close
Persona

Joyce Sitompul dan Mimpinya untuk Tanah Batak

Catatan Redaksi:

Mungkin Joyce Sitompul orang yang paling bersemangat saat “Mengenang 110 Tahun Nahum Situmorang” di Taman Mini Indonesia Indah, Anjungan Sumatera Utara, pada 14 Februari lalu.  

Selama sepuluh tahun terakhir ini ia mencurahkan waktu dan perhatian pada segala sesuatu yang memanggil hatinya untuk bergerak. 

Ketika didapuk menjadi Ketua Kosentra (Komunitas Seniman Tradisi Sumatra Utara) pada 20 Maret 2011, ia mulai bergerak.

Ketika didaulat menjadi Ketua Pengurus Yayasan Lembaga Pelayanan Anak, ia bergerak untuk menjamu 234 anggota dari 34 negara di satu hotel di wilayah Bogor, meski ia merasa tak sanggup.

Ketika diminta menjadi Penatua di satu gereja HKBP, ia bergerak mengalahkan ketakutannya sendiri dengan menyeberangi ganasnya gelombang Samudra Hindia, untuk tiba di Pulau Enggano.

Ketika rumah adat Jangga Dolok terbakar jadi arang pada akhir 2016 lalu, ia bergerak berseru-seru meminta perhatian dunia, dan dunia menjawabnya.

Ketika bertemu perajin ulos, ketika melihat Danau Toba, ketika melihat Tano Batak, ketika melihat orang Batak, ia masih bermimpi.

“Saya kerjakan yang rohana (tidak rohani-red.) dan rohani bukan karena keinginan hati sendiri. Ada hasrat kuat melatarinya, tak dapat dihentikan. Saya yakin setiap rencana akan menemukan bintangnya sendiri. Saya percaya hati yang tulus dan tangan yang bersih. Dan saya takkan berhenti sampai suara berkata, “Selesai, Joyce!” Saat itulah saya berhenti,” ujarnya.

Mengobrol santai dengan perempuan bersemangat ini sambil makan bubur kacang hijau buatannya, saya tertular semangatnya. Tulisan ini hasilnya. Selamat membaca, semoga bermanfaat.    

 

Manik Mata VS Mata Manik

Joyce merajakan warna pink. Warna cinta. Warna itu terlalu manis bagi pekerja keras sepertinya. Namun ia berubah menyukainya secara fanatik. Dan fanatisme tidak muncul tanpa sebab. Sebelumnya ia tak pernah melirik warna yang dinilainya lemah itu.

Bermula dari rasa penasarannya soal Tuhan. Sejak kecil ia tidak pernah menyepelekan Tuhan. Ia selalu ingin tahu apa dan apa tentang Tuhan tetapi tidak paham bagaimana mengungkapkannya. Lagu Kidung Jemaat Hormat bagi Allah Bapa, ia nyanyikan sepenuh hormat. Ketika SMA, ia pernah bercita-cita menjadi biarawati karena melihat betapa damai hidup mereka.

Di sekolahnya, SMA Marsudirini Matraman, kebanyakan kepala sekolah adalah suster. Ia menyukai suasana biara. Sunyi dan tenang. Ia senang kalau diantar lebih pagi ke sekolah oleh ayah atau ibunya dan ia akan berdoa di kapel, di depan Madona. Ia tampak jarang bergerombol ngobrol bersama teman-teman sebaya, meski ia suka berteman.

Dan satu ketika ia merasa tak terhubung dengan Tuhan. Rasa hampa dan gelisah melanda. Ia tak tahu bagaimana mengungkap perasaannya waktu itu. Maka terjadilah suaminya dipindahtugaskan ke Surabaya. Lalu Tuhan membuat mereka bertetangga dengan satu gereja karismatik. Dekatnya, ia hanya perlu membuka pintu rumah, dan kakinya tiba di gereja.

Satu kali di sana diadakan doa puasa. Penasaran seperti apa kegiatan itu ia pun melangkah masuk ke dalam gedung persis ketika suara Pendeta berkata, “Engkau adalah biji mata Tuhan.” Dug! Jantungnya ditendang oleh kalimat itu, keras. Sebuah pengertian berlabuh di hatinya. Pada saat itu juga ia merasa telah dicintai oleh Yesus, dengan hebat. Dipelihara seperti biji mata yang berharga. Mengetahui itu hatinya dipenuhi sukacita yang melimpah. Manik matanya melihat segala sesuatu indah.

