close
Cerpen

BUAH KARMA SANG KATAK

(Plesetan Dongeng, diinspirasi dari kumpulan Fable Aesop: Seekor Katak yang Ingin Menjadi Raja)

 

Teks Rien al-Anshari*

 

Renang Renung Seekor Katak

 

Itu adalah renanganku yang terakhir

Di danau luas berpesisir indah

Sekarang aku telah duduk di tengah-

tengahnya, di bawah pohon raksasa

bernama Karma. Apa yang telah

terjadi padaku hari ini? Aku kerap

membayangkan pesisir jauh dan bunga-

bunga indah di penjuru timur.

Warna-warni itu, apakah artinya?

Aku kerap berandai-andai pada bukit

dan gunung tinggi di penjuru barat.

Batu-batu itu, seperti apa menyentuhnya?

Renunganku pun berenang. Renanganku

pun melayang. Aku ke sana dan kemari,

berulang kali. Tapi jika aku tak pernah

menjejakkan kakiku pada tujuan?

Apakah gunanya keadaan?

 

Pohon raksasa ini adalah rumah besarku

yang nyaman. Daun-daunnya rindang

melindungiku dari panas terik. Namun

kenapa aku tak diperkenankan untuk

memanjatnya? Kenapa aku tak diperkenankan

menyentuh dedaunan dan merasakan

lezatnya buah-buah Karma di percabangan?
Sungguh mereka ranum, lagi wangi.

 

Selembar daun jatuh ke air.

Aku membayangkan dirikulah yang

mengambang laksana daun yang terpisah

dari rantingnya. Tapi apakah ia, kini?

Apakah daun itu tetap sama seperti saat ia

bergelayut mesra pada ranting Pohon

Karma? Apakah ia tetaplah daun si pohon

Karma? Atau ia hanya daun semata-mata?

 

Oh, apa yang terjadi padaku?

Aku tak dapat melihatnya lagi sebagai rumahku.

Mataku telah membawaku hilang ke tempat

yang jauh, melesat membayangkan apa

yang ada dibaliknya. Mataku tidak di sini

melihat air. Mataku tidak di sini melihat akar.

Mataku tidak di sini melihat pohon Karma

seperti aku dulu melihatnya. Mataku telah pergi.

Mataku telah berenang bersama renungku

merenangi tempat yang jauh.

 

 

 

INILAH cerita seekor katak yang hidup di bawah pohon bernama Karma. Pohon itu berada di tengah-tengah sebuah danau yang amat luas, begitu luasnya danau itu hingga kedua pesisirnya nyaris tak tampak sama sekali. Pohon Karma menjadi rumah bagi sang Katak, tempat baginya beristirahat dan melepas lelah.

Katak berenang ke sana ke mari, sepanjang waktu, setiap hari. Dinginnya air dan udara yang sejuk membuatnya merasa begitu puas dan nyaman. Sampai tibalah ia di suatu hari, ketika sang Katak sampai di kedua penjuru yang amat jauh. Dari permukaan air di sebelah timur, ia dapat melihat hamparan rumput luas dan bunga berwarna warni. Dari permukaan air di sebelah barat, ia menemukan bukit dan gunung batu menjulang tinggi.

Sepanjang perjalanannya menuju kembali ke rumahnya, sang Katak mulai bertanya-tanya. Apakah yang ia lihat itu tadi? Kenapa yang satu tampak begitu menarik baginya sementara yang lain menakutkan sekali? Dan Katak pun tiba di rumahnya, mendapati Pohon Karma berdiri kokoh seakan menyambut kehadirannya.

Pohon Karma adalah sebuah pohon raksasa yang amat besar dan rindang. Sebagian tubuh akarnya menjadi celah bagi katak dan menjadi rumahnya di permukaan air. Tubuh akar pohon tersebut, setengah mengambang namun sebagian besarnya begitu kokoh menghujam menembus jauh ke dasar danau. Batang pohon Karma begitu besar hingga tampak seperti seribu kali lebar katak. Cabang dan rantingnya menutupi langit di seputaran danau dengan daun-daun besar menempel kuat. Tak pernah sekalipun selembar daun jatuh mengotori danau. Buah-buah berwarna jingga kemerahan selalu berkeliau di antara celah batang dan ranting, mereka laksana perhiasaan yang menambah keindahanan pohon Karma. Rindangnya dedaunan pohon Karma menutupi seluruh permukaan danau dan melindungi Katak dari sinar yang begitu terang dan menyengat, seperti yang terlihat di pesisir jauh. Pohon Karma pun tidak hanya selalu memberikan perlindungan, ia juga mengeluarkan udara yang selalu membuat Katak merasa begitu tentram dan nyaman.

