Kesunyian, sementara istrinya menyingsingkan lengan baju agar dapur mereka tetap ngebul. Pemusik flamboyan Andre Rieu, akankah dijuluki raja waltz tanpa sang istri merelakan Rieu bekerja siang-malam demi musiknya?

Pepatah Papua mengatakan fa ido ma, ma ido fa. Memberi karena menerima, menerima karena memberi. Dunia ini menjadi indah karena bakat-bakat yang mengkilau karena dukungan para maesenas. Kebaikan-kebaikan semacam itu pasti dikenang, takkan dilupakan meski coba dirahasiakan.

Sekarang dunia sastra kita sedang disibukkan dengan sebuah mega proyek. Ratusan penulis dari seluruh pelosok negeri diajak terlibat dalam proyek menulis puisi esai. Setiap penulis yang tertarik menulis sebuah puisi esai akan diberi Rp5 juta. Setelah melewati proses, sebanyak 170 penulis dari 34 provinsi telah menyelesaikan tulisannya dan buku siap dicetak. Saya menganggap pastilah orang yang menggagas sekaligus menanggung semua biaya ini seorang maesenas. Tidak percaya? Mari kita berhitung.

Biaya honorarium 170 penulis x Rp5.000.000 adalah Rp850.000.000. Jasa administratif yang bertugas menghubungi, membuat dan mengirim surat kontrak, mengumpulkan karya, bila ada lima orang dan masing-masing honornya Rp25.000.000, maka seluruhnya Rp125.000.000. Honorarium para ahli yang ditugaskan menulis tentang fenomena puisi esai, bila satu tulisan dihargai Rp25.000.000 dan ada 10 orang ahli, maka diperlukan Rp250.000.000. Biaya mencetak buku, bila biaya produksi Rp40.000 x 10000 buku (untuk dibagikan cuma-cuma ke pihak-pihak yang bersangkutan) = Rp400.000.000. Biaya kurir dan ekspedisi, biaya peluncuran buku dan diskusi-diskusi yang diselenggarakan di 34 provinsi, bila masing-masing ongkos Rp25.000.000, diperlukan Rp850.000.000. Tanpa memasukkan biaya rapat mingguan, bulanan, biaya komunikasi, konsumsi, dan transportasi, termasuk membeli harga diri para kritik sastra yang khusus mengelu-elukan kerja ini, maka perhitungan kasar mega proyek ini adalah Rp2.475.000.000 (baca: dua milyar empat ratus tujuh puluh lima juta rupiah). Jumlah yang fantastis! Biaya ini mungkin melebihi yang uang dikeluarkan dari kocek Gaius Maecenas untuk Virgil dan Horace, pada zaman itu.

Mekanisme di atas, bila dilakukan secara berkesinambungan oleh siapa pun maesenas di sekitar sastra, maka istilah yang diusung oleh Anindita di awal tulisan, akan menjadi tidak penting.

Sayangnya, hal di atas masih dalam wacana seandainya. Pasalnya, maesenas mega proyek yang saya sebut di atas masih berlevel “cabe-cabean”. Belum bertindak maesenas seperti makna pada kamus dan merujuk Gaius Maecenas di zaman Romawi. Sayang sekali memang. (is/feb2018)

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response