Sejak itu ia berkunjung ke rumah Tuhan setiap hari. Dari Senin hingga Jumat. Pukul 9 sampai pukul 12. Ia seperti mendapat makanan surgawi. Lalu opini tentang warna pink berubah. Itu warna cinta. Begitulah warna yang mewakili kasihnya kepada Yesus. Lalu ia mempertalikan Manik, marga ayahnya, sebagai manik mata Tuhan. Dirinya.

 

Menjamu Hamba Tuhan

Sebab rancangan-Ku bukan rancanganmu, kata Tuhan yang ditulis oleh Yesaya. Itu pulalah yang dimaksud Tuhan ketika perempuan bernama lengkap Joyce Mellisa Sitompul itu harus menerima sebuah tanggung jawab.

Lembaga Pelayanan Anak, disingkat LPA, merupakan afiliasi Child Evagelism Fellowship yang berdiri tahun 1937 di Warrenton, Missouri, Amerika Serikat. Di Indonesia, Lembaga itu didirikan tahun 1971 oleh sekumpulan orang yang menyadari betapa berharga jiwa seorang anak. Termasuk Ibu Elizabeth Silitonga, ibundanya.

Tuhan bekerja dengan cara-Nya, yang misterius. Waktu itu Joyce sedang berkonsentrasi pada dua hal, dan ia merasa yakin keduanya berhasil. Namun perhitungannya meleset. Keduanya gagal. Memang itu bukan untukku, pikirnya, meresponi hal tersebut.

Jadi siang itu, setelah mengetahui kegagalannya, sambil menyetir pulang, ia memutuskan akan menikmati sore sendiri. Anak-anak dan suaminya sedang di luar rumah. Tiba di rumah, ia menyiapkan minuman favorit di dapur dengan hati ringan. Ia duduk santai di sofa kesayangan, menghadap televisi.

Lalu, ting tong. Bel rumah berdering. Siapa mampir sore-sore begini, pikirnya. Tak lama wajah asisten rumah tangganya muncul, memberitahu perihal tamu-tamu yang menunggunya di ruang tamu. Ia berganti pakaian, bergegas menemui mereka.

Tamu itu ternyata Ibu Tambunan, sahabat ibunya dan beberapa staff LPA. Mereka saling bertanya kabar mesra sebelum akhirnya perempuan sepuh itu mengatkan maksud kedatangan mereka sore itu. “Joyce, kami tiga tahun berdoa untuk mencari ketua pengurus yang baru. Dan Tuhan telah memilihmu, Nak.”

Joyce terperanjat. Ia tidak menyangka tanggung jawab datang begitu cepat. Memang ibunya telah tiga kali meminta hal sama selama beberapa waktu ini. “Joyce, kalau Mami meninggal nanti, kamulah yang akan mengurus LPA.” Ia merasa tidak siap.

Memang Joyce sangat dekat dengan anak-anak. Seringkali ia pun merasa seperti anak-anak. Tidak memusingkan apa pun. Pernah satu kali ia menenangkan bayi mungil seukuran botol yang rewel, di satu Panti Asuhan. Pernah seorang anak India menangis sepanjang perjalanan di pesawat menuju Amerika, namun tertidur seperti pingsan dalam dekapan tangannya. Dan bagi ketiga anaknya, tangannya adalah Mama’s magic hands, karena paling cepat bikin mereka tidur.

“Inang, saya ini bukan siapa-siapa. Pekerjaan ini terlalu besar buat saya,” jawabnya saat itu.

“Terimalah tugas ini, Nak. Kau akan melihat Tuhan membuat banyak mukjizat,” ujar ibu sepuh itu, tenang. Ia yakin betul Joyce akan menerima tugas itu.

Jalan Tuhan sungguh tak terduga. Beberapa lama setelah serah-terima jabatan sore itu, Ibu Tambunan dipanggil oleh Tuhan ke Surga. Siapa yang tahu ia pergi selekas itu? Peristiwa itu tahun 2014.

Lalu Joyce menyambangi kantor LPA di Jalan Cempaka Putih Tengah, Jakarta Pusat. Ia hanya menghela napas panjang melihat kondisinya. Kantor itu keadaannya memprihatinkan. Instalasi listrik sudah usang. Tegel lantai kusam. Atap kantor apek akibat terkena lembab air hujan dalam waktu lama. Kamar mandi sempit dengan pintu berlubang dan lantainya kotor abadi. Secara keseluruhan kantor perlu perbaikan.

Sementara kas kosong. Untuk mengganti pagar rumah saja rasanya tidak memungkinkan. Dan seorang staff memberitahu bahwa pada tahun 2012 di Hongkong, pada Konperensi Asia Pasific terakhir, Indonesia telah ditetapkan menjadi tuan rumah konperensi berikutnya. Artinya, tahun 2016.