Namun ketentraman Katak sedang terusik. Ia mulai membayangkan rupa-rupa yang ditemuinya di pesisir-pesisir jauh. Katak duduk di sebatang akar yang mencuat dan mendapati selembar daun Karma jatuh untuk pertama kalinya.

“Apa yang sedang kau lamunkan itu, Katak?”

Sebuah suara mengejutkan sang Katak, ia menengadah dan mendapati Tuhan sedang berayun-ayun di dahan pohon Karma.

“Aku telah sampai ke pesisir timur dan barat dan mendapati keduanya menarik perhatianku,” jawab sang Katak.

“Apakah gerangan yang menarik perhatianmu?”

“Sesuatu yang berwarna-warni dan sesuatu yang begitu keras dan tinggi. Apakah itu?”

“Yang berwarna-warni di sebelah timur itu adalah bunga, sementara yang terlihat keras dan tinggi di sebelah barat adalah gunung dan batu.”

“Tidak bolehkah aku menyentuhnya?” tanya sang Katak, lagi.

“Tidak puaskah kau dengan apa yang kuberikan padamu di sini, wahai Katak?”

“Aku tidak bermaksud seperti itu, wahai Tuhan. Aku hanya ingin mengenal mereka; bunga-bunga dan bebatuan itu. Meski yang satu tampak menggoda dan yang lain menakutkan, aku ingin mengenal mereka; menyentuh dan mungkin menggenggamnya. Apakah itu sesuatu yang buruk? Apakah buruk jika aku ingin mengenal sesuatu selain aku?”

Tuhan pun tertawa. Tawanya mengguncang dahan dan ranting Karma sehingga beberapa lembar daun kembali berjatuhan.

“Sama sekali tidak. Aku hanya merasa belum saatnya itu tiba. Suatu hari kau akan mengetahuinya, wahai Katak. Bersabarlah,” dan Tuhan pun lalu menghilang.

Katak menggerutu di dalam batinnya, Tuhan selalu seperti itu. Ia datang kapanpun ia mau. Seperti di satu waktu, tiba-tiba saja ia bisa berjalan di atas air mengelilingi pohon Karma. Di lain waktu, ia dapat tiba-tiba duduk di atas dahan dan memakan buah Karma yang sudah tampak merah. Yang lebih menjengkelkan si Katak, tidak pernah sekalipun Tuhan memperkenankan Katak untuk mencicipi buah-buah tersebut. Ia bahkan melarang Katak untuk mencoba membayangkan bagaimana rasanya.

Katak memperhatikan selembar daun besar yang mengambang di atas air, ia pun membayangkan bagaimana daun yang tampak kokoh itu dapat patah dan melayang? Katak pun menengadahkan kepalanya untuk kembali melihat percabangan Pohon Karma dan menemukan seekor Bangau sedang duduk dan bersandar di tempat yang biasa diduduki Tuhan. Katak begitu terkejut.

“Siapa kau?” tanya Katak yang tak pernah mendapati makhluk lain yang bergerak, selain dirinya dan Tuhan.

“Aku Bangau.”

“Sejak kapan kau berada di situ? Apa yang kau lakukan di tempat duduk Tuhan?”

“Apa salahnya jika aku menduduki tempat duduk Tuhan? Aku punya sayap dan aku bisa terbang. Kau tak diperkenankannya kemari karena tempat ini begitu tinggi,” kata Bangau sambil mengepak-ngepakkan kedua sayapnya. berlagak seolah hendak memetik Karma.

“Begitukah? Bagaimana jika aku memanjat? Apakah aku boleh duduk di tempat duduk Tuhan dan memakan buah-buahan itu?” tanya Katak, setelah ia melihat bahwa Bangau pun akan memakan buah jingga kemerahan yang biasa dimakan Tuhan itu.

“Tentu saja,” jawab Bangau singkat.

Katak pun memanjat. Ia baru tahu bahwa kedua tangan dan kakinya dapat dipergunakan untuk sesuatu yang lain, selain bergerak di air.

Katak telah tiba di ketinggian. Di sana ia mendapati sebuah pemandangan yang sangat indah mengitarinya.

