close
OASE

Kartini-Kartini Era Perjanjian Lama

Syukurlah sekarang Hari Kartini tak dirayakan dengan berkebaya semata. Memang seharusnyalah Kartini (1879-1904) diingat dari buah-buah pikirannya.

Salah satu suratnya kepada Nyonya Abendanon (Agustus 1900) menerangkan kegelisahan Kartini. “Banyak sudah yang kulihat dan kudengar yang membuat hatiku hancur, sehingga dicambuknya hatiku supaya aku tegak berdiri melawan adat, kebiasaan, yang menjadi kutuk bagi perempuan dan anak-anak.”

Bukan hal-hal jauh yang dipikirkan Kartini. Namun dunia yang dia lihat sehari-hari. Ketika kakak perempuan tersayangnya berkata ia berpikir tidak wajar, Kartini mencurahkan isi hatinya kepada sahabat penanya yang jauh di Belanda, Stella Zeehandelaar (9 Januari 1901).  “Kemerdekaan perempuan telah terbayang di udara,” tulisnya.

Perjanjian Lama pun merayakan beberapa nama perempuan yang mempengaruhi dunia kecil mereka. Meski taruhannya maut.

Pada zaman Musa (sekitar 1300SM) adalah lima perempuan. Mahla, Noa, Hogla, Milka, Tirza. Kakak beradik ini memperdebatkan satu peraturan yang merugikan mereka. Ketika Zelafehad, ayah mereka, meninggal, tanah milik keluarga tidak serta-merta jatuh ke tangan mereka. Hukum saat itu mengatakan: warisan hanya untuk anak laki-laki.

Lantas mereka sepakat menghadap Musa, pemimpin agama dan pemimpin lainnya. Mereka  mempertanyakan hak sebagai anak perempuan. Keadaan mereka mungkin akan terjadi di masa datang atau pernah terjadi di masa lalu namun tidak ada yang memperkarakan. Berkat mereka, para pemimpin mempunyai wawasan untuk menerbitkan SK baru. Yaitu, pada keluarga yang tidak mempunyai anak laki-laki, warisan dapat diturunkan kepada anak perempuan.

Pada masa lebih purba, terjadi satu peristiwa suram ini. Orang Israel tinggal di Mesir dan hidup di bawah tekanan. Namun populasi mereka terus bertambah. Ketakutan kaum minoritas menjadi ancaman kelak, Mesir mengeluarkan satu perintah kepada bidan: hukum mati bayi laki-laki Israel saat dilahirkan.

Perintah itu melanggar kemanusiaan, bagaimana pun. Tetapi perintah adalah perintah. Sifatnya mengikat dan hukuman bagi yang melanggar. Bagaimana melawan nurani dan hak hidup manusia? Dua bidan perempuan –Sifra dan Pua- melawan tanpa kekerasan. Mereka menolak membunuh. Saat diperhadapkan dengan hukum, mereka menjawab dengan cerdik, “Bayi-bayi itu sudah mbrojol sebelum pertolongan bidan tiba.”

Satu abad setelah peristiwa itu, nama satu perempuan pegari. Namanya Debora. Ia seorang nabiah atau nabi perempuan. Hidupnya bersahaja. Ruang konsultasinya saja di bawah pohon korma.

Satu kali ia mendapat wahyu. Memastikan bahwa wahyu itu benar, ia memanggil Barak, pemuda yang ia lihat dalam penglihatannya. Ia bertanya, “Barak, saya mendapat kesan Tuhan menyuruhmu memimpin perang melawan Raja Sisera? Apa kamu mendapat pesan yang sama?”

“Betul, Ibu Debora. Tetapi saya tak tahu harus bagaimana. Kalau Ibu mau maju bersama saya, saya akan maju,” jawab Barak.

Demi Barak, anak muda yang kurang percaya diri itu, nabi perempuan itu pun turun gunung. Ia ikut ke medan perang sebagai bentuk dukungan moralnya.

Dari kalangan bangsawan, Kitab Ester mencatat nama Wasti. Dialah istri Raja Ahasyweros atau Xerxes (sekitar 480 SM). Suaminya kaya-raya. Ia merajai 127 daerah, mulai dari India sampai Etiopia. Mertuanya, Raja Darius, dikenal sebagai prajurit sejati yang disegani kalangan militer.

Satu kali Xerxes, sebagai raja, harus memimpin perang melawan Yunani di laut Salamis. Xerxes bukan prajurit. Dan itu adalah perang pertamanya. Rakyat pesimistis raja mereka menang berhadapan dengan Spartan, tentara Yunani yang militan itu.

Dalam rangka mendapat dukungan rakyat dan kolega ayahnya, Xerxes mengadakan perjamuan. Selama 180 hari ia menjamu ribuan undangan. Ia memamerkan kebesaran kerajaan untuk membuat dirinya merasa besar.

Pada puncak perayaan, dia mabuk berat. Di hadapan para undangan dia mengoceh, “Istriku ratu paling cantik sejagad raya.” Mereka mempermainkan raja, berkata, “Buktikan dulu ucapanmu!”

Dengan sembrono raja menyuruh sida-sidanya untuk menghadirkan ratu ke tengah-tengah pesta. Sejarah mencatat Wasti menolak tegas perintah itu. Pesta itu pun menjadi gempar. Siapa pun melawan raja, taruhannya adalah mati. Satu literatur berspekulasi bahwa keberanian Wasti menolak disebabkan ia harus tampil dalam keadaan tanpa busana.

Persia dipermalukan di mata dunia. Peristiwa itu menimbulkan kasak-kusuk dalam istana. Penolakan Wasti memicu kerajaan mengeluarkan satu undang-undang darurat, yang berbunyi, ”Setiap laki-laki harus menjadi kepala dalam rumah tangganya dan berbicara menurut bahasa bangsanya.” Meski akhirnya dihukum mati, tindakan Wasti dianggap menginspirasi perempua zaman itu.

Demikianlah perempuan-perempuan Perjanjian Lama mencipta ruang berpikir pada masyarakatnya. Seperti halnya Kartini pada masa hidupnya. (is/Apr21/2018)

 

 

Editor Litera

The author Editor Litera

Leave a Response