“Kita sudah dua kali menolak menjadi tuan rumah. Kalau yang ini pun gagal, mereka akan berpikir memang Indonesia Negara miskin dan tak mampu jadi tuan rumah,” kata staffnya.

“Kalau begitu kita harus selenggarakan konperensi itu,” tekad Joyce.

Tetapi banyak pe-er harus diselesaikan. Joyce merenung. Ia sudah beberapa kali bolak-balik Amerika-Indonesia. Ia melihat orang Amerika biasa mengecat rumah mereka sendiri. Jadi ia pikir bagus juga kalau mereka mengecat kantor sendiri. Ia berbagi rencana itu kepada para staff dan mereka hanya terdiam. Mereka berpikir, merenovasi kantor berarti membuat proposal dan meminta orang-orang beruang mengucurkan dana.

“Sebelum kita menadahkan tangan, kita kerjakan dulu apa yang tangan kita bisa lakukan,” katanya kepada staff.

Akhirnya mereka pun mulai mengerok dinding-dinding kantor untuk mengelupaskan kulit kusamnya. Setelah itu mereka mengampelas bersih-bersih, baru dicat.

Suami adiknya melihat mereka bekerja keras, lalu mengulurkan tangan memberi bantuan. Setelah itu satu per satu bantuan mengalir, entah dari mana. Satu per satu pekerjaan selesai. Kantor jadi resik. Lantai berkilau. Sofa warisan nenek ia bawa ke ruang tamu. Walhasil, ketika utusan Asia Pasifik berkunjung, mereka yakin Indonesia siap jadi tuan rumah.

Lalu konperensi pun diselenggarakan. Ada 234 delegasi dari 34 negara untuk dihadirkan. Mereka menulis surat untuk berbagai keperluan, mengatur akomodasi dan penerbangan, mengurus izin visa ke kantor imigrasi, menentukan biaya dalam dollar. Mereka hanya bisa pasrah kepada Tuhan, seandainya kurs tukar dollar turun pada saat itu.

Mereka mencari penginapan untuk sejumlah peserta. Hotel Novotel Bogor memang indah. Lokasinya bersebelahan Kebun Raya Bogor. Namun harga kamar Rp1,1 juta. Di lain pihak, tidak ada hotel yang dapat memenuhi kebutuhan seratus kamar. Tetapi tekad mereka tetap, melayani yang terbaik.

Tiga minggu sebelum tenggat waktu membayar uang muka Rp150 juta, kas masih kosong. Joyce menimbang-nimbang, kalau ia menghubungi sepuluh orang sahabatnya, dan masing-masing menyumbang Rp15 juta, masalah beres. Itulah semula yang akan dilakukannya. Namun, Tuhan mendahuluinya bertindak. Pagi itu mereka berdoa bersama di kantor, sore harinya uang yang dibutuhkan tersedia.

Konperensi berlangsung sepuluh hari. Empat hari pertama untuk seluruh direktur. Enam hari untuk anggota. Indonesia yang dua kali mangkir, menjadi tuan rumah yang dipuji. Makanan berlimpah. Kopi dan susu hangat selalu ada buat siapa pun yang kedinginan malam hari. Konperensi Oktober 2016 itu selesai dan masih ada lebihnya. Seperti yang diimaninya, dari lima roti dua ikan, sisa roti 12 bakul!

 

Empat Tahun yang Berharga

Mukjizat ilahi tiba lebih awal di kediamannya. Rumah tangga yang ia bangun bersama suaminya, dikaruniai tiga buah hati.

Pertama, Zebadiah Alexander Salomo lahir tahun 1990. Pegolf muda yang namanya diukir di University of Michigan, Amerika Serikat. Kedua, Thekla Odelia Caramia lahir tahun 1991. Pegolf sekaligus perenang, mendapat beasiswa yang sama seperti abangnya, di IMG Florida. Ia lulusan School of Art &Design dan pemenang Lomba Perancang Mode 2017 yang diselenggarakan oleh Majalah Femina. Dan si bungsu Bernice Intan Stephani lahir tahun 1994. Mengikuti jejak kedua kakaknya, ia atlet golf dan mahasiswa Loyola University Chicago. Sekarang bekerja di Ernst&Young, Chicago.