“Ini luar biasa. Aku harus bersusah payah berenang mencapai tiap sisi untuk melihat semua ini, sementara dengan memanjat, aku dapat menyaksikan keindahan semuanya sekaligus.”

“Ya, benar. Tapi dari ketinggian ini, tetap saja kau tak bisa menyentuh bunga atau menggenggam batu,” kata Bangau lagi.

“Sejak kapan kau ada di sini? Kau tidak menjawab pertanyaanku tadi. Apakah kau mencuri dengar pembicaraanku dengan Tuhan?

“Aku diciptakan mempunyai sayap, sehingga aku dapat terbang mengawasi seluruh tempat dan bergerak dengan cepat. Aku sudah berada di sini sejak kau bercakap-cakap dengan Tuhan tadi.”

“Bagaimana aku bisa tidak mengetahui keberadaanmu selama itu?”

“Sebab aku bergerak lebih cepat darimu, wahai Katak yang malang. Aku diciptakan lebih dulu, tentulah aku lebih baik daripadamu.”

“Begitukah? Apakah dengan begitu kau pun terbang sampai ke pesisir-pesisir jauh itu dan melihat apa saja yang ada di sana?”

“Tentu,” jawab Bangau, singkat. “Kau pun dapat melakukannya jika kau mau. Kau dapat melakukan lebih dari sekedar melihat, menyentuh atau menggenggam, seperti yang kau katakan.”

“Begitukah?” tanya Katak sangat penasaran. “Tapi aku tidak punya sayap dan aku tak dapat bergerak cepat menuju ke pesisiran. Aku berenang terlalu lambat dan Tuhan akan segera mengetahui tujuanku.”

“Kau dapat memakan buah ini dan mendapatkan apa yang kau inginkan.”

“Tapi Tuhan melarangku. Ia bahkan melarangku untuk memikirkan bagaimana rasanya.”

“Ia melarangmu, sebab ia tak ingin kau menjadi sepertinya. Buah ini adalah makanan Tuhan. Jika kau memakan buah yang dimakannya, maka kau dapat menjadi sepertinya. Kau dapat berpindah-pindah dengan cepat, melihat-lihat bunga dengan berbagai warna, berdiri di atas batuan tinggi dan bahkan menggenggam gunung batu itu di kedua tanganmu. Sungguh, kau tak perlu berenang lagi dan bersusah payah. Percayalah padaku.”

Katak terpesona, ia sungguh percaya apa yang dikatakan Bangau setelah apa yang ia alami beberapa waktu belakangan ini. Sepanjang hidupnya, ia berenang-renang tanpa pernah tahu bahwa air memiliki suatu batasan, namun sekalipun ia telah mencapai apa yang disebutnya sebagai pesisir jauh, ia bahkan tak punya keberanian untuk melangkah meninggalkan air. Lalu seketika pikirannya menjadi semakin resah ketika membayangkan bahwa Tuhan menciptakan sesuatu selain ia; sesosok makhluk yang lebih perkasa, mempunyai dua buah sayap dan kaki-kaki ramping yang sangat indah, dan bahkan, makhluk itu dapat terbang sangat cepat. Bagaimana mungkin?

“Aku akan memakannya!” ujar Katak penuh keyakinan. “Aku akan memakannya dan menjadi sesuatu yang bergerak lebih cepat darimu, Bangau! Aku akan seperti cahaya atau lebih daripada itu! Aku akan melihat lebih dari apapun yang pernah kau lihat selama ini. Aku akan mengetahui apapun lebih dari apapun yang diketahui!”

Katak pun memakan buah Karma dan menemukan dirinya hanyut dalam kegelapan. Hilang. Lalu timbul dan mengambang di antara semburat warna warni megah. Terseret. Gepeng. Terdorong. Remuk. Terbentur. Pecah menjadi keping-keping. Anehnya, dalam tiap-tiap kepingan ia masih menyadari dirinya dalam kepingan yang lain. Ia melihat semuanya, seakan-akan tubuhnya adalah sesuatu yang banyak dan dapat dibagi-bagi. Bunga. Batu. Bangau. Air. Pohon Karma. Segala sesuatu menjadi matanya. Segala sesuatu menjadi gerak-geriknya. Sang Katak terpesona. Namun keterpesonaan tak berujung lama lama. Katak kemudian kembali tersedot dan terseret menuju kepada cahaya yang amat panas dan berkilau, sebelum dirinya hancur tanpa sisa.