Joyce mahasiswa arsitektur UI tahun 1981. Pada satu hari tahun 1986, ia diwisuda dengan disiram air comberan campur tepung dan telur busuk, lalu sorenya ia bertunangan. Bulan berikutnya ia sudah di Amerika, mengikut si abang yang bertugas di Florida. Padahal membuat telur ceplok pun ia belum bisa. Ibunya belum sempat mengajaknya ke dapur.

Setahun di negeri orang, mereka balik ke Indonesia, tetap berdua. Setiap hari ia berdoa untuk dikaruniai si buah hati. Di rumah mereka di Pamulang, niat untuk mendekor kamar bayi, ia urungkan karena ia berpikir Sang Pencipta tak mengizinkannya menjadi ibu. Namun di antara pintu yang memisahkan kamarnya dan kamar calon bayi, ia membuka kedua tangannya, berbisik kepada Tuhan, “Kalau Kau kasih aku anak, ya Tuhanku, aku akan rawat dia dengan tanganku sendiri.”

Waktu berlalu sampai empat tahun. Ibunya sakit dan dirawat di rumah sakit. Joyce menjaga ibunya. Dan di rumah sakit, ia terkenang-kenang ayat Kitab Suci yang mengatakan, kuda nil tetap tenang biar pun sungai Yordan meluap. Mengingat itu ia merajuk, “Tuhan, kuda nil Kau perhatikan. Sekarang aku, satu anak saja, Tuhan. Aku tak minta lebih.”

Puluhan kali ia kecewa menerima hasil laboratorium tetapi ia tak letih berusaha. Terkadang ia malu Karen seringnya bertemu petugas laboratorium tempat ia memeriksakan urin. Mukjizat hadir sebelum ia menyadarinya. Tak lama setelah ibunya pulang dari rumah sakit, hasil laboratorium kali ini: positif.

Ia girang bukan kepalang seperti mendapat lotere. Ia menyiapkan diri sebaik-baiknya. Ia tidak makan makanan sampah setelah mengetahui bahwa rahim adalah tempat Tuhan menenun bayi. Jutaan saraf dibentuk dari makanan yang ibu makan.

 

Keluarga Pemain Golf

Alexander kecil sering meniru ayahnya mengayun tongkat golf. Melihat kelakuannya, sang ayah menghadiahinya tongkat golf khusus anak. Alexander kecil lebih rajin bermain dengan tongkat itu. Hasilnya, ia menjadi juara pada usia 7 tahun di Surabaya. Pada usia 9 tahun ia menjadi juara nasional. Pada usia 13 tahun, ia memecahkan rekor golf amatir di Serapong Island, Singapura, yang melabelinya anak ajaib. Saat diwawancara oleh satu televisi kabel, Alexander menyebutkan nama satu sekolah atlet dunia yang bermarkas di Bradenton, Florida, sebagai impiannya.

Dan Tuhan Semesta Alam menyambut doa anak muda itu. Seseorang menghubungi ayahnya, mengatakan bahwa Alexander mendapat beasiswa penuh untuk bersekolah di sana selama tiga tahun. Berita itu menggembirakan keluarga besar. Namun sebagai ibu, Joyce merasa berat. Anak itu hadir setelah ia menanti selama empat tahun. Tiba-tiba Tuhan memintanya kembali?

Sementara jawaban ya atau tidak harus dilayangkan hari ini. Pagi itu, Joyce duduk di meja riasnya. Hatinya merasa berat. Tuhan, tolong aku, batinnya. Saat itu juga telinganya mendengar suara, “Kalau kamu dekat dia terus, dia tidak akan jago seperti permintaanmu.” Mendengar itu ia kaget. Tuhan mengingatkan bahwa ketiga anaknya adalah milik-Nya. Bahwa selama ini ia sudah berdoa agar ketiga anaknya menjadi yang terbaik dari apa pun kegiatan mereka. Ia mendesain tiga bendera seukuran yang berkibar di Monas, untuk mereka. Sejak kecil ia mengajak mereka menyanyi lagu Indonesia Raya dengan sikap hormat, sebelum bertanding.

Sekarang matanya celik. Ia sadar anaknya harus pergi. Cepat-cepat ia berdiri dan keluar kamar, persis ia menemukan Alexander berdiri di tangga, berkata, “Mama, aku sudah putuskan untuk pergi ke Amerika!” Ibunya pun menjawab mantab, “Iya, Sayang. Pergilah, Anakku.”

Meski demikian ia tetap merasa tak tahan membayangkan kekasih kecilnya jauh darinya, tinggal di asrama dan melewatkan jam-jam latihan yang keras. Dan ia tidak dapat melakukan sesuatu untuk membantu anaknya. Sekarang ia mengerti bagaimana hati Abraham ketika menyerahkan Ishak di atas gunung.

Joyce mengantar si sulung sampai ke Florida. Ia masih terharu berhadapan dengan direktur sekolah dan pelatih Alexander. Kepada mereka ia berkata, “Titip anakku.” Mereka menggenggam kedua tangannya seolah memberi kekuatan, menjawab, “Ibu, percayalah, anakmu di tangan yang benar.”

Hatinya benar-benar sakit ketika hendak pamit. Hatinya seolah diiris sembilu. “Sayang, Mama baru akan melihat kamu enam bulan lagi. Jangan lupa makan ya. Jangan lupa berdoa. Tuhan Yesus sangat mengasihimu, Nak.”

Melihat ibunya tak berhenti menangis, Alexander menantang, “Mama, sekarang aku tanya. Apa Abraham nangis terus kayak Mama waktu nyerahin Ishak ke Tuhan Allah?”

“Tidak, Sayang.”

“Kalau begitu Mama pulang dan jangan menangis lagi. Aku akan baik-baik saja di sini.”

Ia berjanji tidak menangis. Namun dalam perjalanan ke bandara, ia masih belum mengatasi rasa harunya. Di pesawat, ia mengalami dada sesak karena ia menahan diri tidak menangis.  Seorang pramugari dengan penuh simpati membawakan sebotol wine, berkata, “Mungkin ini akan membuat Ibu tenang.”

Ia belum pernah minum wine. Ia tidak paham bahwa maksud pramugari tadi adalah minum sedikit saja. Efek panas dari anggur akan membuatnya mengantuk, lalu tertidur. Tanpa sadar ia menenggak seluruh isi botol, sampai habis. Dan ia tertidur luar biasa pulas. Ketika terjaga, pesawat sudah jauh meninggalkan Amerika.

Tahun berikutnya, Caramia mendapat beasiswa yang sama dengan Alexander, ia dapat mengelola emosinya dengan baik. Waktu itu pengawas sekolah anaknya bertanya, “Katakan satu kalimat tentang anakmu dan kami akan menerima anak Ibu.” Tanpa berpikir ia menjawab, “Anak perempuanku itu seorang pejuang. Meski ditempatkan di padang gurun, ia tahu jalan pulang.”  Lalu ketika giliran Bernice, anak ketiganya, ke Amerika, ia lebih tenang melepas pergi.

Ia dan suaminya sama-sama paham bahwa keluarga mereka tidak normal. Dalam arti, mereka tidak selalu bersama. Joyce harus membagi waktu untuk mereka. Enam bulan di Tanah Air, enam bulan di negeri orang. Bukan tanpa risiko ia bolak-balik seperti itu. Petugas imigrasi pernah mencurigainya. Ia terancam deportasi ketika tertahan lebih dari tiga jam di kantor imigrasi bandara.

“Kamu pasti bekerja di Amerika!” kata petugas.

“Tidak. Saya mengurus anak-anak saya.”

“Anak-anakmu sudah besar. Mereka bisa mengurus diri sendiri.”

“Betul. Tapi mereka sangat berharga bagi saya. Saya ingin ada dekat mereka pada masa-masa sulit mereka mengikuti banyak turnamen ke negara-negara bagian.”

Joyce bertindak manager bagi ketiga anaknya. Alexander dengan jam terbang lebih tinggi mempunyai jadwal kompetisi dengan putaran lebih banyak daripada kedua adiknya. Ia bertugas menyiapkan makanan sehat, mengatur perjalanan dan penginapan, memperhatikan jadwal. Pernah dalam satu hari ia harus mengejar pesawat karena harus berada di dua negara bagian. Pernah pula ia menyetir dari satu negara bagian ke yang lain, seorang diri. Jaraknya, sama dengan tiga kali Jakarta-Surabaya. Membayangkan itu lagi, ia heran Tuhan telah memampukan tangannya melakukan itu semua.

 

Enggano Takkan Mengecewakan

Tahun 2007, Joyce diangkat menjadi Ketua Misi di satu HKBP. Ia merasa tidak mampu. Namun seorang kawan menyemangatinya. Tak lama setelah itu seorang pendeta asal Palembang curhat sambil mencucurkan air mata. Kondisi umat di Pulau Enggano menyedihkan, katanya. “Datanglah, temui mereka,” pohon si Pendeta.

HKBP tempatnya beribadah punya tiga gereja asuhan di Enggano. Bahkan posisi Enggano di peta Indonesia pun, ia tidak tahu. Bawa bensin kalau ke sana, pesan si Pendeta menangis. Arti perkataan itu adalah, tempat yang akan dikunjungi jauh dari suasana berlibur.