Katak membuka mata. Kali ini, ia mendapati tubuhnya telah jatuh ke dalam air; tenggelam di antara akar Pohon Karma, bersedekap memeluk diri. Sang Katak dapat merasakan hatinya bergetar hebat, hingga rasanya ia dapat pecah dan hancur kapan saja.

“Kau telah melanggar laranganku, wahai Katak,” ujar Tuhan yang kini berada di hadapannya.

“Benar. Aku pun merasa malu dan bersalah,” ujar Katak dari dalam hatinya. Ia masih saja bersedekap dan tak mampu menatap Tuhan, namun ia tahu bahwa tak ada apapun yang dapat mencegah Tuhan untuk mengetahui apa yang ia ketahui.

Katak tenggelam melewati akar-akar Pohon Karma. Pelan tapi pasti, tubuhnya jatuh ke dasar danau yang tak berujung; semakin gelap, semakin sunyi dan semakin jauh.”

“Pohon Karma berbuah Kesadaran. Siapapun yang memakannya tak bisa menolak perbuatan, demikianlah segalanya menjadi,” suara Tuhan mulai terdengar bergaung. “Karena perbuatanmu itu, aku menurunkan engkau dari tempatmu ini. Engkau akan turun pada suatu tempat yang disebut Bumi. Di sana kau beranak-pinak dan berkembang-biak; bergerak, tumbuh, hidup, mati, terus berputar dalam rotasi sampai waktu yang ditentukan. Sebagian daripadamu akan menjadi musuh daripada yang lain. Di setiap lahan akan selalu ada perebutan. Dan Bangau akan menjadi bagian dari setiap perebutan, itu. Serupa engkau, ia pun beranak pinak dan berkembang biak, dan sepanjang hidupnya ia ditakdirkan untuk mengintaimu dari segala penjuru. Manakala kau lengah, kau dan anakmu akan menjadi mangsa utamanya. Manakala kau waspada, engkau menjadi jauh lebih perkasa darinya.”

Lalu, percikan bunga api listrik mulai tampak menjalar, pecah mewarnai kegelapan dan kekosongan. Setitik cahaya putih di ujung lorong mulai tampak, memancarkan satu garis sinar lurus yang sangat indah. Pancarannnya menembus partikel-partikel kristal dan pecah dalam warna warni mempesona.

“Sejak saat ini, engkau akan mengenali sekaligus juga dikenali. Kau akan menyentuh dan disentuh, meraba dan diraba, menggenggam dan digenggam, melihat dan dilihat. Semuanya akan terjadi. Semuanya akan kau alami,” suara Tuhan mulai terdengar semakin jauh. “Selamat mengalami, Katak.”

 

******

 

Tiba-tiba sekumpulan kecebong putih melesat dan meluncur dengan kencang. Mereka berkejaran, berhimpit, tumpang tindih, tertinggal, berserakan, mengambang dan lebih dari sebagiannya, mati. Beberapa dari mereka mulai tampak mencapai tujuan, berkerumun pada sebongkah benda bulat bercangkang keras. Mereka mulai mematuk-matukan kepalanya berusaha menemukan celah masuk. Namun hanya sang Katak yang dapat membuat celah pada cangkang keras tersebut. Ia terdorong oleh semacam tenaga yang aneh, masuk dan menemukan sebuah rumah yang nyaman. Tak lama kemudian, ekor yang semula ia pergunakan untuk bergerak pun terlepas dari tubuhnya, meninggalkan ia hanya dengan kepalanya saja. Namun Katak tak berbuat apapun, ia hanya dapat diam dan melambat dan membiarkan tubuhnya terbelah menjadi dua. Lalu, yang dua menjadi empat, delapan, enam-belas hingga bertumpuk-tumpuk membentuk gumpalan. Gumpalan-gumpalan berkumpul membentuk kepala, membentuk batang tubuh, membentuk tangan dan kaki-kaki. Demikianlah sampai pada suatu hari, Sang Katak kembali menemukan pintu dan seberkas cahaya dengan campuran berbagai warna yang tak lagi berpendar. Untuk pertama kalinya, ketika Katak telah melewati pintu, ia menemukan sekumpulan makhluk yang sangat aneh berkelakar dengan bahasa yang tidak dimengertinya.

“Bayi! Bayi Lelaki!” demikian, teriak mereka.

 

***

 

 

*Rien al-Anshari adalah penulis, tinggal di Jakarta.

 

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response