Kata Enggano berasal dari bahasa Portugis engano, yang berarti kecewa. Pulau Enggano adalah pulau terluar bagian barat Indonesia, selatan Sumatera Barat, di samudra Hindia. Secara administratif, ia termasuk Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Dengan luas 400,6 km², Enggano terdiri dari enam desa dan beberapa pulau kecil. Jarak Ibukota Provinsi Bengkulu ke Pulau Enggano adalah 156 km. Belum ada bandara, hanya pelabuhan kapal ferry dan perintis.

Joyce berpikir-pikir, perlukah ia pergi? Tetapi air mata pendeta itu sudah ada di dalam hatinya. Persis ia merasa bingung, suara seorang penyiar radio RPK di mobilnya berkata, “Kamu akan menjadi saksiku di Yudea, Samaria, bahkan sampai ke ujung bumi.” Baginya, pesan itu jelas. Enggano adalah Samarianya.

Sebelum pergi, si bungsu menangis, “Bagaimana kalau Mama tidak pulang?” Ia memang takut karena minimnya informasi yang akan dia kunjungi. Dia tak terbiasa dengan ketidakpastian. Pergaulannya di kalangan orang Amerika mengajarinya tepat waktu dan fokus. Tetapi ia menenangkan putrinya, ”Tuhan akan kirim Mama pulang dengan selamat, Sayang.”

Ia berpikir sederhana. Kalau ombak terlalu kencang, ia akan terlempar ke laut, mati tenggelam, dan bertemu Yesus. Kalau ia ditelan ikan besar dan dimuntahkan, seperti pengalaman Yunus, mungkin ada sedikit harapan hidup. Risiko kapal karam bisa terjadi. Sinyal telepon lemah. Karakter badai laut Hindia sering memaksa kapal yang sudah setengah jalan, balik ke Bengkulu. Namun sebelum meninggal Nommensen sudah menyuruh dua asistennya ke sana, pikirnya.

Semua kesulitan itu ditelannya. Ia tidak mundur. Ia siapkan bensin dan air bersih. Ia membeli obat antimalaria dan sayuran di pasar Bengkulu. Ia berangkat bersama seorang evangelis dan teman marinir.

Betul saja. Ketakutannya terjadi. Di tengah laut, lautan Hindia mengamuk. Angin bertiup kencang dan mengombang-ambingkan feri mereka. Teriakan awak kapal berlomba dengan suara ombak. Penumpang panik. Hati Joyce mengerut seperti balon kempes melihat kekacauan itu. Ia ingat Bernice, putrinya. Ia ingat pendeta yang menangis. Ia ingat Tuhan. Di saat buntu, ia memutuskan untuk melipat tangan.

“Tuhan, dalam keadaan terjepit ini, sedetik pun tak kuizinkan otakku yang kecil ini meragukan penyertaan-Mu. Kalau aku harus mati, matilah. Hanya, buatlah aku tidur, Tuhan, aku sangat takut.”

Setelah berdoa, ia menutup kepalanya dengan tudung jaket, membaringkan tubuhnya, miring. Dalam hitungan detik, ia tertidur. Ia tidak tahu bagaimana semuanya selesai. Ketika terbangun, laut sudah teduh.

Sepuluh hari berkeliling di Enggano. Banyak yang harus dikerjakan. Ada lebih banyak keluhan daripada sukacita. Ia dan kawan-kawannya melakukan apa yang mereka mampu. Menghangatkan hati umat tentang kebaikan Tuhan. Di sini kalian tinggal membuang kail ke laut dan ikan didapat, hiburnya.

Sekarang, sembilan tahun sudah pelayanan Enggano. Eporus dan sebelas pendeta sudah meresmikan gereja menjadi resort khusus. Bandara sudah dibangun. Pesawat Susy Air berkapasitas sembilan orang terbang dari Bengkulu, setiap hari. Jemaat tersenyum. Dapat melihat kebaikan Tuhan.

 

Rumah Adat Jangga Dolok

Seorang teman mengirim pesan ke WhatsApp Joyce. Rumah Adat Jangga Dolok terbakar, katanya dengan banyak tanda seru. Joyce membacanya dan terkejut.

Kebakaran itu terjadi pada 31 Desember 2015 malam. Warga tengah bersukacita menyambut tahun baru. Tragedi berawal dari sekumpulan anak bermain mercon. Bunga api melompat ke atap ijuk salah satu rumah adat yang sedang direnovasi atas biaya Kemendikbud RI. Api menyebar cepat dan menghabiskan empat rumah adat dan satu sopo alias rumah tenun, menjadi arang. Padahal bangunan-bangunan diperkirakan berumur 200 hingga 250 tahun.

Desa Jangga Dolok terletak di Kecamatan Lumban Julu, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Bangunan tersebut telah lama menjadi tujuan wisata.

Joyce merasa sangat prihatin. Ia gelisah. Ia menunggu dan tampaknya tidak seorang pun tertarik bergerak melakukan sesuatu terhadap peristiwa tersebut. Saat itulah ia mengirim pesan tolong dengan banyak huruf ‘o’ ke beberapa grup arsitektur, via WA.

Sejam kemudian seorang teman arsitek merespons, bertanya, “Tolong apa, Joyce?” Aku mau membangun kembali rumah adat itu, jawab Joyce.

Kawan itu seorang yang paham kegiatan Ibu Tirto Utomo, Ketua Yayasan Tirta Utama. Beberapa kali beliau mendanai pelestarian bangunan bersejarah. Atas bantuan kawannya, Joyce termasuk salah satu kandidat untuk dibantu. Karena ingin memastikan segalanya berjalan baik, ia memutuskan untuk bertemu langsung dengan beliau, yang sedang meresmikan rumah Gadang di Padang.

Pada hari peresmian, ia menunggu kesempatan berduaan dengan Ibu Tirto. “Wah, kamu datang dari Jakarta khusus bertemu saya?”

“Betul, Ibu.”

Berapa perkiraan biaya merenovasi rumah adat itu, tanya beliau. Joyce gelagapan karena sebenarnya ia belum menyiapkan diri sampai ke sana. Walhasil, pembicaraan lima menit itu dirasanya mengambang. Tidak ada keputusan atau janji atau apa pun. Mungkin ia telah melakukan kesalahan dan Ibu Tirto tidak tertarik membantu.

Namun beberapa hari kemudian seseorang memberi kabar baik. Ia diundang untuk bertemu Ibu Tirto. Beliau langsung memintanya untuk memilih tim kerja. Satu tahap terlewati. Ia bergerak cepat, menemui kawan-kawan seniman di Taman Mini Indonesia Indah. Bersama Kepala Anjungan Sumatera Utara, mereka mengumpulkan 30 narasumber.

Mereka menyelenggarakan diskusi bertajuk Menyelamatkan Rumah Adat Batak, pada 3 Maret 2016. Cosmas Batubara dan Bisuk Siahaan menyambut baik upaya penyelamatan rumah adat. Guru besarnya di UI, Prof. Gunawan Tjahjono, hadir memberi masukan. Parluhutan Manurung, wakil keluarga kampung Jangga Dolok, hadir. Yori Antar berbagi pengalaman membangun beberapa rumah dan kampung adat di berbagai pelosok Nusantara. Yayasan Pencinta Danau Toba membantu membentuk tim kerja salin mengundang pegiat Aksara Batak, sastrawan, akademisi, pemerhati, dan masyarakat, saling urun rembug.

Diskusi menghasilkan rencana rekonstruksi kampung adat Jangga Dolok dan sopo Batak. Bangunan tradisi ini masih dikaitkan dengan asal-usul, sejarah, kenangan, filosofi, masa depan, sistem berpikir, kosmologi, mitologi, kearifan lokalnya. Persiapan sudah matang. Tukang-tukang dicari. Kayu-kayu poki yang berkualitas kayu ulin Kalimantan, didatangkan.

Pembangunan dimulai Juli 2016. Dan sebelum rumah pertama selesai dibangun, Ibu Tirto meminta Joyce untuk meneruskan pembangunan rumah adat kedua. Tidak ada yang hal lain selain ucapan syukur kepada Yang Mahakuasa.

 

Guru Nahum Situmorang

Joyce suka menyanyi dan menari. Lagu O Tao Toba Na Uli adalah salah satu lagu Batak favoritnya. Pengarang lagu itu Nahum Situmorang.

Seingatnya, Ompung Borunya (nenek) dari pihak Ibu sering nonton konser musik Nahum. Neneknya seorang kembang desa, di Tarutung. Ia dilamar Ompung Baoa-nya (kakek) meski sudah punya pacar. Lama ia baru ngeh bahwa pacar yang dimaksud adalah Nahum Situmorang. Ia mengagumi betapa kekuatan cinta membuat sang komponis hidup menyendiri alias tidak menikah.

Lalu pada suatu hari Joyce bersiap akan treadmill di rumahnya. Biasanya ia berlari di mesin treadmill sambil mendengarkan musik. Wajah neneknya yang cantik terbayang-bayang dalam benak. Ia berlari dengan tempo lambat sambil ikut menyanyi pelan ketika mendengar suara yang jelas di telinganya, “Bawa Samosir, bawa Samosir. Kalau bukan kamu, siapa lagi?”

Siapakah yang berbicara kepadanya tadi?

Ia seperti diserang rasa sedih. Begitu sedihnya sampai-sampai ia membungkuk terisak sampai terduduk, di sisi mesin treadmill yang terus berjalan. Ia merasakan rasa sakit yang paling sakit di dada. Ia seorang percaya yang tidak percaya bahwa roh orang meninggal dapat berhubungan dengan orang hidup. Namun pada saat yang sama ia ingat ia pernah membaca bahwa roh Habel yang dibunuh oleh Kain, telah berteriak dan sampai kepada Allah.

Peristiwa itu membuatnya berburu referensi soal Nahum Situmorang. Ia bertanya kepada ibunya, tantenya dan nenek dari pihak Ibu. Ia bertemu langsung dengan keluarga besar Nahum sendiri. Ia mencari tahu apa yang perlu diketahuinya.

Bahwa Nahum adalah pencipta, penulis syair lagu, penyanyi, pemusik Batak. Ia lahir di Sipirok 14 Februari 1908 dan meninggal di Medan 20 Oktober 1969. Ia berpendidikan guru kweekschool  di Lembang Bandung (1928) dan pernah bekerja di sekolah partikelir Bataksche Studiefonds  di Sibolga (1929-1932). Ia mendirikan HIS-Partikelir Instituut Voor Westers Lager Onderwijs di Tarutung (1932-1942).

Nahum ke Jakarta tahun 50-an. Bersama rombongan ia menyanyi di istana presiden, acara pemerintah, kedubes-kedubes, live di RRI, dan di komunitas Batak. Pada 17 Agustus 1969 almarhum menerima Penghargaan Anugerah Seni dari Pemerintah Indonesia dan Piagam Tanda Penghormatan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Agustus 2006.

Di kalangan pemusik Batak, Nahum adalah Maestro. Selama hidup Nahum telah mencipta 120 lagu, beberapa merujuk angka 170 bahkan 200. Tema-tema tentang kecintaan pada alam, kerinduan pada kampung halaman, nasihat, filosofi, sisi-sisi kehidupan manusia Batak. Lagu-lagunya yang terkenal di antaranya Alusi Au, Nasonang Do Hita Nadua, Lissoi.

Dari semua informasi ia berkesimpulan bahwa Nahum Situmorang seorang yang besar dan berjasa bagi bangso Batak. Namun ia tidak mendapat penghormatan secukupbnya. Bahkan cenderung dilupakan. Dari satu lagu Nahum mengutarakan keinginannya untuk dimakamkan di Samosir. Sekarang makamnya di Medan. Memindahkan tulang belulang dari satu tempat ke tempat lain bukanlah hal sulit. Namun untuk tiba di sana memerlukan proses tidak sedikit. Dan ia perlu dukungan sebanyak mungkin orang.

Momentum pertama ia selenggarakan 110 tahun Nahum Situmorang pada 14 Februari 2018 lalu. Saat itu digelar diskusi bertajuk Menyusur Jalan Sunyi Nahum Situmorang. Kegiatan ini kerjasama antara Kosetra, Yayasan Pencinta Danau Toba, Anjungan Sumatera Utara. Budayawan Radhar Panca Dahana, etnomusikolog Irwansyah Harahap, seniman senior Tetet Srie WD, pemusik Roland Pohan, Tatan Daniel, dan banyak tokoh lain, hadir di sana. Acara dihadiri sekitar seratus orang.

Sarung Balige yang diberikan kepada pengunjung adalah simbol tugas belum selesai. Ia tidak tahu ke mana Tuhan akan membawanya. Ia hanya ingin merawat tradisi dan budaya dari mana ia berasal. Baginya itu tugas suci. Ia akan berjuang sampai kompleks Nahum Situmorang berdiri di Samosir, dan ia akan menyanyi salah satu lagunya di atas danau Toba. (itasiregar, maret2018)

 

Editor Litera

The author Editor Litera

1 Comment

  1. Write more, thats all I have to say. Literally, it seems as though you relied on the video to make your point. You definitely know what youre talking about, why waste your intelligence on just posting videos to your weblog when you could be giving us something enlightening to read?

    http://www.zvodretiluret.com/

Leave a Response